Chapter Twenty Six

Kalau Dia Menikah, Berhenti

POV: Helena

Aku membalas pesannya satu jam kemudian, setelah mencuci muka tiga kali dan memastikan suaraku tidak akan terdengar aneh kalau dia menelepon.

Sudah makan. Mi instan. Jangan marah.

Aku nggak marah. Aku cuma kecewa secara gizi.

Aku tertawa membaca itu. Tawa itu keluar seperti batuk, tersangkut di tengah, dan berubah menjadi sesuatu yang lain yang membuatku harus menutup mulut dengan punggung tangan.

Aku kembali ke gudang.

Kotak itu masih di lantai, terbuka, dikelilingi kertas-kertas yang sudah kususun ulang dalam tumpukan-tumpukan kecil. Nota apotek. Struk sepatu. Kartu-kartu catatan. Undangan-undangan. Aku sudah membaca semuanya dua kali. Tiga kali untuk undangan resepsi Mbak Rena.

Aku mengembalikan kertas-kertas itu ke dalam kotak satu per satu, dalam urutan yang kukira benar, karena aku tidak mau dia pulang dan menemukan arsipnya berantakan. Ketika tanganku menyentuh dasar kotak untuk meratakan tumpukan undangan, jariku merasakan sesuatu yang berbeda.

Ada lapisan karton tipis di dasar kotak. Lapisan yang tidak menempel dengan sempurna. Di bawahnya, terselip, ada sesuatu.

Aku mengangkat karton itu.

Dua benda.

Yang pertama kukenali langsung, dan untuk sesaat aku hampir tertawa lagi. Kertas A4 yang terlipat empat, penuh garis-garis selotip bening seperti peta jalan tol. Neraca Rumah Tangga Kuartal I. Dengan catatan auditorku, gambar wajah yang mungkin Pak RT, dan baris terakhir dengan tulisanku yang miring: Semua pihak dinyatakan bukan debitur.

Aku simpan di tempat lain, katanya waktu itu.

Di sini. Tempat lainnya di sini. Di kotak yang sama dengan lima tahun undangan dan nota apotek. Di dasar, di bawah karton, seperti sesuatu yang paling berharga dari semuanya.

Benda kedua adalah selembar kertas bergaris dari buku catatan, dilipat dua, sudah lusuh di bagian lipatannya seperti sudah dibuka dan dilipat berkali-kali.

Aku membukanya.

Tulisan tangannya. Bagian atas ditulis dengan pulpen hitam, lebih tua, sedikit lebih tajam. Ada tanggal di pojok kanan atas. Satu setengah tahun lalu.

Aku ingat satu setengah tahun lalu. Itu bulan ketika Tante Rina menyebarkan kabar ke seluruh grup keluarga bahwa aku akan dijodohkan dengan anak rekan bisnis Om Hendra, seorang dokter muda. Kabar itu tidak pernah benar. Aku bahkan tidak pernah bertemu dokter itu. Tapi kabarnya sempat ramai selama dua minggu, sampai Mama harus mengirim pesan klarifikasi dengan tiga stiker mawar.

Di bawah tanggal itu, dia menulis:

Kalau dia menikah dengan orang yang dia cintai:

1. Berhenti.

2. Jangan datang ke acara keluarga Chandra lagi, kecuali Papa tidak bisa dan tidak ada orang lain.

3. Jangan titip apa pun lewat Nadia. Tidak obat, tidak sandal, tidak apa pun.

4. Jangan jadi orang yang harus dia jelaskan ke suaminya.

5. Kotak ini dibakar.

Bahagianya lebih penting daripada apa pun yang aku mau.

Aku membaca daftar itu sekali. Lalu dua kali. Pada kali ketiga, huruf-hurufnya mulai berenang di mataku.

Kotak ini dibakar.

Dia sudah menyiapkan semuanya. Lima tahun memperhatikan, dan dia sudah menulis prosedur untuk berhenti. Rapi. Bernomor. Seperti rencana kontinjensi seorang analis untuk skenario terburuk. Skenario terburuknya adalah aku bahagia dengan orang lain, dan rencananya adalah menghilang dari hidupku tanpa jejak, tanpa pernah sekali pun memberitahuku bahwa dia ada.

Tapi kertas itu belum selesai.

Di bawah garis yang ditarik lurus dengan penggaris, ada tulisan lain. Pulpen biru. Tulisan yang lebih baru, lebih tenang, lebih pelan, seperti ditulis oleh seseorang yang duduk lama sebelum menulis setiap kata.

Tanggalnya lima bulan lalu. Dua hari sebelum pernikahan kami.

Dia akan menikah denganku. Bukan karena dia mencintaiku. Karena keluarga. Dia sudah bilang jujur ke Mamanya, dan Mamanya cerita ke Papa, dan Papa cerita ke aku. Dia belum bisa mencintai siapa pun sekarang. Itu tidak apa-apa.

Aturan di atas tetap berlaku.

Kalau suatu hari dia menemukan orang yang dia cintai, dan orang itu bukan aku: berhenti. Lepaskan dia dengan baik. Jangan buat dia merasa bersalah. Jangan pernah biarkan dia tahu tentang kotak ini, supaya dia tidak merasa berutang.

Sampai hari itu, jaga dia. Nyalakan lampunya. Pastikan dia makan.

Itu cukup.

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Suara yang keluar dari tenggorokanku tidak terdengar seperti tangis. Terdengar seperti sesuatu yang patah, sesuatu yang selama ini menahan beban dan tiba-tiba tidak sanggup lagi. Aku membungkuk di lantai gudang, kertas itu di pangkuanku, dahi hampir menyentuh lutut, dan aku menangis seperti belum pernah menangis seumur hidupku. Tidak di pemakaman Opa. Tidak di mobil di tengah tol dalam kota. Tidak pernah.

Supaya dia tidak merasa berutang.

Semuanya memiliki arti baru sekarang. Semuanya berputar di kepalaku seperti film yang diputar ulang dengan musik yang berbeda.

Pasal 7. Para pihak tidak diwajibkan untuk jatuh cinta. Dia membacanya lama. Dia bilang aku tahu. Dia tahu, karena dia sudah menulisnya di kertas ini dua hari sebelumnya. Dia menandatangani pasal itu di atas meterai sepuluh ribu dengan tangan yang tidak gemetar sedikit pun, setelah lima tahun mencintai perempuan yang baru saja memberitahunya secara tertulis bahwa dia tidak wajib dicintai balik.

Pasal 3 ayat 2. Pintu kamar Pihak Kedua tidak akan dikunci. Dia membiarkan pintunya terbuka untukku, sementara dia sendiri tidak pernah sekali pun mengetuk pintuku.

Lampu ruang tengah. Lampunya penakut. Dia menunggu setiap malam, bukan karena lampunya penakut. Karena nyalakan lampunya, pastikan dia makan adalah satu-satunya hal yang dia izinkan untuk dirinya sendiri.

Sejak ada yang perlu dijaga. Di trotoar menuju Gedung Chandra Gemilang. Aku bertanya sejak kapan. Dia menjawab dengan jujur. Aku saja yang tidak tahu bahwa jawabannya lima tahun.

Mungkin kamu bukan hilang. Mungkin kamu cuma ada di tempat yang lebih butuh kamu. Di teras, di bawah lilin. Kamu ngomong kayak kamu pernah lihat, kataku. Aku cuma menebak, katanya.

Dia tidak menebak. Dia ada di sana. Dia satu-satunya yang ada di sana.

Kalau suatu hari kamu sadar kamu lebih bahagia di tempat lain, aku nggak akan—

Minggu lalu. Di depan kulkas. Aku menutup mulutnya sebelum dia menyelesaikan kalimat itu. Sekarang aku tahu kelanjutannya. Kelanjutannya tertulis di kertas ini, dengan nomor satu sampai lima, dengan penggaris, dengan pulpen biru.

Aku nggak akan menahan kamu. Aku akan berhenti. Aku akan membakar kotak ini.

Dia masih percaya itu. Bahkan setelah gaun merah anggur. Bahkan setelah dapur dan sumpit yang jatuh. Bahkan setelah aku merobek neraca dan bilang aku suka sama dia. Dia menyelotip neraca itu dan menyimpannya di sini, di dasar kotak, tepat di atas aturan untuk berhenti mencintaiku.

Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.

Bohlam di langit-langit gudang berkedip sekali. Di luar, langit sudah berubah dari oranye ke ungu ke hitam. Pak RT berhenti mengeong di pintu garasi dan pergi, mungkin ke pos satpam untuk minta ikan asin kepada Pak Darto. Komplek menjadi sunyi, hanya suara motor sesekali di kejauhan dan azan isya yang samar dari masjid di blok sebelah.

Pukul delapan malam, ponselku bergetar. Panggilan video.

Pihak Kedua 🏠.

Aku menatap layar. Wajahku pasti hancur. Mataku bengkak, hidungku merah, ada debu di pipi. Aku tidak bisa mengangkatnya. Aku tidak bisa tidak mengangkatnya.

Aku menyalakan senter ponsel ke arah dinding supaya cahayanya redup, lalu menerima panggilan dengan kamera diarahkan ke langit-langit gudang.

“Halo?” Suaranya. Tenang dan sedikit lelah, dengan dengung samar AC hotel di belakangnya. “Len? Kok gelap?”

“Lagi di gudang,” kataku. Suaraku serak. Aku berdeham. “Beresin.”

“Kamu beresin gudang?” Ada jeda. “Jangan. Kardusnya berat. Tunggu aku pulang.”

“Sudah hampir selesai.”

“Suara kamu kenapa?”

“Debu.” Aku mengusap hidung. “Gudangnya debu banget. Aku bersin terus.”

“Oh.” Dia diam sebentar. Lalu, dengan nada ringan yang sangat familiar, nada yang sekarang aku tahu adalah nada yang dia pakai untuk menutupi sesuatu: “Pembicara ketiga di konferensi akhirnya bilang sinergi tiga puluh dua kali. Aku menang taruhan sama diri sendiri. Hadiahnya aku boleh pesan nasi lemak dua porsi.”

Aku tertawa. Tawa itu keluar basah, dan aku menutupinya dengan bersin palsu.

“Kopi di hotel ini,” lanjutnya, “gulanya penuh. Kayaknya mereka pakai feeling.”

“Kamu harus tempel takaran di tutupnya.”

“Aku sudah kasih tahu baristanya. Dia menatapku kayak orang aneh.”

Hening. Aku mendengar napasnya di seberang. Aku mendengar dengung AC. Aku memeluk kotak sepatu di pangkuanku.

“Len.”

“Hm.”

Jeda lagi. Lebih panjang kali ini.

“Di gudang,” katanya pelan, “di rak besi paling bawah, ada kotak sepatu cokelat.”

Jantungku berhenti.

Dia tidak tahu. Dia tidak mungkin tahu aku sedang memeluk kotak itu di pangkuanku saat ini. Dia sedang di kamar hotel di Singapura, hampir sembilan ratus kilometer jauhnya, dan dia baru saja mengingat sesuatu yang dia sembunyikan selama lima tahun.

Aku menunggu dia bilang jangan dibuka.

Dia tidak bilang begitu.

“Jangan dibuang, ya,” katanya. “Itu... arsip lama. Nggak penting buat orang lain. Tapi penting buat aku.”

Aku menekan punggung tanganku ke mulut sampai gigi menekan bibir.

Dia tidak memintaku untuk tidak membukanya. Dia tidak menyembunyikannya. Dia hanya meminta kotak itu tidak dibuang. Seperti sepanjang lima tahun ini, dia tidak meminta apa pun kecuali satu hal kecil, dan bahkan hal kecil itu dia minta dengan suara yang sangat pelan, seperti takut terlalu banyak meminta.

“Nggak akan,” kataku. Suaraku pecah di tengah. “Aku nggak akan buang.”

“Makasih.” Ada senyum di suaranya. Aku bisa mendengarnya. “Aku pulang besok malam. Penerbangan jam tujuh, sampai rumah mungkin jam sepuluh. Jangan tunggu, ya. Tidur aja.”

“Oke.”

“Len?”

“Hm?”

“Kamu yakin cuma debu?”

Aku memejamkan mata. Air mata jatuh ke tutup kotak, ke tulisan JANGAN DIBUANG yang sudah pudar.

“Debunya banyak banget,” bisikku.

Panggilan berakhir. Layar kembali ke foto latar ponselku, foto pagi hari dengan cahaya jendela dan senyum kecil yang sangat jarang, yang dia kirim sebagai revisi selfie pertamanya.

Aku tetap duduk di lantai gudang sampai lewat tengah malam, dengan kertas berisi aturan untuk berhenti di satu tangan dan neraca berselotip di tangan yang lain.

Lalu aku berdiri, membawa kotak itu keluar dari gudang, ke ruang tengah, ke bawah lampu berdiri berkap krem.

Aku menyalakan lampunya.

Aku duduk di sofa dengan kotak di pangkuan dan selimut hijau zaitun di bahu, dan lampu itu menyala sepanjang malam. Bukan untuk menunggu siapa pun. Hanya karena aku tidak sanggup duduk dalam gelap bersama semua yang baru saja kuketahui, di rumah yang ternyata sudah lima tahun disiapkan untukku oleh seseorang yang tidak pernah berani berharap aku akan tinggal.