Chapter Twenty Seven
Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku?
POV: Helena
Aku menghabiskan hari Minggu dengan mencoba melakukan hal-hal normal.
Aku mandi. Aku memberi Pak RT satu ikan asin, sesuai prosedur, lalu memberinya satu lagi karena aku tidak sanggup menolak siapa pun hari itu. Aku membuka laptop untuk membalas email klien dan menatap layar selama dua jam tanpa mengetik satu kalimat pun. Aku menelepon Mama dan bilang aku sedang pilek, dan Mama mengirim resep wedang jahe beserta tujuh stiker mawar. Nadia mengirim pesan menanyakan apakah aku menemukan foto gondrong. Aku membalas nggak ada, dan itu satu-satunya kalimat jujur yang bisa kuketik hari itu.
Kotak sepatu itu ada di meja makan. Aku meletakkannya di sana sejak pagi, tepat di tengah, di tempat dia pertama kali menaruh tudung saji dan kertas kuning pada malam kesebelas pernikahan kami.
Aku tidak menyembunyikannya. Aku sudah memutuskan itu sejak subuh, ketika aku terbangun di sofa dengan selimut hijau zaitun dan lampu yang masih menyala. Dia sudah menyembunyikan terlalu banyak hal terlalu lama. Aku tidak mau ikut menyembunyikan apa pun lagi.
Pukul sepuluh lewat dua belas, aku mendengar mobil berhenti di depan pagar.
Langkahnya di teras. Kunci di pintu. Pintu terbuka.
“Aku pulang.” Suaranya lelah, tapi hangat. Bunyi koper diletakkan di lantai. “Kok kamu belum tidur? Aku sudah bilang jangan—”
Dia berhenti.
Aku duduk di kursi makan. Dia berdiri di ambang ruang makan, masih memakai jaket perjalanan, tas laptop masih menyilang di dadanya, satu tangan memegang kantong plastik berlogo toko roti dari Bandara Changi. Matanya bergerak dari wajahku ke meja.
Ke kotak sepatu cokelat dengan tulisan JANGAN DIBUANG.
Aku melihat semuanya terjadi di wajahnya dalam tiga detik. Pengenalan. Pemahaman. Lalu sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya, bahkan tidak ketika Mama datang mendadak atau ketika aku menciumnya di teras. Ketakutan. Telanjang dan tanpa perlindungan, seperti seseorang yang baru saja kehilangan pakaian di tengah jalan.
Kantong plastik di tangannya turun pelan ke lantai.
“Kamu buka,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Kamu nggak bilang jangan dibuka.”
“Aku tahu.”
Kami saling menatap. Kulkas berdengung. Lampu ruang tengah di belakangnya menyala, cahayanya jatuh di bahunya.
Dia melepas tas laptop dengan gerakan lambat. Meletakkannya di kursi. Lalu dia berdiri di sana, tidak mendekat, tidak duduk, dengan kedua tangan di sisi badan seperti terdakwa yang menunggu putusan.
“Maaf,” katanya akhirnya.
Kata itu membuat sesuatu di dadaku retak.
“Kenapa kamu minta maaf?”
“Karena kamu nggak seharusnya tahu.” Suaranya pelan. “Aku seharusnya bakar kotak itu sebelum pernikahan. Aku sudah mau. Aku sudah bawa korek ke halaman belakang. Tapi aku nggak bisa.” Dia menunduk. “Maaf. Aku nggak mau kamu merasa—”
“Berutang?”
Aku mengangkat kertas bergaris itu dari atas kotak. Aturan nomor satu sampai lima. Tulisan pulpen biru di bawah garis penggaris.
Dia menutup mata.
“Duduk,” kataku.
Dia duduk. Di seberangku, seperti malam kesebelas, ketika dia menuang air untuk dirinya sendiri dan sengaja tidak menatapku makan. Malam ini dia juga tidak menatapku. Dia menatap kotak itu.
“Lima tahun,” kataku.
Dia tidak menyangkal.
“Lima tahun, Aries. Sejak resepsi Mbak Rena. Sejak dapur belakang.” Suaraku bergetar, dan aku membiarkannya. “Obat maag di ulang tahun Oma. Sandal krem itu. Bengkel Pak Joko. Kamu bilang ke Papa jangan kasih tahu aku. Kamu titip lewat Nadia dan bilang dari tamu. Kamu duduk di meja sebelah di arisan Oma dan dengar aku ngomong soal obat maag, dan kamu catat. Kamu catat semuanya. Lima tahun.”
“Aku nggak pernah ngikutin kamu,” katanya cepat, untuk pertama kalinya mengangkat wajah. “Aku sumpah, Len. Aku nggak pernah cari tahu apa pun di luar acara keluarga. Semua yang ada di kotak itu cuma yang aku lihat waktu aku memang ada di sana. Aku nggak pernah—”
“Aku tahu.” Aku menyeka mataku dengan pangkal telapak tangan. “Aku tahu kamu bukan orang kayak gitu. Bukan itu yang aku tanya.”
“Terus apa?”
Aku meletakkan kertas itu di meja, di antara kami, dan menekannya dengan telapak tanganku seperti menekan luka.
“Kenapa kamu nggak pernah minta aku?”
Dia diam.
“Waktu perjodohan,” lanjutku. “Kamu tahu aku nggak cinta sama kamu. Kamu tulis itu sendiri di sini. Dua hari sebelum nikah. Terus aku kasih kamu Pasal 7, dan kamu tanda tangan. Kamu bahkan nggak protes. Kamu bilang aku tahu. Terus bulan-bulan lewat, dan kamu nunggu aku tiap malam, dan kamu nyalain lampu, dan kamu isi gelas air, dan kamu nggak pernah sekali pun bilang aku cinta kamu dari dulu, tolong lihat aku. Bahkan waktu aku cium kamu. Bahkan waktu aku bilang aku suka kamu. Kamu malah nyiapin pintu keluar.” Napasku tersengal. “Kenapa? Kenapa kamu nggak pernah minta aku cinta sama kamu?”
Lama sekali dia tidak menjawab. Begitu lama sampai aku mengira dia tidak akan menjawab sama sekali.
Lalu dia bicara, dan suaranya terdengar seperti seseorang yang membacakan sesuatu yang sudah lama dia hafal dan tidak pernah dia ucapkan keras-keras.
“Karena cinta yang diminta bukan cinta yang aku mau.”
Aku menatapnya.
“Kalau aku minta, kamu akan kasih,” katanya pelan. “Aku kenal kamu, Len. Aku lihat kamu di dapur belakang itu. Kamu itu orang yang ngasih apa pun ke siapa pun yang butuh. Kamu ninggalin foto keluarga buat Mbak Sri. Kamu ambil kesalahan Rani di depan klien. Kamu bikin neraca karena kamu nggak tahan merasa berutang ke orang. Kalau aku bilang tolong cintai aku, kamu akan berusaha. Kamu akan berusaha keras banget sampai kamu sendiri percaya kamu berhasil.”
Matanya basah. Tapi suaranya tidak pecah.
“Aku nggak mau jadi Mbak Sri buat kamu. Orang yang kamu tolong karena kamu baik. Aku mau dipilih karena kamu mau, bukan karena kamu kasihan. Dan kalau ternyata kamu nggak mau...” Dia berhenti. Menarik napas. “Kalau ternyata bahagia kamu bukan sama aku, berarti aku belajar ikhlas.”
Kalimat itu jatuh di meja makan seperti piring yang pecah.
Belajar ikhlas.
Dia mengatakannya dengan begitu tenang. Seperti sudah lama dia latih. Seperti sudah lima tahun dia berlatih mengatakan kalimat itu, menyiapkannya di dalam dada, supaya kalau hari itu tiba, dia bisa mengucapkannya tanpa merepotkanku.
“Kamu,” kataku, dan suaraku tidak lagi terdengar seperti suaraku sendiri, “kamu nggak pernah mau apa-apa? Sama sekali?”
Dia menatapku. Lalu dia tersenyum. Senyum kecil yang sangat lelah dan sangat lembut, senyum yang sama dengan senyumnya di teras belakang berbulan-bulan lalu ketika aku bertanya kenapa dia selalu memberi.
“Aku sudah dapat lebih dari yang pernah aku minta,” katanya. “Kamu di rumah ini. Sandal biru kamu di depan pintu. Kertas kuning di tudung saji. Lampu yang kamu nyalain. Alarm asap tiap Sabtu.”
Dia mengulurkan tangan dan, sangat pelan, menyeka air mata dari pipiku dengan ibu jarinya.
“Melihat kamu senyum sudah cukup.”
Aku hancur.
Tidak ada kata yang lebih tepat. Sesuatu di dalam diriku runtuh seperti rak yang ditarik dari bawah, semua buku jatuh sekaligus, halaman-halaman terbuka, struk-struk berhamburan. Kalimat itu. Kalimat yang dia ucapkan di teras dengan nada ringan, yang kusebut jawaban kartu ucapan. Aku menganggapnya manis waktu itu. Aku menganggapnya lucu.
Sekarang aku tahu kalimat itu bukan kartu ucapan. Kalimat itu adalah seluruh isi kotak ini. Lima tahun undangan dan nota apotek, dan aturan bernomor untuk berhenti, dan pulpen biru di bawah garis penggaris. Semuanya berarti satu hal: dia tidak pernah meminta lebih dari senyumku, karena dia tidak pernah percaya dia boleh meminta lebih.
“Itu nggak cukup,” kataku.
Dia mengerjap.
“Itu nggak cukup!” Suaraku naik. Aku berdiri, kursi bergeser keras di lantai. “Buat kamu mungkin cukup. Buat aku itu nggak cukup! Kamu ngerti nggak? Lima tahun kamu ngasih, dan aku bahkan nggak tahu kamu ada. Aku terima obat maag dari tamu. Aku pakai sandal dari tamu. Aku makan malam yang kamu masak dan aku bikin neraca, dan aku pikir aku berutang tiga puluh tiga. Tiga puluh tiga!” Aku tertawa, dan tawa itu terdengar mengerikan. “Aku nggak tahu utangnya lima tahun!”
“Len, kamu nggak berutang apa—”
“Bukan itu!” Aku menekan kedua tangan ke dada. “Bukan soal utang! Ini soal kamu yang nggak pernah biarin aku milih! Kamu ambil keputusan sendiri. Kamu putusin aku nggak boleh tahu. Kamu putusin kalau aku bahagia sama orang lain, kamu berhenti. Kamu putusin cinta yang diminta itu nggak berharga. Kamu putusin semuanya, sendirian, dan kamu nggak pernah tanya aku!”
Dia berdiri juga. Wajahnya pucat.
“Waktu kamu bilang aku rumah,” kataku, dan suaraku turun, pecah, nyaris berbisik. “Di malam aku pulang jam satu. Kamu bilang, buat aku, kamu itu rumah. Aku pikir kamu bilang itu karena aku bikin rumah ini terasa hidup. Aku pikir itu kalimat manis buat orang yang lagi capek.”
Air mata turun tanpa bisa kuhentikan.
“Tapi bukan itu artinya, kan? Artinya selama lima tahun, kamu nggak punya tempat pulang selain aku. Kamu pulang ke aku setiap acara keluarga, dari seberang ruangan. Kamu pulang ke aku lewat obat maag dan sandal dan kertas di balik undangan. Kamu tinggal di aku, lima tahun, dan aku bahkan nggak tahu ada orang yang tinggal di situ.”
Dia tidak bergerak. Tangannya mengepal di sisi badannya, buku-buku jarinya memutih.
“Dan kamu sudah nyiapin aturan buat pindah,” bisikku. “Kamu sudah nyiapin aturan buat ninggalin rumah kamu sendiri. Bernomor. Pakai penggaris.”
Aku tidak bisa berdiri lagi. Aku tidak bisa duduk. Aku melangkah memutari meja makan dan memukul dadanya dengan kepalan tanganku. Pelan. Tidak berarti apa-apa. Pukulan yang tidak bisa menyakiti siapa pun kecuali aku sendiri.
“Kenapa kamu biarin aku jadi orang yang cuma nerima?” Aku memukul lagi. “Kenapa kamu biarin aku nggak tahu? Kenapa kamu biarin aku tanda tangan Pasal 7 di depan orang yang sudah lima tahun—”
Kalimatku tidak selesai. Suaraku habis.
Dia tidak menangkis tanganku. Dia tidak memelukku. Dia hanya berdiri di sana, menerima setiap pukulan kecil itu di dadanya, dengan wajah yang terlihat seperti seseorang yang baru saja menyadari bahwa semua yang dia lakukan untuk melindungiku ternyata melukaiku dengan cara yang tidak pernah dia hitung.
Tanganku berhenti di dadanya. Kepalan itu terbuka, telapak tanganku menempel di kemejanya, di tempat jantungnya berdetak keras dan cepat.
Aku menunduk. Dahiku jatuh ke dadanya.
Dan di sana, di ruang makan rumah kami, di bawah cahaya lampu yang sudah menunggu terlalu banyak malam, dengan kotak sepatu terbuka di meja dan aturan untuk berhenti tergeletak di antara kami, aku menangis sampai tidak ada lagi suara yang tersisa.
Dia tidak berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, laki-laki yang selalu punya kalimat datar untuk setiap situasi tidak punya satu kata pun.
- 1 Satu Lampu yang Belum Padam
- 2 Suami yang Terlalu Siap
- 3 Aku Nggak Minta Dilayani
- 4 Sisi Luar Trotoar
- 5 Rumah Kamu
- 6 Sarapan yang Kutunggu
- 7 Dua Jam di Bahuku
- 8 Pesan Tanpa Alasan
- 9 Kemeja Biru Tua
- 10 Senyummu Sudah Cukup
- 11 Kursi Kosong di Sebelahku
- 12 Suara Pagi Seorang Suami
- 13 Cemburu yang Nggak Punya Hak
- 14 Buat Aku, Kamu Itu Rumah
- 15 Jangan Terlalu Baik Sama Aku
- 16 Ciuman yang Nggak Bisa Dibuang
- 17 Aku Sudah Mencintainya Sebelum Cincin Ini
- 18 Istri yang Sedang Menggoda
- 19 Kalau Mau, Bilang
- 20 Selfie untuk Suamiku
- 21 Rumah Kita
- 22 Aku Lagi Pengin Dicium
- 23 Yang Juga Ingin Dipilih
- 24 Bukan Karena Berutang
- 25 Kotak yang Tidak Romantis
- 26 Kalau Dia Menikah, Berhenti
- 27 Kenapa Kamu Nggak Pernah Minta Aku? reading
- 28 Terlambat Bukan Berarti Sedikit
- 29 Operasi Mencintai Aries
- 30 Sarapan untuk Orang yang Selalu Memberi
- 31 Segelas Air di Samping Tempat Tidur
- 32 Aku Memilih Kamu
- 33 Belajar Meminta
- 34 Amandemen Pasal Tiga
- 35 Pagi yang Tidak Perlu Dijelaskan
- 36 Bulan Madu yang Kami Lewatkan
- 37 Suami yang Mulai Manja
- 38 Mama Bingung, Mama Nangis
- 39 Lampu yang Menunggu Suamiku
- 40 Pulang
- 41 Epilog: Pasal Tujuh