Chapter Twenty One
Rumah Kita
POV: Helena
Aku tidak sadar mengatakannya. Itu yang paling memalukan.
Sabtu pagi, Mama menelepon. Seperti biasa, teleponnya dimulai dengan laporan kesehatan seluruh keluarga besar Chandra sampai sepupu tingkat tiga, dilanjutkan dengan resep sayur asem versi baru, dan diakhiri dengan pertanyaan yang selalu sama.
“Kamu kapan main ke rumah, Len? Sudah tiga minggu.”
“Minggu depan, Ma. Akhir pekan ini aku mau beresin rumah. Rumah kita masih kurang perabot. Sofa ruang tengah juga sudah perlu selimut, Aries suka ketiduran di situ, dan—”
Aku berhenti.
Bukan karena aku sadar. Aku berhenti karena aku melihat Aries.
Dia berdiri di ambang pintu dapur, memegang dua cangkir kopi, dan dia tidak bergerak. Sama sekali. Cangkir di tangan kirinya miring sedikit, kopi hampir tumpah dari pinggirnya, dan dia tidak menyadarinya. Dia menatapku dengan ekspresi yang sangat aneh, seperti seseorang yang mendengar lagu kesukaannya diputar di tempat yang tidak terduga.
“Len? Halo? Kamu masih di situ?”
“Iya, Ma.” Aku menatap Aries. Aries menatapku. “Nanti aku telepon lagi ya, Ma.”
Aku menutup telepon.
“Kenapa?” tanyaku.
Dia menegakkan cangkir yang miring. Berjalan ke sofa. Meletakkan salah satu cangkir di depanku dengan sangat hati-hati.
“Kamu bilang rumah kita,” katanya.
Aku memutar ulang kalimatku sendiri di kepala. Rumah kita masih kurang perabot.
Wajahku langsung panas.
“Aku bilang begitu?”
“Iya.”
“Nggak sengaja.”
“Aku tahu.” Dia duduk di sebelahku. Tidak menggoda, tidak tersenyum menang. Dia hanya duduk di sana, memegang cangkir kopinya dengan dua tangan, menatap uap yang naik dari permukaannya. “Justru karena nggak sengaja.”
Aku ingat empat bulan lalu, di ambang pintu kamarnya, ketika aku meminta izin membawa rak buku ke rumah kamu. Aku ingat dia membetulkannya dengan pelan. Rumah kita. Aku ingat dia bilang aku tidak harus merasa begitu sekarang, dia cuma membetulkan tata bahasanya.
Dia tidak pernah membetulkannya lagi sejak itu. Tidak sekali pun. Dia menunggu.
Dan pagi ini, tanpa kusadari, tata bahasaku sudah benar dengan sendirinya.
“Jadi,” kataku, berusaha menyelamatkan sisa martabatku, “rumah kita butuh selimut sofa.”
Dia meneguk kopinya. Sudut bibirnya naik.
“Rumah kita butuh banyak hal,” katanya. “Ayo belanja.”
Toko furnitur di Alam Sutera itu berukuran seperti bandara kecil, dengan jalur berpanah di lantai yang memaksa pengunjung melewati setiap ruang pamer sebelum boleh keluar. Kami masuk pukul sebelas dengan daftar belanja yang kutulis di ponsel: selimut sofa, dua bantal kursi, rak sepatu baru karena rak lama sudah miring, dan lampu meja untuk teras belakang.
Kami keluar pukul empat sore dengan troli penuh barang yang setengahnya tidak ada di daftar.
Masalahnya, setiap ruang pamer di toko itu dirancang untuk membuat orang membayangkan hidup yang lain. Kami melewati dapur pamer dengan meja marmer putih, dan Aries berhenti untuk memeriksa laci-lacinya dengan serius, membuka dan menutupnya tiga kali, lalu berkata bahwa laci dapur kami di rumah tidak punya peredam suara dan itulah sebabnya dia selalu tahu kalau aku mengambil cokelat diam-diam tengah malam.
“Kamu tahu?”
“Laci ketiga dari kiri. Selasa dan Kamis. Kadang Minggu.”
“Kenapa nggak pernah bilang?”
“Karena aku yang isi ulang cokelatnya setiap Rabu.”
Kami melewati kamar tidur pamer dengan kasur besar dan seprai putih bersih. Aku melirik ke kasur itu sekilas, lalu melirik ke Aries, yang ternyata juga sedang melirik kasur itu, lalu kami berdua melirik ke arah yang berlawanan dengan sangat cepat dan berjalan melewatinya dengan langkah yang dipercepat.
Kami melewati ruang kerja pamer dengan dua meja berhadapan, dan aku duduk di salah satu kursinya sementara Aries duduk di kursi seberang, dan kami berpura-pura rapat. Dia mengajukan proposal pembelian rak sepatu. Aku menolaknya karena anggaran. Dia mengajukan banding. Seorang anak kecil yang lewat menatap kami dengan bingung, lalu menarik tangan ibunya dan bertanya kenapa om dan tante itu main kantor-kantoran.
Lalu kami sampai di bagian tekstil.
Rak-rak tinggi penuh selimut dalam segala warna, tekstur, dan ukuran. Selimut rajut, selimut bulu, selimut katun bergaris, selimut flanel kotak-kotak. Aku berjalan menyusuri rak dan menyentuh semuanya dengan ujung jari seperti memilih buah di pasar.
“Yang ini,” kataku, menarik selimut rajut tebal warna krem.
Aries menyentuhnya. “Bagus. Tapi kecil.”
“Ini ukuran standar.”
“Ukuran standar buat satu orang.”
Aku menatap selimut di tanganku. Lalu menatapnya.
“Memangnya buat berapa orang?” tanyaku.
Dia tidak langsung menjawab. Dia mengambil selimut lain dari rak, selimut yang lebih besar, rajutan longgar warna hijau zaitun yang lembut, dengan rumbai-rumbai kecil di ujungnya. Dia membentangkannya di antara kami dengan dua tangan. Selimut itu cukup lebar untuk menutupi dua orang yang duduk berdampingan.
“Coba,” katanya.
“Coba di mana?”
Dia menunjuk sofa pamer di tengah bagian tekstil. Sofa abu-abu besar, diletakkan di sana persis untuk keperluan ini. Ada papan kecil di sebelahnya bertuliskan Silakan dicoba.
Kami duduk di sofa pamer itu. Dia membentangkan selimut hijau zaitun di atas pangkuan kami berdua. Selimut itu menutupi lututku, lututnya, dan jarak di antara kami yang sebenarnya tidak lagi ada.
Di bawah selimut, tangannya menemukan tanganku.
Dia tidak melihat ke arahku. Dia menatap lurus ke depan, ke rak-rak bantal di seberang, dengan ekspresi orang yang sedang serius menguji kualitas tekstil. Tapi jarinya menyelip di antara jariku, dan ibu jarinya bergerak pelan di punggung tanganku, bolak-balik, bolak-balik, seperti seseorang yang sedang menghafal sesuatu.
“Gimana?” tanyanya. “Kualitasnya?”
“Bagus,” jawabku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud.
“Hangat?”
“Hangat.”
“Cukup buat dua orang?”
“Cukup.”
Kami duduk di sana lebih lama dari waktu yang diperlukan siapa pun untuk menguji sebuah selimut. Orang-orang lewat dengan troli mereka. Pengumuman di pengeras suara menawarkan diskon panci. Seorang pegawai toko berseragam kuning mendekat, melihat kami, lalu tersenyum lebar.
“Pengantin baru, Kak?”
“Lima bulan,” jawab Aries.
“Wah, masih baru banget itu.” Pegawai itu mengangguk dengan pengertian penuh. “Selimut itu laris buat pasangan, Kak. Ukuran pas buat berdua. Katanya kalau satu selimut berdua, nggak akan rebutan.”
“Kami akan rebutan,” kataku.
Aries menoleh. “Kenapa kamu yakin?”
“Karena aku suka selimut. Dan kamu suka ketiduran di sofa. Itu konflik kepentingan.”
Pegawai itu tertawa dan meninggalkan kami. Aries menatapku dengan alis terangkat.
“Kalau gitu harus diatur,” katanya. “Kita perlu pasal.”
Di kasir, kami bertengkar untuk pertama kalinya hari itu, soal siapa yang membayar. Aku mengeluarkan kartu. Dia mengeluarkan kartu. Kasir menatap kami berdua bergantian dengan senyum yang mulai lelah.
“Pasal 2,” kataku. “Biaya rumah tangga dibagi.”
“Pasal 2 ayat 2. Kamu urus galon.”
“Ini bukan galon. Ini selimut.”
“Selimut itu galon versi tekstil.”
Kasir akhirnya menengahi dengan menyarankan kami membayar setengah-setengah, dan kami berdua menyetujuinya dengan wajah orang yang kalah sidang. Di parkiran, dia mengangkat kardus rak sepatu sendirian ke bagasi, menolak bantuanku dengan alasan itu pelaksanaan, tanggung jawabnya tetap di kamu, lalu pinggangnya berbunyi krek dan dia diam selama tiga menit penuh.
Malam itu, selimut hijau zaitun terbentang di sofa ruang tengah, dan aku duduk di depan laptop menyusun amandemen di bawah tatapan suamiku yang sangat geli.
Pasal 9: Selimut sofa hijau zaitun adalah milik bersama. Pihak Pertama tidak boleh memonopoli selimut. Pihak Kedua tidak boleh tidur di sofa sambil membawa seluruh selimut ke bawah badannya.
“Ayat dua menyerang aku secara pribadi,” kata Aries.
“Ayat satu juga menyerang aku secara pribadi. Itu namanya adil.”
Kami menandatanganinya. Dia menempelkan meterai sepuluh ribu dari dompetnya. Itu meterai ketiga yang dia keluarkan sejak kami menikah, dan aku mulai curiga dompetnya memang tempat penyimpanan meterai nasional.
Lalu kami menonton film. Film komedi, kali ini, karena dia menolak horor dengan alasan trauma lorong rumah sakit. Kami duduk berdampingan dengan selimut baru menutupi kami berdua.
Dalam dua puluh menit, aku melanggar Pasal 9.
Aku tidak sengaja. Udara malam itu dingin karena hujan baru saja reda, dan selimut itu sangat lembut, dan pelan-pelan, tanpa kusadari, aku menarik selimut itu ke arahku, sedikit demi sedikit, sampai seluruh sisi kiri tubuhnya terbuka dan aku sudah terbungkus seperti lemper.
“Len.”
“Hm.”
“Pasal 9 ayat 1.”
Aku menatap gulungan selimut di sekitar tubuhku. Lalu menatapnya, yang duduk di sebelahku dengan kaus tipis dan lengan bersedekap karena kedinginan.
“Oh.”
“Pelanggaran terjadi pada menit kedua puluh tiga,” katanya. “Itu rekor.”
“Maaf.”
Aku membuka gulungan selimut. Tapi alih-alih mengembalikan separuhnya ke sisinya, aku melakukan sesuatu yang lain. Aku bergeser mendekat sampai bahuku menempel di dadanya, lalu membentangkan selimut di atas kami berdua sekaligus, sehingga tidak ada lagi sisi kiri dan sisi kanan.
Dia diam sebentar. Lalu lengannya terangkat, melingkari bahuku, dan menarikku sedikit lebih dekat.
“Ini penyelesaian sengketa yang kreatif,” katanya di atas kepalaku.
“Konsultan memang dibayar untuk kreatif.”
Kami menonton sisa film seperti itu. Aku tidak ingat jalan ceritanya sama sekali. Yang kuingat hanya detak jantungnya di bawah telingaku, yang awalnya cepat dan pelan-pelan menjadi tenang, dan tangannya yang sesekali mengusap lenganku di atas selimut.
Sebelum tidur, di kasurku sendiri, aku membuka ponsel.
Kontak itu masih tersimpan dengan nama yang kuberikan berbulan-bulan lalu. Pihak Kedua. Tanpa apa-apa.
Aku menekan tombol ubah. Aku membuka daftar emoji dan menggulir pelan-pelan, melewati wajah-wajah kuning dan hati warna-warni, sampai berhenti di gambar kecil yang sama. Rumah dengan atap cokelat dan pintu kuning.
Kali ini aku tidak ragu.
Pihak Kedua 🏠.
Simpan.
Aku memeluk ponsel di dada dan menatap langit-langit, dan dari kamar seberang, aku mendengar suara pelan sekali. Suara yang mirip seseorang mencoba bersiul.
Yang keluar hanya angin.
Aku tertawa ke bantal sampai mataku basah.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita reading
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh