Chapter Nine

Kemeja Biru Tua

POV: Helena

Aku tidak berniat membeli apa pun untuk Aries. Aku perlu menegaskan itu sejak awal, demi catatan sejarah.

Sabtu siang itu aku menemani Nadia ke butik pakaian pria di Senayan, karena salah satu kliennya, calon pengantin pria, tidak bisa memutuskan antara beskap krem atau beskap krem yang sedikit lebih krem. Nadia butuh saksi. Aku butuh keluar rumah, karena Aries sedang mencuci mobil di garasi dengan kaus tanpa lengan dan aku tidak bisa membaca satu halaman novel pun dengan tenang.

Tidak ada hubungannya. Aku cuma butuh udara.

Butik itu dingin dan wangi kayu cendana. Selagi Nadia berdebat dengan calon pengantin soal perbedaan krem dan gading, aku berjalan-jalan tanpa tujuan di antara rak-rak, sampai aku berhenti di depan sebuah manekin.

Kemeja biru tua. Bukan biru dongker yang membosankan, bukan biru elektrik yang terlalu berisik. Biru tua yang dalam, seperti langit pukul tujuh malam tepat sebelum lampu-lampu jalan menyala. Bahannya katun halus dengan tekstur samar. Lengan panjang, potongan pas, kancingnya warna tulang.

Aku membayangkan kemeja itu dengan lengan digulung sampai siku.

Lalu aku membayangkan lengan siapa yang menggulungnya.

Lalu aku menyadari bahwa aku sedang berdiri di depan manekin dengan tangan menyentuh ujung lengan kemeja selama dua menit penuh, dan seorang pramuniaga menatapku dengan senyum pengertian yang sangat tidak kubutuhkan.

“Untuk suami, Kak?”

“Bukan,” kataku. “Maksudnya, iya. Maksudnya, kebetulan.”

“Ukurannya, Kak?”

Aku tahu ukurannya. Aku tahu karena kemejanya sering dijemur di samping kemejaku di area cuci belakang, dan aku pernah, satu kali, tidak sengaja, membaca labelnya ketika mengangkat jemuran sebelum hujan. Satu kali. Mungkin dua.

“L,” kataku. “Lengan panjang. Dia tinggi.”

Sepuluh menit kemudian, aku keluar dari ruang ganti tempat Nadia sudah memenangkan perdebatan krem dengan membawa tas kertas berwarna hitam. Nadia melihat tas itu. Lalu melihat wajahku. Lalu melihat tas itu lagi.

“Itu apa?”

“Kemeja. Kebetulan cocok. Lagi diskon.”

“Diskon berapa?”

“Lumayan.”

Nadia merampas tas itu sebelum aku sempat mengelak, mengeluarkan kemejanya, dan membaca label harga yang masih menggantung di kancing kerah. Dia membacanya dua kali. Lalu dia menunjuk sebuah papan besar di dinding butik yang bertuliskan NEW ARRIVAL dengan huruf emas.

“Len. Ini koleksi baru. Satu-satunya yang diskon di sini harga dirimu.”

“Kembaliin.”

“Lembaga Survei Nadia memberikan nilai sembilan untuk pemilihan warna dan nol untuk kemampuan berbohong.”

Di mobil, Nadia tidak berhenti bicara selama empat puluh menit perjalanan pulang. Dia menganalisis pilihan warna, menebak reaksi Aries, menyusun tiga skenario serah terima, dan menyarankan agar aku menyemprotkan sedikit parfumku ke kemeja itu biar dia ingat siapa yang ngasih.

“Aku nggak akan nyemprot parfum ke baju laki-laki.”

“Itu namanya branding, Len.”

Sesampainya di rumah, aku langsung naik ke kamar, mengunci pintu, berdiri di depan cermin lemari, dan berlatih.

Versi pertama: santai. Aku mengangkat tas kertas dengan satu tangan dan bilang ke cermin, “Eh, ini kebetulan ada.” Terdengar seperti pegawai toko yang menawarkan sampel parfum di mal.

Versi kedua: dingin dan berwibawa. “Aku lihat ini, kupikir cocok. Terserah mau dipakai atau tidak.” Terdengar seperti atasan yang membagikan seragam kantor.

Versi ketiga: jujur. “Aku lihat ini, terus aku kepikiran kamu, terus—”

Aku berhenti, karena wajahku di cermin sudah merah sebelum kalimatnya selesai, dan di jendela kamar, Pak RT sedang duduk di atas pagar memperhatikanku dengan ekspresi menghakimi yang tidak pantas dimiliki seekor kucing.

“Jangan lihat,” kataku kepada Pak RT.

Pak RT menguap lebar dan tidak pergi.

Versi ketiga resmi dibatalkan.

Di rumah, aku menunggu momen yang tepat. Momen yang santai dan tidak dramatis. Akhirnya aku memilih malam Minggu, ketika Aries sedang membaca di karpet ruang tengah sambil bersandar ke rak jati Opa. Aku berjalan lewat, melempar tas kertas hitam itu ke sofa di sebelahnya seperti melempar koran, dan terus berjalan ke dapur.

“Kebetulan cocok,” kataku tanpa menoleh. “Lagi diskon.”

Aku mendengar bunyi kertas. Lalu hening.

Hening yang lama.

Aku mengintip dari balik kulkas. Dia memegang kemeja itu di pangkuannya dengan dua tangan. Tidak membentangkannya, tidak mencobanya ke badan. Hanya memegangnya, seperti orang memegang sesuatu yang tidak yakin boleh dia pegang. Lalu jarinya menemukan label harga di kancing kerah.

Aku menahan napas.

Dia membaca label itu. Ekspresinya tidak berubah. Dia hanya melepas label itu dengan hati-hati, melipatnya dua kali, dan menyelipkannya ke dalam dompet, di antara struk minimarket dan meterai.

Dia tidak berkata ini bukan diskon. Dia tidak menggoda. Dia hanya mengangkat wajah dan menatapku yang setengah bersembunyi di balik kulkas.

“Len.”

“Hm.”

“Ini pertama kalinya kamu beliin aku sesuatu.”

Nadanya pelan, tanpa lelucon apa pun. Dan entah kenapa, justru karena tidak ada leluconnya, kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.

“Cuma kemeja,” kataku.

“Iya. Cuma kemeja.” Dia melipatnya kembali, rapi sekali, lebih rapi dari lipatan butik. “Makasih.”

Aku kembali ke kompor dan memanaskan air yang tidak perlu dipanaskan.

Minggu sore, dia memakainya.

Dia tidak mengumumkannya. Dia hanya turun tangga untuk memasak makan malam, memakai kemeja biru tua itu dengan celana kain abu-abu, dan sesuatu di ruang tengah langsung berubah, seperti seseorang memutar kenop saturasi di dunia.

Warnanya cocok sekali dengan kulitnya. Bahunya mengisi kemeja itu dengan tepat. Aku sedang menata piring di meja makan, dan aku menata piring yang sama tiga kali.

Lalu dia berdiri di depan wastafel, membuka keran, dan mulai menggulung lengan kemejanya.

Pelan. Lipatan pertama di pergelangan. Lipatan kedua. Lengan bawahnya terlihat, otot-otot halus bergerak di bawah kulit ketika dia menarik kain ke atas. Lipatan ketiga, tepat di bawah siku. Lalu dia berpindah ke lengan kiri dan mengulang prosesnya dengan ketelitian yang sama, seperti tidak tahu bahwa di belakangnya ada seorang perempuan yang lupa cara memegang piring.

Aku berjalan ke dapur untuk mengambil sendok.

Aku menabrak kusen pintu.

Bunyinya keras. Duk. Bahu kiriku menghantam kayu dengan kekuatan yang sama sekali tidak elegan, dan aku mundur selangkah sambil memegangi bahu, menatap kusen itu seperti dia baru saja pindah posisi tanpa izin.

Aries menoleh, tangannya masih basah. “Kamu kenapa?”

“Kusennya.”

“Kusennya kenapa?”

“Pindah.”

Dia menatap kusen itu. Kusen itu tidak pindah. Kusen itu sudah di sana sejak rumah ini dibangun. Lalu dia menatapku, lalu menatap lengan kemejanya yang tergulung, dan aku melihat pemahaman perlahan-lahan muncul di wajahnya, disusul sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Sudut bibirnya naik.

“Oh,” katanya.

“Nggak ada oh.”

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Muka kamu bilang oh.”

Malam itu aku menyusun amandemen. Aku mengetiknya di laptop sementara dia mencuci piring, dan begitu dia duduk, aku memutar layar ke arahnya.

Pasal 8: Pihak Kedua dilarang menggulung lengan kemeja di area umum rumah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Dia membacanya dengan serius. Melepas kacamata. Memakainya lagi.

“Aku perlu klarifikasi definisi area umum.”

“Ruang tengah. Dapur. Ruang makan. Tangga.”

“Teras?”

“Teras juga.”

“Garasi?”

“Garasi apalagi.”

“Jadi aku cuma boleh menggulung lengan di kamarku sendiri.” Dia mengangguk pelan seperti hakim yang menimbang perkara. “Dan pemberitahuannya bentuknya apa? Surat? Email? Aku perlu mengajukan permohonan tertulis setiap mau cuci piring?”

“Bilang aja.”

“Oke.” Dia menegakkan badan dan menatapku langsung. “Aku akan bilang gulung tiga detik sebelumnya. Supaya kamu punya waktu untuk menjauhi semua kusen.”

“Itu malah lebih parah!”

“Kenapa lebih parah?”

Aku tidak bisa menjawab tanpa mempermalukan diri lebih dalam, jadi aku menyodorkan pulpen. Dia menandatangani Pasal 8 sambil tersenyum ke kertas, dan aku pura-pura sangat sibuk menyimpan file.

Sebelum aku sempat menutup laptop, dia mengetuk meja dengan ujung pulpen.

“Pasal ini berat sebelah,” katanya.

“Berat sebelah gimana?”

“Hanya Pihak Kedua yang diatur. Aku minta pasal balasan.” Dia menarik laptop ke arahnya dan mulai mengetik sebelum aku sempat protes. Lalu dia memutar layar kembali kepadaku.

Pasal 8 ayat 2: Pihak Pertama dilarang menggulung rambut dengan pensil di area dapur tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Aku membacanya dua kali. “Kenapa?”

“Alasannya sama dengan ayat satu.”

“Aku nggak pernah—” Aku berhenti. Aku memang sering melakukannya. Setiap kali memasak, setiap kali membaca dokumen panjang, aku menggulung rambut asal-asalan dan menahannya dengan pensil atau sumpit atau apa saja yang ada di dekat tangan. Aku tidak pernah memikirkannya. Aku tidak tahu ada orang yang memperhatikannya.

“Sejak kapan itu jadi masalah?” tanyaku pelan.

Dia menyodorkan pulpen padaku. Wajahnya datar. Telinganya merah.

“Sejak pagi nasi goreng air laut.”

Aku menandatangani ayat dua tanpa membantah sepatah kata pun.

Senin siang, ponselku bergetar. Pesan dari Nadia.

Kiriman dari intel lapangan.

Sebuah foto. Aries di meja kerjanya di kantor, memakai kemeja biru tua, menatap layar dengan wajah serius. Di bawahnya, Nadia meneruskan pesan dari seseorang:

Dia pakai kemeja baru hari ini. Tiap sepuluh menit dia lihat lengannya sendiri. Tadi ada yang bilang kemejanya bagus, dia jawab “dikasih istri” padahal nggak ada yang nanya dari siapa. Tolong sampaikan ke yang bersangkutan. — R

Aku menatap foto itu lama. Lalu inisial di bagian akhir.

R?

Raka.

Sejak kapan kamu punya nomor Raka?

Itu tidak relevan dengan laporan intelijen ini.

Nad.

Fokus ke suamimu, Len. Dia baru saja menyebut kamu ke tiga orang di pantry.

Malam itu, sekitar pukul sepuluh, aku turun untuk mengambil air dan mendengar suara keran mengalir di area cuci belakang. Aku mengintip dari pintu dapur.

Aries berdiri di depan bak cuci kecil, lengan kaus digulung, mencuci kemeja biru tua itu dengan tangan. Bukan dimasukkan ke mesin seperti kemeja-kemejanya yang lain. Dia menggosok bagian kerahnya pelan-pelan dengan sabun batang, membilasnya dengan hati-hati, memerasnya tanpa memelintir, seperti mencuci sesuatu yang tidak boleh rusak sedikit pun.

Aku mundur sebelum dia melihatku.

Aku naik ke kamar tanpa mengambil air, berbaring dengan bahu kiri yang masih sedikit nyeri karena kusen, dan berusaha keras untuk tidak memikirkan cara seorang laki-laki mencuci satu kemeja yang katanya cuma kemeja.