← Rising.

Chapter Twenty Eight

Rising di Depan Rising

POV: Yoga


Artikel Nadia tidak hanya dibaca orang-orang baik.

Seminggu setelah terbit, versi lain mulai beredar. Potongan-potongan artikel itu diambil, judulnya diganti, lalu disebar di grup-grup dan akun-akun gosip dengan kalimat yang berbeda. Mantan Dalang Kebocoran Data Kini Bersembunyi di Balik Katering, Cari Simpati? Pencitraan Murahan. Kalau dia nggak salah, kenapa dua tahun diam?

Pertanyaan terakhir itu yang paling sering muncul. Dan pertanyaan itu yang paling sulit kujawab, karena aku tidak bisa menjawabnya tanpa membuka folder bernama tanggal.

Aku tidak membaca semuanya. Angelica membaca semuanya. Aku tahu, karena setiap pagi saat aku datang makan siang dua menit lebih awal, matanya sedikit lebih merah dari kemarin.

“Jangan dibaca,” kataku suatu siang.

“Aku nggak baca.”

“Matamu merah.”

“Aku ngiris bawang.”

“Ini jam sebelas lima puluh delapan. Bu Endang udah selesai ngiris bawang dari subuh.”

Dia menatapku dengan kesal. Lalu, tanpa peringatan, dia menyandarkan dahinya di bahuku sebentar—tiga detik, mungkin empat—lalu berdiri tegak lagi dan kembali ke dapur seolah tidak terjadi apa-apa.

Bu Endang, di kompor, tersenyum ke arah wajan.


Yang tidak kusangka, artikel-artikel itu sampai ke sekolah Lila.

Aku tahu karena Lila pulang suatu sore dengan seragam kotor di bagian lutut dan siku, wajah merah, rambut acak-acakan, dan buku-buku yang ia peluk erat-erat seperti perisai.

Dia langsung ke meja pojokku. Membanting bukunya.

“Mas,” katanya. “Ajarin aku sesuatu.”

“Kamu kenapa?”

“Bukan urusan Mas. Ajarin aku sesuatu.”

Angelica keluar dari dapur, melihat seragam adiknya, dan wajahnya langsung berubah. “Lila. Kamu berantem?”

“Nggak.”

“Lututmu berdarah.”

“Jatuh.”

“Lila Wiradinata—”

“Rendi bilang Mas Yoga penjahat!” Lila meledak. “Dia bawa artikel yang judulnya diganti itu! Dia bacain keras-keras di kelas! Dia bilang Kakak pacaran sama penjahat! Dia bilang kelas teras itu cuma pencitraan buat nutupin dosa!” Napasnya tersengal. “Terus aku dorong dia. Terus dia dorong balik. Terus aku jatuh.”

Dapur hening.

Aku menatap Lila. Gadis tujuh belas tahun yang tiga bulan lalu menyebut kelasku penyuluhan ibu-ibu PKK. Yang sekarang berdiri di depanku dengan lutut berdarah karena membelaku.

“Lila,” kataku pelan. “Kamu nggak perlu ngelakuin itu.”

“Perlu!” Matanya berkaca-kaca. “Mas nggak tahu rasanya. Semua orang di kelas ngeliatin aku kayak aku kena penyakit. Padahal mereka nggak tahu apa-apa. Mereka nggak tahu Mas ngajarin Putri nyelametin Bu Narti. Mereka nggak tahu Mas bersihin pinjol Kakak diem-diem. Mereka nggak tahu apa-apa dan mereka ngomong seenaknya!”

Angelica sudah berlutut di depan adiknya, membersihkan luka di lututnya dengan kapas dan obat merah dari kotak P3K dapur. Lila mendesis kesakitan tapi tidak menarik kakinya.

“Kalau rising ada,” kata Lila tiba-tiba, suaranya pecah, “rising nggak bakal diem kayak gini.”

Aku membeku.

Angelica, yang sedang menempelkan plester di lutut Lila, berhenti. Tangannya tertahan di udara.

“rising pasti udah nyari siapa yang sebenernya bikin bocor,” lanjut Lila, menghapus matanya dengan kasar. “rising pasti udah nemuin dia, terus ngasih semua buktinya ke polisi, kayak dulu dia ngebongkar sindikat penipuan itu. rising nggak bakal ngebiarin orang baik dicap penjahat dua tahun.” Dia menatapku, dan di matanya ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari marah. Kecewa. Kecewa yang polos, yang jujur, yang tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ia katakan. “Kenapa Mas nggak kayak rising? Kenapa Mas diem aja?”


Aku tidak bisa menjawab.

Aku duduk di meja pojok dapur katering, di depan gadis tujuh belas tahun dengan lutut berplester, dan aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang paling sederhana di dunia.

Karena jawabannya adalah: aku rising. Rising yang dia idolakan sejak umur dua belas. Rising yang menurutnya sedang bersembunyi di biara di pegunungan Tibet dengan laptop bertenaga surya. Rising yang dia yakini tidak akan pernah diam.

Rising sudah diam dua tahun. Rising duduk di depannya sekarang. Dan rising tidak bisa melakukan apa pun untuk membela dirinya sendiri tanpa menghancurkan orang lain.

Aku merasakan Angelica menatapku. Aku tidak berani membalas tatapannya.

“Mungkin,” kataku akhirnya, suaraku keluar lebih serak dari yang kuinginkan, “rising juga punya alasan buat diem.”

“Alasan apa?”

“Nggak tahu.” Aku menatap tanganku. “Mungkin dia lagi ngelindungin seseorang.”

Lila menatapku lama. Dahinya berkerut.

“Itu bego,” katanya akhirnya. “Kalau dia ngelindungin seseorang dengan diem, terus dia sendiri yang dicap penjahat, terus orang-orang yang sayang sama dia ikut dihina, itu namanya bukan ngelindungin.” Dia mengusap hidung dengan lengan seragam. “Itu namanya nyusahin semua orang.”

Angelica tersedak. Bukan tertawa. Sesuatu di antara tawa dan tangis.

Aku menutup mata.

Lila, tanpa tahu apa yang baru saja ia katakan, mengambil bukunya, dan berjalan ke dalam rumah dengan langkah pincang.

Di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh.

“Mas.”

“Ya?”

“Aku tetep belain Mas besok. Kalau Rendi ngomong lagi.” Dia menggigit bibir. “Tapi Mas jangan diem terus. Aku capek jatuh.”

Dia pergi.


Angelica tidak berkata apa pun untuk waktu yang lama.

Dia membereskan kotak P3K. Menutup botol obat merah. Membuang kapas kotor ke tempat sampah. Lalu dia duduk di kursi di seberangku dan menatapku.

“Kamu mau aku bilang ke dia?” tanyanya pelan.

“Jangan.”

“Yoga—”

“Belum waktunya.” Aku menatap pintu tempat Lila tadi menghilang. “Kalau dia tahu sekarang, dia bakal cerita ke semua orang. Dia nggak bakal bisa nahan. Dan kalau dunia tahu rising itu aku, itu bukan bukti aku nggak salah. Itu cuma bikin ceritanya makin rame. Hacker legendaris jadi dalang kebocoran. Itu judul yang lebih bagus buat mereka.”

Angelica menatapku dengan mata yang basah.

“Dia benar,” katanya. “Lila. Soal itu namanya nyusahin semua orang.”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu tetep diem.”

“Aku nggak diem.” Aku menatapnya. “Aku cuma belum bisa ngomong. Itu beda.”

“Bedanya apa?”

Aku diam lama.

“Diem itu pilihan,” kataku. “Belum bisa ngomong itu—” Aku mencari kata. “Itu nunggu. Nunggu sampai aku punya cara buat ngebuka semuanya tanpa ada yang ikut tenggelam. Sheren. Kamu. Lila. Bapak.”

Angelica mengulurkan tangan melintasi meja. Menggenggam tanganku.

“Kalau kamu nunggu sampai nggak ada yang basah sama sekali,” katanya, “kamu bakal nunggu selamanya.”

Aku menatap tangannya di atas tanganku.

“Kalau gitu,” kataku pelan, “bantu aku nyari cara yang basahnya paling sedikit.”

Dia menatapku lama. Lalu, pelan, dia tersenyum. Senyum yang lelah, yang basah, tapi senyum.

“Itu pertama kalinya kamu minta tolong,” katanya.

Aku berkedip. Dia benar.

“Tandai tanggalnya,” kataku.

“Udah.” Dia mengeluarkan HP-nya, membuka catatan Proyek, dan mengetik sesuatu. Lalu memutar layarnya ke arahku.

7. Dia minta tolong. ✓

Aku tertawa. Tawa pendek, kaget, yang membuat Bu Endang menoleh dari kompor.

Dan di kamarnya di dalam rumah, aku mendengar Lila berteriak ke HP-nya, ke seseorang di seberang sana, dengan suara yang masih serak oleh tangis:

“Pokoknya rising itu ada! Dan kalau dia balik, dia bakal bikin Rendi minta maaf ke Mas Yoga!”

Angelica menatapku.

Aku menatap meja.

Dan kami berdua diam, karena tidak ada yang bisa dikatakan tentang ironi sebesar itu, selain menunggu hari ketika gadis tujuh belas tahun itu akhirnya tahu.