Chapter Three

Aku Nggak Minta Dilayani

POV: Aries

Alarm asap di dapur berbunyi pukul 07.12 pada hari Sabtu.

Aku tahu persis jamnya karena saat itu aku sedang memandangi jam dinding kamar, setengah bangun, menimbang apakah wajar seorang suami turun ke bawah hanya untuk melihat istrinya sudah bangun atau belum. Kesimpulanku: tidak wajar. Kesimpulan alarm asap: wajar sekali, cepat turun.

Dapur penuh kabut tipis berbau bawang gosong. Jendela terbuka, kipas angin berdiri diarahkan maksimal ke plafon tempat alarm berteriak, dan istriku berdiri di atas kursi makan sambil mengipasi alarm itu dengan talenan.

Dia memakai apron bergambar kucing. Terbalik. Kantongnya di belakang.

“Jangan ketawa,” katanya dari ketinggian.

“Aku nggak ketawa.”

“Muka kamu ketawa.”

“Mukaku memang begini dari lahir.”

Aku menekan tombol reset di panel samping pintu dapur, satu meter dari kursinya, dan rumah mendadak sunyi. Helena turun dari kursi, menatap tombol itu, lalu menatapku dengan kebencian yang sangat lucu.

“Kenapa tombolnya di situ?”

“Supaya nggak ada yang harus naik kursi.”

Di atas kompor, wajan kecil berisi nasi goreng berwarna cokelat tua yang tidak bisa dijelaskan oleh kecap merek apa pun. Di piring sebelahnya, telur dadar dengan bentuk yang secara mencurigakan menyerupai peta Indonesia. Kalimantannya gosong.

“Aku bikin sarapan,” katanya, dengan nada orang yang sedang mempertahankan disertasi.

“Aku lihat.”

“Buat kamu.”

Aku tidak langsung menjawab, karena dua kata itu masuk ke dadaku dan aku perlu sedetik untuk menyusunnya kembali.

Ponselnya di meja menyala. Layar terkunci menampilkan pratinjau pesan dari grup bernama Chandra Family 💐. Pengirimnya Mama Ratna, ibu mertuaku.

Len, istri yang baik itu masak buat suami. Jangan cuma kerja. Laki-laki itu luluhnya lewat perut. Mama kirim resep nasi goreng kampung, gampang.

Di bawahnya ada stiker bunga mawar yang berkedip.

Jadi itu sumber kabutnya.

Aku menarik kursi dan duduk. Helena menyendokkan nasi goreng ke piring dengan gerakan hati-hati, lalu meletakkan Indonesia di atasnya. Dia duduk di seberangku, tangan dilipat, menunggu.

Aku makan satu suap.

Asinnya berlapis. Asin kecap ikan, asin garam, asin sesuatu yang kutebak terasi, dan asin yang mungkin berasal dari air mata akibat memotong bawang. Nasinya sedikit lembek di tengah dan renyah berlebihan di pinggir.

“Gimana?” tanyanya.

Aku menelan. “Berani.”

“Itu bukan rasa.”

“Itu rasa yang punya karakter.”

Dia menyendok sedikit dari wajan, mencicipinya, lalu wajahnya berkerut seperti baru menggigit jeruk nipis lengkap dengan kulitnya. “Ya ampun. Ini kayak air laut digoreng.”

Aku tertawa. Benar-benar tertawa, sampai harus meletakkan sendok.

Dan di tengah tawa itu ada sesuatu yang tidak bisa kuceritakan kepada siapa pun di meja ini.

Aku bahagia.

Bukan karena nasi gorengnya. Bukan juga karena dia memasak untukku. Aku bahagia karena ada sandal karet biru di depan pintu kamar seberang, ada ikat rambut yang tertinggal di lengan sofa, ada suara perempuan menyenandungkan lagu iklan di kamar mandi pukul enam pagi. Aku bahagia karena rumah ini, yang dulu hanya punya bunyi kulkas dan langkahku sendiri, sekarang punya alarm asap yang dikipasi pakai talenan.

Itu yang sebenarnya. Dan itu yang tidak boleh terlalu kelihatan.

Aku sudah lama belajar menyimpan sesuatu dengan rapi. Cukup lama sampai menyimpan terasa seperti bernapas.

“Len,” kataku setelah tawaku habis. “Kamu nggak perlu begini.”

“Aku istri kamu.”

“Iya. Itu sudah sah, ada buku nikahnya, dua. Nggak perlu dibuktikan pakai telur.”

“Mama bilang—”

“Mama bilang laki-laki luluh lewat perut.” Aku mengambil ponselnya yang masih menyala dan menelungkupkannya ke meja. “Itu teori yang belum lolos peer review.”

Dia menyipitkan mata. “Kamu baca pesan Mama?”

“Pesannya yang memamerkan diri. Aku cuma korban.”

Aku menggeser piring sedikit, memberi ruang di antara kami untuk kalimat yang lebih serius.

“Pasal lima,” kataku.

“Pasal lima bilang tidak wajib. Bukan dilarang.”

“Betul. Jadi gini.” Aku menautkan jari di atas meja. “Kalau kamu masak karena kamu suka, silakan. Aku daftar jadi tester tetap, nggak dibayar juga nggak apa-apa. Tapi kalau kamu masak karena merasa harus, karena takut dibilang bukan istri yang baik, jangan. Aku nikah sama kamu bukan buat dilayani.”

“Terus buat apa?”

Pertanyaan itu jatuh ke meja seperti sendok yang tergelincir. Dia sendiri tampak kaget sudah menanyakannya.

Ada seribu jawaban jujur di kepalaku, dan semuanya terlalu besar untuk pagi Sabtu yang berbau bawang gosong.

“Buat ada yang nyalain alarm asap tiap weekend,” kataku. “Rumah ini terlalu sepi sebelum kamu.”

Dia memutar bola mata, tapi pipinya memerah sedikit. Kuanggap itu kemenangan kecil yang tidak perlu diumumkan.

“Lagian,” lanjutku, “kalau aku cari juru masak, aku lamar Pak Darto. Nasi gorengnya legendaris di pos satpam. Katanya rahasianya teri Medan.”

“Kamu pernah makan nasi goreng Pak Darto?”

“Waktu ronda bareng dia, sebulan sebelum kita nikah.” Aku mengangguk. “Bapak-bapak di komplek ini wajib ronda sebulan sekali. Ada jadwalnya di grup warga. Kamu belum dimasukkan ke grup karena aku bilang istriku masih adaptasi.”

“Kamu ngelindungin aku dari ronda?”

“Dari grup WhatsApp warga. Itu jauh lebih bahaya.”

Ponselku bergetar di saku celana. Raka.

Futsal jam 9. Kurang satu orang.

Aku membalas: Nggak bisa. Istri lagi masak.

Balasannya cepat sekali. Kamu kedengeran kayak orang disandera.

Disandera dengan sukarela.

Jadi gimana rasanya, akhirnya serumah sama dia? Setelah semua yang—

Aku tidak menunggu kalimat itu selesai. Aku mengunci layar dan memasukkan ponsel kembali ke saku. Raka terlalu banyak tahu, dan terlalu sedikit tahu kapan harus berhenti mengetik.

“Siapa?” tanya Helena.

“Raka. Ngajak futsal.”

“Kenapa nggak pergi?”

“Karena ada tugas yang lebih penting.” Aku berdiri dan mengangkat wajannya. “Menghilangkan barang bukti.”

“Jangan dibuang!”

“Kita selamatkan yang masih bisa diselamatkan.”

Akhirnya kami memasak ulang bersama. Lebih tepatnya, aku memasak dan dia mendapat jabatan Kepala Divisi Pemecahan Telur. Dia mengerjakannya dengan sangat serius, ujung lidah sedikit menyembul di sudut bibir, memecahkan empat butir telur ke mangkuk tanpa satu keping cangkang pun ikut masuk.

“Lihat,” katanya bangga. “Bersih.”

“Promosi diterima. Minggu depan kamu boleh pegang bawang.”

“Aku nggak percaya diri sama bawang.”

“Bawang juga nggak percaya diri sama kamu. Kalian bisa tumbuh bersama.”

Dia tertawa, dan aku membalik telur di wajan supaya punya alasan untuk tidak menatapnya terlalu lama. Pagi itu dia menggulung rambutnya asal dengan pensil, beberapa helai lolos dan menempel di leher karena panas kompor, dan dia cantik. Bukan cantik yang rapi dan sopan seperti di foto prewedding. Cantik yang berantakan, berkeringat sedikit, dengan noda kecap di pipi kiri yang belum dia sadari. Cantik banget, sampai aku curiga dunia sedang bercanda denganku pagi-pagi begini. Aku harus berkonsentrasi penuh pada telur.

Kami makan di meja yang sama, dengan nasi goreng versi kedua yang rasanya seperti makanan manusia.

Di tengah piring keduanya, dia memotret nasi goreng itu dari atas, menata sendok supaya terlihat estetik, lalu mengirimnya ke grup Chandra Family 💐 dengan keterangan: Sarapan buat suami, Ma.

Aku melihat layarnya dari seberang meja. “Itu masakanku.”

“Itu masakan kita.” Dia tidak mengangkat kepala. “Telurnya aku yang pecahin. Tanpa telur, itu cuma nasi goreng biasa.”

“Secara teknis itu memang nasi goreng biasa.”

“Secara teknis kamu sedang mengganggu proses pencitraan.”

Dalam sepuluh detik, Mama Ratna membalas dengan tujuh stiker mawar berkedip, dua jempol, dan satu pesan suara yang dibuka Helena dengan volume terlalu keras: “Nah, gitu dong, Len! Mama bilang juga apa, gampang kan!”

Helena menatapku dengan tatapan memohon agar aku tidak bersuara. Aku mengunci bibir dengan dua jari dan membuang kunci imajinernya ke belakang bahu. Dia tertawa sampai tersedak, dan aku harus menuangkan air untuknya.

Kalau harga kebahagiaan pagi ini adalah mertuaku mengira istriku jago masak, aku rela membayarnya seumur hidup.

Dia menghabiskan piring keduanya sampai bersih. Versi pertama tetap kusimpan dalam kotak plastik di kulkas, lalu kumakan diam-diam sebagai makan siang, karena aku memang pelit terhadap apa pun yang dia buat dengan tangannya sendiri.

Malamnya, di kamarku, aku membuka aplikasi catatan di ponsel. Ada satu catatan di sana yang judulnya hanya satu huruf.

H.

Aku menggulir ke bawah, melewati daftar yang sudah panjang, dan menambahkan satu baris baru.

Masak bukan bahasa cintanya. Jangan biarkan dia merasa wajib. Kalau dia mau, temani. Kalau tidak, suruh istirahat.

Setelah ragu sebentar, aku menambahkan satu baris lagi di bawahnya.

Hari ini dia bilang “buat kamu.” Simpan.

Aku tidak menghitung sudah berapa lama catatan itu ada. Aku hanya tahu jempolku sudah hafal letaknya.