Chapter Twenty Nine
Operasi Mencintai Aries
POV: Helena
Sebelum menceritakan apa pun kepada Nadia, aku meminta izin.
Itu hal yang baru bagiku. Biasanya aku menceritakan semuanya kepada Nadia tanpa berpikir, karena Nadia adalah tempat cerita-ceritaku pulang sejak kami masih memakai seragam putih merah. Tapi kotak sepatu itu bukan ceritaku. Itu lima tahun hidup seseorang yang sudah terlalu lama disembunyikan, dan aku tidak mau menjadi orang berikutnya yang memutuskan sesuatu tentang hidupnya tanpa bertanya.
Rabu pagi, di meja bar, aku bertanya.
“Boleh aku cerita ke Nadia? Soal kotak itu.”
Aries berhenti mengoles roti. “Kenapa?”
“Karena dia bagian dari isinya.” Aku memutar tumblerku. “Dia kurir kamu selama lima tahun, dan dia nggak tahu. Dia masih nyariin laki-laki tinggi pakai batik cokelat yang nitip obat maag di ulang tahun Oma.”
Dia diam lama. Lalu mengangguk pelan.
“Boleh. Tapi bilang ke dia aku minta maaf. Aku sudah bikin dia jadi tukang pos tanpa gaji.”
Aku menceritakannya Kamis siang, di kafe yang sama tempat Nadia dulu menanyakan apakah aku suka suamiku. Aku menceritakan semuanya. Nota apotek di ulang tahun Oma. Sandal krem di lamaran Mas Danu. Undangan resepsi Mbak Rena. Aku tidak menceritakan isi kertas bergaris itu, karena kertas itu ada di saku celana tidurku dan akan tetap di sana sampai aku menemukan tempat yang lebih aman. Tapi aku menceritakan cukup banyak.
Nadia mendengarkan tanpa memotong sekali pun, yang merupakan rekor dalam sejarah hubungan kami.
Ketika aku selesai, dia diam.
Lalu dia meletakkan sedotannya. Pelan. Dengan sangat hati-hati, seperti orang yang meletakkan barang pecah belah.
“Batik cokelat,” katanya.
“Iya.”
“Ulang tahun Oma ketujuh puluh enam.”
“Iya.”
“Laki-laki tinggi. Mukanya serius. Nyerahin kantong plastik ke aku di dekat meja kue, bilang tolong kasih ke Helena, dia kelihatan sakit, jangan bilang dari siapa, terus langsung pergi sebelum aku sempat nanya namanya.”
“Iya.”
Nadia menatapku. Matanya membulat pelan-pelan, seperti balon yang diisi udara.
“JADI ITU DIA?!”
Seluruh kafe menoleh. Seorang barista menjatuhkan sendok takar. Nadia tidak peduli. Dia berdiri dari kursinya, duduk lagi, berdiri lagi, lalu menutup mulutnya dengan dua tangan.
“Len. LEN. Aku nyariin orang itu! Aku nanya ke semua sepupu! Aku sempat curiga itu Om Hendra yang menyamar!”
“Om Hendra nggak tinggi.”
“Makanya aku bilang menyamar!” Dia menurunkan tangan dari mulutnya. “Dan sandal itu. Sandal itu juga! Dia nitip di parkiran waktu lamaran Mas Danu, katanya ukuran 38, warna krem, jangan bilang dari siapa. Aku pikir itu tamu yang sama, tapi aku nggak pernah lihat mukanya jelas karena gelap. Aku pikir...” Dia berhenti. “Aku pikir itu pengagum rahasia yang nggak berani maju. Aku sempat cerita ke kamu, kan? Kamu ketawa. Kamu bilang nggak mungkin ada orang yang segitunya sama aku.”
Aku ingat. Aku memang tertawa waktu itu.
Nadia duduk kembali. Wajahnya berubah. Matanya mulai berkaca-kaca, dan dia menyeka sudutnya dengan serbet kertas dengan gerakan marah.
“Lima tahun,” katanya pelan. “Dia ngelewatin aku lima tahun. Di setiap acara. Dia pasti lihat aku ngurus semua acara keluarga sambil teriak-teriak pakai headset. Dan dia nggak pernah bilang apa-apa. Ke siapa pun.”
“Dia minta maaf. Katanya dia bikin kamu jadi tukang pos tanpa gaji.”
Nadia tertawa sambil menangis. “Bilang ke dia tarifku mahal. Dia berutang lima tahun ongkos kirim.”
Lalu dia menegakkan badan, menyeka wajahnya sekali lagi, dan menatapku dengan ekspresi yang sangat kukenal. Ekspresi Nadia yang sedang menyusun rundown pernikahan dua ribu tamu dalam waktu tiga hari.
“Oke. Sekarang kita balas.”
“Bukan balas, Nad.”
“Bukan balas dendam. Balas budi. Eh, bukan budi. Balas... cinta.” Dia mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi catatan. “Operasi baru. Nama sandinya Operasi Mencintai Aries. Laki-laki itu sudah lima tahun dimanja sama dirinya sendiri dengan cara yang menyedihkan. Kita harus buat dia merasakan dicintai sampai dia nggak bisa jalan lurus.”
Dan dalam dua puluh menit, Nadia menyusun rencana yang membuatku ingin mencabut kewarganegaraannya.
“Satu. Spanduk di portal komplek. Aries Ikrima, Kami Mencintaimu. Ukuran tiga kali satu meter.”
“Nggak.”
“Dua. Buket bunga dikirim ke kantornya setiap jam selama satu hari kerja. Delapan buket. Tiap buket ada kartunya, isinya satu alasan kenapa kamu cinta dia.”
“Nggak.”
“Tiga. Sewa marching band SMA untuk main di depan rumah waktu dia pulang kerja.”
“Nad.”
“Empat. Flash mob di lobi gedung kantornya. Aku punya kenalan sanggar tari.”
“Nadia.”
“Lima. Billboard di tol dalam kota.”
“Nadia Chandra.”
Dia meletakkan ponselnya dengan kesal. “Apa? Kamu nggak mau dia merasa dicintai?”
“Aku mau.” Aku memutar gelas es kopiku pelan. “Tapi aku nggak mau ini jadi kompetisi. Aku nggak mau ini jadi kayak aku lagi bayar lima tahun dalam satu bulan. Kalau aku kirim delapan buket, dia akan mikir aku ngelakuin itu karena merasa bersalah. Dia akan mulai bikin neraca di kepalanya sendiri. Dan aku sudah robek neraca itu.”
Nadia menatapku.
“Dia nggak butuh marching band,” kataku. “Dia nggak pernah butuh hal besar. Dia cuma butuh... diperhatiin. Dengan cara yang sama dia merhatiin aku. Pelan. Kecil. Setiap hari. Tanpa tagihan.”
Nadia diam beberapa saat. Lalu dia menghapus seluruh daftarnya dengan satu sapuan jempol, dengan wajah orang yang mengorbankan karya seninya demi kebaikan bersama.
“Oke,” katanya. “Tapi spanduk kecil boleh, ya?”
“Nggak.”
“Spanduk ukuran A4?”
“Nad.”
Malam itu, aku duduk di kasurku dengan ponsel dan membuat catatan baru.
Judulnya satu huruf. A.
Aku menatap judul itu lama, karena aku tahu persis di mana aku pernah melihat catatan berjudul satu huruf. Aku tidak pernah membukanya, tapi aku tahu itu ada. Aku pernah melihat layarnya sekilas ketika dia mengetik di sofa, dan aku melihat huruf H. di bagian atas, dan dia buru-buru menguncinya.
Aku mulai menulis.
Kopi hitam, tanpa gula. Tapi kalau sedang capek, dia tambah setengah sendok gula aren, diam-diam, kalau dikira aku nggak lihat.
Nggak suka daun ketumbar. Selalu disisihkan ke pinggir piring dengan rapi, kayak lagi menyusun barisan upacara.
Takut horor. Pura-pura nggak.
Nggak bisa bersiul. Sudah coba tiga puluh tahun.
Kalau capek, dia jadi lebih lucu. Leluconnya makin datar. Itu tandanya.
Aku berhenti di baris terakhir. Itu kalimat yang mirip sekali dengan kartu catatannya di kotak sepatu. Kalau capek, dia diam dan tersenyum lebih lebar. Itu tandanya. Aku menulisnya tanpa sengaja, dan sekarang aku menatapnya, dan dadaku hangat dengan cara yang sangat menyakitkan.
Aku tidak menghapusnya.
Raka mengirim pesan pukul sepuluh malam. Nomornya ternyata sudah lama tersimpan di ponselku dengan nama Raka (Tim Sukses), yang dimasukkan Nadia entah kapan tanpa izinku.
Raka (Tim Sukses): Nadia bilang kamu butuh data lapangan. Saya siap membantu.
Data apa?
Data target. Aku kenal dia dua belas tahun. Aku tahu semuanya. Makanan favorit. Lagu yang dia nyanyikan di mobil kalau sendirian. Ketakutan masa kecil. Nomor sepatu.
Lagu apa yang dia nyanyiin di mobil?
Itu informasi rahasia tingkat tinggi. Bayarannya satu martabak.
Deal.
Lagu-lagu lama Chrisye. Dengan suara fals. Dan dia nggak tahu liriknya, jadi dia ngarang. Aku pernah dengar dia nyanyi “kisah kasih di sekolah” jadi “kisah kasih di sekuritas”.
Aku tertawa sampai harus menggigit bantal.
Satu lagi, tulis Raka. Ini gratis. Neneknya dulu masak nasi kuning setiap Minggu pagi. Waktu SMA dia tinggal sama neneknya. Neneknya meninggal waktu kami kuliah tingkat dua. Sejak itu dia nggak pernah makan nasi kuning buatan rumah. Cuma beli. Dia nggak pernah bilang, tapi aku tahu, karena tiap lewat warung nasi kuning dia diam lama.
Aku menatap pesan itu.
Makasih, Rak.
Sama-sama. Dan Len?
Ya?
Makasih juga. Dua belas tahun aku nunggu ada orang yang bikin dia nangis karena bahagia, bukan karena nahan semuanya sendirian. Nadia cerita dia nangis. Aku nggak tahu kenapa, tapi aku tahu itu bagus.
Aku menyimpan ponsel di dada dan menatap langit-langit lama sekali.
Jumat pagi, ada satu masalah yang tidak kuduga.
Aku sudah menolak spanduk. Aku menolak spanduk tiga kali, dengan tegas, dengan nada yang biasanya kupakai untuk klien yang meminta revisi kesebelas.
Tapi aku tidak pernah berbicara dengan Pak Darto.
Ketika mobil Aries melewati portal pukul tujuh pagi, aku sedang di teras melambaikan tangan dengan tumbler di tangan. Aku melihat mobilnya berhenti mendadak di portal. Berhenti lama. Lalu mundur sedikit. Lalu maju lagi, pelan sekali.
Ponselku bergetar.
Pihak Kedua 🏠: Len.
Pihak Kedua 🏠: Kenapa ada spanduk di pos satpam.
Pihak Kedua 🏠: Ini bukan pertanyaan.
Aku berlari ke ujung blok dengan sandal karet biru.
Di dinding pos satpam, di atas jendela tempat Pak Darto biasa menjual kopi saset, tergantung spanduk kain putih berukuran kira-kira satu meter. Tulisannya dicat tangan dengan cat merah yang masih sedikit meleleh di beberapa huruf.
SELAMAT BERANGKAT KERJA PAK ARIES, SUAMI TERCINTA BU HELENA. HATI-HATI DI JALAN. DARI WARGA BLOK C.
Di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil: (Bu Helena sudah sarapan, Pak, saya lihat.)
Pak Darto berdiri di sebelah spanduk dengan dada membusung bangga.
“Pak,” kataku, terengah. “Ini apa?”
“Spanduk, Bu.” Dia tersenyum lebar. “Mbak Nadia kemarin sore ke sini. Katanya Bu Helena nggak mau spanduk besar di portal. Jadi saya pikir, spanduk kecil di pos saya boleh, kan? Ini kan wilayah saya. Bukan wilayah portal.”
Aku menoleh ke mobil Aries yang masih berhenti di portal. Kaca jendelanya turun setengah. Aku bisa melihat wajahnya. Dia menatap spanduk itu dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca dari jarak sepuluh meter.
Lalu dia menutup wajah dengan satu tangan.
Bahunya bergetar.
Aku tidak tahu apakah dia tertawa atau menangis. Mungkin dua-duanya. Dia diam begitu lama sampai mobil tetangga di belakangnya membunyikan klakson dengan sopan.
Lalu dia menurunkan tangannya, menatapku yang berdiri di samping pos dengan daster kawung dan sandal karet, dan tersenyum. Senyum yang sampai ke matanya.
Dia mengacungkan jempol ke arah Pak Darto. Lalu ke arahku. Lalu mobilnya berlalu melewati portal.
Pak Darto menatapku dengan wajah penuh harap. “Gimana, Bu? Bapak suka?”
Aku menatap spanduk dengan cat merah yang meleleh. Lalu ponselku bergetar sekali lagi.
Pihak Kedua 🏠: Bilang ke Pak Darto, kopi sasetnya aku bayar seumur hidup.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries reading
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh