Chapter Thirty Three

Belajar Meminta

POV: Aries

Senin pagi, aku memutuskan untuk berlatih.

Keputusan itu kubuat di mobil, di tengah kemacetan tol, sambil mendengarkan radio yang memutar lagu lama dan menyanyikannya dengan lirik yang salah. Aku sudah tiga puluh tahun hidup tanpa meminta apa pun kepada siapa pun kalau tidak terpaksa. Aku membawa pulpen sendiri ke setiap rapat. Aku membuat kopi sendiri walaupun kantor punya office boy. Aku mengambil cuti hanya untuk sakit gigi dan keracunan makanan, dan setiap kali, aku merasa bersalah.

Istriku sudah memilihku di teras belakang dengan tiga slide dan air mata. Paling tidak, aku harus belajar meminta sesuatu yang kecil.

Latihan pertama dimulai pukul sembilan lewat sepuluh.

Aku berjalan ke meja Raka. Raka sedang mengetik sesuatu dengan wajah sangat serius, yang belakangan kuketahui adalah pesan untuk Nadia soal pilihan restoran untuk rapat koordinasi hari Jumat.

“Rak.”

“Hm.”

“Boleh aku pinjam pulpen?”

Raka berhenti mengetik.

Dia menoleh perlahan. Dia menatapku. Dia menatap saku kemejaku, tempat empat pulpen berjejer rapi, hitam, biru, merah, dan pensil mekanik. Dia menatap wajahku lagi.

“Kamu minta?”

“Aku minta pinjam pulpen.”

“Kamu punya empat pulpen di saku.”

“Aku tahu.”

Raka berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat lambat, seperti orang yang menyaksikan fenomena alam langka. Dia mengambil pulpen dari mejanya. Pulpen biasa, merek kantor, tutupnya digigiti. Dia menyerahkannya kepadaku dengan dua tangan, seperti menyerahkan piala.

“Dua belas tahun,” katanya pelan. “Dua belas tahun aku kenal kamu. Ini pertama kalinya kamu minta sesuatu ke aku tanpa ada orang yang sekarat.”

“Itu cuma pulpen.”

“Itu sejarah.” Dia mengeluarkan ponsel dan memotret pulpen di tanganku. “Aku harus laporkan ke tim.”

“Tim sukses sudah bubar.”

“Tim sukses berubah jadi tim pemantau. Struktur organisasinya baru. Nadia ketua, aku wakil, Pak Darto bendahara.”

Latihan kedua, pukul sebelas. Aku meminta Mas Yudi, office boy lantai kami, untuk membuatkan kopi. Mas Yudi hampir menjatuhkan nampannya. Dia bertanya tiga kali apakah aku yakin, lalu membuatkan kopi dengan sangat hati-hati, mengantarnya ke mejaku, dan berdiri di sana menunggu reaksiku seperti peserta kontes memasak.

“Enak, Mas,” kataku.

Mas Yudi tersenyum lebar dan pergi dengan langkah ringan. Kopinya terlalu manis. Aku meminumnya sampai habis.

Latihan ketiga, pukul dua siang, adalah yang paling sulit. Aku mengetuk pintu ruangan Pak Hendro, kepala divisi kami, dan meminta cuti dua hari bulan depan.

“Cuti?” Pak Hendro menurunkan kacamatanya. “Kamu sakit lagi?”

“Nggak, Pak. Saya mau... jalan-jalan. Sama istri.”

Pak Hendro menatapku seperti melihat anak buahnya mendadak berbicara bahasa asing. Lalu dia menandatangani formulir cuti tanpa banyak bertanya, dan ketika aku berjalan keluar, aku mendengarnya bergumam, akhirnya, anak ini manusia juga.

Raka menungguku di pantri dengan wajah aneh. Bukan wajah menggoda. Wajah orang yang sedang gugup.

“Ries. Aku mau tanya sesuatu.”

“Tanya apa?”

Dia memutar gelas plastik di tangannya. “Gimana cara... minta ke orang buat jadi pacar resmi? Bukan rapat koordinasi. Resmi.”

Aku menatapnya.

“Kamu,” kataku pelan, “minta saran ke aku. Soal meminta.”

“Aku tahu ironinya. Jangan dibahas.”

“Rak. Aku butuh lima tahun dan satu kotak sepatu.”

“Makanya aku tanya kamu. Supaya aku tahu apa yang jangan dilakuin.”

Aku berpikir. Lalu aku mengatakan satu-satunya hal yang kutahu, hal yang diajarkan istriku di teras belakang dengan tiga slide yang tidak dia pakai.

“Bilang aja,” kataku. “Jangan bikin presentasi. Jangan nunggu mati lampu. Jangan tulis aturan pakai penggaris. Bilang aja.”

Raka menatapku lama. Lalu dia mengangguk dengan serius, membuang gelas plastiknya, dan berjalan keluar pantri sambil mengeluarkan ponsel. Lima menit kemudian, ponselku bergetar. Pesan dari Helena.

Nadia barusan teriak di telepon. Raka nembak dia lewat WhatsApp. Katanya pesannya cuma “Nad. Jadi pacarku. Resmi.” Dan katanya itu saran dari kamu.

Itu saran yang bagus.

Itu saran yang SANGAT bagus. Nadia bilang iya sambil nangis di tengah fitting baju pengantin klien. Kliennya ikut nangis.

Aku menatap layar dan tersenyum. Lalu aku sadar, dengan rasa yang aneh di perut, bahwa aku baru saja menasihati sahabatku untuk melakukan sesuatu yang aku sendiri belum lakukan.

Aku belum meminta apa pun kepada istriku.

Malam itu, aku pulang pukul enam lewat sepuluh. Helena sudah di rumah. Dia duduk di sofa dengan laptop di pangkuan dan selimut hijau zaitun di kaki, rambutnya digerai, dengan pensil terselip di belakang telinga karena dia lupa sudah melepasnya dari gelungan.

Aku berdiri di ambang ruang tengah dan menatapnya lebih lama dari yang perlu.

Dia cantik banget. Selalu begitu, tapi ada sesuatu tentang cara dia duduk malam itu, kaki dilipat di bawah badan, kepala sedikit miring ke layar, bibir bergerak tanpa suara saat membaca email, yang membuatku ingin berdiri di sana selamanya. Lampu berdiri menyinari sisi wajahnya. Ada noda tinta kecil di jari tengahnya. Ada bekas lipatan kerah blazer di lehernya. Dia tidak sedang mencoba terlihat cantik untuk siapa pun. Dia hanya ada, di sofa kami, di rumah kami, dan itu cukup untuk membuatku lupa caranya melepas sepatu.

Aku melepas sepatu. Aku mencuci tangan. Aku masuk ke dapur dan mengambil gelas.

Lalu aku mengambil gula. Aku tidak memakai gula.

Lalu aku kembali ke ruang tengah dan duduk di lengan sofa. Lalu aku pindah ke sofa. Lalu aku berdiri lagi untuk mengambil buku dari rak jati Opa yang tidak ingin kubaca.

Pada putaran keempat, Helena menutup laptopnya.

“Aries.”

“Hm.”

“Kamu ambil gula. Kamu nggak pakai gula.”

Aku menatap toples gula di tanganku. Aku bahkan tidak sadar masih memegangnya.

Dia menatapku dengan senyum pelan yang sangat kukenal, senyum yang dulu ada di wajahku sendiri ketika dia berputar-putar di depan rak buku pada Sabtu pagi setelah gaun merah anggur.

“Kalau mau,” katanya, “bilang.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Kalimatku sendiri, dikembalikan dengan nada yang persis sama, di ruang tengah yang sama, dengan rak jati Opa sebagai saksi.

Aku meletakkan toples gula di meja. Duduk di sebelahnya. Menarik napas.

Ini lebih sulit daripada meminta pulpen. Lebih sulit daripada meminta kopi atau cuti. Ini lebih sulit daripada apa pun yang pernah kulakukan, termasuk menandatangani Pasal 7 dengan tangan yang tidak gemetar.

“Aku mau minta sesuatu,” kataku.

“Oke.”

“Kamu bilang kamu memilih aku. Kamu bilang kamu akan terus milih. Besok, lusa, setiap hari.” Aku menatap tanganku sendiri. “Selama lima tahun, aku bilang ke diriku sendiri yang penting kamu bahagia. Sama aku atau sama siapa pun. Bahagia kamu itu cukup.”

Dia diam. Menunggu.

“Ternyata itu bohong,” kataku. “Itu bukan cukup. Itu cuma yang paling bisa aku tanggung.”

Aku mengangkat wajah dan menatapnya.

“Jadi aku minta. Jangan cuma bahagia, Len. Tetap pilih aku. Waktu aku nyebelin. Waktu aku lupa beli galon. Waktu aku tua dan rambutku habis dan aku masih nggak bisa bersiul. Waktu ada orang lain yang lebih menarik, lebih lucu, lebih pintar. Tetap pilih aku.” Suaraku pecah sedikit. “Itu yang aku mau. Itu yang dari dulu aku mau. Aku cuma nggak pernah berani bilang.”

Hening.

Dia menatapku lama. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya mulai melengkung. Lalu dia meletakkan laptop di meja, menyingkirkan selimut dari kakinya, dan bergeser mendekat sampai lututnya menempel di pahaku.

“Itu permintaan yang mahal,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Ada biayanya.”

“Berapa?”

Dia mengangkat tangan, menyentuh kerah kemejaku, merapikannya dengan sangat lambat. Seperti malam gaun merah anggur. Ujung jarinya menyusuri garis kerah sampai ke kancing paling atas.

“Satu ciuman per hari,” katanya. “Dibayar di muka. Nggak boleh nunggak.”

“Itu bunga yang sangat rendah.”

“Aku belum selesai.” Jarinya turun ke kancing kedua. Berhenti di sana. “Satu ciuman di pagi hari. Satu ciuman waktu pulang. Satu ciuman sebelum tidur. Itu tiga.”

“Kamu bilang satu.”

“Inflasi.” Dia mendekatkan wajahnya. Napasnya hangat di rahangku. “Dan setiap kali kamu nyebelin, ditambah satu sebagai denda.”

“Aku akan sering nyebelin.”

“Aku tahu,” bisiknya, tepat di telingaku. “Makanya aku setuju.”

Aku tidak menunggu lebih lama.

Aku menciumnya. Atau dia menciumku. Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu, dan aku tidak peduli. Tanganku menemukan pinggangnya, menariknya lebih dekat. Tangannya menemukan rambutku, jemarinya mencengkeram di belakang kepalaku. Pensil di belakang telinganya jatuh ke sofa. Ciuman itu dalam dan lambat dan sangat jauh dari sopan, dan untuk pertama kalinya, aku tidak menahan apa pun. Aku tidak menghitung. Aku tidak menyiapkan pintu keluar. Aku hanya menciumnya seperti seseorang yang tahu dia akan dipilih lagi besok pagi.

Ketika kami berhenti, napasnya berantakan. Napasku lebih berantakan lagi. Keningnya menempel di keningku, dan dia tertawa pelan, suaranya bergetar.

“Itu cicilan pertama,” katanya.

“Itu cicilan pertama, kedua, dan ketiga sekaligus.”

“Nggak bisa. Itu baru setengah cicilan.”

Aku menariknya ke dadaku. Dia bersandar di sana, telinganya di atas jantungku, dan kami berbaring di sofa dengan selimut hijau zaitun yang setengah jatuh ke lantai.

Lama kami diam.

Lalu dia bicara, sangat pelan, dengan nada yang terdengar seperti orang yang sedang membicarakan cuaca.

“Pasal 3 masih berlaku, ya?”

Jantungku berhenti. Dia pasti mendengarnya, karena telinganya tepat di sana.

“Itu,” kataku, sangat hati-hati, “wewenang Pihak Pertama.”

“Hm.” Jarinya menggambar lingkaran kecil di dadaku. “Pihak Pertama lagi nyusun draf amandemen.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Rapatnya besok malam,” lanjutnya, dengan nada yang sama ringannya. “Jangan lembur.”

Dia bangun, mengambil laptopnya, mencium pipiku sekali, dan berjalan ke tangga dengan langkah santai. Di anak tangga ketiga, dia berhenti, menoleh, dan menatapku dengan senyum yang membuat seluruh darahku naik ke wajah.

“Oh, dan bawa meterai.”

Pintu kamarnya menutup.

Aku berbaring di sofa sendirian, menatap langit-langit, dengan pensilnya di tanganku dan jantung yang berdetak seperti baru lari dari Bintaro ke SCBD.

Ponselku bergetar.

Raka: Nadia bilang Helena barusan cerita ke dia soal “rapat besok malam”. Ries. Kamu baik-baik saja?

Aku mengetik dengan jempol yang gemetar.

Rak.

Aku perlu meterai.

Ini bukan pertanyaan.