Chapter Thirty

Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi

POV: Helena

Alarmku berbunyi pukul 04.15 pada hari Minggu, dan untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku tidak menekan tombol tunda.

Kali ini tidak ada penjelasan logis soal macet. Tidak ada artikel tentang produktivitas. Hanya satu tujuan yang sangat jelas dan sangat menakutkan: nasi kuning.

Aku sudah melakukan riset selama tiga hari. Aku menonton sebelas video tutorial. Aku menelepon Mama dan bertanya dengan nada yang sangat santai bagaimana cara membuat nasi kuning, dan Mama langsung curiga, dan aku bilang ini untuk acara kantor, dan Mama bilang kantor kamu nggak pernah ada acara masak, dan aku menutup telepon. Akhirnya aku bertanya pada Bu Narti, pemilik warung nasi kuning di ujung blok sebelah, yang menatapku dengan iba dan menuliskan resepnya di balik kertas bon dengan tulisan tangan yang lebih sulit dibaca daripada tanda tangan dokter.

Beras dicuci 3x. Santan kental, kunyit diparut peras, serai geprek, daun salam, daun jeruk. Aron dulu. Kukus. Jangan dibuka-buka nanti bantat.

Aku tidak tahu apa artinya aron. Aku juga tidak tahu apa artinya bantat. Tapi aku tahu satu hal dari pesan Raka: setiap kali Aries lewat warung nasi kuning, dia diam lama.

Dapur pukul empat pagi gelap dan dingin. Aku menyalakan lampu dapur saja, tidak lampu ruang tengah, karena aku tidak mau cahayanya naik ke lantai atas dan membangunkannya. Aku menggulung rambut dengan pensil, ingat Pasal 8 ayat 2, dan memutuskan bahwa pelanggaran pukul empat pagi tanpa saksi tidak dihitung.

Lalu aku memarut kunyit.

Tidak ada video tutorial yang memperingatkan bahwa kunyit akan mengubah tanganmu menjadi warna kuning menyala yang tidak bisa hilang. Dalam lima menit, jari-jariku terlihat seperti habis mencelup ke cat kuning. Talenan kuning. Parutan kuning. Ada cipratan kuning di daster kawung oranyeku, yang untungnya membuat noda itu tersamar.

Aku memeras kunyit ke dalam santan. Aku memasukkan serai yang sudah kugeprek dengan ulekan. Aku memasukkan daun salam dan daun jeruk. Aku mengaron beras, setelah membaca di internet bahwa itu artinya memasak beras setengah matang dengan santan sampai airnya terserap. Lalu aku memindahkannya ke dandang kukusan yang kupinjam dari Bu Narti kemarin sore.

Dan aku tidak membukanya. Aku tidak membukanya selama empat puluh menit, meskipun setiap sel di tubuhku ingin mengintip. Aku duduk di depan kompor dengan tangan kuning terlipat di pangkuan, menatap tutup dandang seperti menatap pintu ruang operasi.

Sambil menunggu, aku membuat telur balado. Cabainya terlalu banyak. Aku tahu itu terlalu banyak karena aku bersin tujuh kali dan mataku berair. Aku membuat tempe orek. Aku memotong timun. Aku menggoreng kerupuk, dan sebagian besar kerupuk itu mengembang dengan benar, kecuali tiga yang tetap keras seperti koin.

Pukul enam kurang sepuluh, aku membuka dandang.

Uap kuning naik ke wajahku, wangi santan dan serai dan daun jeruk yang memenuhi seluruh dapur. Nasinya kuning. Benar-benar kuning. Butirannya tidak sempurna, beberapa di bagian bawah sedikit terlalu lembek, dan warnanya tidak rata, lebih kuning di satu sisi daripada sisi lain. Tapi itu nasi kuning.

Aku hampir menangis di depan dandang pinjaman.

Aku mencetaknya dengan mangkuk kecil di tengah piring, karena Bu Narti bilang nasi kuning harus dicetak, Mbak, biar kelihatan niat. Hasilnya miring sedikit, seperti menara Pisa versi tropis. Aku menata lauknya mengelilingi gunung kuning itu. Telur balado. Tempe orek. Timun. Kerupuk yang mengembang. Kerupuk yang tidak mengembang kusembunyikan di bawah timun.

Pukul enam lewat dua, aku mendengar langkahnya di tangga.

“Len?” Suara pagi. Serak dan berat. “Kenapa wangi santan? Ada yang kebakar? Kamu nggak apa-apa?”

Dia muncul di pintu dapur dengan kaus putih kusut dan rambut berantakan, matanya masih setengah terpejam. Lalu matanya terbuka penuh.

Dia melihat dandang di kompor. Melihat piring di meja bar. Melihat gunung kuning yang miring, dikelilingi telur balado dan tempe orek. Lalu dia melihat tanganku.

“Tanganmu kenapa kuning?”

“Kunyit.”

“Kamu... marut kunyit?”

“Empat ruas.”

Dia berdiri di ambang pintu dapur tanpa bergerak. Dia menatap piring itu lama sekali, dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya. Sesuatu yang pelan dan dalam, seperti air yang naik dari dasar sumur.

“Siapa yang kasih tahu kamu?” tanyanya. Suaranya sedikit berubah.

“Kasih tahu apa?”

“Nasi kuning.”

“Raka. Bayarannya martabak.”

Dia tertawa. Pendek dan tidak stabil. Lalu, dengan langkah cepat, dia berjalan ke kompor, mengambil sendok nasi, dan mulai membuka lemari mencari mangkuk.

“Aku bantu bikin sambalnya. Kamu belum bikin sambal, kan? Nasi kuning harus pakai sambal kacang, Nenek dulu—”

“Duduk.”

Dia berhenti dengan tangan di pintu lemari.

“Duduk,” ulangku. “Di kursi bar. Sekarang.”

“Tapi sambalnya—”

“Nggak ada sambal hari ini. Telur baladonya sudah pedas banget. Aku bersin tujuh kali.” Aku menunjuk kursi bar dengan sendok nasi kuningku. “Duduk, Pihak Kedua.”

Dia menatapku. Menatap kursi. Menatap mangkuk di tangannya.

“Pasal 5,” kataku. “Amandemen. Aku tulis semalam.”

Aku mengeluarkan kertas yang sudah kulipat di saku daster. Kertas dari printer ruang kerjanya, dengan meterai sepuluh ribu yang sudah kutempel dan kutandatangani, karena dia ternyata menyimpan cadangan meterai di laci meja kerjanya. Tentu saja dia menyimpan cadangan.

Pasal 5 ayat 2: Pihak Pertama berhak memasak untuk Pihak Kedua kapan pun Pihak Pertama mau, dengan alasan apa pun atau tanpa alasan. Pihak Kedua wajib duduk dan menerima. Pihak Kedua dilarang membantu, mengambil alih, mencuci piring sesudahnya, atau berkata “nggak usah repot-repot”.

Dia membaca pasal itu. Dua kali.

“Wajib?” tanyanya pelan.

“Wajib.” Aku meletakkan pulpen di depannya. “Itu pasal pertama di Perjanjian ini yang mewajibkan kamu menerima sesuatu. Tanda tangan.”

Dia memegang pulpen itu lama. Tangannya, tangan yang biasanya begitu tenang ketika mengikat dasi dan memperbaiki kaitan jam tangan, sedikit gemetar.

Lalu dia menandatanganinya.

Dan dia duduk.

Duduknya sangat tidak nyaman. Dia duduk di kursi bar seperti orang yang belum pernah duduk sebelumnya, seperti tubuhnya tidak tahu harus melakukan apa kalau tidak sedang menyiapkan sesuatu untuk orang lain. Tangannya bergerak ke arah tempat sendok. Aku melotot. Tangannya kembali ke pangkuan. Kakinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi.

“Aku boleh ambil air minum sendiri?” tanyanya.

“Nggak.”

Aku menuang air ke gelasnya. Gelas bening, air putih, suhu ruang. Aku meletakkannya di sebelah piringnya.

Dia menatap gelas itu.

“Aku boleh potong timunnya?”

“Timunnya sudah dipotong.”

“Aku boleh—”

“Kamu boleh makan.” Aku meletakkan sendok dan garpu di tangannya, satu per satu, melipatkan jari-jarinya di sekitar gagangnya. “Itu satu-satunya hal yang boleh kamu lakuin pagi ini.”

Dia menatap piring itu. Gunung kuning yang miring. Telur balado yang terlalu merah. Tempe orek. Timun. Kerupuk yang mengembang di atas, kerupuk yang tidak mengembang tersembunyi di bawah timun, yang langsung dia temukan dengan ujung garpunya karena tentu saja dia menemukannya.

Dia mengambil satu suap nasi.

Aku menahan napas. Aku tahu nasinya tidak sempurna. Bagian bawahnya terlalu lembek. Garamnya mungkin kurang. Serainya mungkin terlalu banyak.

Dia mengunyah pelan. Lalu berhenti mengunyah.

Dia meletakkan sendok.

Dia menunduk, menatap piring, dan bahunya mulai bergetar, sangat pelan, hampir tidak terlihat. Lalu dia mengangkat tangan dan menutupi matanya dengan punggung pergelangan tangan.

“Aries?”

“Nggak apa-apa,” katanya dari balik tangannya. Suaranya teredam. “Nasinya enak.”

“Kamu nangis.”

“Kunyitnya. Kunyit bikin mata pedes.”

“Kunyit nggak bikin mata pedes.”

“Kunyitnya kuat banget.”

Aku turun dari kursiku, berjalan memutari meja bar, dan berdiri di sebelahnya. Aku tidak memeluknya. Aku hanya meletakkan tanganku yang kuning di punggungnya, di antara tulang belikatnya, dan membiarkannya di sana.

Dia diam lama. Lalu dia menurunkan tangannya. Matanya merah.

“Rasanya kayak rumah Nenek,” katanya pelan. “Bukan karena mirip. Nasi Nenek nggak lembek di bawah. Telur balado Nenek nggak bikin orang bersin.” Dia tertawa kecil, basah. “Tapi rasanya kayak rumah Nenek karena ada yang bangun jam empat pagi buat masak buat aku. Sudah... lama sekali nggak ada yang begitu.”

Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mengusap punggungnya pelan, bolak-balik.

Dia menghabiskan seluruh piring. Termasuk kerupuk yang tidak mengembang, yang dia kunyah dengan suara keras seperti mengunyah batu dan menyatakan bahwa kerupuk itu punya karakter. Dia menghabiskan telur baladonya dan bersin tiga kali. Dia meminum seluruh gelas air yang kutuang.

Lalu dia berdiri dan mengambil piringnya untuk dibawa ke wastafel.

“Pasal 5 ayat 2,” kataku.

Dia membeku dengan piring di tangan.

“Dilarang mencuci piring sesudahnya.”

Dia menatap piring. Menatapku. Lalu, dengan sangat perlahan, seperti seseorang yang melepaskan pegangan dari tepi jurang, dia meletakkan piring itu kembali di meja bar.

Dan duduk lagi.

Aku mencuci piring. Dia duduk di kursi bar dan memperhatikanku, dagunya bertumpu di tangan, dengan tatapan yang membuat punggungku terasa hangat sepanjang waktu. Ketika aku selesai, aku membuat kopi untuknya. Kopi hitam tanpa gula, tapi setengah sendok gula aren yang kumasukkan diam-diam, karena hari ini dia kelihatan capek, dan karena catatan A. di ponselku bilang begitu.

Dia menyesapnya. Matanya melebar sedikit.

“Ada gula arennya.”

“Nggak ada.”

“Ada. Setengah sendok.”

“Mungkin kunyit.”

Dia tertawa, kali ini dengan suara yang lepas sepenuhnya, dan aku merasa pagi itu, dengan tangan kuning dan dapur berbau santan dan dandang pinjaman di atas kompor, adalah pagi paling berhasil dalam hidupku.

Siang harinya, aku mengembalikan dandang ke Bu Narti dengan sepiring kecil nasi kuning sebagai ucapan terima kasih. Bu Narti mencicipinya, mengunyah dengan wajah serius seperti juri kompetisi memasak, lalu menatapku.

“Bawahnya bantat dikit, Mbak.”

“Iya, Bu.”

“Kunyitnya kebanyakan.”

“Iya, Bu.”

Dia mengangguk. “Tapi kelihatan niatnya. Suaminya nangis, ya?”

Aku menatapnya, kaget. “Kok Ibu tahu?”

Bu Narti tersenyum, menepuk tanganku yang masih kuning. “Suami Mbak itu tiap Minggu pagi beli sebungkus di sini, Mbak. Dimakan di mobil, pelan-pelan, sebelum pulang. Laki-laki yang makan nasi kuning sendirian di mobil begitu, pasti nangis kalau akhirnya ada yang masakin.”