Chapter Fifteen
Jangan Terlalu Baik Sama Aku
POV: Helena
Telepon dari pos satpam datang pukul sepuluh lewat tujuh menit pada hari Minggu pagi, dan suara Pak Darto terdengar seperti petugas yang mengumumkan serangan udara.
“Bu Helena! Ibu Ratna sudah lewat portal!”
Aku sedang duduk di sofa dengan daster kawung oranye, rambut digulung dengan sumpit, memakan pisang goreng buatan Aries langsung dari piring. Aku membeku dengan pisang setengah tergigit.
“Mama?”
“Ibu Ratna sama satu ibu lagi, Bu. Bawa rantang. Saya tahan sebentar pura-pura cek KTP, tapi Ibu Ratna bilang saya mertua, Pak, masa mertua dicek KTP, jadi saya buka. Maaf, Bu. Paling tiga menit lagi sampai.”
Telepon ditutup. Aku menoleh ke dapur.
Aries berdiri di depan kompor dengan spatula di tangan, sudah mendengar semuanya, dan wajahnya untuk pertama kalinya sejak kami menikah menunjukkan sesuatu yang mirip kepanikan.
“Satu ibu lagi itu siapa?” tanyanya.
“Kemungkinan besar Tante Rina.”
“Tante Rina yang nanya kapan isi?”
“Tante Rina yang nanya kapan isi.”
Kami saling menatap. Lalu, tanpa satu kata pun, kami berdua sampai pada kesimpulan yang sama.
Kamar.
Dua kamar. Dua pintu berhadapan di lantai atas. Satu kamar berisi barang-barangku, satu kamar berisi barang-barangnya. Mama tidak tahu soal Pasal 3. Tidak ada yang tahu soal Pasal 3 kecuali Nadia, dan Nadia hanya tahu karena aku kalah dalam perang interogasi. Kalau Mama naik ke lantai atas, dan Mama selalu naik ke lantai atas karena Mama menganggap setiap rumah anaknya sebagai objek inspeksi, semuanya akan berakhir dengan seminar keluarga tiga jam di grup Chandra Family 💐.
“Kamarmu,” kataku. “Barangku pindah ke kamarmu. Sekarang.”
Aries mematikan kompor. “Kenapa bukan kamarmu?”
“Kamarmu lebih besar. Kamar utama. Mama pasti cek kamar utama.”
Dia tidak berdebat. Kami berlari naik tangga.
Tiga menit itu adalah tiga menit paling efisien dalam sejarah rumah tangga kami. Aku menyambar bantal dan guling dari kasurku. Aries menyambar botol-botol skincare dari meja riasku dalam satu pelukan, seperti petugas evakuasi menyelamatkan dokumen negara. Aku melempar daster-daster di gantungan ke dalam lemarinya. Dia memindahkan sandal karet biruku dari depan pintuku ke depan pintunya. Aku mengambil bingkai foto pernikahan kami dari laci, foto yang selama ini tidak pernah kupajang, dan menaruhnya di meja samping kasurnya.
“Charger,” kataku.
Dia mencabut charger dari kamarku dan mencolokkannya di sisi kiri kasurnya.
“Novel,” katanya.
Aku meletakkan novel yang sedang kubaca di nakas, terbuka menelungkup, seperti baru ditinggal semalam.
Bel pagar berbunyi.
Kami berdiri di tengah kamarnya, terengah-engah, dikelilingi barang-barangku. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar berada di dalam kamar ini. Kamarnya rapi dan sederhana. Seprai abu-abu tua. Rak buku kecil penuh buku ekonomi dan beberapa novel detektif. Satu meja kerja menghadap jendela, dengan lampu meja dan sebuah mug berisi pulpen. Tidak ada hiasan, tidak ada foto, sampai satu menit yang lalu.
Dan sekarang, di tengah semua kerapian itu, ada bantal bermotif awan dan sebotol serum wajah dan daster oranye menyala yang menggantung di pintu lemari.
Aries menatap sekeliling kamarnya, lalu menatapku.
“Kamarku kelihatan kayak habis diserbu,” katanya pelan.
“Itu namanya kamar pasangan.”
Dia menatapku sedetik lebih lama dari yang perlu. Lalu bel berbunyi lagi, lebih panjang, dan kami berlari ke bawah.
Mama masuk membawa dua rantang berisi rendang dan sambal goreng ati, diikuti Tante Rina yang membawa kue lapis legit dan tatapan seorang auditor. Mama memelukku, memeluk Aries, mengomentari dasterku (“Len, kok kayak lampu lalu lintas”), lalu langsung naik ke lantai atas tanpa meminta izin, persis seperti perkiraanku.
Kami menahan napas di kaki tangga.
Mama membuka pintu kamar utama. Hening. Lalu suaranya terdengar, penuh kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
“Ya ampun, Rin! Lihat! Foto nikahnya dipajang di samping kasur!”
Tante Rina menyusul. “Itu bantal awan punya Helena dari kuliah, kan? Masih dibawa-bawa.”
“Dasternya juga di sini!”
Aku menutup wajah. Di sebelahku, Aries berdiri dengan tangan di saku dan wajah yang sangat tenang, tapi aku bisa merasakan bahunya bergetar menahan tawa.
Lalu Mama berhenti di depan pintu kamar seberang. Kamarku. Pintunya terbuka sedikit.
“Ini kamar apa?”
Jantungku berhenti.
“Ruang kerja, Ma,” jawab Aries dari bawah tangga, dengan suara paling natural di dunia. “Helena sering kerja sampai malam. Biar dia nggak ganggu aku tidur. Atau aku yang nggak ganggu dia kerja. Kami masih negosiasi soal siapa yang mengganggu siapa.”
Mama tertawa. Tante Rina tertawa. Mereka menutup pintu kamarku tanpa melihat ke dalam, karena tidak ada yang tertarik dengan ruang kerja, dan turun tangga dengan wajah puas.
Mereka tinggal dua jam. Mama makan pisang goreng buatan Aries dan bilang itu pisang goreng terbaik yang pernah dia makan, lalu bertanya apakah aku yang membuatnya, dan Aries bilang Helena yang pilih pisangnya, Ma, itu bagian paling penting. Tante Rina bertanya kapan isi, dan Aries menjawab tabung gas baru diganti kemarin, Tante, dan Tante Rina memutuskan bahwa kue lapis legitnya perlu dipotong ulang.
Ketika mereka pulang, Mama memelukku di depan pagar lebih lama dari biasa.
“Mama lega,” bisiknya. “Dulu Mama takut kamu nggak bahagia. Mama yang maksa kamu. Sekarang Mama lihat kamarnya, fotonya. Mama lega.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk ke bahu Mama, dan ketika mobilnya berlalu, aku masih berdiri di depan pagar beberapa saat lebih lama.
Sore itu kami memindahkan barang-barangku kembali.
Prosesnya jauh lebih lambat daripada pagi tadi. Tidak ada yang terburu-buru. Aku mengambil bantal awan dari kasurnya dan memeluknya sebentar sebelum membawanya ke seberang. Aries mengembalikan botol-botol serum satu per satu, membaca labelnya, dan bertanya dengan serius kenapa satu orang butuh empat jenis cairan bening yang kelihatannya sama. Aku mengambil bingkai foto pernikahan kami dari nakasnya.
Lalu aku berhenti.
“Ini,” kataku, mengangkat bingkai itu. “Boleh tetap di sini?”
Dia menatap foto itu. Kami berdua di pelaminan, tersenyum ke kamera dengan senyum yang sopan dan asing, seperti dua orang yang baru dikenalkan di sebuah seminar.
“Kenapa?”
“Nggak tahu.” Aku meletakkannya kembali di nakasnya. “Kamarmu kosong banget tanpa ini.”
Dia tidak menjawab. Dia hanya melihat foto itu di tempatnya yang baru, lama sekali.
Malamnya, dia menggoreng pisang lagi karena Mama menghabiskan semuanya. Aku duduk di meja bar, memperhatikan punggungnya di depan kompor, dan semua yang terjadi hari ini menumpuk di dadaku seperti barang-barang yang dipindahkan terlalu cepat.
Dia berbohong untukku hari ini. Dengan lancar, tanpa ragu, tanpa meminta imbalan. Dia membiarkan Mama mengira aku yang memilih pisang terbaik. Dia membiarkan Tante Rina mengira dia lucu, padahal dia sedang melindungiku. Dia membuat Mama lega, sesuatu yang tidak bisa kulakukan sendiri selama berbulan-bulan.
Dan dia tidak pernah meminta apa pun kembali.
“Aries.”
“Hm.”
“Jangan terlalu baik sama aku.”
Spatula di tangannya berhenti.
“Kenapa?” tanyanya tanpa menoleh.
“Karena aku takut.” Kalimat itu keluar sebelum aku sempat merapikannya. “Aku takut terbiasa. Aku sudah terbiasa sama lampu itu. Sama gelas air. Sama kamu yang selalu ada. Kalau suatu hari kamu capek, kalau suatu hari kamu sadar kamu kasih terlalu banyak dan aku nggak pernah bisa bayar, aku—” Suaraku retak. “Neraca itu nggak pernah seimbang. Dan aku takut suatu hari kamu nagih.”
Minyak di wajan mendesis. Dia mematikan kompor.
Lalu dia berbalik, bersandar ke meja dapur, spatula masih di tangan, dan menatapku dengan wajah yang sama sekali tidak bercanda.
“Len. Dengar.”
Aku mendengar.
“Yang aku kasih ke kamu bukan tagihan. Nggak ada jatuh temponya. Nggak ada bunganya. Nggak akan pernah ada surat penagihan yang datang ke kamar kamu.” Dia berhenti sebentar, seperti sedang memilih kata dengan sangat hati-hati. “Kalau pun ini cinta, cinta yang aku tahu nggak pernah kirim tagihan.”
Kalau pun ini cinta.
Kalimat itu menggantung di dapur seperti asap pisang goreng. Dia tidak menariknya kembali. Dia juga tidak menjelaskannya. Dia hanya berdiri di sana, memegang spatula, membiarkan kalimat itu ada.
Aku turun dari kursi tinggi.
Aku tidak memutuskannya. Kakiku yang memutuskan. Tiga langkah dari meja bar ke depan kompor, dan aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya, dan menempelkan wajahku ke dadanya, dan memeluknya.
Dia membeku. Spatula di tangan kanannya terangkat ke udara, menjauh dari punggungku, seperti orang yang takut menodai sesuatu yang bersih. Tangan kirinya menggantung di samping badan, ragu.
Aku bisa mendengar jantungnya. Cepat. Jauh lebih cepat daripada suaranya yang selalu tenang.
“Len,” katanya pelan, di atas kepalaku. “Pisangnya.”
“Biarin.”
“Nanti gosong.”
“Kompornya sudah kamu matiin.”
Hening. Lalu dia tertawa, pelan sekali, dan tawanya bergetar di bawah pipiku. Tangan kirinya akhirnya naik, menyentuh punggungku dengan ragu, lalu menetap di sana. Hangat dan berat dan pasti.
Spatula itu tetap terangkat di udara seperti bendera putih, sampai aku melepaskan pelukanku dua menit kemudian.
Aku mundur, wajahku panas, dan mengambil sepotong pisang goreng dari piring dengan tangan kosong supaya punya sesuatu untuk dilakukan. Pisang itu masih terlalu panas. Aku mendesis kesakitan dan tetap memakannya.
Dia menatapku, spatula masih di tangan, rambut sedikit berantakan karena pelukanku tadi menariknya ke depan.
“Itu tadi,” katanya. “Pelukan.”
“Iya.”
“Pertama.”
“Iya.”
“Atas kemauan sendiri.”
“Jangan dicatat.”
Dia meletakkan spatula di atas wajan dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan barang bukti.
“Terlambat,” katanya.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku reading
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh