Chapter Thirty Six

Bulan Madu yang Kami Lewatkan

POV: Helena

Kami tidak pernah bulan madu.

Waktu kami menikah, aku sedang memegang proyek restrukturisasi terbesar dalam karierku, dan Aries sedang menyusun laporan tahunan. Mama sempat menyarankan Bali. Tante Rina menyarankan Lombok. Nadia menyarankan Maladewa dengan semangat seorang WO yang punya kenalan agen perjalanan. Kami berdua menolak dengan sopan dan alasan yang sama: kerjaan.

Itu alasan resmi. Alasan sebenarnya, setidaknya dariku, adalah bahwa aku tidak tahu apa yang harus dilakukan dua orang asing di vila romantis dengan satu kasur dan kelopak mawar berbentuk hati di atas seprai.

Sekarang, tujuh bulan kemudian, aku tahu.

“Kamu yang pilih tempatnya,” kataku pada hari Minggu, di meja bar, sambil menyodorkan tablet berisi daftar destinasi yang sudah Nadia kirimkan dalam bentuk presentasi dua puluh tiga slide.

Aries menatap tablet itu seperti menatap formulir pajak.

“Aku?”

“Kamu. Cutimu dua hari, ditambah akhir pekan. Kamu yang minta cutinya ke Pak Hendro. Kamu yang pilih tempatnya.”

“Kamu aja yang pilih. Aku ikut ke mana pun—”

“Aries.”

Dia berhenti. Dia tahu nada itu. Itu nada Pasal 5 ayat 2.

“Aku mau kamu yang mau,” kataku. “Bukan terserah kamu. Bukan yang penting kamu senang. Aku mau tahu kamu sendiri pengin ke mana.”

Dia menatap tablet. Lama. Lalu dia menggulir slide-slide Nadia. Bali. Lombok. Raja Ampat. Labuan Bajo. Maladewa, dengan catatan kaki berhuruf merah: (Diskon khusus klien WO Nadia!)

Dia menutup tablet.

“Aku nggak tahu,” katanya pelan.

“Nggak tahu mau ke mana?”

“Nggak tahu caranya mau.” Dia tertawa kecil, malu. “Selama ini kalau ada pilihan, aku selalu mikir apa yang paling cocok buat orang lain. Aku nggak pernah latihan mikir apa yang cocok buat aku sendiri.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang bisa menghafal merek obat maagku dari meja sebelah di arisan lima tahun lalu, tapi tidak tahu ke mana dia sendiri ingin pergi berlibur.

“Kamu punya waktu tiga hari,” kataku. “Pikirin.”

Dia memikirkannya selama tiga hari, dan aku tahu karena aku melihatnya. Dia membuka peta di ponselnya saat sarapan. Dia membaca artikel perjalanan di sofa dengan dahi berkerut. Dia menelepon Raka dan bertanya kamu kalau liburan suka ke mana, dan Raka menjawab ke mana pun Nadia pergi, dan Aries menutup telepon dengan wajah kecewa.

Hari Rabu malam, dia mengetuk pintu ruang kerja baru kami, ruang kerja dengan meja yang miring ke kiri, dan berdiri di ambang pintu dengan ekspresi orang yang akan mengumumkan keputusan dewan direksi.

“Aku sudah tahu.”

Aku memutar kursi. “Di mana?”

“Sumba.”

Aku mengerjap. “Sumba? Kenapa Sumba?”

Dia menggaruk tengkuknya. Telinganya mulai merah.

“Aku baca, di beberapa tempat di sana sinyalnya jelek. Hampir nggak ada.”

“Terus?”

“Terus...” Dia menatap lantai, lalu menatapku. “Biar kamu nggak bisa buka email klien. Biar aku nggak bisa buka laporan. Biar nggak ada Nadia nelepon tiba-tiba. Biar kamu cuma lihat aku.”

Aku tidak bisa bicara.

“Itu alasan yang egois,” tambahnya cepat. “Aku tahu. Kalau kamu nggak mau, kita bisa—”

“Itu alasan paling bagus yang pernah aku dengar,” kataku.

Dia berhenti.

“Sumba,” kataku. “Kita ke Sumba.”

Wajahnya berubah, perlahan, seperti matahari terbit. Seperti orang yang baru pertama kali mengajukan sesuatu dan disetujui tanpa revisi.

Nadia menanggapi kabar itu dengan dokumen. Bukan pesan, bukan stiker, melainkan dokumen PDF berjudul DAFTAR BAWAAN BULAN MADU SUSULAN — v3 FINAL yang dikirim ke emailku lengkap dengan tiga lampiran.

Lampiran A: Pakaian. Minimal dua gaun pantai. Satu gaun untuk makan malam yang bisa bikin suamimu lupa nama sendiri (sudah terbukti efektif, lihat Operasi Merah Anggur).

Lampiran B: Perlengkapan. Sunblock SPF 50. Topi lebar. Obat maag strip hijau (jangan bilang aku nggak tahu, AKU KURIRNYA).

Lampiran C: Saran Aktivitas. Isinya hanya satu baris. Jangan buka laptop. Kalau ketahuan buka laptop, aku lapor ke Pak Darto.

Kami berangkat Kamis pagi.

Sumba ternyata tidak seperti tempat mana pun yang pernah kudatangi. Bandaranya kecil. Jalannya panjang dan berkelok, membelah padang sabana yang menguning seperti karpet raksasa di bawah langit yang biru sekali, biru yang terlalu bersih untuk mataku yang terbiasa dengan langit abu-abu Jakarta. Kuda-kuda liar merumput di kejauhan. Rumah-rumah adat dengan atap menjulang tinggi berdiri di bukit seperti topi raksasa.

Dan Aries benar soal sinyal.

Di vila kecil di tepi tebing yang kami sewa, ponselku menunjukkan satu garis sinyal yang berkedip-kedip lalu menghilang. Email tidak masuk. WhatsApp berhenti di centang satu. Aku menatap layar ponsel, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun bekerja, aku tidak merasa panik.

Aries, di sisi lain, ternyata tidak setenang itu.

Hari kedua, pukul enam pagi, aku terbangun dan sisi kasur di sebelahku kosong. Aku keluar ke teras vila dan menemukannya berdiri di atas batu besar di ujung taman, tangan terangkat tinggi, memegang ponsel ke arah langit seperti sedang mempersembahkannya kepada dewa sinyal.

“Kamu ngapain?”

Dia menoleh, kaget, seperti orang yang tertangkap mencuri. “Cari sinyal.”

“Buat apa?”

“Cuma... cek email sebentar. Ada laporan yang—”

Aku berjalan ke batu itu, mengulurkan tangan, dan menunggu.

Dia menatap tanganku. Menatap ponselnya. Menatap tanganku lagi.

“Lampiran C,” kataku.

Dia menyerahkan ponselnya dengan wajah seorang anak yang mainannya disita guru. Aku memasukkan ponsel itu ke saku celanaku, bersama ponselku sendiri, dan menggandengnya turun dari batu.

“Kamu yang pilih tempat tanpa sinyal,” kataku.

“Aku nggak memperhitungkan efek sampingnya.”

“Efek sampingnya, kamu harus lihat aku.”

Dia berhenti. Menatapku. Aku memakai gaun pantai putih dari Lampiran A, rambutku tergerai tertiup angin laut, wajahku tanpa riasan sama sekali. Aku melihat cara matanya berubah, cara bibirnya sedikit terbuka, dan aku tahu persis apa yang dia pikirkan karena sekarang aku sudah hafal wajahnya seperti dia dulu menghafal wajahku.

“Itu efek samping yang bisa diterima,” katanya pelan.

Selama tiga hari, kami tidak melakukan apa pun yang penting.

Kami berjalan di Pantai Mandorak, di antara dua tebing karang, dengan pasir putih yang begitu halus sampai terasa seperti tepung. Kami naik ke bukit di Wairinding saat matahari terbenam dan menatap bukit-bukit hijau bergelombang seperti punggung naga yang tertidur. Aries mencoba menunggang kuda Sumba dan kudanya berjalan mundur tiga langkah lalu berhenti, menolak bergerak, dan pemiliknya bilang kuda itu pemilih. Aku tertawa sampai jatuh duduk di rumput. Kudanya ikut meringkik seperti tertawa.

Di sebuah kampung adat, seorang mama penenun menggelar kain-kain tenun ikat di beranda rumahnya. Merah bata, biru nila, cokelat tanah, dengan motif kuda dan burung yang ditenun selama berbulan-bulan. Aku menunggu Aries bertanya kain mana yang kusuka, seperti biasa.

Dia tidak bertanya.

Dia menunjuk sehelai kain biru nila dengan motif dua ekor kuda yang berjalan berdampingan. “Yang ini,” katanya kepada mama penenun. “Saya mau yang ini.”

Lalu dia menoleh kepadaku, sedikit cemas, seperti baru sadar apa yang dia lakukan. “Boleh, kan? Aku... pengin yang ini.”

Aku tersenyum begitu lebar sampai mama penenun ikut tertawa.

“Boleh banget,” kataku.

Di malam kedua, hujan turun.

Hujan tropis yang tiba-tiba dan deras, menghantam atap ilalang vila seperti ribuan jari. Listrik di vila padam. Kami duduk di teras dengan satu lilin yang diberikan penjaga vila, menatap hujan yang mengaburkan laut di bawah tebing.

“Mati lampu lagi,” kataku.

“Kamu ingat aturan Ibuku?”

“Kalau mati lampu, cerita satu hal yang belum pernah diceritakan.”

Dia menatap api lilin. Lalu menatapku.

“Aku nggak pernah liburan,” katanya. “Sejak Nenek meninggal. Sepuluh tahun. Aku ambil cuti cuma kalau sakit. Aku pikir liburan itu buat orang yang punya seseorang buat diajak. Dan aku punya seseorang, di kepala, tapi orangnya nggak tahu aku ada.”

Aku menggenggam tangannya.

“Sekarang orangnya tahu,” kataku.

“Iya.” Dia tersenyum, kecil, ke arah lilin. “Dan aku mau ke sini lagi. Tahun depan. Tahun depannya lagi. Setiap tahun. Kalau boleh.”

Itu permintaan. Kecil dan jelas, diucapkan tanpa ragu.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku berdiri, mengambil lilin dari meja, dan menggandengnya masuk ke dalam vila. Hujan masih menghantam atap. Angin laut masuk lewat celah jendela, membuat api lilin bergoyang di tanganku.

Di ambang pintu kamar, dia berhenti dan menatapku dalam cahaya lilin yang bergoyang.

“Len.”

“Hm.”

“Kamu cantik banget malam ini.”

“Kamu bilang itu tadi sore.”

“Aku akan bilang itu setiap jam.” Dia menyentuh pipiku. “Cuma di sini nggak ada sinyal, jadi aku harus bilang langsung.”

Aku meniup lilin.

Dalam gelap, hanya ada suara hujan, dan detak jantungnya di bawah telapak tanganku, dan tawanya yang pelan di dekat telingaku.

Pagi terakhir, kami duduk di teras vila dengan kopi Sumba yang pahit dan pekat. Langit cerah setelah hujan, laut di bawah tebing berwarna biru kehijauan seperti kaca botol. Aku mengeluarkan ponsel kami berdua dari saku dan mengembalikan ponselnya.

“Sudah boleh?”

“Kita pulang siang ini. Sudah boleh.”

Dia menyalakan ponselnya, mengangkatnya tinggi ke arah langit, dan satu garis sinyal muncul. Lalu dua.

Lalu ponselnya bergetar tanpa henti selama satu menit penuh.

Tiga puluh tujuh notifikasi dari Pak Darto. Semuanya foto Pak RT. Pak RT tidur di kap mobil. Pak RT tidur di pos. Pak RT menatap kamera dengan wajah kecewa. Pak RT di depan pagar rumah kami, duduk menghadap pintu, seperti menunggu.

Pesan terakhir, dikirim pagi tadi:

Pak, Pak RT nungguin di depan pagar tiap malam. Lampu teras saya nyalain, Pak, biar dia nggak gelap. Cepat pulang ya, Pak, Bu.

Aries menunjukkan layarnya kepadaku. Kami berdua diam lama.

“Ternyata,” katanya pelan, “ada yang nunggu kita pulang.”

Aku bersandar ke bahunya, menatap laut Sumba untuk terakhir kalinya, dan untuk pertama kalinya, kata pulang terasa seperti sesuatu yang kami miliki berdua.