Chapter Eight
Tanda Tangan
POV: Yoga
Setiap orang punya tulisan tangan.
Ini hal pertama yang diajarkan ayahku, jauh sebelum aku tahu apa itu sistem atau keamanan atau internet. Umurku tujuh tahun, duduk di bangku plastik di Broto Cell, menonton ayahku membongkar HP pelanggan dengan obeng sebesar tusuk gigi.
“Lihat ini,” katanya, menunjuk bekas solderan di papan sirkuit. “Ini bukan kerjaan pabrik. Ini kerjaan tukang servis. Rapi, tapi timahnya kebanyakan. Bapak kenal ini. Ini kerjaan Koh Liong, pasar sebelah. Dia selalu kebanyakan timah.”
“Bapak bisa tahu cuma dari timah?”
“Semua tukang punya kebiasaan, Yog. Kayak tulisan tangan. Orang bisa niru bentuknya, tapi nggak bisa niru kebiasaannya.” Dia menyolder kembali dengan timah yang pas, tidak kurang, tidak lebih. “Nanti kamu juga punya. Semua orang yang bikin sesuatu pasti ninggalin tanda tangan.”
Aku tidak mengerti waktu itu.
Dua puluh empat tahun kemudian, duduk di lantai kamar kos pukul dua pagi, aku akhirnya mengerti.
Aku sudah tahu sejak hari pertama di Dapur Angel bahwa ada yang familiar dari benda yang mengunci sistem Angelica. Aku sudah menyebutnya di kepala sebagai “gaya”. Tapi gaya itu kabur, seperti wajah orang yang kamu lihat sekilas di keramaian dan kamu tidak yakin itu benar-benar teman lamamu atau hanya orang yang mirip.
Malam ini aku memutuskan untuk berhenti menebak.
Aku membuka dua hal berdampingan di layar.
Di kiri: salinan benda yang mengunci Dapur Angel, yang sudah kuisolasi dan kujinakkan, tidak lebih berbahaya dari bangkai ular di toples kaca.
Di kanan: catatan-catatanku sendiri dari dua tahun lalu. Catatan yang kutulis dalam tiga hari terakhir sebelum aku dipanggil ke ruang rapat lantai 31 dan disodori surat pemberhentian. Catatan tentang jejak yang ditinggalkan siapa pun yang masuk ke sistem Bank Nusa Raya malam itu.
Aku tidak pernah menyerahkan catatan ini ke penyidik. Tidak ada yang bertanya. Saat semua orang sudah memutuskan siapa yang bersalah, tidak ada yang tertarik pada catatan dari orang yang sudah diputuskan bersalah itu.
Aku membaca keduanya bergantian. Pelan. Seperti ayahku membaca timah solderan.
Lalu aku menemukannya.
Bukan di bagian yang rumit. Orang selalu mengira tanda tangan tersembunyi di bagian paling canggih. Tidak. Tanda tangan selalu ada di bagian yang paling membosankan. Di bagian yang dikerjakan tanpa berpikir, karena di situlah kebiasaan bekerja.
Di dua tempat yang berbeda, dari dua kejadian yang terpisah dua tahun, penulisnya meninggalkan hal yang sama: sebuah label kecil yang tidak punya fungsi apa pun. Tidak memengaruhi apa pun. Hanya ada di sana, terselip di antara ribuan baris, seperti inisial yang diukir anak sekolah di bawah meja.
Satu kata.
jejak
Huruf kecil semua.
Aku menatap kata itu lama sekali.
Di kanan, di catatanku dua tahun lalu, aku sudah menandai kata yang sama dengan stabilo kuning. Di sampingnya, dengan tulisan tanganku yang miring karena terburu-buru, ada catatan: siapa? orang dalam? cek siapa yang punya akses malam itu.
Aku tidak pernah sempat mengeceknya. Dua hari setelah aku menulis catatan itu, aku sudah tidak punya akses ke mana pun.
Dan sekarang kata itu muncul lagi. Dua tahun kemudian. Di dapur katering kecil di gang sempit, di komputer kasir milik perempuan yang datanya ikut bocor malam itu.
Bukan kebetulan. Aku sudah terlalu lama di dunia ini untuk percaya kebetulan.
Orang yang membobol bank dua tahun lalu masih ada di luar sana. Masih bekerja. Masih meninggalkan tanda tangan yang sama karena dia tidak pernah tertangkap, jadi dia tidak pernah merasa perlu mengubah kebiasaannya.
Dan dia baru saja menyentuh orang yang—
Aku berhenti sebelum menyelesaikan kalimat itu di kepala.
Orang yang apa?
Orang yang memberiku makan siang. Orang yang menempel sticky note kata sandi di monitor. Orang yang menangis di balik tripleks dan berpikir tidak ada yang dengar.
Aku menutup laptop dengan pelan.
Dalam gelap, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku memberi musuhku nama.
Jejak.
“Mas Yoga kenapa kantung matanya kayak panda?”
Lila duduk di seberangku keesokan sorenya, masih berseragam, menyedot es teh dengan suara yang tidak perlu senyaring itu. Dia sudah mengambil kebiasaan baru dalam seminggu terakhir: duduk di meja pojokku setiap pulang sekolah, mengintip layar laptopku, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang setengahnya cerdas dan setengahnya hanya untuk membuatku kesal.
“Kurang tidur.”
“Mas begadang ngapain? Nge-hack?”
“Nonton drakor.”
Lila menatapku lama, lalu menyipit. “Mas bohong.”
“Kok tahu?”
“Karena orang yang nonton drakor matanya bengkak. Mata Mas nggak bengkak. Mata Mas merah. Itu matanya orang yang ngeliatin layar terang di kamar gelap.” Dia menunjuk dengan sedotan. “Aku juga gitu kalau begadang ngerjain capture the flag.”
Aku menatapnya dengan rasa hormat yang baru.
“Kamu tahu capture the flag?”
“Ya iyalah. Aku ikut klub di sekolah. Kami latihan pakai soal-soal tahun lalu.” Dia menghela napas dramatis. “Tapi pembinanya guru Fisika yang ngajarin dari YouTube. Kami udah kalah tiga kali di tingkat kota.”
“Kenapa nggak minta ajarin orang yang ngerti?”
“Siapa? rising?” Dia tertawa sinis. “rising udah ngilang, Mas. Lagian kalaupun dia ada, mana mau dia ngajarin anak SMA di kota kecil kayak gini. Orang selevel rising tuh ngajarnya di konferensi internasional, bukan di klub SMA yang komputernya masih Windows 7.”
Dari balik meja kasir, Angelica berhenti menghitung uang.
Aku tidak menoleh ke arahnya. Tapi aku merasakan tatapannya di sisi wajahku, seperti sinar matahari jam tiga yang jatuh dari celah kardus. Hangat dan tidak bisa dihindari.
Sejak tiga hari lalu, ada sesuatu di cara Angelica menatapku saat Lila menyebut nama itu. Sesuatu yang hati-hati. Seperti orang yang menyimpan rahasia milik orang lain dan berusaha keras untuk tidak menjatuhkannya.
Aku tidak tahu apa yang dia tahu. Aku tidak berani bertanya.
“Kalau ada yang mau ngajarin,” kataku pada Lila, pelan, “orang biasa aja, bukan rising. Kamu mau?”
Lila berhenti menyedot es tehnya. “Siapa?”
“Nggak tahu. Seseorang.”
“Mas?”
Aku tidak menjawab.
Lila menatapku dari ujung rambut sampai sandal jepit, dengan sinisme khas remaja tujuh belas tahun yang sudah kecewa terlalu sering.
“Mas tuh bisa benerin sistem Kakak,” katanya lambat-lambat, “dan bisa ngelacak duit arisan Bu Sukesih. Oke. Aku akuin itu keren. Tapi capture the flag itu beda, Mas. Itu kayak olimpiade. Mas pasti nggak ngerti.”
Di balik meja kasir, aku mendengar Angelica tersedak. Atau tertawa. Atau keduanya. Dia segera berpura-pura batuk.
“Mungkin,” kataku. “Mungkin aku nggak ngerti.”
“Tapi boleh deh dicoba,” kata Lila, dengan nada seperti ratu yang memberi izin pada rakyat jelata. “Sabtu, di teras. Kalau Mas nggak bisa, nggak apa-apa. Aku nggak bakal ngetawain.” Jeda. “Banyak.”
Dia berdiri, mengambil tasnya, dan pergi ke dalam rumah sambil bersenandung.
Aku menatap punggungnya. Lalu, akhirnya, aku menoleh ke arah meja kasir.
Angelica sedang menatapku. Tidak berpura-pura menghitung uang lagi. Matanya—mata yang di hari pertama menatapku seperti mengukur lubang kubur—sekarang menatapku dengan sesuatu yang tidak bisa kubaca.
Bukan kasihan. Aku kenal kasihan, dan ini bukan kasihan.
Ini lebih seperti seseorang yang berdiri di pinggir lapangan, menonton pertandingan yang hasilnya sudah ia ketahui, dan menahan diri untuk tidak bersorak terlalu cepat.
“Apa?” tanyaku.
“Nggak,” katanya. Tapi sudut bibirnya bergerak. “Cuma. Sabtu, ya?”
“Sabtu.”
“Aku bikinin camilan.”
“Buat Lila?”
“Buat murid-murid.” Dia kembali menghitung uang. “Kalau gurunya nggak ngerti capture the flag, setidaknya muridnya kenyang.”
Aku menatapnya. Dia tidak menatapku balik. Tapi telinganya merah lagi.
Dan aku—untuk alasan yang tidak berani kujelaskan pada diriku sendiri—merasakan sesuatu yang belum kurasakan sejak lama. Bukan bahagia. Belum. Itu terlalu besar.
Tapi sesuatu yang dekat dengan itu. Sesuatu yang kecil dan hangat, yang muncul di tengah dada, di tempat yang biasanya hanya diisi oleh paku-paku bekas di papan gabus kosong.
Malam itu, sebelum tidur, aku membuka laptop sekali lagi.
Bukan untuk Jejak. Jejak bisa menunggu satu malam.
Aku membuka folder yang namanya sudah kutatap berkali-kali selama seminggu ini tanpa pernah berani kusentuh.
Laporan 14 Maret.
Aku membukanya. Pertama kali dalam dua tahun.
Isinya masih sama. Satu email. Beberapa lampiran. Tanggal dan jam pengiriman. Nama penerima. Balasan pendek dari penerima itu, yang dulu kubaca berulang-ulang sampai aku hafal setiap tanda bacanya.
Aku tidak membaca ulang. Aku hanya memastikan semuanya masih di sana.
Lalu aku menyalin folder itu ke tempat lain—ke tempat yang aman, yang hanya aku yang tahu—karena untuk pertama kalinya, aku mulai berpikir bahwa mungkin suatu hari nanti, folder ini perlu dibuka di depan orang lain.
Bukan sekarang.
Tapi suatu hari.
Saat Jejak sudah punya wajah. Saat aku bisa membuktikan semuanya tanpa harus menyeret orang yang tidak bersalah ke dalam lubang yang sama.
Aku menutup laptop.
Aku lupa menutup foldernya terlebih dulu.
Itu, ternyata, adalah kesalahan kecil yang akan mengubah segalanya.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan reading
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.