Chapter Fourteen
Buat Aku, Kamu Itu Rumah
POV: Helena
Hari Kamis itu dimulai dengan presentasi untuk klien terbesar kami dan berakhir dengan aku menangis di dalam mobil di tengah Tol Dalam Kota pukul sebelas malam.
Di antara keduanya, semuanya berantakan.
Presentasinya sebenarnya bagus. Aku dan tim menyusunnya selama tiga minggu, dan di menit kedua puluh, direktur keuangan klien sudah mengangguk-angguk. Lalu di menit kedua puluh tiga, dia membalik ke halaman lampiran dan menemukan angka proyeksi yang salah. Bukan salah kecil. Salah di digit yang membuat seluruh rekomendasi kami terdengar seperti lelucon.
Angka itu dimasukkan oleh Rani, analis junior yang baru empat bulan bergabung, yang semalam bekerja sampai pukul tiga pagi dan pasti salah menyalin dari sel yang bersebelahan. Aku melihat wajahnya memucat di kursi belakang ruang rapat. Aku melihat tangannya gemetar di atas buku catatan.
“Itu kesalahan saya,” kataku kepada direktur keuangan. “Saya yang terakhir mereviu lampirannya. Kami akan kirim revisi sebelum jam lima.”
Rapat selesai dengan dingin. Di lift, Pak Darmawan tidak menatapku. Di ruangannya, dia bicara dengan nada pelan dan sangat tenang selama dua puluh menit, dan nada tenang Pak Darmawan jauh lebih menakutkan daripada teriakan siapa pun. Aku mendengarkan, mengangguk, dan tidak menyebut nama Rani sekali pun.
Rani menemuiku di pantri setelahnya, matanya merah. “Mbak, kenapa Mbak bilang itu salah Mbak?”
“Karena aku yang terakhir mereviu. Itu memang tanggung jawabku.”
“Tapi aku yang—”
“Rani.” Aku menyerahkan segelas air padanya. “Revisi sebelum jam lima. Kita kerjakan bareng. Habis itu kamu pulang dan tidur.”
Revisi selesai pukul tujuh, bukan pukul lima, karena klien meminta tambahan tiga skenario. Aku menyuruh Rani pulang pukul enam. Aku sendiri baru keluar dari gedung pukul sembilan lewat, setelah mengirim email permintaan maaf yang kutulis ulang empat kali.
Hujan deras sejak sore. Tol dalam kota berubah menjadi tempat parkir sepanjang sebelas kilometer. Baterai ponselku tinggal tiga persen. Aku mengirim satu pesan sebelum layarnya mati.
Pulang telat banget. Macet parah. Jangan tunggu ya. Pasal 6.
Lalu aku mencolokkan kabel charger dari laci konsol. Kabel yang sejak audit pertama kubilang kurang panjang.
Kabelnya sekarang panjang. Panjang sekali, cukup untuk menjangkau dasbor dengan leluasa. Aku tidak ingat kapan kabel itu diganti. Aku hanya ingat, berminggu-minggu lalu, seseorang mengangguk serius dan bilang akan ditindaklanjuti.
Di situ aku menangis.
Bukan karena Pak Darmawan. Bukan karena klien. Bukan juga karena macet. Aku menangis karena sebuah kabel charger yang lebih panjang, di tengah hari paling buruk dalam bulan ini, dan aku sama sekali tidak bisa menjelaskan kenapa hal sekecil itu yang akhirnya membuat semuanya runtuh.
Mobil di depanku bergerak dua meter. Aku mengikutinya sambil menyeka mata dengan punggung tangan dan mengotori lengan blazerku dengan maskara.
Lima belas menit kemudian, layar ponselku menyala lagi. Lima persen. Lalu notifikasi masuk berurutan, satu per satu, seperti orang yang mengetuk pintu dengan sabar.
Pihak Kedua, 22.08: Oke. Hati-hati. Jangan ngebut.
Pihak Kedua, 22.31: Aku cek peta, tol dalam kota merah semua. Aku bisa jemput naik ojek, terus aku yang nyetir pulang. Kabari.
Pihak Kedua, 23.15: Pak Darto bilang hujan di sini sudah reda. Semoga di tempatmu juga.
Pihak Kedua, 00.02: Kamu nggak harus balas. Aku cuma ngabarin aku ada.
Pihak Kedua, 00.40: Nggak usah balas. Fokus nyetir.
Aku membaca semuanya di tengah kemacetan dengan wiper bergerak di depan mata. Tidak ada satu pun pesan yang bertanya kenapa aku belum pulang. Tidak ada satu pun yang menuntut jawaban. Hanya seseorang yang terus menyalakan lampu kecil di layar ponselku, satu per satu, seperti meninggalkan remah roti di jalan pulang.
Di lampu merah keluar tol, aku mengetik dengan jari yang masih gemetar.
Masih di jalan. Aku nggak apa-apa.
Balasannya datang sebelum lampu berubah hijau.
Oke. Lampunya nyala.
Pukul satu lewat dua puluh, aku sampai di portal komplek.
Pak Darto keluar dari pos dengan jas hujan plastik warna kuning, menyorotkan senter ke arah jalan seperti petugas mercusuar. Dia membungkuk ke jendelaku dan wajahnya langsung berubah.
“Ya Allah, Bu. Ibu kenapa?”
“Capek, Pak.”
“Kelihatan.” Dia mengangkat portal. Lalu, dengan nada lebih pelan, seperti melaporkan sesuatu yang rahasia: “Bapak sudah empat saset, Bu. Yang keempat nggak saya kasih gratis. Saya kasih roti. Kasihan, dari jam sembilan bolak-balik.”
“Saya sudah bilang jangan nunggu.”
“Iya, Bu.” Pak Darto mengangguk bijak. “Bapak juga bilang begitu. Katanya, Helena bilang jangan nunggu, Pak. Terus dia beli saset lagi.”
Lampu ruang tengah menyala.
Tentu saja menyala. Aku sudah tahu sebelum belok ke ujung blok. Cahaya kuning itu ada di jendela seperti setiap malam, hangat dan tenang di tengah hujan, seperti satu-satunya titik di dunia yang tidak sedang berantakan.
Kali ini Aries tidak tertidur.
Dia duduk di sofa, tegak, masih memakai kemeja kerja dengan lengan digulung. Tanpa pemberitahuan, pikirku samar, melanggar Pasal 8. Laptopnya tertutup di meja. Ponselnya ada di tangan, layarnya menyala, dan aku tahu tanpa perlu melihat bahwa dia sedang menatap pesan terakhirku dan centang satu yang tidak pernah berubah jadi dua karena ponselku mati di tengah tol.
Dia berdiri begitu aku masuk.
Dia tidak bertanya apa-apa. Dia melihat wajahku, maskara yang luntur, mata yang bengkak, blazer yang ternoda, dan dia tidak bertanya apa pun. Dia hanya mengambil tas kerja dari bahuku, meletakkannya di kursi, lalu berjalan ke dapur.
Aku berdiri di tengah ruang tengah seperti orang yang lupa cara duduk.
Dia kembali membawa handuk kecil yang hangat dan lembap. Dia menyerahkannya padaku, dan aku menempelkannya ke wajah, dan rasanya seperti seseorang meletakkan tangan di atas semua hal yang sakit.
“Duduk,” katanya pelan.
Aku duduk.
Lima menit kemudian, dia kembali lagi dengan secangkir teh jahe yang mengepul, madu sudah diaduk, sepotong jeruk nipis mengambang di permukaannya. Dia meletakkannya di tanganku, menutup jemariku di sekeliling cangkir dengan jemarinya sendiri sebentar, memastikan aku memegangnya dengan benar, lalu duduk di sebelahku.
Tidak menempel. Tidak terlalu jauh. Cukup dekat sampai aku bisa bersandar kalau mau.
Aku tidak bersandar. Belum.
“Mau cerita?” tanyanya.
“Nggak sekarang.”
“Oke.”
Kami duduk dalam diam. Hujan masih turun di luar, tapi pelan sekarang, seperti seseorang yang sudah lelah marah. Teh jahe itu panas dan manis dan pedas di tenggorokan. Lampu berdiri menyinari kami berdua dengan cahaya yang sama.
Setelah setengah cangkir, aku akhirnya bicara.
“Aku sudah bilang jangan nunggu.”
“Iya.”
“Pak Darto bilang kamu beli empat saset.”
“Pak Darto melanggar kerahasiaan nasabah.”
“Kenapa?” Aku menatapnya. Suaraku pecah di tengah kata, dan aku tidak berusaha menyembunyikannya. “Kenapa kamu selalu nunggu? Aku pulang jam satu. Jam dua belas. Jam sebelas. Aku sudah bilang jangan. Kamu kerja juga. Kamu capek juga. Kenapa lampunya selalu nyala?”
Dia tidak langsung menjawab.
Dia memandang lampu berdiri di sudut ruangan. Kap kainnya yang krem. Cahayanya yang jatuh di karpet, di rak jati Opa, di sudut sofa tempat dia sering tertidur dengan kaki menjuntai.
“Karena rumah nggak boleh nunggu dalam gelap,” katanya.
Aku tidak mengerti. Aku menunggu.
Dia menoleh padaku. Matanya tenang dan dalam dan sedikit lelah, seperti mata orang yang sudah lama sekali membawa sesuatu yang berat dan tidak pernah meletakkannya.
“Buat aku,” katanya, sangat pelan, “kamu itu rumah.”
Waktu berhenti.
Tidak ada kata lain yang bisa menggambarkannya. Hujan masih turun, lampu masih menyala, teh jahe masih hangat di tanganku, tapi semuanya berhenti di satu detik yang sangat panjang dan sangat diam.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan kalimat itu. Aku memegangnya seperti memegang benda yang terlalu berharga untuk diletakkan dan terlalu berat untuk terus digenggam.
Lalu dia mengangkat bahu.
“Lagian,” katanya dengan nada yang tiba-tiba kembali ringan, “lampunya penakut. Kamu ingat, kan? Dia nggak berani gelap sendirian. Aku cuma nemenin. Kalau aku matiin, nanti dia ngadu ke Pak Darto.”
Aku tertawa. Tawa itu keluar bersama sisa air mata, basah dan berantakan dan sangat lega.
“Lampu nggak bisa ngadu,” kataku.
“Kamu belum kenal lampu ini.”
Aku menghabiskan teh jahe. Dia mengambil cangkir kosong dari tanganku dan meletakkannya di meja. Lalu dia berdiri dan menyuruhku mandi air hangat dan tidur, karena besok adalah hari Jumat dan hari Jumat tidak pantas dihadapi dengan mata bengkak.
Aku naik ke kamar. Aku mandi. Aku mengganti baju tidur, mengeringkan rambut, berbaring di kasur, dan menatap langit-langit.
Kamu itu rumah.
Aku memikirkannya dari berbagai sudut seperti memikirkan masalah klien. Mungkin maksudnya aku membuat rumah ini terasa seperti rumah. Mungkin maksudnya sebelum aku datang, rumah ini cuma bangunan. Mungkin itu cuma kalimat lelah dari orang yang menunggu sampai jam satu pagi.
Tidak satu pun penjelasan itu terasa cukup.
Pukul dua kurang sepuluh, aku bangun lagi. Aku turun tangga pelan-pelan, tanpa alasan apa pun yang bisa kuucapkan.
Lampu ruang tengah masih menyala. Dia masih di sofa, membaca buku yang dia pinjam dari rak jati, dengan struk minimarket terselip di halamannya. Dia mendongak saat aku muncul di kaki tangga, tapi tidak bertanya.
Aku duduk di sebelahnya. Kali ini lebih dekat. Bahu kami bersentuhan.
Dia tidak bergerak. Dia hanya membalik halaman bukunya, pelan, dan membiarkan bahunya tetap di sana.
Kami tidak bicara. Kami hanya duduk, berdua, di bawah satu lampu yang sudah menunggu terlalu banyak malam, sampai mataku berat dan kepalaku jatuh pelan ke bahunya.
Hal terakhir yang kudengar sebelum tertidur adalah bunyi halaman buku yang dibalik, sangat pelan, seperti seseorang yang berusaha keras tidak membangunkan apa pun.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah reading
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh