Chapter Two
Suami yang Terlalu Siap
POV: Helena
Pagi berikutnya aku turun pukul enam lewat dua puluh dengan rambut setengah basah dan rencana sederhana: kabur sebelum harus bicara dengan siapa pun.
Rencana itu gagal di anak tangga terakhir.
Aries berdiri di dapur, kemeja putih belum dikancing penuh, sedang menuang sesuatu dari panci kecil ke tumbler hitam. Tumbler hitam milikku. Yang tutupnya penyok sedikit karena pernah jatuh di parkiran kantor.
“Pagi,” katanya tanpa menoleh. “Kopi susu gula aren, gulanya setengah. Kamu pasti telat kalau bikin sendiri.”
Aku berhenti di tengah dapur. “Aku nggak pernah bilang aku minum kopi susu gula aren.”
“Kamu memang nggak pernah bilang.” Dia menutup tumbler, memutarnya sampai berbunyi klik, lalu menyodorkannya. “Tapi kamu pesan itu di kedai depan gedung waktu technical meeting pernikahan kita. Kamu minta gulanya setengah, mbaknya salah, dan kamu tetap minum sambil senyum karena nggak enak bikin dia ulang.”
Aku menerima tumbler itu pelan-pelan, seperti menerima barang bukti.
“Kamu ingat itu?”
“Aku ingat mbaknya kelihatan lega.” Dia mengancingkan kemeja dari bawah ke atas. “Berangkat sana. Tol jam segini sudah kayak parkiran.”
Aku berangkat. Dan di mobil, semuanya dimulai.
Jarum bensin menunjuk penuh. Kemarin sore lampu indikatornya sudah menyala oranye. Aku ingat betul karena aku mengomel sendiri di lampu merah Pondok Indah dan berjanji akan mengisinya besok. Sekarang tangki itu kenyang seperti habis lebaran.
Di laci konsol tengah ada charger tipe C, kabelnya masih terlilit karet. Di sebelahnya, sebungkus tisu, payung lipat warna hijau botol, plester luka, dan satu strip obat maag. Bukan sembarang obat maag. Merek dengan strip hijau, satu-satunya yang tidak membuatku mual, yang tidak pernah kusebut ke siapa pun karena memang tidak ada yang bertanya.
Di lampu merah Pondok Indah, lampu merah yang sama tempat aku mengomel kemarin, aku menatap strip hijau itu sampai mobil di belakang membunyikan klakson.
Jam sembilan, Nadia menelepon.
Nadia Chandra, sepupuku, tiga tahun lebih tua dan sepuluh tahun lebih cerewet, pemilik wedding organizer yang mengurus pernikahanku sendiri dan sampai sekarang masih menagih testimoni bintang lima.
“Gimana rasanya jadi istri orang, Bu?”
“Nad. Dia isiin bensin aku.”
“Terus?”
“Dia beliin charger. Payung. Obat maag yang strip hijau.”
“Terus?”
“Kok terus? Itu mencurigakan.”
“Len.” Suara Nadia berubah seperti guru TK menjelaskan warna. “Di dunia normal, itu namanya suami siaga. Di dunia kamu, itu namanya mencurigakan. Kamu butuh terapi atau kacamata?”
“Gimana dia bisa tahu semua itu?”
“Tanya orangnya, dong. Kalian kan serumah. Atau kalian komunikasinya lewat surat resmi?”
Aku diam. Nadia terkesiap.
“Jangan bilang kalian bikin surat resmi.”
“Perjanjian. Bukan surat.”
Butuh lima menit sampai Nadia berhenti tertawa dan dua menit lagi sampai dia bisa bernapas normal. Aku menutup telepon sebelum dia sempat bertanya pasal berapa saja.
Setelah itu aku mengetik pesan untuk Aries, menghapusnya, mengetiknya lagi dengan nada yang lebih profesional.
Kamu isi bensin mobilku?
Mobilnya yang minta. Lampunya oranye, kayak lagi ngambek.
Berapa? Aku transfer.
Pasal 2 ayat 2. Kamu urus galon. Kita impas.
Galonnya kamu yang angkat.
Itu pelaksanaan, Pihak Pertama. Fokus ke kerjaan. Klien kamu butuh yang bold tapi minimalis.
Aku menatap layar. Aku tidak ingat pernah menceritakan komentar klien itu padanya. Lalu aku ingat semalam, di meja makan, aku menggerutu soal itu sambil mengunyah tempe, dan dia sedang membaca ponsel, dan aku yakin dia tidak mendengarkan.
“Kamu kenapa senyum-senyum ke HP?” tanya Sinta dari kubikel sebelah.
“Nggak senyum.”
“Itu senyum. Aku kenal senyum. Aku punya pacar tiga tahun dan nggak pernah senyum kayak gitu.”
Aku menelungkupkan ponsel di meja dan membuka file presentasi dengan sangat serius.
Pukul 20.42, aku mengirim pesan.
Pulang jam 9. Pasal 6.
Balasannya datang dalam tiga puluh detik.
Diterima. Hati-hati, Pihak Pertama.
Aku memandangi layar itu lebih lama daripada yang perlu untuk sebuah pesan berisi empat kata.
Rumah masih terang ketika aku tiba, tapi kali ini Aries tidak tidur di sofa. Dia duduk di karpet ruang tengah dengan kaki bersila, laptop di meja rendah, kacamata baca bertengger di hidungnya. Aku tidak tahu dia pakai kacamata baca. Aku juga tidak tahu kenapa informasi itu membuatku berdiri agak lama di depan pintu.
“Sudah makan?”
“Sudah. Di kantor.”
“Oke.” Dia kembali ke laptop.
Aku mengambil buku catatan dan pulpen dari tas, lalu duduk di sofa tepat di belakangnya. Dia menoleh dan melihat buku catatan itu. Lalu melihat pulpen. Lalu melihat wajahku.
“Kenapa aku merasa mau diaudit?”
“Karena memang mau.” Aku membuka halaman yang sudah kutulisi saat makan siang. “Satu. Kopi susu gula aren, gula setengah. Dua. Bensin. Tiga. Charger tipe C. Empat. Obat maag strip hijau. Kamu riset aku?”
Dia melepas kacamata dan memutar badan sampai menghadapku penuh.
“Iya.”
Aku tidak menyangka dia akan mengaku secepat itu. Aku sudah menyiapkan lima pertanyaan lanjutan, dan sekarang semuanya kehilangan pekerjaan.
“Kenapa?”
“Karena riset istri lebih penting daripada riset investasi.” Nadanya seperti orang membacakan aturan pajak. “Kalau riset investasiku salah, paling klien rugi. Kalau riset istri salah, aku yang tidur di luar.”
“Kamu memang tidur di kamar sendiri.”
“Nah. Masih ada ruang buat turun kelas. Teras, misalnya. Atau pos Pak Darto.”
Aku menggigit bibir agar tidak tertawa. Gagal setengah.
“Obat maagnya,” kataku, lebih pelan. “Aku nggak pernah bilang ke siapa-siapa.”
“Di acara lamaran.” Dia menyandarkan siku di lutut. “Kamu ke belakang tenda, minum obat itu pakai air gelas plastik, terus balik ke depan dan senyum ke tante-tante dengan muka orang nahan sakit. Kamu kira nggak ada yang lihat.”
“Dan kamu lihat.”
“Aku orangnya suka lihat-lihat.” Dia mengangkat bahu. “Kerjaanku melototin angka sampai angkanya ngaku.”
Aku ingin bertanya lebih banyak. Kenapa dia memperhatikan, kenapa dia mengingat, kenapa laki-laki yang menikahiku karena keluarga kami merasa cocok mau repot-repot tahu merek obat maag. Tapi wajahnya begitu santai, seolah semua ini seremeh tahu bahwa langit berwarna biru, dan aku jadi merasa konyol kalau membesar-besarkannya.
Jadi aku menutup buku catatan. “Auditnya selesai.”
“Hasilnya?”
“Wajar dengan pengecualian.”
“Pengecualian apa?”
“Kabel charger-nya kurang panjang.”
Dia mengangguk serius, seperti menerima temuan dari BPK. “Akan ditindaklanjuti.”
Aku pindah ke meja makan, membuka laptop, dan mulai membalas email yang menumpuk sejak sore. Revisi klien, revisi atas revisi klien, revisi atas revisi atas revisi klien.
Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah gelas diletakkan di sebelah laptopku. Gelas bening, air putih, suhu ruang. Bukan air dingin, karena aku memang tidak suka minum air dingin malam-malam. Itu juga tidak pernah kusebut ke siapa pun.
Aku mendongak. Aries sudah berjalan menuju tangga.
“Jangan kemalaman,” katanya tanpa berhenti. “Mata kamu sudah merah.”
“Kamu juga belum tidur.”
“Aku lagi nunggu angka ngaku.”
Pintu kamarnya di atas tertutup pelan.
Aku bekerja. Satu email, dua, tiga. Aku meminum air itu tanpa sadar sampai habis, lalu ke kamar mandi untuk mencuci muka karena mataku memang perih.
Ketika aku kembali, gelas itu penuh lagi.
Aku berdiri menatapnya. Lampu di lantai atas mati. Aku tidak mendengar langkah, tidak mendengar pintu dibuka, tidak mendengar apa pun selain dengung kulkas.
Aku duduk, memeluk gelas itu dengan dua tangan, dan berkata pelan kepada ruangan yang kukira kosong, “Makasih.”
“Sama-sama,” jawab suara dari arah dapur.
Aku hampir menjatuhkan gelas.
Dia berdiri di balik pintu kulkas yang terbuka, memegang sebotol susu, rambutnya berantakan dan wajahnya sama sekali tidak merasa bersalah.
“Aku haus juga,” katanya. “Kebetulan.”
“Berapa kali kamu kebetulan malam ini?”
Dia menutup kulkas dan menimbang pertanyaan itu dengan wajah serius.
“Itu informasi rahasia perusahaan.”
Lalu dia naik lagi, dan aku tertinggal di meja makan dengan gelas penuh, laptop terbuka, dan perasaan aneh bahwa rumah ini memperhatikanku jauh lebih banyak daripada yang pernah kusadari.
Aku meminum air itu pelan-pelan kali ini. Seteguk, lalu seteguk lagi, seolah kalau aku minum terlalu cepat, sesuatu yang belum kupahami akan ikut tertelan sebelum sempat kuberi nama.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap reading
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh