Chapter Forty

Pulang

POV: Helena

Seseorang menyentuh pipiku.

Pelan sekali. Ujung jari yang hangat, menyusuri tulang pipiku dari dekat telinga sampai ke sudut bibir, seperti seseorang yang memastikan sesuatu itu nyata sebelum berani memegangnya.

Aku membuka mata.

Lampu berdiri masih menyala. Cahayanya kuning dan lembut, jatuh dari belakang kepalanya, membuat rambutnya terlihat seperti dikelilingi cahaya tipis. Dia berjongkok di depan sofa, masih memakai kemeja kerja yang kusut setelah lima belas jam, dasinya sudah dilepas dan tersampir di bahu, tas laptop masih menyilang di dadanya. Dia bahkan belum melepas sepatu.

Dia langsung ke sini. Dari pintu, ke sofa, ke aku.

“Hei,” katanya pelan.

“Hei.” Suaraku serak karena tidur. “Jam berapa?”

“Setengah dua belas lewat.”

“Kamu bilang jam sebelas.”

“Pak Hendro mau satu asumsi lagi dihitung ulang.” Dia tersenyum lelah. “Asumsi itu ternyata nggak berubah. Kami menghitungnya ulang selama empat puluh menit untuk sampai di angka yang sama.”

Aku tertawa pelan. Pak RT, yang masih tidur dengan dagu di pahaku, membuka satu mata, menatap Aries dengan ekspresi menghakimi, lalu menutupnya lagi.

Aries menatap Pak RT. Lalu selimut hijau zaitun di kakiku. Lalu laptop yang meredup di pangkuanku. Lalu meja makan di belakangnya, tudung saji rotan, rice cooker dengan lampu oranye kecil, dan tiga saset kopi berjajar rapi seperti barang bukti.

Lalu dia menatapku lagi, dan matanya berubah.

“Len,” katanya. “Kamu nggak perlu nunggu.”

Aku menatapnya lama.

Aku ingat kalimat yang sama, dalam versi yang lain, di malam kesebelas pernikahan kami. Kamu nunggu aku? tanyaku waktu itu. Nggak, jawabnya. Aku ketiduran di tempat yang kebetulan kelihatan dari pintu.

“Kamu dulu juga nggak perlu,” kataku.

Dia diam.

“Lima tahun,” lanjutku pelan. “Kamu nggak perlu nunggu lima tahun. Kamu nggak perlu nyalain lampu itu setiap malam. Kamu nggak perlu beli kopi saset tiga kali sampai Pak Darto kasihan. Kamu nggak perlu ketiduran di sofa yang terlalu pendek buat kaki kamu. Tapi kamu tetap lakuin.”

Aku duduk tegak. Pak RT, merasa terganggu, melompat turun dari sofa dengan wajah tersinggung dan berjalan ke dapur.

“Jadi aku juga nggak perlu,” kataku. “Tapi aku mau.”

Dia menunduk. Bahunya bergetar sekali. Lalu dia mengangkat ponselnya dan memutar layarnya ke arahku.

Pesan dari Pak Darto. Bukan yang salah kirim. Yang benar, dikirim lima belas menit lalu, ketika mobilnya melewati portal.

Pak. Sekarang Ibu yang nungguin. Kopi sasetnya Ibu yang beli. Tiga. Yang ketiga saya kasih gratis. Bapak pulang yang cepat ya, Pak. Lampunya sudah nyala.

“Dia juga nelepon,” kata Aries pelan. “Waktu aku di portal. Dia keluar dari pos, berdiri di depan mobilku, dan bilang, Pak, gantian. Cuma itu. Terus dia angkat portalnya.”

Suaranya pecah di ujung kalimat.

“Aku belok di ujung blok,” lanjutnya, “dan aku lihat jendela ruang tengah nyala. Dan aku harus berhenti mobil di depan rumah Pak Haji Somad sebentar. Karena aku nggak bisa lihat jalan.”

Dia menyeka mata dengan punggung tangan.

“Lima tahun aku nyalain lampu itu, Len. Aku nggak pernah tahu rasanya dari luar. Aku nggak pernah tahu rasanya belok di ujung blok dan lihat ada yang nunggu.”

“Sekarang kamu tahu,” bisikku.

“Sekarang aku tahu.”

Aku mengulurkan tangan dan menangkup wajahnya, seperti malam di ruang makan ketika dia menangis tanpa suara. Kulitnya hangat dan sedikit kasar karena bulu yang tumbuh setelah seharian. Matanya basah. Dia tidak berusaha menyembunyikannya lagi.

“Kamu pernah bilang sesuatu ke aku,” kataku. “Di malam aku pulang jam satu, habis nangis di tol.”

Dia menatapku.

“Kamu bilang aku rumah. Dan aku nggak ngerti waktu itu. Aku pikir itu cuma kalimat manis. Baru belakangan aku tahu artinya.” Ibu jariku menyusuri tulang pipinya. “Sekarang giliran aku.”

Aku menarik napas.

“Buat aku, kamu itu rumah.”

Dia berhenti bernapas.

“Bukan rumah ini,” lanjutku. “Bukan sofa ini, bukan lampu ini, bukan rak jati Opa. Kamu. Kamu yang nyimpen struk di dompet. Kamu yang ngupas jeruk kalau cemburu. Kamu yang bikin kopi gula aren pakai takaran di tutup stoples. Kamu yang nyanyiin lagu Chrisye pakai lirik salah. Aku nggak pulang ke alamat ini, Aries. Aku pulang ke kamu.”

Air matanya jatuh ke ibu jariku.

“Dan aku mau kamu tahu satu hal,” bisikku, mendekatkan wajahku sampai kening kami hampir bersentuhan. “Mulai malam ini, sampai kapan pun, kalau dunia di luar bikin kamu capek, pulang aja.”

Dia menutup mata.

“Kamu nggak perlu kuat di sini. Kamu nggak perlu nyiapin apa-apa. Kamu nggak perlu nunggu sampai aku tidur buat matiin lampu. Kamu nggak perlu bawa meterai.” Suaraku pecah. “Pulang aja. Aku di sini. Lampunya nyala. Selalu.”

Dia tidak menjawab dengan kata-kata.

Dia memelukku. Masih berjongkok di depan sofa, masih dengan tas laptop menyilang di dadanya dan sepatu yang belum dilepas, dia menarikku ke pelukannya dan memelukku dengan erat sampai aku bisa merasakan jantungnya berdetak keras di dadaku. Wajahnya terbenam di bahuku. Bahunya bergetar.

Aku memeluknya balik. Tanganku di punggungnya, mengusap pelan, bolak-balik.

Kami tetap seperti itu lama sekali. Di bawah lampu yang dulu menungguku, dan malam ini menunggunya.

Ketika akhirnya dia menarik diri, matanya merah dan hidungnya merah dan dia tertawa kecil, malu, seperti anak laki-laki yang ketahuan menangis di sekolah.

“Aku belum lepas sepatu,” katanya.

“Aku lihat.”

“Itu melanggar sesuatu, kan? Pasal berapa?”

“Nggak ada pasal soal sepatu.” Aku tersenyum. “Tapi bisa dibuat.”

Dia berdiri, melepas tas laptop dan sepatunya, dan meletakkan keduanya di dekat pintu dengan rapi, seperti biasa. Lalu dia kembali dan duduk di sebelahku di sofa. Kakinya terlalu panjang, tentu saja, menjuntai di lengan sofa seperti orang yang sedang dihukum.

“Sudah makan?” tanyaku.

“Sudah makan?” tanyanya, pada detik yang sama persis.

Kami saling menatap. Lalu tertawa.

“Belum,” kami jawab bersamaan.

“Aku nunggu kamu,” kataku.

“Aku makan roti di mobil,” katanya. “Tapi itu nggak dihitung.”

Aku berdiri dan berjalan ke meja makan. Aku membuka tudung saji rotan. Sayur asem, tempe goreng yang tidak rata, ayam bakar dari warung Padang di Sektor 9 yang kulitnya masih sedikit mengilap.

Aries berdiri di belakangku dan menatap meja itu lama.

“Ini menu malam kesebelas,” katanya pelan.

“Kamu ingat?”

“Aku ingat semuanya tentang malam itu.” Dia menyentuh pinggiran tudung saji dengan ujung jari. “Kamu pulang jam dua belas kurang tiga belas. Kamu makan sayur asem dua menit di microwave. Kamu cuci piring sendiri sebagai bentuk perlawanan.”

“Kamu tidur di sofa dengan kaki menjuntai.”

“Lampunya penakut.”

“Lampunya nggak penakut,” kataku. “Lampunya cuma nunggu orang yang tepat buat nemenin.”

Aku memanaskan sayur asem dua menit di microwave. Bunyi ting tiga kali terdengar seperti alarm kebakaran di rumah yang sunyi. Kami makan di meja makan, berhadapan, pukul dua belas kurang sepuluh malam. Dia makan dua piring nasi. Aku makan satu setengah.

Lalu aku mengambil dua gelas.

Gelas bening. Air putih. Suhu ruang. Aku menuangnya dan meletakkan satu di depannya, satu di depanku, di tengah meja makan, sejajar, berdampingan.

Dia menatap dua gelas itu.

Di gelas itu ada semua malam yang dia isi diam-diam ketika aku bekerja sampai larut. Ada gelas di samping tempat tidurnya ketika dia demam dan aku menyuruhnya minum sedikit demi sedikit. Ada gelas di nakas sisi kiri dan nakas sisi kanan, sejak malam amandemen Pasal 3.

Dua gelas. Bukan lagi satu orang yang mengisi gelas untuk orang lain.

Dia mengangkat gelasnya. Aku mengangkat gelasku. Kami bersulang dengan air putih, ting, pelan, di tengah meja makan, dan minum bersamaan.

Kami mencuci piring berdua. Aku mencuci, dia mengeringkan. Dia menggulung lengan kemejanya tanpa pemberitahuan, dan aku tidak protes, dan aku tidak menabrak kusen. Kemajuan.

Lalu kami berdiri di depan lampu berdiri di sudut ruang tengah.

Dia meletakkan jarinya di saklar. Aku meletakkan jariku di atas jarinya.

Tapi sebelum menekannya, dia menunduk dan menciumku.

Bukan ciuman di teras yang tergesa dan miring. Bukan ciuman di sofa yang pelan dan ragu. Bukan ciuman di dapur yang membuat sumpit jatuh. Ciuman ini lambat dan tenang dan sangat pasti, seperti seseorang yang tidak lagi takut kehilangan. Seperti seseorang yang tahu dia akan pulang ke tempat yang sama besok, dan lusa, dan setiap hari setelahnya.

Ketika dia menarik diri, dahinya bersandar di dahiku.

“Aku pulang,” bisiknya.

“Selamat datang,” bisikku.

Klik.

Lampu padam.

Ruang tengah gelap, hanya ada cahaya lampu jalan yang masuk lembut lewat jendela, jatuh di rak jati Opa dan kotak sepatu cokelat bertuliskan JANGAN DIBUANG. Kami berjalan menaiki tangga dalam gelap, tangan bertaut, Pak RT mengikuti di belakang kami seperti pengawal.

Di lorong lantai atas, hanya ada satu pintu yang terbuka. Pintu kamar kami.

Pintu yang tidak perlu dikunci, karena tidak ada lagi yang perlu mengetuk.

Pintu yang tidak perlu ditunggu, karena tidak ada lagi yang pulang sendirian.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak rumah ini berdiri, tidak ada satu pun lampu yang menyala di dalamnya.

Karena tidak ada satu pun dari kami yang masih di luar.