Chapter Forty One
Epilog: Pasal Tujuh
POV: Aries
Ulang tahun pernikahan pertama kami jatuh pada hari Sabtu, dan istriku merayakannya dengan menyelenggarakan rapat.
Tentu saja dia menyelenggarakan rapat.
Undangannya kuterima Senin pagi, terlipat tiga di dalam tumbler kopiku, dengan kop surat yang jelas dia tiru dari memo-memoku.
UNDANGAN RAPAT TAHUNAN
Perihal: Evaluasi Satu Tahun Perjanjian Rumah Tangga
Waktu: Sabtu, pukul 19.00
Tempat: Meja makan (tempat kejadian perkara awal)
Agenda: Pembahasan Pasal 7
Catatan: Pihak Kedua wajib membawa meterai. Yang terakhir.
Aku membaca kata terakhir itu tiga kali.
Dompetku memang tinggal punya satu meterai. Satu pak isi sepuluh yang kubeli dengan panik di koperasi kantor sudah habis untuk berbagai amandemen. Pasal 3. Pasal 9 ayat 3 tentang hak menonton sepak bola. Pasal 10 tentang larangan bangun duluan di hari Minggu. Pasal 11 tentang pembagian sisi kasur yang dia langgar setiap malam dengan menggeser seluruh tubuhnya ke sisiku. Yang tersisa hanya satu lembar, terselip di antara struk minimarket dan label harga kemeja biru tua.
Aku tidak tahu bagaimana dia tahu. Lalu aku ingat bahwa istriku konsultan, dan konsultan selalu tahu.
Sabtu sore, rumah kami penuh.
Nadia dan Raka datang pukul lima dengan dua kantong besar berisi makanan dan satu kotak kue, dan Nadia langsung mengambil alih dapur dengan semangat seorang WO yang sudah terlalu lama tidak mengurus acara. Raka berdiri di pojok ruang tengah dengan wajah gugup yang sangat tidak biasa untuknya, dan sesekali meraba saku celananya seperti mengecek sesuatu.
Aku tahu apa yang ada di saku itu. Raka menunjukkannya padaku dua minggu lalu, di atap kantor, dengan tangan gemetar. Cincin perak sederhana dengan satu batu kecil.
Kapan? tanyaku waktu itu.
Nggak tahu, katanya. Kamu yang ngajarin aku bilang aja. Tapi ternyata ngelamar itu jauh lebih susah dari nembak lewat WhatsApp.
Mama Ratna datang pukul setengah enam bersama Papa, membawa rantang berisi rendang dan sambal goreng ati, persis seperti kunjungan mendadak sembilan bulan lalu yang membuat kami mengevakuasi barang dalam tiga menit. Kali ini Mama naik ke lantai atas, membuka pintu kamar kami, dan tidak menemukan apa pun yang perlu disembunyikan. Dia turun dengan mata berkaca-kaca dan memelukku lama di kaki tangga tanpa mengatakan apa pun.
Pak Darto datang pukul enam, memakai batik terbaiknya, membawa sekantong kopi saset sebagai hadiah. Tiga saset. Di atas kantongnya, dengan tulisan tangan yang besar-besar, dia menulis: Yang ketiga gratis.
Pak RT datang tanpa diundang, seperti biasa, dan langsung duduk di kursi makan yang paling nyaman.
Pukul tujuh tepat, Helena memanggil semua orang ke ruang tengah.
Dia memakai gaun merah anggur.
Gaun yang sama. Gaun yang dia beli di Bangkok tiga tahun sebelum kami menikah dan tidak pernah berani dia pakai, sampai malam dia menuruni tangga dan aku menjatuhkan kunci tanpa sadar. Rambutnya digerai, bergelombang, jatuh melewati bahunya. Bibirnya merah anggur. Di telinganya, anting mutiara kecil peninggalan Oma.
Istriku cantik banget.
Setahun yang lalu, aku menuliskan kalimat itu di kepalaku sambil duduk di seberangnya di meja makan, menunduk ke ponsel supaya dia tidak merasa diawasi saat makan sayur asem. Malam ini, aku tidak menunduk. Aku menatapnya terang-terangan, di depan Mama dan Papa dan Pak Darto dan seluruh tim pemantau, dan dia menatapku balik dengan senyum seorang perempuan yang tahu persis apa yang dia lakukan padaku.
Dia membawa map biru.
Kami duduk di meja makan. Berhadapan. Di tempat yang sama dengan malam kesebelas. Orang-orang berkerumun di sekeliling kami, berdiri, duduk di lengan sofa, bersandar ke rak jati Opa. Nadia merekam dengan ponselnya. Raka meraba sakunya lagi.
Helena membuka map dan mengeluarkan dokumen yang sudah sangat kukenal.
Perjanjian Rumah Tangga. Salinan asli. Kertas yang dicetak di printer ruang kerjaku pukul setengah satu pagi, satu tahun lalu, di sebelah tulang ayam bakar. Sudah sedikit menguning di pinggirnya. Penuh coretan amandemen, tempelan kertas tambahan, dan sepuluh meterai yang berderet di pinggir halaman seperti barisan prangko.
Dia membaliknya ke halaman terakhir. Ke pasal terakhir dari tujuh pasal asli.
Pasal 7: Para Pihak tidak diwajibkan untuk jatuh cinta.
Pasal itu sekarang dicoret. Satu garis lurus, ditarik dengan penggaris. Aku tahu itu penggaris karena garisnya terlalu rapi untuk tangan Helena.
Di bawah coretan itu, dengan tulisan tangannya yang miring ke kanan, ada kalimat baru.
Pihak Pertama melanggar Pasal 7.
Pelanggaran dilakukan secara sadar, sengaja, berulang-ulang, dan tanpa penyesalan.
Sanksi: Seumur hidup.
Di bawahnya, ada tanda tangan Helena dan satu kolom kosong untuk tanda tanganku.
Aku membaca kalimat itu sekali. Dua kali. Pada kali ketiga, huruf-hurufnya mulai kabur.
Satu tahun lalu, aku membaca Pasal 7 lebih lama dari pasal mana pun. Aku bilang aku tahu. Aku bilang setuju. Aku tidak mengubah satu kata pun, karena aku sudah menulis aturan untuk berhenti dua hari sebelumnya, dengan pulpen biru di bawah garis penggaris. Aku menandatanganinya dengan tangan yang tidak gemetar, karena aku sudah berlatih lima tahun untuk tidak gemetar.
Malam ini, tanganku gemetar ketika mengeluarkan dompet.
Meterai terakhir itu masih di sana. Di antara struk minimarket dan label harga kemeja. Aku menariknya keluar dengan hati-hati dan menempelkannya di sebelah kolom tanda tangan, menekan keempat sudutnya satu per satu dengan ibu jari, seperti malam amandemen Pasal 3.
Helena menyodorkan pulpen.
Aku menandatanganinya.
“Sah,” katanya, suaranya bergetar sedikit.
“Sah,” kataku.
Ruang tengah meledak.
Nadia menjerit. Mama menangis. Papa menepuk bahuku dua kali dengan sangat keras. Pak Darto bertepuk tangan dengan semangat seorang suporter sepak bola. Pak RT, terkejut oleh keributan, melompat dari kursi makan dan lari ke dapur.
Dan di tengah semua itu, Raka melangkah maju dari pojok ruang tengah.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya berlutut di karpet, di depan Nadia yang masih memegang ponsel untuk merekam, dan mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.
Nadia berhenti menjerit.
Ponselnya jatuh ke sofa, masih merekam langit-langit.
“Nad,” kata Raka, suaranya gemetar parah. “Aku nggak bisa bikin presentasi. Aku nggak punya meterai. Aku cuma bisa bilang aja.”
Dia membuka kotak itu.
“Nikah sama aku.”
Nadia menatap cincin itu selama tiga detik penuh. Lalu dia menangis begitu keras sampai Mama harus memeganginya, dan dia mengangguk sambil menangis, dan mengulurkan tangannya yang gemetar, dan Raka memasangkan cincin itu dengan tangan yang lebih gemetar lagi.
“Kamu,” kata Nadia sambil sesenggukan, “melamar aku di acara orang lain.”
“Ini acara tim,” kata Raka. “Kita tim.”
Helena menatapku dari seberang meja makan dengan mata basah dan senyum yang begitu lebar sampai aku takut wajahnya sakit.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, setelah Mama memelukku lagi di pagar dan berbisik makasih sudah datang ke rumah Mama malam itu, setelah Pak Darto pulang dengan rendang di rantang pinjaman, setelah Nadia dan Raka pergi dengan tangan bertaut dan Nadia yang terus memandangi cincinnya di bawah lampu jalan, kami berdiri berdua di ruang tengah.
Helena mengambil Perjanjian Rumah Tangga dan berjalan ke rak jati Opa. Dia membuka kotak sepatu cokelat bertuliskan JANGAN DIBUANG.
Dia meletakkan Perjanjian itu di dalamnya. Di atas undangan resepsi Mbak Rena. Di atas nota apotek dari ulang tahun Oma. Di atas neraca berselotip. Di atas kertas bergaris dengan aturan nomor satu sampai lima, yang dia ambil dari saku celana tidurnya malam itu dan dia kembalikan ke kotak ini berbulan-bulan kemudian, dengan satu tambahan di bagian paling bawah, dengan tinta merah: DIBATALKAN OLEH PIHAK PERTAMA. TIDAK BERLAKU SELAMANYA.
Lalu dia mengambil spidol hitam dan menambahkan satu kata di tutup kotak, di bawah tulisan lamaku yang sudah pudar.
JANGAN DIBUANG.
Arsip kita.
Dia menutup kotak itu dan berbalik menghadapku.
“Kamu masih punya catatan H.?” tanyanya.
“Masih.”
“Aku masih punya catatan A.”
Kami saling menatap. Lalu, tanpa perlu bicara, kami berdua mengeluarkan ponsel dan menukarnya.
Aku duduk di sofa dan membaca catatan A. untuk pertama kalinya. Kopi hitam, setengah sendok gula aren kalau capek. Daun ketumbar disisihkan seperti barisan upacara. Takut horor, pura-pura nggak. Kalau capek, leluconnya makin datar. Dia pernah minta satu hal seumur hidupnya.
Di baris paling bawah, dengan tanggal hari ini:
Satu tahun. Dia masih nggak bisa bersiul. Aku masih memilih dia. Besok aku akan memilih dia lagi.
Di sebelahku, Helena membaca lima tahun catatan H. dengan air mata yang jatuh satu per satu ke layar ponselku, menggulir pelan, sangat pelan, seperti membaca buku yang tidak ingin cepat selesai.
Ketika dia sampai di baris terakhir, dia berhenti.
Aku tahu baris apa itu. Aku menulisnya tadi pagi, sebelum dia bangun, sebelum dia menahanku di kasur sesuai Pasal 10.
Dulu aku bilang, melihat dia senyum saja sudah lebih dari cukup.
Ternyata aku bohong.
Ternyata aku serakah.
Aku mau senyumnya, tawanya, marahnya, tangisnya, tangannya yang kuning karena kunyit, kakinya yang dingin di betisku setiap malam, suaranya yang mengajariku meminta, dan lampu yang dia nyalakan untukku. Aku mau semuanya. Seumur hidup.
Sanksi yang sangat bisa diterima.
Helena menurunkan ponselku ke pangkuannya. Dia menatapku dengan wajah basah, dengan gaun merah anggur dan riasan yang sudah luntur di sudut mata.
“Kamu serakah,” katanya.
“Iya.”
“Itu bagus.”
“Aku tahu.”
Dia tertawa sambil menangis, lalu menarikku ke arahnya dan menciumku di sofa yang terlalu pendek, di bawah lampu berdiri berkap krem, di rumah yang dulu kusiapkan untuk seseorang yang tidak pernah kuharap akan tinggal.
Dia tinggal.
Dia memilih untuk tinggal, setiap hari, dengan sadar, tanpa utang.
Sebelum naik tangga, kami mematikan lampu itu bersama. Jariku di saklar, jarinya di atas jariku.
Klik.
Rumah kami gelap.
Tidak ada yang sedang menunggu di luar. Tidak ada yang sedang pulang sendirian. Hanya dua orang yang berjalan menaiki tangga dalam gelap dengan tangan bertaut, dan satu kucing oranye gendut yang mengikuti di belakang, dan satu kotak sepatu di rak jati yang tidak akan pernah dibuang.
Rumah ini akhirnya punya penghuni yang lengkap.
Dan aku, setelah lima tahun menyalakan lampu untuk seseorang yang tidak tahu aku ada, akhirnya pulang.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh reading