Chapter Thirty Eight
Mama Bingung, Mama Nangis
POV: Helena
Makan siang keluarga di rumah Mama hari Minggu itu dimulai dengan cara yang paling biasa: Tante Rina bertanya kapan isi sebelum aku sempat melepas sandal.
“Aduh, pengantin baru.” Dia memelukku di teras, lalu menepuk perutku dengan telapak tangan seperti mengecek semangka di pasar. “Sudah sembilan bulan, lho. Gimana? Ada kabar?”
Aku membuka mulut.
Di sebelahku, Aries sudah siap. Aku bisa melihatnya di wajahnya. Jawaban regulasi tentang galon dan tabung gas dan bensin mobil, yang sudah dia pakai di tiga acara keluarga berturut-turut dengan tingkat keberhasilan seratus persen.
Tapi kali ini aku lebih cepat.
“Lagi diusahakan, Tante,” kataku dengan senyum paling manis.
Aries, yang sedang menyesap es teh dari gelas yang baru disodorkan Bi Inah, tersedak.
Batuknya keras, panjang, dan sangat tidak bermartabat. Es teh menyembur sedikit ke kemejanya. Tante Rina menepuk-nepuk punggungnya dengan wajah yang tiba-tiba sangat bahagia, dan dari ujung teras, aku mendengar Nadia, yang datang bersama Raka dan berdiri di dekat pagar, menjerit kecil dan langsung menutup mulutnya sendiri.
“Ya ampun, Aries, pelan-pelan minumnya!” Tante Rina tersenyum lebar. “Bagus, bagus. Diusahakan. Tante doakan.”
Dia masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan, jelas untuk menyebarkan kabar ke seluruh dapur.
Aries menatapku, mata berair, kerah kemejanya basah es teh.
“Kamu,” katanya serak.
“Kamu bilang aku boleh jawab kalau ditanya.”
“Aku bilang jawab yang sesuai regulasi.”
“Itu sesuai regulasi.” Aku mengambil tisu dari tasku dan menyeka kerahnya. “Pasal 3 sudah diamandemen.”
Wajahnya merah sampai ke telinga. Di belakang kami, Raka menepuk punggung Nadia yang masih menutup mulut dan bahunya bergetar hebat.
Makan siang itu ramai seperti biasa. Oma duduk di kepala meja dengan kebaya ungu. Papa memotong ayam bakar dengan pisau besar yang dia pakai sejak aku SD. Om Hendra bercerita tentang reksa dana dan Aries menanggapinya dengan sabar. Nadia dan Raka duduk bersebelahan dan saling mengambilkan lauk dengan cara yang membuat Tante Rina berbisik ke Mama, itu siapa? pacarnya Nadia? kapan nikah?, dan Nadia pura-pura tidak mendengar.
Setelah makan, aku menemukan Mama sendirian di dapur, mencuci piring.
Mama tidak pernah mencuci piring di acara keluarga. Biasanya Bi Inah yang mengurus semuanya. Tapi hari itu Bi Inah sedang menemani Oma tidur siang, dan Mama berdiri di depan wastafel dengan sarung tangan karet kuning, menggosok panci dengan sangat serius.
Aku mengambil lap dan berdiri di sebelahnya. Mengeringkan.
Kami bekerja dalam diam beberapa saat. Mama mencuci, aku mengeringkan. Persis seperti aku dan Aries setiap malam, dan entah kenapa kesadaran itu membuat tenggorokanku terasa sempit.
“Ma.”
“Hm?”
“Makasih.”
Mama berhenti menggosok. “Makasih buat apa?”
“Perjodohan itu.” Aku meletakkan piring kering di rak. “Makasih Mama sudah jodohin aku sama Aries.”
Mama menatapku. Lama. Sarung tangan karetnya meneteskan air sabun ke lantai.
“Kamu sakit?”
“Nggak, Ma.”
“Kamu lagi butuh uang?”
“Ma.”
“Mama cuma nanya.” Mama menatapku dengan curiga, seperti menatap tamu yang datang tanpa membawa oleh-oleh. “Kamu dulu nangis tiga malam waktu Mama bilang soal Aries. Kamu bilang Mama kuno. Kamu bilang kamu bisa cari suami sendiri. Kamu nggak mau ngomong sama Mama dua minggu.”
“Aku tahu.”
“Terus sekarang kamu bilang makasih?”
“Iya.”
Mama terus menatapku. Dan pelan-pelan, aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Kecurigaan itu luntur. Digantikan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat bibirnya bergetar dan matanya berkaca-kaca dengan sangat cepat.
Mama melepas sarung tangan karetnya. Dia menarik kursi plastik dari sudut dapur dan duduk dengan berat, seperti seseorang yang kakinya tiba-tiba tidak sanggup menopang badan.
“Len,” katanya. Suaranya pelan. “Mama mau cerita sesuatu. Papa bilang jangan. Tapi Mama nggak tahan.”
Aku menarik kursi plastik lain dan duduk di depannya.
“Satu setengah tahun lalu,” kata Mama, “waktu Tante Rina nyebar gosip kamu mau dijodohin sama dokter itu. Kamu ingat?”
“Ingat. Mama sampai kirim klarifikasi ke grup.”
“Seminggu setelah itu, Aries datang ke rumah.” Mama meremas tangannya sendiri di pangkuan. “Sendirian. Malam-malam. Pakai kemeja rapi. Dia minta ketemu Papa.”
Aku diam.
“Papa kira dia mau ngomongin bisnis. Keluarga Ikrima kan rekan Papa. Tapi dia duduk di ruang tamu, di kursi yang itu,” Mama menunjuk ke arah ruang tamu, “dan dia bilang ke Papa...” Mama berhenti. Menarik napas. “Dia bilang, Om, saya sudah lama kagum sama Helena. Saya nggak minta apa-apa. Saya cuma minta, kalau suatu hari Om dan Tante mau mengenalkan Helena ke seseorang, tolong pertimbangkan saya juga.”
Dapur sunyi. Di luar, aku mendengar tawa Nadia dari ruang tengah dan suara televisi.
“Terus dia bilang satu hal lagi.” Mama menatapku, air matanya mulai jatuh. “Dia bilang, Tapi Om, tolong jangan paksa Helena. Kalau Helena bilang tidak, saya mundur. Dan tolong jangan bilang ke Helena saya yang minta. Saya nggak mau dia merasa berutang apa-apa ke saya.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Supaya dia tidak merasa berutang. Kalimat yang sama. Kalimat yang dia tulis dengan pulpen biru di bawah garis penggaris, dua hari sebelum kami menikah. Kalimat yang ternyata sudah dia ucapkan, keras-keras, di ruang tamu orang tuaku, satu setengah tahun sebelumnya.
“Papa cerita ke Mama,” lanjut Mama. Suaranya pecah. “Dan Mama... Mama senang sekali, Len. Anak keluarga Ikrima. Sopan. Mapan. Ganteng. Mama pikir ini kesempatan. Mama nggak dengerin bagian jangan paksa. Mama maksa kamu. Mama bilang umur kamu sudah dua puluh delapan. Mama bilang kamu terlalu sibuk kerja. Mama bikin kamu nangis tiga malam.”
Mama menangis sekarang, benar-benar menangis, dengan bahu bergetar dan tangan menutupi wajah.
“Mama yang nekan kamu, Len. Padahal dia sudah bilang jangan. Dia minta satu hal, cuma satu hal, dan Mama nggak dengerin. Mama selama ini takut kamu nggak bahagia gara-gara Mama. Mama takut kamu nikah sama orang yang nggak kamu pilih, gara-gara Mama yang maksa.”
Aku berlutut di lantai dapur, di depan kursi plastiknya, dan memeluk Mama.
Mama memelukku balik dengan erat, dengan cara yang tidak pernah dia lakukan sejak aku kecil. Bukan pelukan untuk fotografer. Bukan pelukan di depan tamu. Pelukan seorang ibu yang sudah terlalu lama membawa sesuatu yang berat.
“Mama nggak salah,” bisikku ke bahunya.
“Mama salah.”
“Mama maksa aku, iya. Tapi Mama maksa aku ke orang yang tepat.” Aku menarik diri sedikit dan menatap wajah Mama yang basah. “Dan aku sudah milih dia sendiri, Ma. Bukan karena Mama. Aku milih dia sendiri, dengan sadar, di sore yang biasa, tanpa dipaksa siapa pun.”
Mama menatapku. Lalu dia menangis lebih keras, tapi kali ini sambil tertawa, dengan suara yang aneh dan basah dan sangat lega.
Papa muncul di ambang pintu dapur. Dia melihat kami berdua, Mama di kursi plastik dan aku berlutut di lantai, dua-duanya menangis. Dia menghela napas panjang.
“Kamu cerita,” katanya kepada Mama. Bukan pertanyaan.
“Mama nggak tahan, Pa.”
Papa menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya bergerak. Dia masuk, menarik kursi ketiga, dan duduk bersama kami di dapur yang sempit itu.
“Ada satu lagi,” kata Papa. “Yang Mama nggak tahu. Yang Papa nggak pernah cerita ke siapa pun.”
Aku menatapnya.
“Malam itu, sebelum Aries pulang, dia berdiri di depan pintu dan bilang satu hal lagi ke Papa.” Papa menatap tangannya sendiri, tangan yang sudah keriput, yang dulu menggendongku waktu kecil. “Dia bilang, Om, kalau nanti Helena menikah dengan saya, dan suatu hari dia tidak bahagia, tolong Om yang jemput dia pulang. Jangan tunggu dia minta. Dia nggak akan minta.”
Aku tidak bisa bicara lagi.
Bahkan saat meminta satu-satunya hal yang pernah dia minta, kesempatan untuk dikenalkan, dia masih menyiapkan pintu keluar untukku. Dia masih memastikan seseorang akan menjemputku kalau dia gagal.
Kami pulang pukul empat sore.
Di mobil, Aries menyetir dengan satu tangan, tangan yang lain di atas tanganku di konsol tengah. Dia melirikku beberapa kali. Mataku masih bengkak, dan dia pasti melihat Mama yang matanya juga bengkak ketika kami berpamitan di pagar, dan Mama yang memeluknya lama sekali dan berbisik sesuatu di telinganya yang membuatnya membeku.
“Mama bilang apa tadi?” tanyaku.
Dia diam sebentar. “Mama bilang makasih. Terus Mama bilang maaf. Aku nggak ngerti kenapa.”
Aku menatap jalan tol di depan kami. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu, meskipun langit masih terang.
“Aries.”
“Hm.”
“Kamu pernah minta satu hal.”
Tangannya di atas tanganku menegang.
“Ke Papa,” lanjutku pelan. “Satu setengah tahun lalu. Kamu minta dikenalkan.”
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatap jalan, rahangnya mengeras, matanya berkedip lebih cepat.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Lama sekali dia diam. Lalu dia menjawab, dengan suara yang sangat pelan.
“Karena itu satu-satunya yang pernah aku minta. Seumur hidup. Ke siapa pun.” Dia menelan ludah. “Aku takut kalau aku cerita, kamu bakal merasa itu tagihan. Kamu bakal mikir, oh, dia yang minta, jadi aku harus balas. Dan aku nggak mau kamu milih aku karena merasa ditagih.”
Aku membalik tanganku di bawah tangannya, sehingga telapak tangan kami saling menempel, dan menautkan jari-jari kami.
“Aku bersyukur kamu minta,” kataku.
Dia menoleh sebentar, kaget.
“Lima tahun kamu nggak minta apa-apa. Cuma sekali. Satu kali kamu berani minta sesuatu buat diri kamu sendiri.” Air mataku jatuh lagi, tapi aku tersenyum. “Dan karena satu kali itu, aku ada di sini. Di mobil ini. Di rumah kita. Di sisi kiri kasur kamu.”
Dia mengerjap cepat. Rahangnya bergetar.
“Jadi jangan pernah nyesel pernah minta,” bisikku. “Itu permintaan terbaik yang pernah ada di hidupku. Dan aku bahkan bukan orang yang kamu mintai.”
Dia tidak menjawab. Dia hanya meremas tanganku sangat erat, dan menyetir dengan satu tangan sampai ke portal komplek, di mana Pak Darto keluar dari pos, melihat wajah kami berdua yang basah, dan memutuskan dengan bijak untuk mengangkat portal tanpa bertanya apa pun.
Malam itu, di kamar kami, aku membuka catatan A. di ponselku dan menambahkan satu baris.
Dia pernah minta satu hal seumur hidupnya. Minta dikenalkan padaku. Mulai sekarang, aku yang akan memastikan dia tidak perlu takut meminta lagi.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis reading
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh