Chapter Six
Sarapan yang Kutunggu
POV: Helena
Alarmku berbunyi pukul 05.45, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menekan tombol tunda.
Ada penjelasan logis untuk ini. Aku sudah memikirkannya semalam dengan sangat matang, seperti menyusun argumen untuk klien yang keras kepala. Tol dalam kota lebih lancar sebelum pukul enam lima belas. Jalan Pondok Indah tidak separah itu kalau berangkat lebih awal. Orang yang bangun pagi lebih produktif, menurut sebuah artikel yang tidak kubaca sampai selesai.
Semua itu benar. Dan semua itu tidak ada hubungannya dengan bau roti bakar yang setiap pagi naik dari dapur ke lorong lantai atas, menyelinap lewat celah bawah pintuku, sementara aku masih pura-pura tidur dan mendengar sendok beradu dengan cangkir, radio kecil memutar berita pagi, dan seseorang bersenandung fals.
Hampir dua bulan menikah, aku selalu turun pukul enam empat puluh, menyambar tumbler yang sudah terisi, mengucapkan terima kasih sambil memakai sepatu, lalu kabur. Aries selalu sudah selesai sarapan. Piringnya sudah dicuci. Dia biasanya duduk di teras, membaca berita di tablet dengan kopi hitam, dan melambai padaku seperti penjaga mercusuar melambai pada kapal yang lewat.
Pagi ini aku turun pukul enam kurang sepuluh.
Dia sedang berdiri di depan kompor dengan kaus abu-abu dan celana training, rambutnya masih basah sehabis mandi, mengaduk sesuatu di panci kecil. Radio di jendela memutar laporan lalu lintas. Ketika mendengar langkahku, dia menoleh, dan sendoknya berhenti di udara.
“Ada yang kebakaran?” tanyanya.
“Kenapa harus ada yang kebakaran?”
“Kamu turun jam segini. Biasanya itu cuma terjadi kalau ada bencana.”
“Macet,” kataku, dan langsung menyesal, karena kata itu terdengar jauh lebih lemah diucapkan keras-keras daripada dipikirkan di kasur.
Dia melirik jam dinding. Lalu melirikku. “Kamu berangkat jam tujuh.”
“Aku mau berangkat lebih pagi.”
“Kamu pakai daster.”
Aku menunduk. Aku memang pakai daster. Daster batik motif kawung pemberian Mama, yang biasanya cuma kupakai di dalam kamar karena warnanya oranye menyala. Aku turun terlalu bersemangat sampai lupa ganti baju, dan sekarang aku berdiri di dapur suamiku seperti iklan sirup menjelang Lebaran.
“Aku mau sarapan dulu,” kataku dengan sisa martabat. “Baru ganti.”
“Oke.” Dia kembali mengaduk panci. Bahunya bergetar sedikit. “Bubur oat atau roti?”
“Kamu ketawa.”
“Aku batuk.”
“Kamu batuk sambil senyum.”
“Itu jenis batuk yang langka.”
Dia menyiapkan roti bakar dengan selai kacang tipis dan irisan pisang di atasnya, karena ternyata dia memperhatikan bahwa aku selalu menyisihkan bagian roti yang selainya terlalu tebal. Aku duduk di seberangnya. Kami sarapan dua puluh menit. Dia menceritakan berita pagi dengan komentar datar seperti pembawa acara yang sudah lelah dengan dunia. Aku tertawa terlalu sering untuk ukuran orang yang mengaku cuma menghindari macet.
Lalu aku berangkat pukul tujuh lewat lima belas. Lebih siang dari biasanya.
Di hari ketiga, aku tidak perlu bilang apa-apa lagi. Ketika aku turun pukul enam kurang lima, sudah memakai kemeja kerja, terima kasih banyak, ada dua piring di meja. Dua gelas jus jeruk. Dua sendok yang diletakkan di atas serbet terlipat seperti di restoran hotel.
Aries tidak menyinggungnya. Dia hanya menarik kursi di seberangnya dengan ujung kaki dan bilang, “Pagi.”
Aku duduk, dan berpura-pura semua ini sangat normal.
Pukul sembilan, ponselku bergetar. Pesan dari Nadia.
KUESIONER DENIAL v1.0 — mohon diisi dengan jujur, hasil dirahasiakan (bohong, nanti aku sebar)
1. Kamu bangun lebih pagi akhir-akhir ini karena: a. Macet, b. Macet, c. Macet, d. Suami.
2. Kalau kamu turun dan dia belum di dapur, kamu merasa: a. Biasa saja, b. Lega, c. Kecewa tapi gengsi, d. Menunggu di tangga sambil pura-pura cari kunci mobil.
3. Siapa yang memberi tahu kamu soal macet? a. Google Maps, b. Diri sendiri, c. Hatimu yang berbohong.
Aku membalas: Dari mana kamu tahu aku bangun pagi?
Mama kamu. Mama kamu tahu dari Mama Aries. Mama Aries tahu dari Aries. Aries cuma bilang “Helena sekarang sarapan di rumah.” Satu kalimat. Sudah tersebar ke tiga grup keluarga. Selamat datang di jaringan intelijen Chandra.
Aku mengunci ponsel dan menatap layar komputer sampai Sinta memutar kursinya ke arahku.
“Len. Boleh aku tanya sesuatu yang sifatnya pribadi tapi berbasis data?”
“Nggak.”
“Dua minggu ini kamu datang jam delapan lewat. Sebelumnya setengah delapan. Tapi kamu juga bilang ke tim kalau sekarang kamu bangun jam enam kurang.” Sinta memiringkan kepala. “Bangun lebih pagi, datang lebih siang. Kamu sarapan di mana, Bali?”
Aku tidak menjawab. Sinta tidak membutuhkan jawaban. Dia memutar kursinya kembali sambil bersenandung lagu cinta yang sama sekali tidak relevan dengan pekerjaan kami.
Selasa minggu itu, dapur kosong.
Aku turun pukul enam kurang lima dengan kemeja kerja yang sudah disetrika dan rambut yang sudah disisir dua kali, dan tidak ada siapa-siapa di bawah. Tidak ada bau roti. Tidak ada radio. Kompor dingin. Dua piring yang biasanya sudah menunggu masih tersusun di rak.
Aku berdiri di tengah dapur dan merasakan sesuatu yang sangat memalukan: kecewa.
Lalu aku melakukan sesuatu yang lebih memalukan lagi. Aku duduk di anak tangga terbawah, menaruh tas di pangkuan, dan menunggu. Bukan menunggu. Aku sedang mencari kunci mobil. Di dalam tas. Dengan sangat teliti. Selama dua belas menit.
Pintu depan terbuka pukul enam lewat delapan. Aries masuk dengan kaus olahraga yang basah keringat, napas sedikit terengah, dan kantong plastik berisi lontong sayur di tangan kanan. Dia berhenti melihatku duduk di tangga.
“Pagi,” katanya. “Aku lari ke depan, sekalian beli sarapan. Kamu nunggu?”
“Nggak. Aku cari kunci mobil.”
Dia melirik tangan kananku.
Kunci mobil itu ada di sana. Di genggamanku. Sudah dari tadi, rupanya.
“Ketemu,” katanya serius. “Selamat.”
Aku berdiri, melewatinya ke dapur tanpa kata, dan diam-diam berterima kasih pada Nadia untuk opsi d di pertanyaan nomor dua, karena ternyata kuesioner itu ditulis oleh orang yang mengenalku jauh lebih baik daripada diriku sendiri.
Kamis pagi, hujan turun sejak subuh.
Bukan hujan deras yang membuat orang panik, tapi hujan tipis dan konsisten yang membuat seisi rumah terdengar seperti berada di dalam selimut. Ketika aku turun, Aries tidak menata sarapan di meja makan. Dia menatanya di meja bar kecil yang menempel ke jendela dapur, tempat yang selama ini lebih sering dipakai untuk menaruh kantong belanja.
“Hujan,” katanya, seolah itu penjelasan yang cukup. “Dari sini kedengeran.”
Meja bar itu sempit. Dua kursi tinggi berdempetan, dan kalau dua orang duduk menghadap jendela, siku mereka nyaris bersinggungan. Aku memanjat kursi tinggi itu dengan tingkat keanggunan anak kambing di atas pagar, sementara dia duduk dengan mudah seperti orang yang memang dilahirkan untuk kursi bar.
Kami makan lontong sayur yang dia beli dari gerobak ujung komplek, masih panas dalam rantang. Hujan mengetuk kaca. Radio tidak dinyalakan.
Lalu lututku menyentuh lututnya.
Tidak sengaja. Aku bergeser untuk meraih kerupuk, dan lutut kananku mendarat di sisi lutut kirinya, dan ada sebuah detik di mana seharusnya aku menariknya kembali, bilang maaf, lalu melanjutkan hidup seperti perempuan dewasa yang punya kantor dan target kinerja.
Aku tidak menariknya.
Dia juga tidak.
Kami terus makan. Aku menyendok kuah lontong dengan konsentrasi seorang ahli bedah. Dia membaca berita di ponsel, menggulirnya, mengangguk sedikit seperti orang yang menemukan informasi penting. Hangat dari lututnya merambat lewat kain celanaku, kecil dan diam dan sangat, sangat bisa dirasakan.
Aku melirik ponselnya.
Artikel yang sama. Judul yang sama, foto yang sama, paragraf pertama yang sama, dari tadi. Dia tidak menggulir apa pun. Ibu jarinya hanya bergerak naik-turun di atas layar tanpa benar-benar menyentuhnya.
Aku tidak tahu kenapa itu membuatku ingin tertawa sekaligus ingin bersembunyi di bawah meja bar.
“Beritanya bagus?” tanyaku.
“Bagus banget,” katanya tanpa menoleh. “Soal inflasi.”
“Inflasi apa?”
Hening. Dia akhirnya membaca judulnya sendiri. “Harga cabai.”
“Kamu baca soal harga cabai lima menit?”
“Cabai itu isu yang kompleks.”
Aku menggigit bibir keras-keras. Dia mengunci ponselnya dan menelungkupkannya di meja, kalah. Lutut kami masih bersentuhan. Tidak ada yang bergerak. Hujan terus turun, kuah lontong di mangkukku mulai dingin, dan aku sama sekali tidak peduli.
“Boleh aku tanya sesuatu?” katanya setelah beberapa saat.
“Tergantung.”
“Kenapa sekarang kamu turun pagi?”
Aku menatap kaca jendela yang berembun. Di luar, pohon kamboja basah dan bunganya jatuh satu-satu ke rumput. Aku bisa saja bilang macet lagi. Dia tidak akan membantah. Dia tidak pernah membantah.
“Rumah ini enak kalau pagi,” kataku akhirnya. “Kedengeran hidup.”
Itu bukan seluruh jawabannya. Tapi itu juga bukan kebohongan.
Dia tidak menanggapi. Dia hanya mengambil kerupuk terakhir di piring, mematahkannya jadi dua, dan meletakkan bagian yang lebih besar di mangkukku.
Pukul tujuh lewat dua puluh lima, aku harus pergi. Aku turun dari kursi tinggi dengan keanggunan yang sama buruknya, dan lututku meninggalkan lututnya, dan rasanya seperti keluar dari ruangan hangat ke teras yang basah.
“Hati-hati,” katanya. “Jalan licin.”
“Iya.”
“Dan Len.” Dia menatapku, ekspresinya serius. “Kalau besok macet lagi, sarapannya di sini lagi aja.”
Aku tidak tahu apakah itu lelucon atau undangan. Yang kutahu, wajahku panas sampai ke telinga ketika aku memasang sabuk pengaman.
Di lampu merah Pondok Indah, sambil menunggu hijau, aku membuka kuesioner Nadia lagi.
Aku menatap pertanyaan nomor satu lama sekali. Lalu aku mengetik satu huruf, menekan kirim, dan melempar ponsel ke kursi penumpang seperti benda itu mendadak panas.
d.
Balasan Nadia datang sebelum lampu berubah hijau, berupa pesan suara yang isinya hanya jeritan selama tiga detik, disusul suara klien WO-nya bertanya, “Mbak Nadia, kenapa?”
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu reading
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh