Chapter Thirty Two

Aku Memilih Kamu

POV: Helena

Aku menyiapkan presentasi.

Aku tahu itu terdengar gila. Sinta juga bilang itu gila, dengan tiga tanda seru dan satu emoji tengkorak. Tapi aku konsultan. Seluruh karierku dibangun di atas kemampuan mengubah hal-hal yang rumit menjadi tiga slide yang jelas, dan untuk hal paling penting yang pernah ingin kusampaikan dalam hidupku, aku tidak tahu cara lain untuk memulainya.

Jadi aku membuat tiga slide.

Slide pertama: Latar Belakang. Isinya garis waktu. Perjodohan, Pasal 7, lampu ruang tengah, kopi gula aren, nasi goreng air laut, rak jati Opa, kemeja biru tua, gala, teras, gaun merah anggur.

Slide kedua: Analisis. Isinya tabel yang membandingkan tiga hipotesis tentang kenapa aku mencintainya: (a) karena perjodohan, (b) karena kenyamanan, (c) karena merasa berutang. Setiap hipotesis dibantah dengan bukti.

Slide ketiga: Kesimpulan. Isinya hanya satu kalimat, huruf besar di tengah layar.

Aku menyimpan file itu dengan nama Proposal_Final_v7.pptx, karena enam versi sebelumnya kuhapus semua dengan perasaan malu.

Sabtu sore, empat hari setelah demamnya, cuaca cerah dan tidak terlalu panas. Aries sudah sembuh sepenuhnya. Dia sedang di teras belakang, duduk di bangku kayu dengan kopi dan buku pinjaman dari rak jati Opa, struk minimarket masih terselip di halaman yang sama sejak berbulan-bulan lalu karena dia membaca dengan sangat lambat, sengaja, supaya bukunya tidak cepat habis.

Tidak ada krisis. Tidak ada mati lampu, tidak ada hujan, tidak ada kotak sepatu, tidak ada demam. Hanya sore biasa di bulan ketujuh pernikahan kami, dengan Pak RT tidur di atas pagar belakang dan suara anak-anak tetangga bermain sepeda di jalan.

Aku sengaja memilih hari seperti itu. Aku tidak mau dia berpikir aku mengatakannya karena terharu, karena kasihan, karena sedang menangis di lantai ruang makan. Aku mau dia mendengarnya di sore yang paling biasa, ketika tidak ada alasan apa pun untuk mengatakannya selain karena itu benar.

Aku keluar ke teras membawa laptop.

Dia mendongak dari bukunya. Menatap laptop di tanganku. Alisnya terangkat.

“Kamu bawa laptop ke teras?”

“Iya.”

“Kerjaan?”

“Bukan.” Aku duduk di sebelahnya, membuka laptop, dan meletakkannya di atas pangkuan kami berdua. “Aku mau presentasi.”

Dia menatapku lama. Lalu menutup bukunya dengan sangat hati-hati, menyelipkan struk di halaman yang benar, dan meletakkannya di bangku.

“Oke,” katanya, dengan nada serius seorang direktur yang akan mendengarkan proposal. “Silakan.”

Aku menekan tombol. Slide pertama muncul.

Latar Belakang.

Aku membuka mulut untuk menjelaskan garis waktu itu. Aku sudah menghafal narasinya. Aku sudah berlatih di depan cermin kamar mandi pagi tadi, dua kali, dengan Pak RT mengawasi dari jendela.

Tidak ada yang keluar.

Aku menatap garis waktu itu. Perjodohan. Pasal 7. Lampu. Kopi. Nasi goreng. Aku menatap titik-titik kecil di slide itu, dan setiap titik itu tiba-tiba terasa terlalu kecil untuk apa yang sebenarnya terjadi di masing-masing hari itu.

“Len?”

“Sebentar.”

Aku menekan tombol lagi. Slide kedua. Analisis. Tabel tiga hipotesis. Aku menatap tabel itu, dan kalimat-kalimat yang sudah kususun dengan rapi di setiap sel tiba-tiba terdengar seperti laporan untuk klien. Kering. Berjarak. Sama sekali tidak seperti yang ingin kukatakan.

Aku menutup laptop.

Dia menatapku, bingung.

“Slide-nya jelek,” kataku.

“Aku belum lihat slide ketiga.”

“Slide ketiganya cuma satu kalimat. Nggak perlu slide.”

Aku meletakkan laptop di lantai teras. Lalu aku memutar badanku menghadapnya penuh, menarik satu kakiku ke atas bangku, dan memegang kedua tangannya. Tangannya hangat. Ibu jarinya bergerak sedikit di punggung tanganku, kebiasaan yang mulai dia lakukan sejak sofa pamer di toko furnitur.

“Aku mau ngomong sesuatu,” kataku. “Dan aku mau kamu dengerin sampai habis. Jangan potong. Jangan bercanda. Jangan bilang kamu nggak harus. Jangan nyiapin pintu keluar.”

Dia mengangguk pelan.

Aku menarik napas.

“Waktu kita nikah, aku nggak cinta sama kamu. Kamu tahu itu. Aku tulis di Pasal 7. Aku nikah sama kamu karena Mama, karena keluarga, karena aku capek ditanya kapan nikah, dan karena kamu kelihatan seperti orang baik yang nggak akan nyakitin aku. Itu alasan-alasan yang nggak romantis sama sekali.”

Dia diam. Mendengarkan.

“Terus kamu nyalain lampu. Kamu bikin kopi. Kamu isi bensin, isi gelas air, angkat galon. Dan aku pelan-pelan jadi nyaman. Terus aku jadi terbiasa. Terus aku jadi butuh. Dan aku sempat takut, Aries. Aku takut yang aku rasain ini cuma nyaman. Cuma terbiasa. Cuma rasa terima kasih yang kebanyakan. Aku takut aku cuma suka sama apa yang kamu kasih, bukan sama kamu.”

Suaraku bergetar. Aku membiarkannya.

“Terus aku nemu kotak itu. Dan aku sempat takut lagi. Takut yang aku rasain sekarang cuma karena aku merasa bersalah. Karena lima tahun. Karena aku terlambat. Karena aku berutang terlalu banyak sama orang yang nggak pernah nagih.”

Aku meremas tangannya.

“Jadi aku cek. Aku konsultan, aku cek semua hipotesis. Itu isi slide kedua.” Aku tertawa kecil, basah. “Dan hasilnya begini.”

Aku menatap matanya.

“Bukan karena perjodohan. Perjodohan cuma bikin kita satu rumah. Aku sudah satu rumah sama banyak orang seumur hidupku, dan aku nggak jatuh cinta sama mereka.”

“Bukan karena nyaman. Kalau cuma mau nyaman, aku bisa beli kasur yang lebih empuk. Kamu nggak nyaman, Aries. Kamu bikin aku nabrak kusen. Kamu bikin aku nggak bisa tidur. Kamu bikin aku menghirup bau sabun orang dan bilang lagi ngecek gas.”

Sudut bibirnya bergerak. Aku melotot. Dia menahannya.

“Dan bukan karena utang. Aku sudah robek neracanya. Kamu sudah sambung lagi pakai selotip, tapi aku tetap nggak berutang. Kalau aku cinta sama kamu karena utang, aku pasti sudah lari waktu tahu utangnya lima tahun. Tapi aku nggak lari. Aku malah nangis di dada kamu dan minta oleh-oleh selai kaya.”

Air mataku jatuh. Aku tidak menyekanya.

“Aku cinta kamu karena kamu nggak bisa bersiul. Karena kamu takut horor tapi nonton sampai habis supaya aku nggak kebangun. Karena kamu nyimpen struk di dompet dan meterai di laci dan neraca yang sudah aku robek. Karena kamu nangis makan nasi kuning yang bawahnya bantat. Karena kamu bilang riset istri lebih penting dari riset investasi dengan muka datar. Karena kamu ngupas empat jeruk waktu cemburu. Karena kamu cuci kemeja biru tua pakai tangan.”

Aku menarik napas yang gemetar.

“Aku cinta kamu karena kamu. Bukan karena apa yang kamu kasih. Kalau besok kamu berhenti bikin kopi, aku tetap cinta kamu. Kalau besok kamu lupa nyalain lampu, aku tetap cinta kamu. Dan aku yang akan nyalain lampunya.”

Dia tidak bergerak. Matanya basah. Bibirnya terbuka sedikit, seperti orang yang lupa cara menutupnya.

“Ini slide ketiga,” kataku pelan.

Aku melepaskan satu tangannya dan meletakkan telapak tanganku di pipinya.

“Aku memilih kamu, Aries Ikrima.”

Teras sunyi. Anak-anak tetangga sudah berhenti bermain sepeda. Pak RT membuka satu mata di atas pagar.

“Bukan karena keluarga. Bukan karena terbiasa. Bukan karena kasihan. Aku memilih kamu karena aku mau. Dengan sadar. Di sore yang biasa, tanpa mati lampu, tanpa demam, tanpa kotak sepatu. Aku sudah milih. Dan aku akan terus milih. Besok, lusa, setiap hari.”

Lama sekali dia hanya menatapku.

Lalu dia menutup mata, dan satu air mata jatuh dari sudutnya, menetes ke ibu jariku yang masih di pipinya.

“Bilang lagi,” bisiknya.

Aku tersenyum. Itu kalimatku. Di malam dia mengaku cemburu, di karpet ruang tengah. Bilang lagi.

“Aku memilih kamu.”

“Lagi.”

“Aku memilih kamu. Aku cinta kamu. Aku memilih kamu.”

Dia membuka mata. Lalu dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, persis seperti aku menangkup wajahnya di ruang makan malam itu.

“Aku cinta kamu,” katanya.

Tiga kata. Tidak datar. Tidak dibungkus lelucon. Tidak disembunyikan di balik lampunya penakut atau kalimat tentang senyum yang katanya cukup, atau aturan bernomor dengan penggaris.

Tiga kata yang dia simpan selama lima tahun, akhirnya keluar di teras belakang, di sore yang biasa, dengan suara yang pecah di tengah.

“Dari dapur belakang,” lanjutnya. “Dari kamu ngompres Mbak Sri pakai saputangan. Dari kamu bilang maaf ke Mama dan nggak cerita apa-apa. Aku cinta kamu dari situ, Len. Dan setiap hari sejak itu, aku cinta kamu lebih banyak lagi, dan aku nggak pernah tahu harus taruh di mana semua itu.”

“Taruh di aku,” kataku. “Mulai sekarang taruh di aku.”

Dia menciumku.

Tidak pelan seperti di sofa. Tidak tertahan seperti di dapur ketika dia yang berhenti lebih dulu. Dia menciumku seperti seseorang yang akhirnya diizinkan, dalam dan lama, dengan tangan di wajahku dan jemari yang menyusup ke rambutku, dan aku menciumnya kembali dengan semua yang tidak bisa kutuliskan di tiga slide, sampai napasku habis dan dunia di sekitar teras menghilang, hanya tersisa hangat bibirnya dan detak jantungnya di bawah telapak tanganku.

Ketika akhirnya kami berhenti, dahinya bersandar di dahiku. Kami berdua tertawa, napas kami terengah, wajah kami basah.

“Presentasinya,” katanya serak, “diterima.”

“Tanpa revisi?”

“Tanpa revisi. Langsung disetujui dewan direksi.”

Malam itu, aku mengirim satu pesan kepada Nadia.

Sudah.

Balasannya datang dalam dua detik.

LEMBAGA SURVEI NADIA DIBUKA KEMBALI KHUSUS UNTUK PENGUMUMAN INI.

QUICK COUNT SELESAI.

SUARA MASUK 100%.

PEMENANG: ARIES IKRIMA.

HASIL RESMI MENUNGGU KPU (KOMISI PERNIKAHAN UTAMA).

Aku nangis di depan Raka. Dia juga nangis. Kami pura-pura alergi debu.

Aku tertawa, menunjukkan layarnya kepada Aries yang berbaring di sebelahku di sofa dengan selimut hijau zaitun di atas kami berdua. Dia membaca, lalu menutup wajah dengan satu tangan.

“Mereka harus berhenti,” katanya.

“Mereka nggak akan berhenti.”

“Aku tahu.”

Laptop masih di lantai teras, terlupakan sampai pagi. Pagi harinya, Aries memungutnya, membukanya, dan membaca ketiga slide dengan sangat serius sambil minum kopi. Lalu dia mengirim file itu ke email pribadinya dengan subjek ARSIP. JANGAN DIHAPUS.

Aku menemukannya karena dia lupa logout.

Dia memang pelit. Dan aku memang memilihnya.