Chapter Twenty Four

Bukan Karena Berutang

POV: Helena

Jumat pagi, kertas kuning di pintu kamarnya sudah hilang.

Aku tahu karena aku sengaja melewati pintu itu pukul enam kurang sepuluh, pura-pura mencari ikat rambut di lorong, padahal ikat rambutku ada di pergelangan tangan. Pintunya tertutup. Kertasnya tidak ada. Dia sudah membacanya.

Aku turun dengan perasaan yang tidak bisa kuberi nama. Lega, mungkin. Atau gugup. Atau dua-duanya bercampur seperti kopi susu yang belum diaduk.

Dia ada di dapur. Itu hal pertama yang berbeda dari tiga hari terakhir. Selasa, Rabu, dan Kamis, dia sudah berangkat ketika aku turun, meninggalkan tumbler di meja dengan kopi yang sudah agak dingin. Pagi ini dia berdiri di depan kompor dengan kaus abu-abu, mengaduk bubur ayam di panci kecil, dan ketika mendengar langkahku, dia menoleh.

“Pagi.”

“Pagi.”

Kami saling menatap. Lama. Seperti dua orang yang baru bertemu lagi setelah perjalanan jauh dan tidak yakin harus berpelukan atau bersalaman.

“Supnya enak,” katanya akhirnya. “Tempenya juga.”

“Tempenya nggak rata.”

“Tempe yang nggak rata punya karakter.”

“Kamu cuci piringnya.”

“Iya.”

“Kertasnya bilang jangan dicuci.”

“Aku tahu.” Dia mematikan kompor. “Aku juga nggak pernah dengerin kertas kuning. Ternyata itu sifat yang diwariskan.”

Aku tertawa sedikit. Tapi tawa itu tidak sampai ke dalam dadaku, karena di dalam dadaku masih ada tiga malam berturut-turut duduk di sofa di bawah lampu, menunggu suara mobil yang tidak datang sampai pukul sembilan, sepuluh, sepuluh lewat.

Aku duduk di meja bar. Dia menyendokkan bubur ke mangkuk dan meletakkannya di depanku. Lalu dia duduk di sebelahku, tidak di seberang.

“Kamu menghindar,” kataku.

Dia tidak menyangkal. Itu sesuatu.

“Iya,” katanya.

“Kenapa?”

Dia menatap mangkuk buburnya sendiri. Sendoknya tidak bergerak.

“Aku pernah tanya ke Nadia,” lanjutku, sebelum dia sempat menyusun jawaban yang terlalu rapi. “Aku tanya apa kamu marah sama aku. Aku cek ulang semua yang aku lakuin minggu ini. Apa aku terlalu banyak kirim pesan. Apa aku terlalu agresif waktu di dapur. Apa aku salah ngomong soal Bayu. Aku bikin daftar, Aries. Aku konsultan. Aku bikin daftar kemungkinan kesalahanku sendiri, dan daftarnya dua halaman.”

Dia menoleh cepat. “Kamu nggak salah apa-apa.”

“Terus kenapa?”

Hening. Burung-burung di pohon kamboja ribut di luar jendela. Pak RT duduk di pagar belakang menjilati kakinya dengan sangat tidak peduli.

“Kamu nolak Bayu,” katanya akhirnya. Pelan. “Kamu bilang kamu mau pulang jam enam supaya bisa makan malam di rumah.”

“Iya. Terus?”

“Dua bulan lalu kamu bikin neraca. Kamu bilang takut berutang. Terus tiba-tiba kamu ubah semua. Jam kerja. Cara ngomong. Kamu masak. Kamu nyalain lampu. Kamu nolak kenaikan karier yang besar.” Dia menelan ludah. “Aku takut kamu ngelakuin semua itu karena merasa harus bayar. Aku takut kamu lagi nyicil. Dan suatu hari, kalau cicilannya lunas, kamu bakal sadar kamu udah ngorbanin terlalu banyak buat sesuatu yang nggak pernah aku tagih.”

Aku menatapnya.

Aku menatapnya lama sekali, sampai dia mulai terlihat gelisah, sampai Pak RT di pagar berhenti menjilati kakinya dan ikut menatap kami lewat jendela.

Lalu aku meletakkan sendok.

“Aku nolak Bayu,” kataku dengan sangat jelas, “karena startup-nya bergerak di bidang logistik gudang. Aku benci gudang. Aku alergi debu kardus. Aku nggak mau kerja di Cikarang. Aku nggak mau jam kerjaku jadi jam tiga pagi. Dan Bayu itu orangnya suka bilang literally di setiap kalimat, dan aku nggak tahan dengar literally empat puluh kali sehari selama sisa karierku.”

Dia berkedip.

“Itu alasan pertama sampai kelima,” lanjutku. “Alasan keenam memang karena aku mau pulang jam enam. Tapi bukan karena aku berutang. Karena aku mau. Aku mau makan malam sama kamu. Aku mau dengar kamu ngomentarin berita harga cabai. Aku mau lihat kamu cuci piring dengan lengan digulung tanpa pemberitahuan.”

“Len—”

“Belum selesai.” Aku turun dari kursi tinggi. Lebih anggun dari biasanya, karena aku sedang marah, dan marah membuatku anggun. Aku berjalan ke kulkas.

Neraca itu masih di sana. Kertas A4 yang sudah sedikit menguning di tepinya, ditahan dua magnet nanas. Kolom kiri dengan tiga puluh tujuh entri. Kolom kanan dengan empat entri, ditambah satu baris tulisan tangannya, tinggal di rumah ini, bobot: tak terhingga. Coretan surplus. Catatan auditorku. Gambar wajah yang mungkin juga Pak RT.

Aku melepas magnetnya. Aku mengambil kertas itu.

Lalu aku merobeknya.

Menjadi dua. Lalu empat. Lalu delapan. Suaranya keras di dapur yang sunyi, seperti sesuatu yang sudah lama perlu dihancurkan.

Dia berdiri dari kursinya, setengah terkejut. “Len, itu—”

“Ini sampah.” Aku meremas potongan-potongannya dan menjatuhkannya ke tempat sampah di bawah wastafel. “Aku bikin itu waktu aku masih bingung. Waktu aku masih pikir semua yang kamu kasih itu harus dihitung, harus dibalas, harus seimbang. Aku salah. Kamu juga salah, karena kamu masih pakai cara pikir itu buat baca aku.”

Aku berbalik menghadapnya.

“Aku nggak lagi nyicil, Aries. Aku nggak lagi bayar utang. Aku nggak masak buat kamu karena merasa bersalah. Aku masak karena aku suka lihat muka kamu waktu makan masakan yang nggak enak dan tetap bilang enak. Aku nggak nyalain lampu karena kamu dulu nyalain buat aku. Aku nyalain karena aku nggak tahan bayangin kamu pulang ke rumah yang gelap.”

Napasku terengah. Wajahku panas. Mataku perih.

“Aku suka sama kamu,” kataku. “Bukan karena neraca. Bukan karena kasihan. Bukan karena kamu baik. Aku kenal banyak orang baik dan aku nggak suka sama mereka. Aku suka sama kamu. Kamu yang nggak bisa bersiul. Kamu yang nyimpen struk di dompet. Kamu yang takut film horor tapi nontonin sampai habis supaya aku nggak kebangun. Itu bukan utang. Itu cuma aku. Jatuh. Pelan-pelan. Kayak orang bodoh.”

Dapur sunyi.

Dia berdiri di depan meja bar, tangannya di sisi badan, menatapku seperti seseorang yang baru saja mendengar suara yang sudah lama dia tunggu dan tidak yakin suara itu nyata.

Lalu dia berjalan ke arahku. Tiga langkah. Dia berhenti tepat di depanku, mengangkat tangan, dan menyeka sudut mataku dengan ibu jarinya. Aku bahkan tidak sadar sudah menangis.

“Oke,” katanya. Suaranya parau. “Oke.”

“Oke apa?”

“Oke, aku dengar.” Dia menarik napas. “Aku percaya kamu.”

Aku menunggu sesuatu yang lain. Pengakuan. Kalimat yang sama. Aku juga. Tapi yang datang adalah sesuatu yang membuatku sedikit dingin di tengah kehangatan itu.

“Tapi Len,” lanjutnya, sangat pelan, “kalau suatu hari kamu sadar kamu lebih bahagia di tempat lain, sama orang lain, aku nggak akan—”

Aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku.

Dia membeku. Matanya menatapku di atas jari-jariku.

“Jangan,” kataku. “Jangan lanjutin kalimat itu. Aku nggak tahu kenapa kamu selalu nyiapin pintu keluar buat aku. Aku nggak minta pintu keluar.”

Dia tidak menjawab. Dia tidak bisa menjawab, karena mulutnya masih kututup. Tapi di matanya ada sesuatu yang membuatku ingin menangis lebih keras. Sesuatu yang mirip ketakutan lama, yang sudah terlalu lama tinggal di sana dan tidak tahu cara pergi.

Pelan-pelan, aku menurunkan tanganku.

Dia tidak melanjutkan kalimat itu. Dia hanya menarikku ke pelukannya, dan aku membiarkannya, dan kami berdiri di depan kulkas yang sudah tidak punya neraca sampai bubur di meja bar dingin seluruhnya.

Aku tidak tahu kalimat apa yang dia telan pagi itu. Aku hanya tahu dia menelannya.

Aku pulang pukul enam sore itu, tepat waktu, dan menemukan sesuatu yang aneh di dapur.

Lampu dapur menyala, tapi tidak ada orang. Aku berjalan pelan ke arah meja bar, lalu berhenti.

Aries duduk di lantai dapur. Bersandar ke lemari bawah wastafel. Pintu tempat sampah terbuka di sebelahnya. Di pangkuannya ada selotip bening dan delapan potongan kertas A4 yang sudah sedikit kusut dan sedikit bernoda kuah bubur, yang sedang dia susun satu per satu dengan konsentrasi seorang arkeolog yang merekonstruksi prasasti.

Dia mendongak. Dia melihatku. Gulungan selotip di tangannya berhenti.

Kami saling menatap.

“Kamu,” kataku perlahan, “ngorek tempat sampah?”

“Aku nggak ngorek. Aku menyelamatkan dokumen.”

“Itu sampah!”

“Itu dokumen bersejarah.” Dia menempelkan potongan terakhir dengan selotip, dengan sangat rapi, lalu mengangkat neraca yang sudah utuh kembali, penuh garis selotip seperti peta jalan tol. “Ada catatan auditor di sini. Ada gambar Pak RT. Kamu pikir aku akan buang itu?”

“Kamu memang pelit.”

“Aku sudah bilang dari awal.”

Aku berjalan ke arahnya. Aku duduk di lantai dapur di sebelahnya, bersandar ke lemari yang sama, bahu kami bersentuhan. Kami menatap neraca berselotip itu berdua.

“Aku sobek karena aku mau kamu berhenti hitung,” kataku.

“Aku tahu.”

“Terus kenapa disambung lagi?”

Dia diam sebentar.

“Karena ini satu-satunya bukti tertulis,” katanya pelan, “bahwa ada seseorang yang pernah peduli sampai repot-repot menghitung apa yang aku kasih. Nggak ada orang yang pernah ngelakuin itu sebelumnya.”

Aku menatapnya.

Lalu aku mengambil pulpen dari saku blazerku, menarik neraca itu dari tangannya, dan menulis di baris paling bawah, di bawah catatan auditor, dengan huruf kecil yang miring karena kertasnya penuh selotip.

Laporan ditutup. Tidak perlu diaudit lagi. Semua pihak dinyatakan bukan debitur.

Aku menyerahkannya kembali. Dia membacanya. Ibu jarinya mengusap tulisanku pelan.

“Boleh aku simpan?” tanyanya.

“Jangan ditempel di kulkas lagi.”

“Nggak. Aku simpan di tempat lain.”

Aku tidak bertanya di mana. Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa dia punya tempat penyimpanan yang jauh lebih tua dari neraca mana pun. Aku hanya bersandar ke bahunya di lantai dapur, dan dia meletakkan neraca berselotip itu dengan hati-hati di pangkuannya, seperti sesuatu yang berharga.