Chapter Twenty
Selfie untuk Suamiku
POV: Helena
Aku tidak pernah mengirim selfie ke siapa pun.
Bukan karena aku tidak suka wajahku. Aku hanya tidak pernah menemukan alasan. Kamera depan ponselku selama ini cuma dipakai untuk mengecek apakah ada cabai di gigi sebelum rapat. Galeri fotoku berisi tangkapan layar dokumen, foto papan tulis, dan tiga ratus foto Pak RT dari berbagai sudut.
Selasa pukul sepuluh pagi, di toilet perempuan lantai dua puluh tiga, aku memotret wajahku sendiri untuk pertama kalinya dengan niat mengirimkannya ke seseorang.
Hasilnya buruk. Aku kelihatan seperti tersangka kasus penggelapan. Aku mencoba lagi dengan senyum, dan hasilnya seperti iklan pasta gigi yang gagal tayang. Percobaan ketiga, aku memiringkan kepala, dan cahaya lampu toilet membuat wajahku terlihat hijau.
Sinta masuk ke toilet tepat saat aku sedang mencoba sudut keempat.
Dia berhenti. Melihat ponselku. Melihat wajahku. Lalu tanpa sepatah kata, dia mengambil ponsel dari tanganku, menarikku keluar ke lorong dekat jendela besar yang menghadap Senayan, memposisikanku dengan bahu sedikit miring ke arah cahaya matahari, dan berkata, “Lihat ke kamera. Pikirin dia. Jangan senyum dulu. Sekarang senyum.”
Klik.
Dia mengembalikan ponselku. Di layar, ada seorang perempuan dengan kemeja putih dan rambut tergerai separuh, menatap kamera dengan senyum kecil yang terlihat seperti menyimpan rahasia. Cahaya matahari jatuh di pipinya. Matanya hangat.
Aku tidak tahu wajahku bisa terlihat seperti itu.
“Kirim,” kata Sinta. “Sebelum kamu mikir.”
Aku mengirimnya. Lalu, sebelum aku sempat mikir, aku menambahkan satu pesan.
Rapat pagiku membosankan. Kamu lebih menarik dari proyeksi Q3.
Terkirim. Dibaca.
Tidak ada balasan.
Tiga menit. Lima menit. Sepuluh menit. Aku kembali ke meja dan berusaha tidak membuka laci, dan Sinta mulai menempelkan sticky note baru di pinggir monitornya.
Di menit kedua belas, balasannya masuk.
Pihak Kedua: Aku sedang rapat.
Hanya itu. Empat kata. Aku menatapnya, sedikit kecewa, sedikit malu, dan bertanya-tanya apakah aku terlalu cepat, terlalu berani, terlalu—
Ponselku bergetar lagi. Kali ini pesan dari Nadia, berisi tangkapan layar.
Lembaga Survei Nadia telah ditutup, tapi Badan Intelijen Nadia baru dibuka. Kiriman dari agen R, diterima 4 menit lalu:
Tangkapan layar itu adalah obrolan antara Aries dan Raka. Waktunya sepuluh pagi lewat beberapa menit.
Aries: Rak.
Aries: Dia kirim selfie.
Aries: Aku harus balas apa. Ini bukan pertanyaan.
Raka: Itu jelas pertanyaan.
Aries: Ini pernyataan keadaan darurat.
Raka: Kamu duduk dua kursi dari aku. Aku bisa lihat mukamu. Kamu kayak orang yang baru menang lotre tapi tiketnya dimakan kambing.
Aries: Dia bilang aku lebih menarik dari proyeksi Q3.
Raka: Proyeksi Q3 kita memang jelek, Ries.
Aries: Itu bukan intinya.
Aries: Aku tulis “aku sedang rapat”. Benar? Tenang? Tidak kelihatan kacau?
Raka: Kamu sudah ketik dan hapus tujuh kali. Aku lihat. Kirim aja.
Aries: Sudah.
Aries: Rak, aku boleh keluar ruangan sebentar? Untuk alasan medis.
Raka: Medis apa?
Aries: Jantung.
Aku menutup mulut dengan tangan, tapi tawaku tetap keluar, cukup keras sampai tiga kepala di ruangan menoleh. Sinta mengintip dari balik monitor.
“Kenapa?”
Aku menunjukkan layarnya. Sinta membaca, dan dalam lima detik dia juga menutup mulut dan menunduk ke bawah meja.
Sejak hari itu, aku jadi berbahaya.
Rabu, aku mengirim foto kakiku yang memakai sepatu hak merah baru, dengan keterangan: Sepatu baru. Kata Sinta terlalu berani buat kantor. Kata aku buat kamu nanti malam.
Raka melaporkan kepada Nadia, yang meneruskannya kepadaku, bahwa Aries menumpahkan kopi ke laptop.
Kamis, aku mengirim foto bibirku sedang menyeruput es kopi dari sedotan, dipotret dari dekat, tanpa keterangan apa pun.
Raka melaporkan bahwa Aries meletakkan ponselnya terbalik di meja, menatap langit-langit selama satu menit penuh, lalu berkata kepada seluruh tim di ruang rapat bahwa AC di ruangan itu terlalu panas, padahal suhunya delapan belas derajat.
Jumat, aku mengirim pesan suara. Kali ini tanpa keripik.
Hai. Aku cuma mau bilang, kemeja yang kamu pakai hari ini, yang biru muda. Aku suka. Sebenarnya aku suka semua kemeja kamu, tapi itu yang paling aku suka. Udah. Itu aja. Kerja yang rajin, Pihak Kedua.
Raka tidak melaporkan apa pun hari itu. Dia hanya mengirim pesan ke Nadia, yang diteruskan Nadia kepadaku: Agen R menyatakan target sudah tidak bisa diselamatkan. Mohon izin mundur dari misi.
Sabtu pagi, ponselku bergetar dengan sesuatu yang belum pernah terjadi.
Pihak Kedua mengirim foto.
Aku membukanya dan langsung duduk tegak di kasur.
Itu selfie. Selfie Aries. Diambil dari sudut yang sangat rendah, sehingga yang paling dominan di foto itu adalah dagunya dan lubang hidungnya. Di latar belakang ada kipas angin plafon. Wajahnya datar total, alisnya sedikit berkerut seperti orang yang sedang membaca syarat dan ketentuan asuransi. Separuh dahinya terpotong.
Di bawahnya ada keterangan.
Ini selfie pertamaku sejak foto KTP. Mohon dinilai dengan belas kasihan.
Aku tertawa sampai berguling ke sisi kasur. Lalu aku membalas.
Nilainya 4 dari 10. Dagunya bagus.
Aku sudah coba 11 kali. Ini yang terbaik.
Kamu harus belajar dari Sinta.
Aku tidak akan minta Sinta memotretku. Aku punya harga diri.
Satu menit kemudian, foto kedua masuk. Kali ini dari sudut yang lebih baik, di depan jendela kamarnya, dengan cahaya pagi jatuh di separuh wajahnya. Rambutnya berantakan, matanya masih sedikit sayu karena baru bangun, dan dia tersenyum kecil ke kamera, senyum yang sangat jarang dan sangat jujur.
Revisi. Atas masukan klien.
Aku tidak membalas yang itu. Aku hanya menyimpannya, menatapnya terlalu lama, dan menjadikannya latar layar ponselku, lalu menggantinya kembali dalam tiga detik karena panik, lalu menggantinya lagi.
Yang paling berbahaya adalah apa yang terjadi saat dia pulang.
Selasa malam, setelah selfie pertama, dia masuk pintu pukul tujuh lewat. Aku sedang berdiri di dapur menuang air. Dia meletakkan tas kerja, melepas sepatu, dan berjalan ke arahku dengan wajah datar seperti biasa.
Aku tidak berpikir. Aku hanya berjinjit dan mencium pipinya.
Cepat. Ringan. Di tulang pipinya, dekat rahang, tempat kulitnya sedikit kasar karena bulu yang mulai tumbuh setelah seharian.
“Selamat datang,” kataku.
Dia berdiri diam. Tangannya masih memegang kunci mobil.
“Itu,” katanya pelan, “baru?”
“Mulai hari ini jadi kebiasaan. Kalau nggak suka, ajukan keberatan tertulis.”
Dia tidak mengajukan keberatan tertulis.
Rabu pagi, ketika aku memakai sepatu di depan pintu untuk berangkat, dia muncul dari dapur membawa tumbler kopiku. Dia memberikannya padaku. Lalu, sebelum aku sempat berbalik, dia menunduk dan menempelkan bibirnya di keningku.
Sebentar saja. Hangat dan ringan, seperti seseorang menekan stempel di dokumen yang penting.
“Hati-hati,” katanya. “Itu juga jadi kebiasaan mulai hari ini. Keberatan tertulis ke alamat yang sama.”
Aku menyetir sampai Pondok Indah dengan tangan kanan di setir dan tangan kiri menyentuh keningku setiap kali lampu merah.
Kamis malam, aku duduk di sofa sementara dia di karpet membaca dokumen dengan kacamata. Aku menunjukkan foto selfie Selasa di ponselku.
“Sinta yang foto,” kataku. “Bagus, kan? Dia jago.”
Dia melepas kacamata. “Sinta yang foto?”
“Iya.”
“Oh.” Dia memakai kacamatanya lagi. “Aku kira Bayu.”
Aku menatapnya. Dia menatap dokumen.
“Kamu,” kataku perlahan, “barusan cemburu?”
Jeda. Halaman dokumen tidak dibalik.
“Iya,” katanya.
Satu kata. Tanpa senyum, tanpa lelucon. Sangat berbeda dari jawaban di malam mi instan berminggu-minggu lalu, ketika dia bilang kenapa harus cemburu? dengan nada ringan yang sempurna dan membuatku naik ke kamar dengan perasaan seperti pintu yang ditutup di depan wajah.
Aku turun dari sofa dan duduk di karpet di sebelahnya. Aku mengambil dokumen dari tangannya dan meletakkannya di meja.
“Bilang lagi.”
“Apa?”
“Bilang lagi kamu cemburu.”
Dia menatapku dari balik kacamata. Telinganya mulai merah.
“Aku cemburu,” katanya. “Waktu itu juga. Waktu Bayu. Aku bohong.”
“Aku tahu kamu bohong.”
“Kok tahu?”
“Pak Darto cerita kamu antar rendang ke pos, katanya kamu masak sebanyak orang hajatan. Terus Nadia dapat laporan soal jeruk.” Aku mendekatkan wajahku. “Empat jeruk, Aries.”
Dia menutup mata. “Jaringan intelijen kalian harus dibubarkan.”
“Aku juga cemburu,” kataku. “Waktu Karina pegang lengan kamu di gala. Aku sobek tiga serbet hotel.”
Dia membuka mata. “Tiga?”
“Sinta yang hitung.”
Dia menatapku lama. Lalu senyum itu muncul pelan-pelan, bukan senyum datarnya yang biasa, melainkan senyum yang naik sampai ke matanya dan membuat garis-garis kecil muncul di sudut matanya.
“Kamu sobek tiga serbet,” ulangnya, seperti orang yang baru menerima kabar baik dari dokter.
“Jangan senyum begitu.”
“Aku senyum biasa.”
“Itu senyum orang menang.”
“Karena aku memang menang.” Dia melepas kacamatanya, meletakkannya di atas dokumen. “Tiga serbet. Itu harus masuk catatan.”
“Catatan apa?”
Dia tidak menjawab. Dia hanya menangkup pipiku dengan satu tangan dan mencium pipiku yang lain, pelan, lebih lama dari ciuman pipi yang kuberikan di dapur. Lalu, sebelum menjauh, dia berbisik di dekat telingaku dengan suara pagi yang serak walaupun hari sudah malam.
“Kirim selfie lagi besok. Biar Raka ada kerjaan.”
Aku tertawa ke bahunya.
Malam itu, Nadia mengirim satu tangkapan layar lagi. Dari Raka, pukul sebelas malam.
Raka: Target baru saja kirim pesan ke saya: “Rak. Dia cemburu juga. Tiga serbet.” Lalu tiga emoji yang tidak pernah saya lihat dia gunakan seumur hidup.
Nadia: Emoji apa?
Raka: Bunga. Bunga. Bunga.
Aku menatap tangkapan layar itu lama sekali, lalu menyimpannya di tiga tempat berbeda: galeri, email pribadi, dan folder rahasia bernama Laporan Keuangan 2019, karena ada hal-hal yang memang harus punya cadangan.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku reading
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh