Chapter Thirty Five

Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan

POV: Aries

Tubuhku bangun pukul 05.28, seperti setiap pagi selama bertahun-tahun.

Itu kebiasaan yang tidak bisa kumatikan. Jam biologisku dikalibrasi untuk satu tujuan: bangun lebih dulu, turun lebih dulu, menyiapkan segalanya sebelum siapa pun membutuhkannya. Kopi gula aren di tumbler. Air di gelas. Roti di pemanggang. Dunia sudah siap ketika dia turun tangga.

Aku membuka mata, dan dunia pagi ini tidak siap sama sekali.

Ada rambut di bantalku.

Rambut panjang, sedikit bergelombang, tersebar di atas sarung bantal abu-abu tua seperti tinta yang tumpah. Ada napas pelan dan teratur di dekat leherku. Ada lengan yang melingkar di pinggangku dengan berat yang sangat santai, seperti lengan itu sudah berada di sana bertahun-tahun dan berencana tetap di sana bertahun-tahun lagi.

Istriku tidur di kasurku.

Di kasur kami. Pasal 3 ayat 1, versi baru. Ditandatangani pukul delapan lewat empat belas tadi malam, di atas meterai dari satu pak yang dibeli dengan panik di koperasi kantor.

Aku tidak bergerak. Aku hanya menatapnya dalam cahaya subuh yang masuk abu-abu lewat celah gorden.

Wajahnya setengah terbenam di bantalku. Bibirnya sedikit terbuka. Ada bekas lipatan sarung bantal di pipinya. Bulu matanya, yang menurutnya kalah panjang dari punyaku, tergeletak tenang seperti dua kipas kecil. Dan dia memakai kemeja biru tuaku.

Aku tidak tahu kapan dia memakainya. Kemeja itu tadi malam berakhir di lantai, dan sekarang ada di tubuhnya, kebesaran sampai lengannya menutupi separuh jarinya, kancingnya dipasang asal dan salah satu lubang terlewat sehingga kerahnya miring. Mungkin dia kedinginan dini hari. Mungkin dia meraih benda terdekat. Mungkin dia memilihnya dengan sengaja.

Dia cantik banget.

Aku sudah menuliskan kalimat itu di kepalaku ratusan kali selama lima tahun. Di dapur belakang. Di bawah tangga dengan gaun merah anggur. Di karpet ruang tengah dengan kacamata kebesaran. Tapi pagi ini, dengan rambut berantakan di bantalku, bekas lipatan di pipi, dan kemeja biruku yang dikancingkan salah, dia cantik dengan cara yang tidak bisa kutulis di catatan mana pun. Cara yang bukan milik dunia. Cara yang hanya milik pagi ini, dan kamar ini, dan aku.

Pukul 05.41, tubuhku mulai gelisah. Kopi. Tumbler. Roti. Air. Daftar itu berputar di kepalaku seperti alarm.

Aku bergeser pelan, sangat pelan, berusaha meloloskan diri dari lengannya tanpa membangunkannya.

Lengannya mengencang.

“Mau ke mana?” Suaranya serak, setengah tenggelam di bantal. Matanya masih terpejam.

“Bikin kopi.”

“Nggak.”

“Len, ini sudah jam—”

“Pasal baru.” Matanya tetap terpejam, tapi bibirnya bergerak. “Dilarang bangun duluan.”

“Itu nggak ada di Perjanjian.”

“Amandemen lisan. Darurat.” Dia menarikku kembali ke kasur dengan kekuatan yang mengejutkan untuk seseorang yang setengah tidur. Lalu dia menempelkan wajahnya di dadaku dan bergumam ke kausku. “Kopinya bisa nunggu. Dunia bisa nunggu. Lima tahun kamu bangun duluan. Pagi ini kamu diam di sini.”

Aku diam di sana.

Itu ternyata hal paling sulit yang pernah kulakukan pukul setengah enam pagi. Lebih sulit dari menahan diri di sofa malam gaun merah anggur. Lebih sulit dari menandatangani Pasal 7. Berbaring di kasur, tidak menyiapkan apa pun untuk siapa pun, membiarkan matahari naik tanpa ada kopi yang menunggunya.

Aku menatap langit-langit. Aku mendengarkan napasnya. Aku menghitung detak jantungku sendiri, yang melambat pelan-pelan, sampai akhirnya aku tidak menghitung lagi.

Pukul 06.20, aku tertidur lagi.

Itu pertama kalinya sejak SMA aku tidur lagi setelah bangun.

Pukul tujuh lewat lima, aku bangun karena bunyi panggilan video.

Bukan ponselku. Ponsel Helena, di nakas sisi kiri. Dia meraihnya dengan mata setengah terbuka, menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelepon, dan mengangkatnya ke depan wajah.

“Halo?”

“LEN! Gimana rapatnya? Kuorum terpenuhi? Aku nggak bisa tidur semalaman, aku—”

Suara Nadia berhenti.

Aku tidak perlu melihat layarnya untuk tahu apa yang dilihat Nadia. Seprai abu-abu tua yang bukan seprai Helena. Bingkai foto pernikahan di nakas. Kemeja biru tua yang dikancingkan salah. Dan, kemungkinan besar, separuh bahuku yang terlihat di pojok layar.

Hening tiga detik.

Lalu terdengar jeritan yang begitu nyaring sampai Pak RT, yang sedang tidur di luar pintu kamar, ikut mengeong panik.

“AKU NGGAK LIHAT APA-APA! AKU NGGAK LIHAT! KENAPA KAMU ANGKAT VIDEO CALL DI KAMAR ITU! YA ALLAH! SELAMAT! AKU TUTUP! AKU KASIH TAHU RAKA!”

Layar menjadi hitam.

Helena menatap ponselnya dengan ngeri. Lalu dia menatapku. Lalu dia menarik selimut sampai menutupi seluruh kepalanya dan mengeluarkan suara panjang yang terdengar seperti teko air mendidih.

“Dia bakal kasih tahu Raka,” gumamnya dari bawah selimut.

“Dia pasti sudah kasih tahu Raka.”

“Raka bakal kasih tahu Pak Darto.”

“Pak Darto bakal pasang spanduk.”

Dia mengintip dari balik selimut. Matanya bertemu mataku. Lalu kami berdua tertawa sampai kasur bergetar.

Pukul delapan, dia turun ke dapur memakai kemeja biru tuaku.

Aku mengikutinya. Aku berdiri di ambang pintu dapur dan menonton dia membuat kopi. Untukku. Kopi hitam, setengah sendok gula aren yang dia masukkan sambil pura-pura tidak memasukkan apa-apa. Dia menyalakan radio di jendela. Dia bersenandung fals.

Lalu dia menggulung lengan kemeja biru tua itu, karena lengannya terlalu panjang dan terus jatuh menutupi tangannya. Lipatan pertama di pergelangan. Lipatan kedua. Lipatan ketiga, tepat di bawah siku. Lengan bawahnya terlihat, kulitnya pucat di bawah biru tua kain, dan aku berdiri di ambang pintu dapur dan lupa caranya berdiri.

Aku menabrak kusen.

Duk.

Dia menoleh. Melihatku memegangi bahu. Melihat kusen pintu. Melihat lengan kemeja yang tergulung di tangannya sendiri.

Senyumnya pelan-pelan naik sampai ke matanya.

“Oh,” katanya.

“Nggak ada oh.”

“Pasal 8.”

“Pasal 8 ayat 1 cuma mengatur Pihak Kedua.”

“Tapi kemejanya punya Pihak Kedua.” Dia mengangkat lengannya, memamerkan lipatan rapi di bawah siku. “Jadi secara hukum, Pihak Kedua yang melanggar.”

“Itu logika yang sangat kreatif.”

“Konsultan dibayar untuk kreatif.”

Aku berjalan ke arahnya. Dia tidak mundur. Aku menariknya ke pelukanku dari belakang, melingkarkan lenganku di pinggangnya, menempelkan daguku di bahunya, di atas kain biru tua yang kini wangi seperti dia. Dia bersandar ke dadaku dan mengaduk kopi dengan satu tangan.

“Kamu terlambat ke kantor,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu nggak pernah terlambat ke kantor.”

“Aku juga nggak pernah tidur lagi setelah bangun.” Aku mencium sisi lehernya, pelan. “Hari ini hari pertama untuk banyak hal.”

Pukul delapan lewat empat puluh, aku melewati portal. Pak Darto keluar dari pos dengan wajah yang terlalu bahagia untuk seorang satpam di Selasa pagi.

“Pagi, Pak. Tumben berangkat siang.”

“Iya, Pak.”

“Biasanya jam tujuh, Pak.”

“Iya, Pak.”

Dia mengangkat portal. Lalu menahannya, seperti biasa. “Mbak Nadia tadi nelepon saya, Pak. Katanya saya nggak boleh tanya apa-apa ke Bapak.” Pak Darto mengangguk sangat serius. “Jadi saya nggak tanya, Pak. Saya cuma mau bilang selamat.”

“Selamat untuk apa, Pak?”

“Nggak tahu, Pak. Mbak Nadia cuma bilang suruh ngucapin selamat.” Dia tersenyum lebar. “Tapi saya lihat muka Bapak, kayaknya memang pantas diselamatin.”

Raka sudah menungguku di depan lift kantor dengan dua gelas kopi dan wajah yang menahan ledakan.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya menyerahkan satu gelas kopi kepadaku, menepuk bahuku dua kali, dan berjalan ke ruangan dengan bahu bergetar.

Pukul sebelas, di tengah rapat tim, Raka mengirim pesan.

Kamu senyum ke Excel.

Aku nggak senyum.

Kamu senyum ke Excel selama dua menit. Ke tab arus kas. Nggak ada orang waras yang senyum ke arus kas. Kamu kesurupan?

Aku menatap layar laptopku. Spreadsheet arus kas kuartal tiga. Angka-angka yang sama sekali tidak lucu.

Aku masih tersenyum.

Sore harinya, ketika aku pulang, pintu kamar lama Helena terbuka lebar. Kasurnya sudah dibongkar dan disandarkan ke dinding. Di tengah ruangan, ada meja kerja baru yang masih dalam kardus, dan Helena duduk di lantai di sebelahnya, dikelilingi baut dan obeng dan buku petunjuk perakitan yang terbalik.

“Ruang kerja,” katanya ketika melihatku di ambang pintu. “Ayat 3. Supaya kamu nggak berdosa sama Mama.”

“Kamu beli meja?”

“Tadi siang. Diantar jam tiga.” Dia mengangkat obeng dengan wajah frustrasi. “Petunjuknya pakai bahasa Swedia.”

Aku melepas jas, menggulung lengan kemeja, dan duduk di lantai di sebelahnya.

“Gulung,” kataku, tiga detik sebelumnya. Sesuai Pasal 8.

Dia memukul lenganku dengan buku petunjuk.

Kami merakit meja itu sampai pukul sembilan malam, dan hasilnya sedikit miring ke kiri, dan ada dua baut tersisa yang tidak kami tahu seharusnya dipasang di mana. Dia menyatakan meja itu punya karakter. Aku setuju.

Malam itu, di kamar kami, aku membuka catatan H. di ponselku untuk terakhir kalinya.

Aku menggulir ke bawah, melewati lima tahun. Kopi. Obat maag. Sandal. Bengkel. Lampu. Pensil di rambut. Empat jeruk. Kertas kuning. Aku ingin dipilih.

Di baris paling bawah, aku mengetik satu kalimat.

Pagi ini aku tidak menyiapkan apa pun. Dia menahanku di kasur. Dunia tetap baik-baik saja.

Lalu aku menutup catatan itu, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menambahkan apa pun lagi besok.

Di sebelahku, Helena sudah tertidur dengan kepala di bahuku, memakai kaus tidurnya sendiri kali ini, karena kemeja biru tua sedang direndam di ember belakang.

Aku yang akan mencucinya. Dengan tangan. Pelan-pelan.

Seperti mencuci sesuatu yang tidak boleh rusak sedikit pun.