Chapter Seven
Debt Collector
POV: Yoga
Teleponnya berdering pukul sepuluh lewat dua belas, saat Angelica sedang menata nasi kotak untuk pesanan kantor kelurahan.
Aku tahu jamnya karena aku sedang melihat jam. Kebiasaan lama: setiap kali ada sesuatu yang membuat ruangan berubah, aku mencatat waktunya di kepala. Dan ruangan itu berubah.
Bukan karena deringnya. Dering HP di dapur yang sibuk adalah hal biasa. Tapi karena wajah Angelica, saat dia melirik layarnya.
Wajah itu kehilangan warna. Tidak sekaligus. Pelan, dari dahi turun ke dagu, seperti orang menurunkan tirai.
Dia menolak panggilan itu. Menaruh HP-nya telungkup di meja. Melanjutkan menata nasi kotak.
Tangannya gemetar. Sendok nasinya berbunyi pelan membentur pinggiran wadah, tik, tik, tik, tidak teratur.
HP-nya berdering lagi.
Dia menolaknya lagi.
Berdering lagi.
“Neng,” kata Bu Endang dari kompor, suaranya hati-hati, “angkat aja. Biar Ibu yang ngomong.”
“Nggak usah, Bu.”
“Neng—”
“Nggak usah.” Suaranya tajam, lalu segera melunak, seolah menyesal. “Maaf, Bu. Nggak apa-apa. Biasa.”
Biasa.
Aku melihat Tole dan Bu Endang bertukar pandang. Pandangan orang-orang yang sudah terlalu sering menyaksikan sesuatu dan sudah belajar bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan.
HP itu berhenti berdering. Lalu, setelah jeda yang terasa disengaja, layarnya menyala dengan notifikasi pesan.
Angelica tidak membukanya. Tapi dari tempatku duduk, aku bisa membaca baris pertamanya di layar kunci yang menghadap atas, karena saat dia menaruh HP telungkup tadi, HP itu tergelincir dan berbalik.
Ibu Angelica Wiradinata, tunggakan Anda sudah 94 hari. Kalau hari ini tidak dibayar, kami datang ke alamat usaha dan kami sebarkan ke seluruh kontak—
Sisa kalimatnya terpotong.
Aku tidak perlu membaca sisanya. Aku sudah tahu bagaimana kalimat seperti itu berakhir.
Siang itu aku tidak langsung pulang setelah makan.
Aku duduk di meja pojok dengan laptop terbuka, pura-pura bekerja. Sebenarnya aku memperhatikan. Memperhatikan adalah satu-satunya hal yang tidak pernah berhenti kulakukan, bahkan dua tahun terakhir. Aku memperhatikan lampu lorong, segitiga cahaya, langkah Bu Narti. Sekarang aku memperhatikan perempuan yang menolak tujuh panggilan dalam satu jam dan masih tersenyum pada setiap kurir yang mengambil pesanan.
Pukul dua, HP Tole berbunyi. Dia membaca, lalu wajahnya berubah. Dia menyembunyikan HP-nya di belakang punggung, seolah itu bisa membuat isinya hilang.
“Tole,” kataku.
“Ya, Mas?”
“Tunjukin.”
Dia ragu. Melirik ke arah Angelica yang sedang di depan, bicara dengan pelanggan. Lalu dia mendekat dan menyerahkan HP-nya padaku dengan wajah bersalah, seperti anak kecil yang tahu dia membawa kabar yang tidak seharusnya dia bawa.
Grup WhatsApp. Warga Kompleks Melati Asri. Dua ratus tiga puluh anggota.
Sebuah gambar baru saja dikirim oleh nomor tidak dikenal. Foto Angelica—foto dari profil media sosial usahanya, dia tersenyum di depan papan nama Dapur Angel—dengan stempel merah besar di atasnya.
PENIPU. TIDAK BAYAR UTANG. HATI-HATI BERTRANSAKSI.
Di bawahnya, nomor HP Angelica. Alamat dapurnya.
Di bawahnya lagi, balasan-balasan mulai muncul.
Lho, ini Dapur Angel yang di gang Mawar kan?
Pantesan murah.
Saya baru langganan bulan lalu, aman nggak ya?
Aku mengembalikan HP itu ke Tole. Tanganku tenang. Suaraku tenang.
“Ini sering?”
Tole mengangguk pelan. “Dulu tiap minggu, Mas. Udah agak jarang sih, sebulan sekali. Tapi tiap kali dikirim, ada aja pelanggan yang berhenti.” Dia menunduk. “Kak Angel nggak pernah ngomong apa-apa. Tapi kami tahu.”
“Tahu apa?”
“Tahu dia nangis di gudang beras.” Tole menggaruk tengkuknya. “Dia kira kami nggak denger. Gudangnya kan cuma ditutup tripleks.”
Aku tidak menjawab.
Tole kembali ke motornya, dan aku tetap duduk di meja pojok dengan laptop yang layarnya sudah lama menampilkan halaman kosong.
Gudang beras.
Tripleks.
Dan seseorang yang menangis di baliknya, berpikir tidak ada yang dengar.
Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun tentang dua tahun terakhir.
Bukan rasa malu yang paling berat. Bukan juga kehilangan pekerjaan, atau nama di berita, atau tunangan yang pergi. Semua itu berat, tapi itu beratnya punyaku sendiri, dan aku bisa memikulnya karena aku yang memilih memikulnya.
Yang paling berat adalah angka.
Tiga puluh juta.
Tiga puluh juta orang yang datanya keluar dari sistem yang dulu aku jaga. Aku tidak membocorkannya. Aku tahu itu, dan ada setidaknya satu folder di laptopku yang membuktikannya. Tapi aku yang memegang kuncinya. Aku yang berdiri di gerbang. Dan gerbang itu jebol saat aku yang jaga.
Tiga puluh juta itu, selama dua tahun, hanya angka. Angka besar dan abstrak yang bisa kubayangkan sebagai titik-titik di layar, sebagai baris-baris di laporan. Aku bisa merasa bersalah pada angka itu dengan cara yang tumpul, cara yang tidak mengiris.
Hari ini, angka itu punya wajah.
Wajahnya tersenyum di depan papan nama Dapur Angel, dengan stempel merah PENIPU di atasnya.
Aku menutup laptop. Aku keluar lewat pintu belakang dapur, ke gang sempit tempat tong-tong sampah berjajar, dan berdiri di sana lama sekali, menatap dinding.
Aku tidak menangis. Aku sudah lama lupa caranya.
Tapi aku berdiri di sana cukup lama sampai Bu Endang keluar untuk membuang sampah dan menemukanku.
Beliau tidak bertanya. Beliau hanya membuang sampahnya, lalu berdiri di sampingku sebentar, lalu menepuk lenganku dua kali—tepukan seorang ibu, pendek, tidak sentimental—dan kembali ke dalam.
Di ambang pintu, beliau berhenti.
“Mas Yoga,” katanya, tidak menoleh. “Neng Angel itu kuat. Tapi kuat bukan berarti nggak capek.”
Lalu beliau masuk.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku duduk di lantai kamar kos dengan laptop di pangkuan dan mulai melakukan hal yang sudah dua tahun tidak kulakukan: aku mulai menyusun.
Bukan menyerang. Bukan membalas. Bukan apa pun yang akan membuat orang-orang di grup WA itu tiba-tiba diam karena takut. Orang mengira hal-hal seperti ini diselesaikan dengan kekuatan. Tidak. Hal-hal seperti ini diselesaikan dengan kertas. Dengan bukti yang tersusun begitu rapi sampai tidak ada orang di ruangan mana pun yang bisa mengabaikannya.
Aku mulai dari nama-nama. Dua puluh tiga aplikasi pinjaman yang menagih Angelica—aku mencatat namanya satu per satu dari ingatan Tole, dari layar kunci yang kulihat tadi siang, dari keterangan Bu Endang. Aku mencatat mana yang punya izin resmi dan mana yang tidak. Sebagian besar tidak. Itu tidak mengejutkan. Yang punya izin pun punya aturan yang mereka langgar setiap kali mengirim foto dengan stempel PENIPU ke grup warga.
Lalu aku mencatat tanggal. Kapan tagihan pertama datang. Dan saat aku melihat tanggal itu, aku berhenti.
Tagihan pertama ke Angelica datang tujuh minggu setelah kebocoran.
Tujuh minggu. Cukup waktu bagi seseorang untuk mengambil data yang bocor, memilah, menjualnya ke orang lain, yang kemudian memakainya untuk mendaftar pinjaman atas nama orang-orang yang tidak tahu apa-apa.
Data Angelica keluar dari sistem yang dulu kujaga.
Aku sudah tahu itu sejak hari pertama dia berdiri di depan pintuku dan mengatakannya. Tapi mengetahuinya dengan kepala dan melihatnya dalam garis waktu yang kususun sendiri, dengan tanggal-tanggal yang berurutan seperti anak tangga turun ke ruang bawah tanah, adalah dua hal yang berbeda.
Aku menatap layar sampai matanya perih.
Lalu aku melanjutkan.
Karena hal yang tidak bisa kuperbaiki adalah masa lalu. Tapi hal yang bisa kuperbaiki—sedikit, satu per satu, dengan jalur yang benar dan surat yang tidak bisa ditolak—adalah bagaimana masa lalu itu terus menghantui satu orang yang, ironisnya, masih memberiku makan siang setiap hari.
Aku tidak akan memberitahunya.
Aku tahu persis bagaimana dia akan bereaksi. Dia akan merasa dikasihani. Atau lebih buruk, dia akan merasa berutang, dan dia akan mencoba membayarnya, dan semuanya akan jadi transaksi lagi. Dan aku tidak mau ini jadi transaksi.
Aku hanya mau, suatu hari nanti, HP-nya berhenti berdering pukul sepuluh lewat dua belas.
Aku mau dia berhenti menangis di balik tripleks.
Itu saja.
Pukul tiga pagi, aku mendengar ketukan di dinding.
Dinding sebelah. Mbak Ratih.
“Mas kamar tujuh,” suaranya serak, menembus tembok yang tipis, “saya baru pulang shift. Mas ngetik apa sih jam segini? Kenceng banget. Kayak ada yang lagi marah sama keyboard.”
“Maaf, Mbak.”
“Mas nulis surat cinta?”
“Bukan.”
“Surat ancaman?”
“...Bukan juga.”
“Terus apa?”
Aku menatap layar. Dokumen yang setengah jadi. Garis waktu. Nama-nama. Nomor-nomor pengaduan resmi yang akan kutelepon besok pagi, satu per satu.
“Surat permintaan maaf,” kataku. “Yang panjang.”
Hening di balik dinding.
“Wah,” kata Mbak Ratih akhirnya. “Pasti salahnya gede.”
“Gede banget, Mbak.”
“Ya udah. Tapi ngetiknya pelan-pelan ya. Saya mau tidur.” Jeda. “Semoga dimaafin, Mas.”
Aku mendengar langkahnya menjauh, kasur berderit, lalu sunyi.
Aku menatap dinding itu lama.
Semoga dimaafin.
Lalu aku melanjutkan mengetik. Lebih pelan. Satu huruf demi satu huruf, sampai azan subuh terdengar dari musala ujung gang, dan langit di balik kardus mi instan mulai berubah abu-abu.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector reading
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.