Chapter Five

Rumah Kamu

POV: Helena

Rak buku itu tingginya dua meter, lebarnya satu setengah, terbuat dari kayu jati yang dibeli almarhum Opa tahun 1987, dan beratnya kira-kira setara dengan seluruh dosa masa kecilku.

“Kenapa nggak beli rak baru aja?” tanya Raka sambil terengah di anak tangga teras rumah orang tuaku. Itu pertama kalinya aku melihat sahabat suamiku dalam kondisi selain berjas di pelaminan. Kaus abu-abunya sudah basah di punggung.

“Karena ini warisan,” jawabku.

“Warisan buat siapa? Buat tulang belakangku?”

“Rak, angkat,” kata Aries dari ujung satunya.

“Aku lagi angkat!”

“Kamu lagi ngeluh sambil pegang.”

Nadia, yang seharusnya membantu, berdiri di bawah pohon mangga dengan kipas angin portabel dan kacamata hitam, memberi aba-aba seperti mandor proyek.

“Kiri sedikit. Kiri yang satunya. Mas Raka, kiri Mas Raka, bukan kiri saya.”

“Kamu dari tadi cuma nunjuk-nunjuk,” protes Raka.

“Saya konsultan.”

“Konsultan apa?”

“Konsultan pemindahan barang antik. Tarifnya mahal. Bersyukurlah saya gratis.”

Raka menatap Nadia dengan wajah orang yang sedang mempertimbangkan tindak pidana ringan. Nadia membalasnya dengan senyum manis yang biasanya dia simpan untuk calon pengantin yang telat bayar DP. Aku dan Aries saling melirik di atas rak buku, dan untuk pertama kalinya kami berbagi pikiran yang sama tanpa perlu bicara.

Oh. Ini bakal jadi masalah.

Ide memindahkan rak itu muncul tiga malam sebelumnya, ketika aku menemukan kardus-kardus berisi novelku masih menumpuk di sudut kamar, belum dibongkar sejak hari pindahan.

Aku mengetuk pintu kamarnya. Kamar yang menurut Pasal 3 ayat 2 tidak dikunci, tapi aku tetap mengetuk karena aku manusia beradab.

“Masuk.”

Aku tidak masuk. Aku berdiri di ambang pintu.

“Boleh aku bawa rak buku dari rumah Mama? Mau aku taruh di ruang tengah. Di rumah kamu.”

Dia sedang duduk di kasur dengan laptop di pangkuan. Dia menutup laptop itu pelan.

“Rumah kita,” katanya.

Nadanya biasa saja. Tidak menegur, tidak tersinggung. Seperti seseorang yang membetulkan bingkai foto yang miring sedikit.

“Kamu nggak harus ngerasa begitu sekarang,” lanjutnya. “Aku cuma betulin tata bahasanya.”

“Sejak kapan kamu jadi guru Bahasa Indonesia?”

“Khusus satu kata. Yang lain kamu bebas salah.”

Aku tertawa, menyerah. “Jadi boleh?”

“Boleh. Tapi harus diamandemen.”

Dan begitulah, pukul sebelas malam, Perjanjian Rumah Tangga kami mendapat Pasal 2 ayat 3: Pihak Pertama berhak menempatkan rak buku warisan di ruang tengah. Pihak Kedua berhak meminjam buku tanpa batas waktu, dengan syarat tidak melipat halaman.

“Aku nggak pernah lipat halaman,” kata Aries saat menandatangani.

“Semua orang bilang begitu sebelum ketahuan.”

Sekarang, setelah satu jam, dua laki-laki, satu konsultan gratis, dan satu mobil bak sewaan, rak jati itu berdiri di ruang tengah, tepat di sebelah lampu berkap krem. Lampu dan rak itu kelihatan seperti dua orang tua yang baru dikenalkan di arisan. Canggung, tapi cocok.

“Bagus,” kata Aries pelan.

Dia menarik satu buku dari tumpukan di lantai, novel lamaku yang sampulnya sudah lepas sebagian, lalu membuka halaman pertamanya. Di sana ada tulisan tanganku umur lima belas tahun: Milik Helena. Yang pinjam dan nggak balikin, semoga jerawatan.

Dia membacanya dengan serius. “Ini ancaman hukum?”

“Itu kutukan. Lebih berat.”

“Aku mau pinjam yang ini.”

“Pasal 2 ayat 3. Jangan dilipat.”

Dia merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar struk minimarket, dan menyelipkannya di antara halaman sebagai pembatas. Lalu dia menunjukkannya padaku seperti pesulap yang membuktikan tidak ada yang disembunyikan di lengan bajunya.

“Kamu nyimpen struk di dompet?”

“Struk, meterai, kartu nama tukang AC.” Dia menutup buku itu. “Dompetku ini arsip nasional.”

Aku ingin mengatakan sesuatu yang lucu sebagai balasan, tapi dia sudah duduk di lantai, bersandar ke rak jati Opa, dan mulai membaca halaman pertama dengan kacamata bacanya. Sore itu cahaya jatuh di bahunya, dan untuk beberapa detik aku lupa bahwa tanganku masih memegang empat novel yang belum masuk rak.

Aku sedang menyusun novel-novel ke rak ketika terdengar Raka dan Nadia berdebat di teras soal siapa yang paling berjasa. Raka bilang dia yang mengangkat. Nadia bilang dia yang memberi visi. Raka bilang visi tidak punya berat. Nadia bilang justru karena itu visi mahal.

“Mereka bakal saling bunuh,” kataku.

“Atau saling simpan nomor.” Aries menyerahkan setumpuk buku padaku. “Dua-duanya sama merepotkannya.”

Kamis berikutnya, sesuatu yang aneh terjadi.

Rapat terakhirku selesai pukul 16.40. Biasanya, setelah rapat terakhir, aku masih punya dua atau tiga jam untuk email, revisi, dan kebiasaan menunggu macet reda sambil pura-pura produktif. Hari itu aku menatap layar laptop selama satu menit penuh, menutupnya, memasukkannya ke tas, dan berjalan ke lift.

Rekan kerjaku, Sinta, menatapku dari kubikelnya seperti melihat hantu memakai blazer.

“Len? Kamu pulang?”

“Kliennya batal,” kataku.

Klien yang mana, aku sendiri tidak tahu.

Pukul 17.52, mobilku berhenti di portal komplek. Pak Darto keluar dari pos dengan wajah tegang, seolah aku datang membawa kabar duka.

“Lho, Bu Helena? Ibu sakit?”

“Nggak, Pak.”

“Dipecat?”

“Pak.”

“Maaf, Bu. Kaget. Ibu belum pernah pulang pas masih terang begini.” Dia mengangkat portal, lalu menunduk lagi. “Bapak sudah tahu Ibu pulang?”

“Belum.”

“Waduh,” katanya sungguh-sungguh. “Bapak belum beli kopi saset.”

Rumah kosong. Mobil Aries belum ada. Aku membuka pintu dan untuk pertama kalinya melihat ruang tengah dalam cahaya sore yang jatuh miring dari jendela. Debu halus melayang pelan. Rak jati dan lampu krem berdiri bersebelahan dalam diam, dan lampu itu padam.

Rumah itu sunyi dengan cara yang tidak kusukai.

Aku menyalakan lampu dapur, membuka kulkas, dan menemukan bahan-bahan sop ayam yang sudah dipotong dan disimpan dalam wadah kaca berlabel tulisan tangannya. Sop. Kamis. Bahkan wortelnya punya jadwal.

Pukul 18.34, terdengar mobil berhenti tergesa di depan pagar. Pintu depan terbuka lebih keras dari biasanya.

“Len?”

Aries berdiri di ambang pintu dengan tas kerja masih di bahu dan napas sedikit memburu. Matanya memindai ruangan dengan cepat. Dari aku, ke tas kerjaku di kursi, ke wajahku, lalu turun ke tanganku yang sedang memegang pisau dan wortel.

“Kamu sakit?”

“Kenapa semua orang nanya itu?”

“Pak Darto nelepon.” Dia menurunkan tasnya pelan-pelan. “Katanya, Pak, Ibu pulang sore, mukanya nggak sakit tapi juga nggak biasa. Aku nggak tahu artinya apa, jadi aku panik secara umum.”

Aku tertawa, dan bahunya baru turun setelah mendengar tawaku.

“Aku nggak apa-apa. Klien batal.”

“Oh.” Dia melepas jam tangan, menggulung lengan kemeja, dan mengambil talenan kedua. “Kalau gitu, klien yang batal itu harus kita kirimi parsel.”

Kami memasak sop bersama. Aku memotong wortel dengan bentuk yang menurutnya ekspresif. Dia menumis bawang tanpa membuat alarm asap berteriak, yang kuanggap sebagai pamer. Kami makan pukul tujuh lewat sedikit, jam makan malam yang belum pernah kami lalui berdua sejak menikah, dengan langit di luar masih biru tua dan bukan hitam.

“Sudah makan siang tadi?” tanyaku sambil menuang kuah.

Dia berhenti mengunyah.

Aku juga berhenti, karena aku baru sadar apa yang barusan kuucapkan. Itu kalimatnya. Kalimat yang selalu dia lontarkan setiap kali aku masuk pintu. Sekarang kalimat itu keluar dari mulutku dengan nada yang sama persis, seperti lagu yang terlalu sering diputar sampai ikut tersenandung tanpa izin.

“Sudah,” jawabnya, dan suaranya sedikit lebih rendah dari biasa. “Nasi padang. Rendang. Sambal ijonya kebanyakan.”

“Bagus,” kataku, meniru caranya.

Dia tersenyum ke mangkuk sopnya. Aku pura-pura tidak melihat.

Malam itu, di kamarku, aku berbaring menatap langit-langit.

Tidak ada klien yang batal. Tidak ada rapat yang dibatalkan, tidak ada alasan yang bisa kuceritakan ke Sinta, ke Pak Darto, atau ke laki-laki yang menyetir pulang sambil panik secara umum. Aku hanya menatap layar laptop pukul empat lewat empat puluh, dan tiba-tiba ingin pulang.

Pulang ke rumah kamu, pikirku.

Lalu aku membetulkan kalimat itu di kepalaku, persis seperti caranya membetulkan. Pelan, tanpa menegur.

Pulang ke rumah—

Aku tidak menyelesaikannya. Aku menarik selimut sampai ke dagu dan berpura-pura sudah tidur, padahal tidak ada siapa pun di kamar ini yang perlu kutipu selain diriku sendiri.