Chapter Sixteen

Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang

POV: Helena

Listrik seluruh komplek padam pukul tujuh lewat dua puluh pada Sabtu malam, tepat ketika aku sedang mengeringkan rambut dengan hair dryer.

Satu detik ada dengung mesin, kipas angin, kulkas, dan televisi tetangga yang memutar sinetron dengan volume maksimal. Detik berikutnya, sunyi total. Gelap total. Rambutku setengah basah, hair dryer mati di tanganku, dan dari jendela kamar aku melihat seluruh blok menghilang seperti seseorang menekan tombol hapus.

“Len?”

Suaranya dari lorong. Lalu cahaya senter ponsel muncul di bawah pintu kamarku.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Rambutku setengah kering.”

“Itu nggak termasuk cedera.”

“Itu cedera estetika.”

Aku membuka pintu. Dia berdiri di lorong dengan senter ponsel diarahkan ke langit-langit supaya tidak menyilaukan mataku, kaus abu-abu, celana pendek, wajahnya terlihat aneh dan lembut di bawah cahaya dari bawah seperti tokoh dalam cerita hantu yang ramah.

“Pak Darto bilang gardu di depan kena petir,” katanya. “Paling dua sampai tiga jam.”

“Kamu sudah nanya ke Pak Darto?”

“Aku punya jalur khusus.”

Kami turun ke bawah. Ruang tengah gelap gulita. Untuk pertama kalinya sejak aku tinggal di rumah ini, lampu berdiri di sudut itu mati, hanya bayangan hitam dengan kap yang samar-samar terlihat di bawah senter. Aneh rasanya. Seperti melihat seseorang yang biasanya selalu tersenyum tiba-tiba diam.

Aries menyalakan lilin. Dia punya sekotak lilin putih di laci dapur, tentu saja dia punya, dan juga tatakan lilin dari kaleng susu kental manis yang dia bilang buatan sendiri waktu SMA. Tiga lilin di meja makan, satu di meja bar, satu dia bawa ke teras belakang.

“Di dalam pengap,” katanya. “Di luar ada angin.”

Teras belakang terasa seperti tempat lain. Tanpa lampu jalan, tanpa cahaya jendela tetangga, langit di atas Bintaro tiba-tiba punya bintang. Tidak banyak, tapi ada. Pohon kamboja menjadi siluet hitam, dan bunganya yang putih berpendar samar seperti bintang yang jatuh ke ranting. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tetangga bermain petak umpet dalam gelap, berteriak dan tertawa.

Kami duduk di bangku kayu dengan lilin di antara kami. Dia membawa dua gelas es teh dari kulkas yang masih dingin.

“Kamu sering mati lampu waktu kecil?” tanyaku.

“Sering. Rumahku dulu di Bogor, di dekat gardu yang sepertinya punya dendam pribadi sama warga. Setiap hujan, mati lampu.” Dia menyesap tehnya. “Ibuku bikin aturan. Kalau mati lampu, semua orang harus cerita satu hal yang belum pernah diceritakan.”

“Itu aturan yang bagus.”

“Itu aturan yang berbahaya. Kakakku pernah mengaku dia yang mecahin vas bunga dua tahun sebelumnya.”

Aku tertawa. “Ya sudah. Kita pakai aturan itu.”

“Kamu yakin?”

“Kamu duluan.”

Dia diam sebentar, memandangi api lilin.

“Aku nggak bisa bersiul,” katanya. “Sampai sekarang. Aku sudah coba tiga puluh tahun.”

“Itu bukan rahasia. Itu kegagalan.”

“Kegagalan juga rahasia kalau kamu cukup malu.” Dia menoleh. “Giliranmu.”

“Tunggu. Sebelum aku cerita, aku mau lihat buktinya.”

“Bukti apa?”

“Kamu bersiul. Coba.”

Dia menatapku seperti orang yang diminta menyanyikan lagu kebangsaan di depan umum. Lalu dia menghela napas, membulatkan bibir dengan sangat serius, dan meniup.

Yang keluar hanya angin. Angin panjang dan sedih, seperti ban sepeda yang bocor pelan-pelan.

Aku tertawa sampai harus memegangi perut. Dia mencoba lagi. Kali ini anginnya keluar dengan bunyi fiuuuh yang lebih menyerupai orang meniup sup panas.

“Bibirnya kurang bulat,” kataku.

“Bibirku sudah bulat secara maksimal.”

“Lidahnya ditaruh di bawah.”

“Lidahku ada di tempat yang sama selama tiga puluh tahun. Dia nggak mau pindah.” Dia meletakkan gelasnya dengan wajah kalah. “Sudah cukup penghinaannya. Giliranmu.”

Aku memikirkan sesuatu yang lucu untuk diceritakan. Tapi malam itu gelap dan bintangnya sedikit dan lilinnya bergoyang pelan, dan yang keluar dari mulutku malah sesuatu yang lain.

“Waktu kecil, aku sering dimarahin Mama karena hilang.”

“Hilang?”

“Di acara keluarga. Pernikahan sepupu, ulang tahun Oma, apa pun. Pas sesi foto keluarga, aku selalu nggak ada. Mama nyariin, aku ketemu entah di mana, terus dimarahin di depan semua orang.” Aku memutar gelas es teh di tanganku. “Sampai sekarang Mama masih suka bilang, Helena itu anak yang hobinya menghilang.”

“Kamu ke mana biasanya?”

“Macam-macam. Pernah nemenin anak kecil yang kepisah dari orang tuanya. Pernah bantuin pelayan yang ketumpahan kuah. Pernah...” Aku berhenti. “Pokoknya hal-hal kecil. Bukan hal penting.”

Dia tidak langsung menanggapi. Ketika aku menoleh, dia sedang menatapku dengan ekspresi yang aneh di bawah cahaya lilin. Bukan geli. Bukan kasihan. Sesuatu yang lebih dalam dan lebih tenang, seperti orang yang sedang mengingat sesuatu.

“Mungkin kamu bukan hilang,” katanya pelan. “Mungkin kamu cuma ada di tempat yang lebih butuh kamu.”

Dadaku terasa aneh.

Tidak ada yang pernah bilang begitu. Tidak Mama, tidak Papa, tidak Nadia. Selama dua puluh delapan tahun, menghilang di acara keluarga adalah sesuatu yang harus kuminta maaf. Dan laki-laki ini, dengan satu kalimat, mengubahnya menjadi sesuatu yang lain.

“Kamu ngomong kayak kamu pernah lihat,” kataku.

Dia mengalihkan pandangan ke langit. “Aku cuma menebak.”

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, sesuatu terjadi.

Lampu menyala.

Semuanya sekaligus. Lampu teras, lampu dapur, lampu ruang tengah di balik pintu kaca, lampu jalan, lampu tetangga kiri, kanan, belakang. Kulkas berdengung, kipas angin berputar, dan televisi tetangga meledak dengan suara sinetron yang langsung kembali ke adegan pertengkaran ibu mertua. Dan dari seluruh penjuru komplek, serempak, terdengar satu teriakan raksasa dari puluhan rumah:

“HOREEEE!”

Aku terlonjak. Aku menoleh ke arahnya pada saat yang sama dia menoleh ke arahku.

Wajahnya sangat dekat.

Lampu teras menyinari wajahnya dengan terang tiba-tiba, setelah sejam hanya diterangi lilin. Aku melihat semuanya sekaligus. Mata gelapnya yang sedikit terkejut. Bulu matanya yang tidak adil. Rahangnya. Bibirnya yang sedikit terbuka karena kaget.

Aku tidak berpikir.

Aku mencondongkan badan dan menciumnya.

Singkat. Satu detik, mungkin dua. Bibirku menyentuh bibirnya dengan canggung dan terlalu cepat, sedikit miring karena aku tidak memperhitungkan sudutnya sama sekali. Bibirnya hangat dan diam dan terasa seperti es teh manis.

Lalu aku mundur.

Dia tidak bergerak. Dia menatapku, matanya melebar, tangannya masih memegang gelas es teh di udara, persis seperti saat spatula itu terangkat ketika aku memeluknya.

Aku mendengar jantungku sendiri di telinga. Aku mendengar televisi tetangga. Aku mendengar anak-anak berteriak senang di jalan. Aku mendengar semuanya kecuali suaraku sendiri, yang seharusnya mengatakan sesuatu.

Akhirnya suaraku keluar, terlalu tinggi dan terlalu cepat.

“Lupain.”

Dia mengerjap.

“Lupain itu,” ulangku. “Anggap nggak terjadi. Itu... itu efek listrik. Lampunya tiba-tiba nyala, aku kaget, terus refleks. Kayak orang kaget terus pegang lengan orang di sebelahnya. Cuma refleks. Lupain aja.”

Dia menurunkan gelas es teh ke bangku dengan sangat pelan.

“Nggak bisa,” katanya.

“Bisa. Hapus aja.”

“Nggak bisa, Len.” Suaranya tenang, tapi ada sesuatu di bawahnya yang bergetar. “Aku orangnya pelit. Kamu tahu itu. Aku nyimpen struk minimarket. Aku nyimpen label harga kemeja. Aku nyimpen nasi goreng air laut di kulkas dan makan diam-diam.”

Dia menatapku langsung.

“Aku nggak akan buang ciuman pertama istriku. Apa pun alasannya. Mau itu efek listrik, efek petir, atau efek sinetron tetangga.”

Wajahku terbakar. Seluruh tubuhku terbakar.

Aku berdiri. Lilin di antara kami bergoyang hebat. Aku masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah yang terang benderang, melewati lampu berdiri yang sudah menyala lagi seolah tidak pernah mati, menaiki tangga dua anak tangga sekaligus, masuk ke kamar, dan mengunci pintu.

Pasal 3 ayat 2. Pintu Pihak Pertama boleh dikunci kapan saja.

Aku menelepon Nadia.

Nadia mengangkat setelah dering kelima, dan suaranya terdengar berbisik. “Len, aku lagi di akad nikah klien. Penghulunya baru mulai. Ada apa?”

“Aku nyium dia.”

Hening.

Lalu terdengar suara aneh dari ponselku. Suara tertahan, seperti seseorang yang berteriak sekuat tenaga tanpa mengeluarkan suara, disusul bunyi kursi bergeser dan langkah kaki yang tergesa.

“ULANG,” bisik Nadia, kali ini dengan napas terengah. Aku mendengar suara angin. Dia pasti lari ke luar gedung. “ULANG PELAN-PELAN.”

“Mati lampu. Terus lampunya nyala. Terus mukanya deket. Terus aku nyium dia.”

“Terus dia?”

“Aku suruh dia lupain.”

“KAMU APA?”

“Terus dia bilang nggak bisa. Katanya dia pelit. Katanya dia nggak akan buang ciuman pertama istrinya.”

Kali ini Nadia benar-benar menjerit. Pendek, tinggi, lalu langsung dibekap. Di latar belakang aku mendengar seseorang bertanya, Mbak Nadia, kenapa? Ada masalah?, dan Nadia menjawab dengan suara profesional yang sangat tidak meyakinkan, Nggak apa-apa, Pak, cuma digigit nyamuk.

“Len,” bisiknya setelah itu. “Itu kalimat paling romantis yang pernah aku dengar seumur hidupku, dan aku sudah mengurus dua ratus tiga belas pernikahan.”

“Aku malu banget.”

“Kamu nyium suamimu sendiri. Itu legal. Itu halal. Itu ada buku nikahnya.”

“Aku tetap malu.”

“Oke. Malu boleh. Tapi jangan kabur selamanya.” Di belakangnya, terdengar suara pengeras suara mengumumkan sesuatu. “Aku harus balik. Penghulunya mau bilang sah. Kalau aku nggak ada di dalam, aku dipecat dari profesiku sendiri.”

Telepon ditutup. Aku berbaring di kasur dan menatap langit-langit.

Pukul sepuluh malam, ponselku bergetar.

Pihak Kedua: Lilin sudah aku matiin. Teras sudah aku kunci. Es teh kamu masih setengah, aku taruh di kulkas.

Satu pesan lagi menyusul.

Pihak Kedua: Aku nggak akan bahas kalau kamu nggak mau bahas. Aku janji. Tapi aku juga nggak akan pura-pura lupa. Dua-duanya bisa jalan barengan.

Aku membaca pesan itu berkali-kali. Lalu aku menyentuh bibirku dengan ujung jari, pelan, seperti mengecek sesuatu yang mungkin sudah hilang.

Belum hilang. Rasanya masih seperti es teh manis.

Aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi. Akhirnya aku hanya mengirim satu kata.

Oke.

Balasannya datang dalam tiga detik.

Selamat tidur, Pihak Pertama. Rambutmu masih setengah basah. Keringkan dulu, nanti masuk angin.

Aku bangun, menyalakan hair dryer, dan mengeringkan rambutku sambil tersenyum ke cermin seperti orang bodoh, sampai suara dengungnya cukup keras untuk menutupi suara jantungku sendiri.