Chapter One

Satu Lampu yang Belum Padam

POV: Helena

Jam di dasbor menunjukkan 23.47 ketika mobilku berhenti di depan portal komplek.

Pak Darto keluar dari pos satpam sambil membetulkan sarung yang tersampir di bahunya seperti selendang penari jaipong. Dia membungkuk ke jendela yang kuturunkan setengah.

“Malam, Bu Helena. Lembur lagi?”

“Iya, Pak. Klien minta revisi.”

“Kasihan kliennya, malam-malam masih kepikiran.” Dia menarik tali portal, lalu menahannya sebentar. “Tadi Bapak nanya, Ibu sudah lewat belum. Tiga kali.”

“Bapak siapa?”

“Bapak Aries, Bu. Suami Ibu.”

Oh. Bapak yang itu.

Sebelas hari menikah, dan telingaku masih kaget setiap kali ada yang memanggilku Bu dengan nada seserius itu. Lebih kaget lagi mendengar kata suami Ibu diucapkan seolah itu laporan cuaca. Hari ini cerah, besok mungkin hujan, suami Ibu nanya tiga kali.

“Nanyanya lewat telepon, Pak?”

“Jalan kaki, Bu. Ke pos, pura-pura beli kopi saset. Saya sampai nggak enak. Yang ketiga saya kasih gratis.”

Aku tertawa kecil dan mengucapkan terima kasih untuk kopinya, seakan-akan aku yang meminumnya.

Rumah kami ada di ujung blok. Atau rumahnya, aku masih belum memutuskan kata mana yang jujur. Cat abu-abu muda, pagar hitam rendah, dua pohon kamboja yang menurut Aries sudah ada sejak pemilik lama dan tidak tega dia tebang. Dari luar semua jendela gelap, kecuali satu.

Jendela besar ruang tengah memancarkan cahaya kuning. Hangat dan pelan, seperti seseorang yang lupa mematikan lampu.

Atau seseorang yang tidak lupa.

Aku membuka pintu sepelan maling yang punya sopan santun. Lampu berdiri di sudut ruang tengah menyala, kap kainnya krem, sinarnya jatuh tepat di sofa. Di sofa itu, suamiku tidur.

Laptop terbuka di dadanya dengan layar yang sudah lama padam. Satu tangannya di atas perut, satunya menjuntai ke lantai. Kakinya terlalu panjang untuk sofa tiga dudukan, jadi tumitnya menggantung di lengan sofa seperti orang yang sedang dihukum. Kemeja kerja biru muda masih dipakainya, dua kancing atas terbuka, lengannya digulung asal sampai siku.

Aku tidak pernah bilang suamiku jelek. Aku cuma bilang aku belum mencintainya. Dua hal itu berbeda, dan malam ini, di bawah lampu kuning, perbedaannya terasa sangat menyebalkan.

Rahangnya tegas tapi wajahnya tidak galak. Bulu matanya lebih panjang dari punyaku, ketidakadilan kecil yang belum sempat kulaporkan ke siapa pun. Bahkan dalam tidur dia kelihatan seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu dengan tenang.

Aku melepas sepatu dan berjinjit ke meja makan.

Tudung saji rotan menutupi tiga piring: sayur asem, tempe goreng, dan ayam bakar yang kulitnya masih mengilap. Rice cooker di sudut meja menyala dengan lampu oranye kecil bertuliskan warm. Di tudung saji tertempel kertas kuning kecil, tulisan tangannya rapi dan miring sedikit ke kanan.

Sayurnya tinggal dipanasin 2 menit. Kalau sudah makan di kantor, nggak apa-apa, besok pagi aku yang habisin. Piringnya jangan dicuci, sudah malam. —A

Aku belum makan. Terakhir yang masuk ke perutku adalah croissant jam empat sore, yang kumakan sambil membaca komentar klien: bisa lebih bold lagi nggak, tapi tetap minimalis?

Aku memasukkan sayur asem ke microwave. Dua menit. Mesin itu berdengung, lalu berbunyi ting tiga kali dengan suara yang malam ini terdengar seperti alarm kebakaran.

Di sofa, Aries bergerak.

“Sudah makan?”

Itu kalimat pertamanya. Bukan jam berapa ini, bukan kok baru pulang. Suaranya serak dan berat, setengahnya masih tertinggal di dalam mimpi.

“Lagi mau,” jawabku.

“Bagus.” Dia bangun, menutup laptop, mengusap wajah dengan dua tangan. Rambutnya berdiri di satu sisi. “Ayamnya enak. Bukan aku yang masak, jadi aku boleh bilang begitu.”

“Kamu nunggu aku?”

“Nggak.” Dia berdiri dan meregangkan punggung sampai terdengar bunyi krek yang mengkhawatirkan. “Aku ketiduran di tempat yang kebetulan kelihatan dari pintu.”

“Sambil nyalain lampu.”

“Lampunya penakut. Nggak berani gelap sendirian.”

Aku tertawa sebelum sempat mencegah. Dia tidak ikut tertawa, hanya sudut bibirnya naik sedikit, seolah tawaku adalah jawaban yang dia tunggu dari soal ujian.

Aries duduk di seberangku, menuang air ke gelasnya sendiri, lalu sibuk membaca sesuatu di ponsel. Butuh beberapa suapan sampai aku sadar dia sengaja tidak menatapku makan. Matanya di layar, tubuhnya santai, tapi kursinya tidak dia tinggalkan. Ada di sini, tapi tidak mengawasi. Aku tidak tahu ada orang yang bisa melakukan dua hal itu sekaligus.

“Aku mau ngomong sesuatu,” kataku setelah ayam bakar tinggal tulang. “Mumpung kamu bangun.”

“Aku selalu bangun kalau istriku bilang mau ngomong. Itu insting bertahan hidup.”

Aku membuka laptop dan memutarnya ke arahnya. “Aku bikin draf.”

Dia membaca judulnya. Alisnya naik pelan-pelan.

“Perjanjian Rumah Tangga.” Dia menatapku. “Kita sudah nikah sebelas hari. Kalau ini prenup, kamu telat.”

“Bukan prenup. Aturan main. Biar jelas, biar nggak ada yang salah paham.”

“Kamu bikin ini di jam kerja?”

“Di sela-sela revisi.”

“Jadi kantor kamu bayar kamu buat negosiasi sama suami.” Dia menarik laptop lebih dekat. “Oke. Boleh aku markup?”

Sepuluh menit berikutnya adalah rapat paling aneh dalam hidupku. Dia membaca setiap pasal seperti analis membaca laporan keuangan perusahaan yang dicurigai berbohong. Dia bahkan menyalakan track changes.

Pasal 1, para pihak saling menghormati privasi dan waktu masing-masing. Disetujui.

Pasal 2, biaya listrik, air, dan internet dibagi dua.

“Ditolak,” katanya.

“Kenapa?”

“Sudah aku bayar setahun di muka.”

“Itu nggak adil.”

“Keadilan bisa diatur di ayat dua.” Dia mengetik. Ayat 2: Pihak Pertama bertanggung jawab atas pengadaan galon. “Galon itu berat. Kamu menanggung beban. Seimbang.”

“Kamu yang selalu angkat galonnya.”

“Itu pelaksanaan. Tanggung jawabnya tetap di kamu.”

Lalu Pasal 3. Para pihak tidur di kamar masing-masing.

Aku menahan napas tanpa sadar. Aku sudah menyiapkan diri untuk wajahnya berubah. Sedikit kecewa, sedikit tersinggung, sedikit apa saja yang membuatku harus menjelaskan bahwa ini bukan tentang dia.

Wajahnya tidak berubah.

“Setuju,” katanya. “Boleh tambah satu ayat?”

Dia mengetik pelan-pelan, lalu memutar layar padaku.

Ayat 2: Pintu kamar Pihak Pertama boleh dikunci kapan saja. Pintu kamar Pihak Kedua tidak akan dikunci, supaya kalau Pihak Pertama butuh sesuatu tengah malam, tidak perlu mengetuk lama-lama.

“Kenapa pintu kamu nggak dikunci?”

“Kalau kamu sakit jam tiga pagi, aku nggak mau kamu harus sopan dulu.” Dia bersandar. “Dan jangan kebalik bacanya. Aku setuju Pasal 3 bukan karena aku nggak mau sekamar sama kamu.”

Hening sebentar.

“Kalimat barusan kedengarannya lebih kurang ajar dari yang aku maksud,” tambahnya, datar sekali.

Wajahku panas. Aku pura-pura sibuk menggulir ke Pasal 4.

Pasal 4, urusan keluarga besar dihadapi bersama. Pasal 5, tidak ada kewajiban memasak, mencuci, atau melayani. Di Pasal 6, dia menambahkan sendiri: para pihak wajib memberi kabar jika pulang lewat pukul 22.00.

Aku melirik jam dinding. Hampir setengah satu. Aku tidak mengirim pesan apa pun malam ini.

“Maaf,” kataku. “Tadi aku nggak ngabarin.”

“Pasal ini berlaku mulai besok. Malam ini kamu dimaafkan, hukumnya belum ada.”

Lalu dia sampai di Pasal 7.

Aku menulis pasal itu jam sembilan malam tadi, menghapusnya dua kali, lalu mengetiknya lagi karena aku tidak mau memulai pernikahan dengan kebohongan.

Para Pihak tidak diwajibkan untuk jatuh cinta.

Dia membacanya lama. Lebih lama dari pasal mana pun.

“Aku mau jujur dari awal,” kataku cepat. “Aku janji jadi istri yang baik. Tapi aku nggak bisa janji—”

“Aku tahu.”

Dia tidak mengetik apa-apa. Tidak ada markup, tidak ada ayat tambahan.

“Setuju,” katanya.

Kemudian dia mengeluarkan dompet dan menarik selembar meterai sepuluh ribu dari balik kartu-kartunya.

“Kamu bawa meterai di dompet?”

“Selalu sedia. Kebiasaan kantor.”

Kami mencetaknya di printer ruang kerjanya, lalu menandatangani dua salinan di meja makan pukul 00.31, di sebelah tulang ayam bakar.

“Ini perjanjian paling nggak romantis sedunia,” kataku.

“Kamu salah.” Dia meniup tinta tanda tangannya. “Ini pertama kalinya ada perempuan tanda tangan sesuatu bareng aku jam setengah satu pagi. Buat aku, ini lumayan.”

Aku mencuci piringku sendiri, sebagai bentuk perlawanan kecil terhadap kertas kuning tadi. Dia membiarkanku, bersandar di kusen dapur sambil menguap.

Di tangga, aku menoleh. Dia berdiri di bawah, tangan di saku, lampu kuning masih menyala di belakangnya.

“Selamat malam, Pihak Kedua.”

“Selamat malam, Pihak Pertama.”

Aku masuk kamar dan menutup pintu. Dari celah bawahnya, cahaya kuning dari ruang tengah masih merambat tipis ke lantai kamarku.

Lalu terdengar bunyi klik pelan, dan cahaya itu hilang.

Lampu itu baru dipadamkan setelah pintuku tertutup.

Aku tidak tahu kenapa hal sekecil itu membuatku lama sekali tidak bisa tidur.