Chapter Twenty Eight

Terlambat Bukan Berarti Sedikit

POV: Aries

Selama lima tahun, aku menyiapkan diri untuk banyak kemungkinan.

Aku menyiapkan diri untuk melihatnya menikah dengan orang lain. Aku menyiapkan diri untuk datang ke resepsinya sebagai perwakilan keluarga Ikrima, menyalaminya di pelaminan, mengucapkan selamat dengan suara yang stabil, lalu pulang dan membakar kotak sepatu di halaman belakang. Aku menyiapkan diri untuk dia tidak pernah mengingat namaku. Setelah perjodohan, aku menyiapkan diri untuk pernikahan yang dingin, untuk kamar terpisah seumur hidup, untuk suatu hari dia duduk di meja makan dan berkata dengan sopan bahwa dia sudah menemukan seseorang.

Aku punya rencana untuk semua itu. Bernomor. Pakai penggaris.

Aku tidak pernah menyiapkan diri untuk ini.

Untuk dia menangis di dadaku sampai suaranya habis, karena aku mencintainya terlalu lama tanpa bilang apa-apa.

Tanganku masih menggantung di sisi badan. Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku. Seluruh hidupku, aku tahu persis apa yang harus kulakukan ketika dia butuh sesuatu. Obat maag strip hijau. Sandal ukuran 38. Teh jahe dengan madu dan jeruk nipis. Handuk hangat untuk wajahnya. Lampu yang menyala.

Tapi tidak ada yang bisa kusiapkan untuk ini, karena kali ini, akulah yang membuatnya sakit.

Telapak tangannya masih di dadaku. Dahinya juga. Bahunya bergetar.

Pelan-pelan, tanganku terangkat. Satu ke punggungnya. Satu ke belakang kepalanya, ke rambutnya yang tidak digelung, yang tergerai kusut setelah semalaman di sofa. Aku menariknya ke pelukanku, dan dia membiarkannya, dan tangisnya berubah dari suara pecah menjadi sesuatu yang lebih pelan dan lebih dalam, seperti hujan setelah badai.

Kami berdiri di sana lama sekali.

Lalu dia bicara, ke kemejaku, dengan suara yang nyaris tidak ada.

“Aku terlambat.”

“Len—”

“Aku terlambat, Aries.” Jemarinya mencengkeram kemejaku. “Lima tahun kamu di sana, dan aku baru tahu kemarin. Lima tahun kamu cinta sama aku, dan aku baru mulai... aku baru mulai bulan-bulan ini. Aku baru mulai sadar suara kamu kalau pagi. Baru mulai nyalain lampu. Baru mulai nulis kertas kuning.” Suaranya pecah lagi. “Sebesar apa pun aku sayang sama kamu sekarang, rasanya terlambat. Rasanya kayak aku datang ke pesta yang sudah selesai. Kamu sudah nunggu lima tahun, dan aku datang bawa... bawa apa? Lima bulan?”

Aku memejamkan mata.

Aku ingin bilang dia tidak terlambat. Aku ingin bilang lima bulan bersamanya lebih berharga dari lima tahun memandanginya dari jauh. Aku ingin bilang banyak hal. Tapi tenggorokanku terasa seperti ada yang menyumbat, dan semua kalimat yang biasa kupakai untuk melindunginya tidak ada yang mau keluar.

Lalu dia mendongak.

Matanya bengkak. Hidungnya merah. Bekas air mata membuat jalur-jalur basah di pipinya, dan sehelai rambut menempel di sudut bibirnya. Dia tidak memakai riasan apa pun. Dia memakai kaus kebesaran dan celana tidur dan wajah yang sudah menangis sejak kemarin siang.

Dan dia cantik banget.

Itu tidak adil. Seharusnya ada aturan yang melarang seseorang terlihat secantik itu di tengah tangisan yang dia tangisi karena aku. Tapi dia memang begitu. Dia cantik dengan cara yang sudah membuatku lupa bernapas di dapur belakang lima tahun lalu, cantik dengan cara yang membuatku menjatuhkan kunci di bawah tangga, dan malam ini, dengan mata bengkak dan hidung merah, dia cantik dengan cara yang membuat dadaku sakit.

Dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya.

“Dengar,” katanya. Suaranya serak tapi jelas. “Cintaku mungkin datangnya belakangan. Iya. Aku terlambat. Aku nggak bisa balikin lima tahun itu. Tapi jangan pernah, jangan pernah, kamu pikir karena datangnya belakangan, cintaku lebih kecil.”

Ibu jarinya menekan tulang pipiku.

“Terlambat bukan berarti sedikit.”

Sesuatu di dalam diriku menyerah.

Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku menangis. Mungkin waktu SD, waktu kakakku mematahkan pesawat kertas yang kubuat selama seminggu. Mungkin waktu Kakek meninggal, di kamar mandi, dengan keran menyala supaya tidak ada yang dengar. Aku sudah lama belajar menyimpan sesuatu dengan rapi, dan air mata adalah hal pertama yang kusimpan.

Tapi malam itu, di ruang makan, dengan wajahku di antara kedua tangannya, simpanan itu jebol.

Tidak ada suara. Aku tidak tahu caranya menangis dengan suara. Air mata itu hanya keluar, panas dan diam, dan jatuh ke ibu jarinya yang masih menempel di pipiku. Bahuku bergetar. Napasku tersendat. Aku menunduk, dan dia menarik kepalaku ke bahunya, dan aku membiarkannya.

Aku membiarkan diriku dipeluk.

Aku menangis di bahu perempuan yang kucintai selama lima tahun, karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dia tahu. Dia tahu, dan dia tidak lari. Dia tidak merasa berutang. Dia tidak menatapku seperti kucing kehujanan. Dia memelukku seperti aku memeluknya selama ini, seperti seseorang yang tidak akan pergi.

Tangannya mengusap punggungku pelan. Bolak-balik. Seperti caraku mengusap punggung tangannya di bawah selimut hijau zaitun di toko furnitur.

“Nggak apa-apa,” bisiknya di telingaku. “Nggak apa-apa. Kamu boleh nangis. Kamu boleh capek. Kamu boleh mau sesuatu. Kamu juga manusia.”

Kalimat Raka. Diucapkan oleh orang yang paling tidak kusangka akan mengucapkannya.

Kami akhirnya duduk di lantai ruang makan, bersandar ke kaki meja, karena tidak satu pun dari kami yang sanggup berdiri lebih lama. Dia di sebelahku, bahunya menempel di bahuku. Kotak sepatu masih di atas meja, di atas kepala kami, seperti saksi yang diam.

Lama kami tidak bicara.

Lalu dia mengangkat kertas bergaris itu. Aturan nomor satu sampai lima. Pulpen biru di bawah garis penggaris. Dia memegangnya di antara kami, di bawah cahaya lampu yang jatuh dari ruang tengah.

“Ini,” katanya. “Aku sita.”

Aku menatapnya.

“Aturan ini batal,” lanjutnya. “Nggak berlaku lagi. Nggak ada berhenti. Nggak ada bakar kotak. Nggak ada belajar ikhlas.” Dia melipat kertas itu dua kali dan memasukkannya ke saku celana tidurnya. “Ini punya aku sekarang. Kamu nggak boleh nulis aturan kayak gini lagi tanpa persetujuan Pihak Pertama.”

“Itu bukan pasal di Perjanjian.”

“Sekarang jadi pasal.” Dia mengusap hidungnya dengan punggung tangan. “Amandemen lisan. Darurat.”

Aku tertawa. Tawa itu keluar basah dan aneh, bercampur dengan sisa tangis, dan dia ikut tertawa, dengan suara yang sama basahnya.

“Kotaknya?” tanyaku.

“Kotaknya tetap di sini. Nggak dibuang. Nggak dibakar.” Dia menatap kotak itu. “Tapi bukan di gudang lagi. Aku mau taruh di rak jati Opa. Di ruang tengah. Di tempat yang kelihatan.”

“Len, isinya—”

“Aku tahu isinya.” Dia menoleh padaku. “Justru karena itu. Aku nggak mau lima tahun kamu disembunyiin di balik kardus peralatan dapur yang nggak pernah dipakai.”

Aku tidak bisa menjawab.

Kami duduk di lantai sampai jam dinding menunjukkan hampir pukul dua belas. Di pintu dapur, Pak RT muncul dari kegelapan, berjalan masuk dengan langkah lambat, menatap kami berdua yang duduk di lantai dengan mata bengkak, lalu duduk di antara kaki kami seperti petugas yang ditugaskan mengawasi.

Helena mengusap kepalanya. Pak RT mendengkur.

“Dia tahu,” kata Helena.

“Pak RT selalu tahu.”

Hening lagi. Lalu, dengan suara yang masih sengau, dia bertanya sesuatu yang membuatku lengah sepenuhnya.

“Kamu bawa oleh-oleh?”

Aku menoleh. Dia menatap kantong plastik di lantai dekat pintu ruang makan, kantong dari Changi yang kujatuhkan tiga jam lalu ketika melihat kotak sepatu di meja.

“Selai kaya,” kataku. “Dua stoples. Sama roti.”

“Aku mau.”

“Sekarang?”

“Aku belum makan dari siang.” Dia mengusap matanya. “Aku nangis dari kemarin. Itu butuh kalori.”

Aku tertawa lagi, dan kali ini tawanya keluar lebih ringan. Aku berdiri, mengambil kantong plastik, dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Dia mengambil tanganku. Dia tidak melepaskannya setelah berdiri.

Kami makan roti dengan selai kaya di meja bar dapur, pukul dua belas lewat, dengan mata bengkak dan Pak RT menunggu remahan di bawah kursi. Dia mengoleskan selai terlalu tebal. Aku tidak berkomentar. Dia menyuapkan satu potong ke mulutku tanpa bertanya apakah aku mau.

Aku menerimanya.

Itu hal kecil. Sangat kecil. Sepotong roti dengan selai yang kelewat tebal, disuapkan pukul dua belas malam oleh perempuan yang baru saja menangis karena aku. Tapi aku menerimanya tanpa bilang nggak usah, tanpa langsung memikirkan bagaimana membalasnya, tanpa menghitung.

Aku hanya menerimanya.

Sebelum kami naik, dia mengambil kotak sepatu dari meja makan dan meletakkannya di rak jati Opa, di rak tengah, di antara novel-novelnya dan buku yang kupinjam dengan struk minimarket sebagai pembatas. Tulisan JANGAN DIBUANG menghadap keluar.

Lalu dia berdiri di depan lampu berdiri berkap krem.

“Matiin bareng,” katanya.

Aku meletakkan jariku di saklar. Dia meletakkan jarinya di atas jariku.

Klik.

Ruang tengah gelap. Hanya ada cahaya samar dari lampu jalan yang masuk lewat jendela. Kami naik tangga dalam gelap, tangannya masih di tanganku, sampai ke lorong di antara dua pintu.

Dia berhenti di depan pintunya. Aku berhenti di depan pintuku.

“Aries.”

“Hm.”

“Besok kamu bangun, kamu masih di sini, kan?”

Aku menatapnya di kegelapan. Cahaya lampu jalan dari jendela lorong jatuh di separuh wajahnya.

“Aku nggak pernah ke mana-mana,” kataku. “Lima tahun. Aku selalu di sini.”

Dia tersenyum. Kecil dan lelah dan sangat nyata.

“Sekarang aku juga,” katanya.

Dia masuk ke kamarnya. Pintunya menutup pelan.

Dia tidak menguncinya. Aku tahu karena aku tidak mendengar bunyi klik dari kunci yang biasanya dia putar setiap malam selama lima bulan.

Aku masuk ke kamarku, berbaring di kasur, menatap bingkai foto pernikahan di nakas, dan menangis lagi sebentar, diam, untuk alasan yang sama sekali berbeda.