Chapter Eight
Pesan Tanpa Alasan
POV: Helena
Kalau ada arkeolog yang menggali isi WhatsApp-ku dan Aries dari dua bulan pertama pernikahan kami, mereka akan menyimpulkan bahwa kami adalah dua pegawai dari divisi berbeda yang terpaksa berbagi satu ruang rapat.
Galon habis.
Sudah dipesan.
Pulang jam 9. Pasal 6.
Diterima.
Pagar sudah dikunci?
Sudah.
Tukang AC datang Sabtu jam 10.
Oke. Aku di rumah.
Itu saja. Kontaknya bahkan masih tersimpan di ponselku dengan nama yang kuketik saat pertama kali kami dikenalkan oleh keluarga: Aries Ikrima (Pranata). Lengkap dengan nama kantornya, seperti kontak vendor.
Semuanya berubah karena seekor kucing.
Selasa pagi, saat aku keluar membawa tas kerja, ada kucing oranye gendut tidur di atas kap mobilku. Dia tidur dengan posisi yang sangat percaya diri, keempat kakinya terbuka ke udara, perutnya mengembang seperti roti yang baru keluar dari oven. Ketika aku mendekat, dia membuka satu mata, menatapku seperti atasan menatap karyawan yang telat, lalu menutupnya lagi.
Aku memotretnya dan, entah kenapa, mengirimnya ke Aries.
Ada yang numpang.
Aku langsung menyesal. Itu pesan pertama yang kukirim kepadanya tanpa urusan galon, pagar, atau tukang AC. Aku menatap kata terkirim dan merasa seperti orang yang melambaikan tangan ke orang yang ternyata melambai ke orang di belakangnya.
Balasannya datang dua menit kemudian.
Itu Pak RT.
Hah?
Nama kucingnya. Yang kasih nama Pak Darto. Soalnya tiap pagi dia keliling komplek, ngecek rumah satu-satu, tidur di kap mobil warga yang dia restui.
Jadi mobilku direstui?
Selamat. Aku butuh tiga bulan sampai Pak RT mau tidur di mobilku.
Aku tertawa sendiri di depan pagar, dan Pak RT membuka matanya lagi dengan ekspresi tersinggung.
Sejak hari itu, sesuatu bergeser.
Rabu, dia mengirim foto langit dari jendela kantornya di SCBD. Awan putih besar menggumpal kotak di atas gedung-gedung. Awan bentuk tahu. Lapar.
Kamis, aku mengirim foto makan siangku. Salad dengan sayuran yang lebih banyak daripada niat hidup sehatku. Makan sayur.
Bangga, balasnya. Mau dibuatkan sertifikat?
Jumat, dia mengirim foto meja rapat dengan sebelas botol air mineral berjejer rapi, semuanya belum dibuka. Rapat dimulai. Taruhan berapa botol yang terbuka sebelum ada yang bilang “sebenarnya poin saya sederhana”.
Tiga.
Satu jam kemudian: Lima. Kamu kalah. Hukumannya traktir martabak.
Kamu yang buat taruhan sendiri!
Dan kamu ikut. Itu namanya kontrak.
Minggu siang, saat menunggu lampu merah di Senayan, aku melihat seorang bapak menuntun kambing di trotoar. Kambingnya memakai kalung lonceng dan berjalan dengan wibawa yang tidak sepadan dengan nasibnya menjelang Iduladha. Aku memotretnya dari balik kaca.
Ada yang lebih percaya diri dari Pak RT.
Itu kambing atau eksekutif?
Kambing eksekutif.
Pantas jalannya kayak habis menang tender.
Aku tertawa sendirian di mobil sampai pengemudi di sebelah menoleh. Ketika lampu hijau menyala, aku masih tersenyum, dan aku baru sadar sudah tiga kali dalam seminggu aku pulang dengan cerita yang tidak sabar ingin kuceritakan ke seseorang.
Di hari Senin, aku menyadari bahwa aku mengecek ponsel setiap kali benda itu bergetar, bahkan ketika aku tahu yang bergetar paling-paling notifikasi dari aplikasi belanja. Aku menyadari aku memotret hal-hal yang tidak pernah kupotret sebelumnya. Bentuk kopi yang lucu. Spanduk salah ketik di jalan tol. Tukang parkir yang tidur di atas motor dengan pose sempurna. Semua hal itu, entah kenapa, langsung terasa seperti milik seseorang yang harus melihatnya juga.
Di hari Selasa, aku melakukan kesalahan teknis yang fatal.
Aku sedang mengeluh kepada Sinta soal klien yang meminta desain bold tapi minimalis untuk ketiga kalinya, sambil mengunyah keripik kentang, sambil memegang ponsel, dan entah bagaimana jempolku menahan tombol mikrofon di jendela obrolan yang terbuka. Jendela obrolan Aries.
Aku baru sadar ketika layar menunjukkan pesan suara berdurasi satu menit empat puluh detik sudah terkirim.
Satu menit empat puluh detik berisi aku menirukan suara klien dengan nada sengau, aku bilang bold tapi minimalis itu kayak minta es teh panas, aku tertawa sampai keselek keripik, dan Sinta bilang Len, itu HP kamu nyala.
Aku menatap layar dengan ngeri. Centang dua. Biru.
Dia mendengarkannya. Seluruhnya. Aku tahu karena tiga menit kemudian dia membalas.
Klienmu salah. Kamu benar. Es teh panas itu memang mustahil secara termodinamika.
Lalu satu pesan lagi.
Tapi lain kali kalau kirim pesan suara jangan sambil makan keripik. Telingaku kaget. Kedengarannya kayak kamu lagi jalan di atas daun kering.
Lalu, beberapa detik kemudian:
Kirim lagi besok ya. Rapat komite jadi lebih bisa ditahan.
Aku menyembunyikan wajah di balik monitor dan Sinta memotretku untuk keperluan dokumentasi.
Lalu tiba hari Rabu.
Pukul 10.12, aku mengirim foto dari toko kaus kaki di lobi gedung kantorku. Toko itu menjual kaus kaki tidak berpasangan dengan sengaja, kiri bergambar pisang dan kanan bergambar monyet. Aku langsung teringat suatu pagi beberapa minggu lalu, ketika aku melihat Aries memakai kaus kaki hitam di kaki kanan dan biru tua di kaki kiri, dan dia bilang itu disengaja, demi keseimbangan.
Kamu butuh ini. Demi keseimbangan.
Terkirim. Centang dua.
Tidak dibaca.
Aku kembali bekerja. Pukul 10.40, aku mengecek ponsel. Belum. Pukul 10.52, aku mengecek lagi, kali ini dengan alasan melihat jam, padahal jam ada di pojok layar komputer. Pukul 11.15, aku membuka WhatsApp, menutupnya, lalu membukanya lagi untuk memastikan aku memang sudah menutupnya.
“Dua belas,” kata Sinta.
Aku menoleh. Dia sedang menempelkan sticky note kuning di pinggir monitornya, dan di atasnya ada garis-garis kecil yang dikelompokkan per lima, seperti narapidana menghitung hari.
“Apa?”
“Kamu sudah ngecek HP dua belas kali sejak jam sepuluh. Aku hitung.”
“Kenapa kamu hitung?”
“Karena aku lagi nunggu approval dari atasan dan butuh hiburan.” Dia menambahkan satu garis lagi ketika aku tanpa sadar melirik ponsel. “Tiga belas.”
“Aku nunggu email klien.”
“Email klien nggak masuk lewat WhatsApp, Len.”
Aku membalik ponsel dan menaruhnya di laci. Ini prinsip. Ini harga diri. Aku perempuan dewasa dengan jabatan senior consultant, dan aku tidak akan dikalahkan oleh dua centang abu-abu.
Laci itu kubuka tujuh kali dalam satu jam berikutnya.
Yang lebih menyebalkan daripada menunggu adalah pertanyaan yang mulai muncul di sela-selanya. Kenapa aku peduli? Kenapa satu pesan yang tidak dibalas bisa membuatku kesal, padahal dulu, di bulan-bulan sebelum menikah, aku sering membiarkan pesannya berjam-jam? Aku ingat pesan-pesan sopannya waktu itu. Selamat pagi, semoga rapatnya lancar. Sudah sampai rumah, Helena? Aku membalasnya sore hari, atau besoknya, dengan satu kata, atau dengan stiker jempol.
Dia tidak pernah protes. Tidak pernah sekali pun.
Sekarang aku baru menunggu dua jam, dan rasanya seperti menunggu pengumuman kelulusan.
Pukul 13.40, ponselku bergetar di dalam laci.
Sinta bahkan tidak perlu melihatku. Dia hanya mengangkat pulpennya dan berkata, “Dua puluh tiga. Dan yang ini dia buka dalam setengah detik.”
Maaf. Rapat komite investasi dari jam sepuluh. Tiga orang bicara dua jam soal satu persen. HP dikumpulkan di keranjang di pintu, kayak razia SMA.
Satu foto menyusul. Sebuah keranjang rotan berisi belasan ponsel bertumpuk, dan di pojok kanan bawah foto ada setengah wajah Raka yang sedang mencari ponselnya sendiri dengan ekspresi putus asa.
Lalu:
Kaus kakinya mau. Dua pasang. Satu buat aku, satu buat kamu. Kita jadi pasangan yang seimbang.
Aku tersenyum ke layar. Tidak sengaja. Senyum itu muncul begitu saja seperti bersin.
“Dua puluh tiga, terus senyum,” kata Sinta sambil menulis di sticky note. “Catat. Arsipkan. Laporkan ke negara.”
Malamnya, kami makan martabak yang kubeli sebagai pembayaran taruhan. Aries memotong martabak manis itu dengan presisi seorang ahli bedah, memberikan potongan tengah yang paling tebal cokelatnya kepadaku, lalu bertanya dengan nada sambil lalu.
“Tadi kamu nunggu balasanku?”
“Nggak.”
“Oke.”
Dia mengunyah. Aku mengunyah. Martabak itu rasanya mendadak seperti kertas.
“Soalnya,” katanya, menatap potongan martabak di tangannya, “aku nunggu dua jam buat bisa ambil HP dari keranjang. Aku tahu kamu kirim sesuatu, karena layarnya nyala di keranjang dan aku lihat nama kamu dari seberang meja. Dua jam aku dengerin orang ngomong soal satu persen sambil lihat nama kamu nyala dan mati, nyala dan mati, di dalam keranjang rotan.”
Aku berhenti mengunyah.
“Jadi kamu nggak nunggu,” lanjutnya, datar, “tapi aku iya. Satu-kosong untuk aku.”
Aku menelan martabak dengan susah payah. “Kamu nggak harus bilang itu.”
“Aku tahu. Tapi Pasal 1 bilang kita harus saling menghormati waktu masing-masing. Aku menghormati dua jam yang kamu habiskan tidak menunggu pesanku dengan memberitahu bahwa dua jamku habis untuk menunggu pesanmu.”
“Itu bukan cara kerja Pasal 1.”
“Interpretasi hukum itu dinamis.”
Malam itu, di kasur, aku membuka kontaknya. Aries Ikrima (Pranata). Seperti kontak vendor. Seperti seseorang yang kukenal dari kartu nama.
Aku menghapusnya dan mengetik nama baru: Pihak Kedua.
Jariku berhenti di atas tombol emoji. Aku menggulir pelan-pelan, melewati wajah-wajah kuning dan hati warna-warni yang terlalu terang untuk hal yang belum berani kuberi nama. Lalu aku berhenti di sebuah gambar kecil berbentuk rumah, dengan atap cokelat dan pintu kuning.
Aku menambahkannya. Menatapnya selama satu menit penuh. Lalu menghapusnya lagi.
Pihak Kedua, tanpa apa-apa. Simpan.
Ponselku bergetar tepat setelah aku menekan tombol simpan, dan aku hampir menjatuhkannya ke wajah sendiri.
Pak RT tidur di kap mobilmu lagi. Aku sudah izin ke dia. Katanya boleh, asal besok kamu jangan berangkat terlalu pagi.
Pak RT bilang begitu?
Pak RT tidak bicara. Itu interpretasiku.
Interpretasi hukum itu dinamis?
Kamu belajar cepat, Pihak Pertama.
Aku memeluk ponsel di dada dan menatap langit-langit sampai lama sekali, sampai aku sadar bahwa aku sedang tersenyum dalam gelap kepada seseorang yang tidurnya cuma berjarak satu lorong.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan reading
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh