Chapter Eleven
Kursi Kosong di Sebelahku
POV: Helena
Gala ulang tahun kesepuluh firmaku diadakan di ballroom hotel di Sudirman, dan undangannya berbunyi formal attire, plus one welcome.
Selama lima tahun bekerja di sana, aku selalu datang ke acara seperti ini sendirian, dengan blazer hitam yang sama dan alasan yang sama untuk pulang sebelum dessert. Tahun ini kolom plus one di formulir RSVP menatapku dari layar dengan cara yang terasa personal.
Aku mengisinya. Aries Ikrima. Suami.
Aku menatap kata suami di formulir itu sampai Sinta lewat di belakangku dan bilang, “Kamu bisa klik submit, Len. Itu bukan surat nikah. Kalian sudah punya surat nikah.”
Untuk acara itu, aku meminjam gaun dari lemari Nadia. Satin hijau zamrud, potongan sederhana, panjang sampai mata kaki, dengan punggung yang sedikit lebih terbuka dari yang biasanya kuberanikan. Nadia memaksaku mencobanya di butiknya sambil memakan keripik, dan ketika aku keluar dari ruang ganti, dia berhenti mengunyah.
“Oke,” katanya. “Oke. Ini gaun yang bisa bikin perang.”
“Aku cuma mau ke gala kantor.”
“Perang kantor juga perang.”
Sabtu malam, aku berdandan di kamar selama satu jam. Rambut kugelung rendah dengan beberapa helai sengaja dibiarkan lepas di sekitar telinga. Riasan yang lebih berani dari biasanya, bayangan mata cokelat keemasan, bibir warna mawar tua. Anting mutiara kecil peninggalan Oma. Aku melihat diriku di cermin dan, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku berpikir: oh. Aku cantik.
Bukan cantik yang perlu konfirmasi siapa pun. Cantik yang sederhana dan jujur, seperti melihat langit cerah dan tahu itu langit cerah.
Aku turun tangga pukul enam lewat lima belas.
Aries duduk di anak tangga terbawah dengan setelan jas abu-abu gelap, sedang memakai sepatu dengan sendok sepatu panjang yang dia simpan di rak dekat pintu. Dia mendengar langkahku dan mendongak.
Lalu dia berhenti.
Sendok sepatu itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai dengan bunyi klotak yang memantul di seluruh ruang tengah. Dia tidak memungutnya. Dia tidak bergerak sama sekali. Dia hanya menatapku, satu kaki sudah bersepatu dan satu kaki masih memakai kaus kaki, dengan ekspresi seperti orang yang baru saja lupa nama ibu kota negaranya sendiri.
“Kenapa?” tanyaku, setengah gugup. “Ada yang aneh?”
Dia membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Nggak,” katanya. “Nggak ada yang aneh. Aku cuma lupa cara pakai sepatu.”
Aku tertawa. Aku mengira itu lelucon, salah satu kalimat datarnya yang biasa. Lagipula Nadia juga bereaksi aneh tadi siang, dan Mama pasti akan menjerit kalau melihat foto ini. Mungkin itu reaksi wajar orang yang melihat seseorang yang biasanya memakai blazer hitam tiba-tiba memakai satin hijau.
Dia memungut sendok sepatu. Lalu memakai sepatu kanan di kaki kiri.
“Itu kebalik,” kataku.
Dia menatap kakinya dengan serius. “Aku tahu. Aku lagi menguji kualitas sepatunya.”
Ballroom hotel itu terang dan berkilau, penuh lampu kristal dan meja bundar bertaplak putih. Begitu kami masuk, Pak Darmawan, managing partner firmaku, langsung menyambut Aries seperti teman lama karena ternyata mereka pernah bertemu di sebuah forum investasi. Dalam lima menit, Aries sudah ditarik ke lingkaran para partner yang sedang membahas suku bunga, dan aku dibiarkan menuju meja kami sendirian.
Meja nomor tujuh. Kartu nama kami diletakkan bersebelahan. Aku duduk di kursiku dan, tanpa berpikir panjang, meletakkan clutch perakku di kursi sebelah. Kursinya.
Lima menit kemudian, Dio, konsultan junior dari divisi sebelah, mendekat sambil membawa piring berisi kanapé.
“Mbak Helena, kursinya kosong? Boleh aku duduk sebentar, kakiku—”
“Ada orangnya.”
“Oh. Tapi orangnya lagi—”
“Ada orangnya,” ulangku, dengan senyum yang membuat Dio mundur dua langkah, membungkuk sopan, dan memutuskan bahwa kakinya ternyata tidak terlalu pegal.
Sinta, yang duduk di seberang meja, menyesap minumannya dengan sangat pelan. “Wow.”
“Apa?”
“Kamu barusan jagain kursi kayak tukang parkir jagain slot di depan minimarket. Lengkap dengan tatapan peluit.”
“Itu kursinya. Kartu namanya di situ.”
“Iya, iya.” Sinta tersenyum ke gelasnya. “Kursinya.”
Aries kembali dua puluh menit kemudian. Dia melihat clutch-ku di kursinya, mengangkatnya dengan hati-hati, menyerahkannya padaku, dan duduk. Dia tidak bertanya kenapa tas itu ada di sana. Tapi ketika dia mencondongkan badan untuk mengambil serbet, dia berbisik di dekat telingaku, cukup pelan sampai hanya aku yang mendengar.
“Makasih sudah dijagain.”
Napasnya menyentuh helai rambut di dekat telingaku. Aku menyesap air putih dan berharap air putih itu bisa memadamkan sesuatu.
Acara berjalan dengan pidato, video perjalanan firma, dan makan malam lima hidangan. Semuanya baik-baik saja sampai menu penutup.
Saat itu Aries sedang berdiri di dekat meja kopi, dan seorang perempuan menghampirinya.
Aku mengenalnya. Karina Wibisono, head of treasury dari salah satu klien terbesar kami. Pintar, tajam, lucu, dan malam itu memakai gaun hitam yang membuatnya terlihat seperti sampul majalah bisnis. Dia menyapa Aries dengan sangat ramah, lalu mereka mulai bicara.
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Yang kulihat hanyalah Karina tertawa. Lalu tertawa lagi. Lalu menyentuh lengan Aries sebentar, sangat sebentar, sambil mengatakan sesuatu yang membuat Aries mengangguk dan tersenyum.
Senyum yang biasa. Senyum sopan. Senyum yang sama sekali tidak bermasalah.
Aku menyobek serbet linen di pangkuanku jadi dua bagian.
“Len,” kata Sinta pelan. “Serbetnya hotel.”
“Aku tahu.”
“Itu serbet ketiga.”
Aku menunduk. Memang ada tiga serbet di pangkuanku, semuanya dalam berbagai kondisi kehancuran. Aku tidak ingat mengambil yang ketiga.
“Mereka cuma ngobrol,” kataku. “Soal pasar. Karina itu treasury. Aries itu riset investasi. Wajar mereka ngobrol.”
“Aku nggak bilang apa-apa.”
“Kamu nggak perlu bilang apa-apa. Aku cuma menjelaskan konteks.”
“Siapa yang minta konteks?”
Aku mengambil sepotong roti dari keranjang di depan kursi Aries dan memakannya dengan agresif. Itu rotinya. Aku tahu itu rotinya. Aku tidak peduli.
Aku tidak cemburu. Aku hanya sedang mengamati, dengan sangat cermat, bagaimana tangan Karina masih bergerak-gerak di udara ketika bicara, terlalu dekat dengan lengan suamiku. Itu namanya ketelitian. Konsultan dibayar mahal untuk ketelitian.
Sepuluh menit kemudian, Aries kembali ke meja. Dia melihat keranjang rotinya yang kosong. Lalu tiga serbet yang tersobek di pangkuanku. Lalu wajahku.
“Karina nanya soal laporan prospek obligasi,” katanya, sambil lalu, sambil duduk. “Dan dia bilang presentasi kamu tahun lalu soal restrukturisasi itu yang terbaik yang pernah dia lihat. Dia minta aku sampaikan.”
Aku berhenti mengunyah.
“Oh.”
“Dia juga bilang kamu kelihatan cantik banget malam ini. Itu juga dia minta aku sampaikan.” Dia meraih gelas airnya. “Yang itu sebenarnya aku setuju, tapi aku nggak mau ngomong duluan karena sebelumnya ada yang mengancam Dio pakai tatapan.”
Wajahku terbakar. Sinta, di seberang meja, menutupi mulutnya dengan kartu menu.
Kami pulang pukul sepuluh lewat. Hujan turun deras di luar, dan lobi hotel penuh tamu yang menunggu mobil masing-masing dari valet. Orang-orang berdesakan, berbicara keras di telepon, payung-payung hotel berpindah tangan, dan seorang petugas memanggil nomor-nomor tiket dengan suara yang tenggelam dalam keramaian.
“Mobilnya di pintu samping,” kata Aries setelah mengecek ponselnya. “Kita harus nyeberang lobi.”
Aku melihat lautan orang di depanku. Lalu, sebelum pikiranku sempat mengajukan keberatan resmi, aku meraih tangannya.
Jemariku menyelip di antara jemarinya. Tangannya besar dan hangat, telapaknya sedikit kasar di pangkal jari.
Dia berhenti melangkah.
Aku tidak berani menatapnya. Aku menatap lurus ke depan, ke arah pintu samping yang terlihat sangat jauh, dan berkata dengan nada paling profesional yang bisa kukumpulkan, “Biar nggak kepisah.”
Hening sedetik. Lalu jemarinya menutup di sekitar jemariku. Pelan, tapi pasti. Seperti mengunci pintu yang tidak akan dia buka sebelum aku memintanya.
“Biar nggak kepisah,” ulangnya.
Kami menyeberangi lobi. Orang-orang bergeser, payung-payung menyenggol, seorang anak kecil hampir menabrak kakiku. Aries memimpin selangkah di depan, membuka jalan dengan bahunya, dan tangannya tidak pernah longgar sekali pun.
Kami sampai di pintu samping. Mobil sudah menunggu, mesinnya menyala, petugas valet memegang payung besar.
Kami sudah tidak berada di tengah keramaian lagi. Tidak ada alasan untuk tetap bergandengan. Kami sudah sampai. Kami tidak akan kepisah di trotoar sepanjang dua meter menuju pintu mobil.
Tidak ada yang melepaskan.
Dia membukakan pintu penumpang dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih menggenggam tanganku. Baru ketika aku sudah duduk, dia melepaskannya, pelan-pelan, jari demi jari, seperti orang menurunkan sesuatu yang rapuh ke atas meja.
Di dalam mobil, hujan memukul atap seperti ribuan jari kecil. Dia menyalakan mesin dan pemanas, lalu diam beberapa saat dengan tangan di setir.
“Tangan kamu dingin,” katanya.
“AC ballroom.”
“Hm.”
Dia memutar mobil keluar dari area hotel. Lampu-lampu Sudirman memantul di kaca yang basah, berpendar seperti cat air.
“Len.”
“Hm?”
“Tadi di rumah, waktu kamu turun tangga.” Dia tidak menoleh. Matanya tetap di jalan, tapi jarinya mengetuk-ngetuk setir sekali, dua kali. “Aku bukan lupa cara pakai sepatu.”
Aku menunggu.
“Aku lupa cara napas,” katanya. “Sepatunya cuma korban.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Aku menatap jendela di sisiku, ke hujan, ke lampu-lampu yang lewat, dan meletakkan tangan kananku di pangkuan, di atas tangan kiriku, seperti sedang menyimpan sesuatu yang masih hangat agar tidak cepat dingin.
Sesampainya di rumah, lampu ruang tengah menyala. Dia pasti menyalakannya dengan pengatur waktu sebelum kami berangkat, karena tidak ada orang lain di rumah ini yang bisa melakukannya.
Ponselku bergetar di tas.
Lembaga Survei Nadia mendapat laporan dari sumber anonim bernama S: tiga serbet hotel jadi korban, satu konsultan junior diusir, satu keranjang roti dijarah. Elektabilitas suamimu dinyatakan menang mutlak. Gugatan ditolak.
Aku tidak membalas. Aku menatap tanganku sendiri, yang tadi digenggam selama empat puluh dua langkah melintasi lobi hotel, dan tiba-tiba sadar bahwa aku menghitungnya.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku reading
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh