Chapter Eighteen
Istri yang Sedang Menggoda
POV: Helena
Moratorium berlangsung tiga belas hari.
Selama tiga belas hari itu, Aries menepati janjinya dengan ketelitian yang hampir menyebalkan. Dia tidak menyinggung teras belakang. Tidak menyinggung lilin, lampu yang menyala, atau es teh manis. Dia tetap membuatkan kopi, tetap menyalakan lampu, tetap mengisi gelas air, tetap bertanya sudah makan? setiap kali aku masuk pintu. Dia memperlakukanku persis seperti sebelumnya.
Dan itu masalahnya.
Karena aku tidak lagi sama seperti sebelumnya.
“Jadi kamu mau apa?” tanya Nadia hari Rabu, di kafe dekat kantorku, sambil mengaduk es kopinya dengan sedotan seperti sedang mengaduk ramuan.
“Aku mau dia berhenti sopan.”
“Kamu yang minta dia lupain.”
“Aku tahu.”
“Kamu yang terima moratorium.”
“Aku tahu, Nad.”
Nadia meletakkan sedotannya. “Len. Lembaga Survei Nadia mau mengajukan satu pertanyaan terakhir, dan setelah ini lembaga ditutup karena survei sudah tidak diperlukan.” Dia mencondongkan badan. “Kamu suka sama suamimu?”
Aku menatap es kopiku. Aku memikirkan suaranya di pagi hari. Tangannya di pergelangan tanganku. Lampu yang tidak pernah padam. Spatula yang terangkat ke udara. Kalimatnya di malam hujan, tentang rumah, yang masih belum kupahami sepenuhnya.
“Iya,” kataku.
Nadia memejamkan mata dan mengangkat kedua tangannya ke langit seperti orang yang baru selesai berdoa panjang.
“Akhirnya. Oke. Kalau gitu jangan nunggu dia. Dia nggak akan maju. Dia sudah janji nggak akan maju sebelum kamu yang mulai. Laki-laki itu kalau janji, ditepati sampai kiamat.” Nadia mengeluarkan ponselnya. “Jadi kamu yang harus mulai. Dan kamu harus mulai dengan serius.”
Rencana itu disusun dalam dua puluh menit dan diberi nama sandi oleh Nadia: Operasi Merah Anggur.
Jumat pagi, sebelum berangkat, aku berdiri di dapur sementara Aries menuang kopi ke tumblerku.
“Jumat ini jangan lembur,” kataku.
Dia menoleh. “Kenapa?”
“Pasal 6, versi terbalik. Pihak Kedua wajib pulang sebelum jam tujuh.”
“Pasal 6 nggak punya versi terbalik.”
“Sekarang punya. Amandemen lisan.”
Dia menatapku dengan alis sedikit terangkat, mencoba membaca wajahku seperti membaca laporan keuangan yang mencurigakan. Aku mempertahankan wajah datar terbaikku, yang kupelajari darinya selama empat bulan.
“Oke,” katanya akhirnya. “Jam tujuh.”
Aku pulang dari kantor pukul tiga sore. Sinta berdiri dari kubikelnya ketika aku menyambar tas.
“Kamu pulang jam tiga? Kenapa mukamu kayak orang mau perang?”
“Karena memang mau perang,” jawabku, dan meninggalkan Sinta dengan mulut terbuka.
Pukul empat, aku sudah di kamar dengan ponsel disandarkan di cermin meja rias dan wajah Nadia memenuhi layarnya seperti instruktur senam.
“Oke. Dasar dulu. Tipis. Kita nggak mau kamu kelihatan kayak pengantin, kita mau kamu kelihatan kayak kamu, tapi versi yang bikin orang lupa nama sendiri.”
Aku mengikuti setiap instruksinya. Alas bedak tipis. Pemerah pipi samar, warna mawar. Bayangan mata cokelat tembaga, dibaurkan sampai lembut. Maskara dua lapis.
“Sekarang lipstik,” kata Nadia. “Yang mana yang kamu bawa?”
Aku mengangkat tiga tabung. Nadia menyipitkan mata ke layar.
“Yang tengah. Merah anggur. Bukan merah cabai, bukan merah bata, merah anggur. Warna yang bikin orang mikir dua kali sebelum ngomong.”
Aku memakainya pelan-pelan. Ketika selesai, aku menatap bibirku di cermin dan merasa sedikit pusing.
Gaunnya sudah kugantung di pintu lemari sejak pagi. Gaun merah anggur sederhana dari bahan jatuh, berlengan tipis, dengan potongan yang mengikuti bentuk tubuh sampai pinggang lalu turun lurus ke bawah lutut. Aku membelinya tiga tahun lalu di Bangkok, dalam suasana hati yang aneh, dan tidak pernah sekali pun berani memakainya. Selama ini dia tergantung di lemari seperti janji yang belum ditepati.
Rambut kugerai. Kali ini tidak digelung, tidak dikuncir, tidak ditusuk pensil. Kubiarkan jatuh bergelombang sampai melewati bahu, setelah dikeriting longgar oleh catokan yang kupakai dengan bimbingan jarak jauh dan banyak teriakan.
Lalu aku berdiri di depan cermin.
Nadia diam di layar. Lama.
“Len,” katanya akhirnya, suaranya pelan. “Aku nggak mau lebay. Tapi kalau aku jadi dia, aku pingsan.”
Pukul enam, aku turun dan mengerjakan bagian rencana yang tidak melibatkan riasan.
Makan malam dari restoran Padang kecil di Bintaro Sektor 9 yang menurut riset tiga minggu terakhirku adalah restoran favoritnya. Riset suami. Sekarang giliranku.
Lilin dari laci dapur, yang sama dengan malam itu, kutata di meja makan. Bukan tiga, cukup dua.
Dan lampu.
Aku berdiri di depan lampu berdiri di sudut ruang tengah. Selama empat bulan, lampu itu selalu dinyalakan olehnya, untukku. Selalu menungguku. Aku tidak pernah sekali pun menyentuh saklarnya.
Aku menekannya.
Cahaya kuning yang hangat jatuh di sofa, di karpet, di rak jati Opa. Persis seperti setiap malam. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, lampu itu menyala untuk menunggu dia.
Ponselku bergetar pukul enam lewat tiga puluh lima.
Pak Darto: Bu, kopi saset.
Itu kode yang kusepakati dengan Pak Darto siang tadi lewat telepon, dan Pak Darto menyanggupinya dengan antusiasme seorang agen rahasia. Artinya Aries sudah lewat portal.
Aku naik ke tangga. Ke anak tangga paling atas.
Pintu depan terbuka.
“Len? Aku pulang. Kok lampunya—”
Dia berhenti di ambang pintu, tas kerja masih di bahu, satu tangan masih memegang kunci. Matanya berpindah dari lampu yang menyala, ke lilin di meja makan, ke kotak-kotak nasi Padang dengan stiker restoran favoritnya.
Lalu dia mendongak ke tangga.
Aku turun pelan. Satu anak tangga, lalu satu lagi. Gaun merah anggur itu bergerak di sekitar lututku. Rambutku jatuh di bahu. Aku tidak terburu-buru. Nadia sudah bilang, pelan, Len, pelan, biar dia punya waktu buat hancur.
Kuncinya jatuh ke lantai.
Bunyinya keras di ruang tengah yang sunyi. Krincing. Dia tidak memungutnya. Dia bahkan sepertinya tidak sadar kunci itu sudah tidak ada di tangannya. Dia hanya berdiri di sana, menatapku, dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya selama empat bulan menikah. Bukan datar. Bukan tenang. Ekspresi orang yang lupa bahwa dia punya wajah.
Aku sampai di anak tangga terakhir.
“Kamu pulang tepat waktu,” kataku.
Suaranya keluar setelah beberapa detik. Serak, seperti suara pagi. “Kamu... ada acara?”
“Ada.”
“Acara apa?”
“Kencan.”
Rahangnya mengeras sedikit. “Sama siapa?”
“Sama suamiku.” Aku berjalan ke arahnya. “Katanya dia pulang jam tujuh. Ternyata lebih cepat. Rajin.”
Aku berhenti tepat di depannya. Dia masih memakai kemeja kerja putih, dasi biru gelap sedikit longgar setelah seharian. Aku mengulurkan tangan dan merapikan kerahnya. Pelan. Ujung jariku menyusuri lipatan kerah dari belakang lehernya sampai ke depan, lalu turun ke simpul dasinya, dan mengendurkannya sedikit lagi.
Aku merasakan dia berhenti bernapas.
“Len,” katanya. Hanya itu.
“Aku dandan,” kataku, masih memegang ujung dasinya, “bukan buat kantor.”
Matanya turun ke bibirku. Lalu naik lagi, cepat, seperti orang yang tertangkap.
“Kantor nggak pantas lihat ini,” lanjutku.
Dia membuang pandangan ke samping, ke lampu, ke dinding, ke mana saja selain wajahku. Telinganya merah. Lehernya juga.
“Kenapa lihat dinding?” tanyaku.
“Dindingnya... aman.”
“Kamu boleh lihat.” Aku menarik dasinya sedikit, cukup supaya dia menoleh kembali padaku. “Kan kamu yang aku dandanin.”
Mungkin aku belajar dari empat bulan melihat laki-laki ini mengatakan hal-hal paling berbahaya dengan suara paling datar. Efeknya terlihat seperti seseorang baru saja menjatuhkan rak jati di atas kepalanya.
Kami makan malam. Atau lebih tepatnya, kami duduk di meja makan dengan nasi Padang di depan kami.
Aku tidak duduk di seberangnya seperti biasa. Aku duduk di sebelahnya. Mepet. Bahu kami bersentuhan, lututku menempel di lututnya di bawah meja, dan setiap kali aku mengambil sambal, lenganku menyilang di depannya dengan sangat pelan.
Dia makan dengan konsentrasi seorang ahli bom.
“Rendangnya enak?” tanyaku.
“Enak.”
“Ini restoran favorit kamu.”
Dia berhenti mengunyah. “Kok kamu tahu?”
“Riset.” Aku mengambil sepotong perkedel dari piringnya tanpa izin dan memakannya. “Riset suami lebih penting daripada riset klien. Kalau riset klien salah, paling klien kecewa. Kalau riset suami salah, aku yang tidur di luar.”
“Kamu memang tidur di kamar sendiri,” katanya pelan.
“Nah.” Aku mencondongkan badan ke telinganya, cukup dekat sampai rambutku jatuh ke bahunya. “Masih ada ruang buat naik kelas.”
Dia meletakkan sendok.
Lalu aku menarik diri dengan santai, menyentuh telinga kiriku, dan berkata, “Antingku agak longgar,” seperti tidak terjadi apa-apa.
Dia menatapku. Aku menatap nasi.
Begitu terus selama makan malam. Dan selama itu pula, dia bertahan. Dia menjawab pertanyaanku. Dia tertawa di tempat yang tepat. Dia tidak menyentuhku sekali pun, tidak mencondongkan badan, tidak menggeser kursinya mendekat. Tangannya tetap di atas meja, di tempat yang bisa kulihat, seperti orang yang sedang diperiksa polisi.
Setelah makan, kami pindah ke sofa. Aku duduk di sebelahnya. Dia bergeser sepuluh senti. Aku bergeser sepuluh senti. Dia bergeser lagi, dan sekarang dia sudah di ujung sofa, terjepit di antara aku dan lengan sofa, dengan wajah orang yang sedang menghitung mundur.
Aku menyerah.
“Oke. Cukup.”
Dia menoleh. “Apa?”
“Aku dandan dua jam. Nadia nyiksa aku lewat video call. Aku pakai gaun yang aku beli tiga tahun lalu dan nggak pernah berani aku pakai. Aku riset restoran Padang tiga minggu. Aku bikin Pak Darto jadi agen rahasia.” Aku menghitung dengan jari. “Dan kamu duduk di situ kayak orang lagi wawancara kerja.”
“Aku lagi berusaha jadi suami yang sopan.”
“Jadi suami kurang ajar aja sekalian.”
Dia menatapku. Sesuatu di matanya bergerak, gelap dan dalam dan tertahan.
“Belum,” katanya, sangat pelan. “Aku masih di tahap suami yang sopan banget dan menderita.”
“Kenapa?”
“Karena aku janji.” Suaranya rendah. “Moratorium. Aku nggak akan maju sebelum kamu yang—”
“Pihak Pertama mencabut moratorium.”
Dia diam.
“Pihak Pertama,” ulangku, lebih pelan, “secara resmi mencabut moratorium. Berlaku sekarang. Tanpa meterai.”
“Len.” Dia menelan ludah. “Kamu yakin? Ini bukan karena—”
“Lampunya nggak tiba-tiba nyala kali ini,” kataku. “Aku yang nyalain. Sendiri. Buat kamu.”
Dia menatap lampu di sudut ruangan. Lalu menatapku.
Lalu dia bergerak.
Pelan sekali. Tangannya terangkat, menyentuh rahangku dengan ujung jari, seperti orang menyentuh permukaan air untuk memastikan itu nyata. Ibu jarinya menyusuri pipiku sampai ke sudut bibir, dan berhenti di sana. Matanya bertanya. Aku menjawab dengan memejamkan mata.
Dia menciumku.
Tidak seperti di teras. Tidak cepat, tidak canggung, tidak miring. Dia menciumku dengan pelan dan pasti, dengan tangan yang menahan rahangku seolah aku sesuatu yang berharga, dengan bibir yang hangat dan sabar dan tidak terburu-buru sama sekali. Seperti dia sudah lama sekali memikirkan bagaimana caranya, dan memutuskan untuk melakukannya dengan benar.
Ketika dia menarik diri, keningnya bersandar ke keningku. Napas kami bercampur. Lipstik merah anggurku pasti berantakan.
“Itu,” katanya, suaranya parau, “yang pertama secara resmi.”
“Yang di teras?”
“Yang di teras itu draf.”
Aku tertawa, dan tawaku keluar bergetar di antara kami.
Lalu dari arah rak jati Opa, terdengar suara.
“YA ALLAH.”
Kami berdua menoleh dengan ngeri. Di rak buku, di antara deretan novel, ponselku masih bersandar di tempat aku menaruhnya sejak pukul enam untuk memotret meja makan. Layarnya masih menyala. Wajah Nadia masih di sana, kedua tangan menutupi mulut, matanya basah.
Panggilan video itu tidak pernah dimatikan.
“Aku nggak lihat apa-apa!” teriak Nadia. “Aku nggak lihat! Aku cuma dengar! Sumpah! Lanjutkan! Selamat! Aku tutup!”
Layar menjadi hitam.
Aries menatap ponsel di rak buku. Lalu menatapku. Lalu menutup wajah dengan kedua tangannya, dan bahunya mulai bergetar.
Dia tertawa. Tertawa sampai tubuhnya melorot ke sandaran sofa. Dan aku ikut tertawa, dengan lipstik berantakan dan gaun merah anggur dan wajah yang terbakar sampai ke leher, sampai air mata keluar dari sudut mata dan maskara dua lapis buatan Nadia luntur di pipiku.
Di sudut ruangan, lampu berdiri tetap menyala.
Malam ini, untuk pertama kalinya, lampu itu menunggu orang yang tepat.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda reading
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh