Chapter Twenty
Jejak yang Kuhapus
POV: Angelica
Emailnya datang Senin pagi, ke alamat yang hampir tidak pernah kubuka.
Alamat email lama, yang dibuatkan Lila waktu aku pertama membuka Dapur Angel, yang kupakai untuk mendaftar segala macam hal lalu kulupakan. Isinya biasanya promosi, tagihan listrik yang sudah kubayar lewat aplikasi, dan pemberitahuan dari akun-akun media sosial yang tidak lagi kupakai.
Aku membukanya hanya karena aplikasi bank memintaku memverifikasi sesuatu. Kode verifikasi itu masuk ke alamat lama.
Dan di atasnya, di urutan teratas kotak masuk, ada email yang judulnya membuatku berhenti.
Tanggapan atas Pengaduan Konsumen — a.n. Angelica Wiradinata
Aku membukanya.
Bahasanya resmi, kaku, seperti semua surat dari lembaga. Tapi isinya bisa dibaca bahkan oleh orang yang belum tidur semalaman karena memikirkan seorang laki-laki di gudang beras.
Menindaklanjuti pengaduan Saudari, dengan ini kami sampaikan bahwa penyelenggara yang Saudari laporkan telah diminta menghentikan seluruh aktivitas penagihan, menghapus data pribadi Saudari dari sistem mereka, dan membatalkan seluruh catatan pinjaman atas nama Saudari. Penyelenggara tersebut juga telah dimasukkan dalam daftar entitas yang ditindak.
Aku membaca email itu dua kali.
Aku tidak pernah membuat pengaduan.
Maksudku, aku pernah. Setahun lalu. Satu kali. Lewat telepon, dengan suara gemetar, dan petugasnya bilang aku harus mengirim dokumen-dokumen yang tidak kumengerti, lalu aku kewalahan dengan pesanan katering dan telepon debt collector dan tidak pernah menyelesaikannya.
Aku menggulir ke bawah.
Ada email lain. Dengan judul yang sama. Tanggalnya seminggu sebelumnya.
Dan di bawahnya, satu lagi. Dan satu lagi.
Aku menghitung dengan jari yang mulai gemetar.
Dua puluh satu email. Dua puluh satu tanggapan. Dua puluh satu perusahaan pinjaman yang sudah diperintahkan menghapus namaku, membatalkan tagihan atas namaku, berhenti menelepon, berhenti mengirim fotoku ke grup warga.
Tanggal email paling awal: tujuh minggu lalu.
Tujuh minggu lalu adalah minggu yang sama ketika HP-ku berdering tujuh kali dalam satu jam, dan Tole menunjukkan foto wajahku dengan stempel merah PENIPU di grup WhatsApp kompleks, dan Yoga duduk di meja pojok dapurku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Malam yang sama, Mbak Ratih bilang, Yoga mengetik sampai subuh.
Surat permintaan maaf. Yang panjang. Pasti salahnya gede.
Aku menaruh HP di meja dapur. Lalu aku duduk, karena kakiku tiba-tiba tidak bisa menopang badanku.
“Lila.”
Adikku sedang sarapan di meja seberang, roti bakar di satu tangan, HP di tangan lain. Dia tidak mengangkat kepala.
“Hm?”
“Kamu yang bikin email lama Kakak, kan? Yang ini.” Aku memutar layar HP ke arahnya.
Lila melirik. Lalu berhenti mengunyah.
Lalu, dengan gerakan yang terlalu santai untuk menjadi santai, dia meletakkan rotinya. “Iya. Kenapa?”
“Ada dua puluh satu email tanggapan pengaduan di sini. Atas nama Kakak. Kakak nggak pernah bikin pengaduan.”
Lila menatap rotinya.
“Lila.”
“Aku nggak tahu apa-apa.”
“Lila Wiradinata.”
“Aku janji sama Mas Yoga nggak bakal bilang!” Dia meledak, kedua tangan terangkat seperti tersangka di film. “Dia yang minta! Dia bilang dia butuh foto KTP Kakak sama tanda tangan Kakak buat formulir, dan aku bilang Kakak pasti nggak mau karena Kakak gengsi, dan dia bilang makanya jangan bilang Kakakmu, dan aku bilang itu nggak boleh, harus izin Kakak, dan dia bilang—”
Dia berhenti.
“Dia bilang apa?”
Lila menggigit bibir. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, dan aku sadar bahwa adikku yang sinis dan keras kepala ini sudah menyimpan rahasia ini selama tujuh minggu, dan itu tidak mudah baginya.
“Dia bilang,” kata Lila pelan, “Kakakmu udah setahun nangis di gudang beras. Aku nggak mau dia nunggu satu hari lagi cuma gara-gara gengsi.” Dia menghapus matanya. “Terus aku mikir... ya udah. Aku yang izinin. Atas nama keluarga. Aku yang tanda tangan formulir persetujuannya sebagai saksi. Dan semua surat jawabannya dikirim ke email lama Kakak, soalnya kata Mas Yoga, Kakak pasti nggak buka email itu. Biar Kakak nggak tahu.”
Aku menatap adikku.
Aku seharusnya marah. Mereka memakai data pribadiku tanpa sepengetahuanku. Mereka mengisi formulir atas namaku. Mereka menyembunyikan ini selama tujuh minggu.
Tapi yang kurasakan bukan marah.
“Kenapa dia nggak mau Kakak tahu?” tanyaku. Suaraku nyaris tidak terdengar.
Lila mengangkat bahu, matanya masih basah. “Dia bilang, kalau Kakak tahu, Kakak bakal ngerasa utang. Terus Kakak bakal nyoba bayar. Terus semuanya jadi kayak transaksi.” Dia menatapku. “Dia bilang dia nggak mau jadi transaksi buat Kakak.”
Aku ingat kalimatnya hari itu. Di dapur, dua minggu lalu, saat dua debt collector duduk di kursi plastik di depannya dengan gelas teh yang tidak mereka sentuh.
Rekaman tadi, sama nama perusahaan kalian, sama daftar dua puluh dua perusahaan lain yang nagih dia, saya serahin ke pihak yang berwenang.
Dua puluh dua perusahaan lain.
Waktu itu aku mengira dia hanya menggertak. Mengira dia tahu angka itu dari Tole atau dari Bu Endang. Aku tidak pernah bertanya bagaimana dia tahu jumlahnya persis.
Dua puluh tiga perusahaan. Dua puluh satu sudah dibereskan. Satu yang datang ke dapur hari itu adalah salah satu dari dua yang tersisa. Dan sejak hari itu, mereka tidak pernah datang lagi.
Dia sudah mengerjakan ini selama tujuh minggu. Diam-diam. Malam demi malam, mengetik sampai subuh di kamar kos dengan lampu yang dulu tidak pernah dinyalakan. Menyusun laporan. Mengirim formulir. Menelepon kanal pengaduan satu per satu. Dan tidak pernah sekali pun mengatakan apa-apa padaku.
Sementara aku—aku menghitung hari-hari tanpa telepon pinjol dan mengira itu keberuntungan. Mengira itu kebetulan. Mengira semesta akhirnya memutuskan untuk berhenti menyiksaku.
Itu bukan semesta.
Itu dia.
Aku tidak ingat berjalan ke kos.
Aku hanya ingat berdiri di depan pintu kamar nomor tujuh dengan HP di tangan, napas tersengal, dan kepalan tangan yang sudah terangkat untuk menggedor.
Lalu aku berhenti.
Dulu, di hari pertama, aku menggedor pintu ini dengan marah. Aku menggedornya seperti orang yang datang menagih utang.
Hari ini aku tidak datang menagih. Hari ini aku datang karena aku yang berutang, dan aku baru tahu betapa besarnya.
Jadi aku mengetuk. Pelan. Tiga kali.
Pintunya terbuka hampir seketika. Tidak sejengkal, seperti dulu. Terbuka lebar. Tanpa rantai pengaman.
Yoga berdiri di ambang. Kaus abu-abu, rambut masih basah habis mandi. Di belakangnya, kamarnya terang. Lampunya menyala. Kardus mi instan di jendela sudah tidak ada—diganti gorden tipis berwarna krem yang entah dari mana ia dapatkan. Ada buku catatan bersampul hitam terbuka di meja, di samping laptop.
Dia melihat wajahku. Lalu melihat HP di tanganku.
Dan aku melihat dia mengerti. Langsung. Tanpa perlu aku berkata apa pun.
“Lila,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Jangan salahin Lila.”
“Aku nggak nyalahin Lila.”
“Kenapa?” Suaraku pecah di kata pertama. “Kenapa kamu nggak bilang? Tujuh minggu, Yoga. Tujuh minggu kamu ngerjain ini, dan aku nggak tahu apa-apa. Aku ngira itu kebetulan. Aku ngira aku lagi beruntung.”
“Kamu emang lagi beruntung.”
“Jangan.” Aku melangkah maju, masuk ke kamarnya tanpa diundang. “Jangan bercanda soal ini.”
Dia diam. Dia mundur selangkah, memberi ruang, dan aku berdiri di tengah kamar kos sempit yang dulu gelap dan sekarang terang, menatapnya dengan air mata yang sudah turun tanpa izin.
“Aku nggak mau kamu ngerasa utang,” katanya akhirnya, pelan.
“Aku emang utang.”
“Nggak.” Dia menggeleng. “Datamu bocor waktu aku yang jaga. Ini bukan kebaikan. Ini kewajiban. Aku cuma bersihin yang harusnya nggak pernah kotor.”
“Itu bukan kewajibanmu, Yoga. Kamu udah nggak kerja di bank itu. Kamu dipecat. Kamu dijadiin tumbal.” Aku menghapus pipiku dengan kasar. “Dan kamu masih ngerasa itu tanggung jawabmu buat bersihin satu per satu orang yang kena?”
Dia tidak menjawab.
Dan aku tiba-tiba mengerti sesuatu yang membuat dadaku sesak lebih dari semua email itu.
“Aku bukan satu-satunya, kan?”
Dia menatap lantai.
“Yoga. Aku bukan satu-satunya orang yang kamu bersihin datanya diam-diam.”
Lama. Sangat lama.
“Kamu yang pertama,” katanya akhirnya. “Tapi aku udah bikin daftar.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Laki-laki ini. Laki-laki keras kepala, tidak masuk akal, menyebalkan ini. Dua tahun dia dihukum dunia untuk sesuatu yang bukan salahnya, dan sekarang, begitu dia punya sedikit tenaga untuk berdiri lagi, hal pertama yang dia lakukan adalah membuat daftar orang-orang yang harus dia tolong untuk menebus kesalahan yang bukan miliknya.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.
“Mana HP-mu?”
Dia berkedip. “Kenapa?”
“Mana.”
Dia ragu, lalu mengambil HP butut itu dari meja dan menyerahkannya padaku. HP dengan layar retak di pojok. HP dengan lakban hitam di kamera depan dan belakang, yang sudah menguning di pinggirnya, yang sudah menempel di sana selama dua tahun.
Aku memegang HP itu. Lalu aku menatapnya.
“Boleh?” tanyaku, menyentuh tepi lakban di kamera depan dengan ujung kuku.
Dia menatap HP di tanganku. Lalu menatapku.
Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Takut. Ragu. Dan di bawahnya, sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih lembut.
Dia mengangguk. Sekali. Pelan.
Aku mencopot lakban itu.
Butuh waktu, sama seperti lakban di laptop lamanya. Lemnya sudah mengeras. Tapi aku sabar. Aku mengelupasnya pelan dari satu sudut, lalu sudut lain, sampai akhirnya lepas, meninggalkan bekas lengket di sekitar lensa kecil yang sudah dua tahun tidak melihat apa pun.
Lalu aku membalik HP itu dan mencopot lakban di kamera belakang juga.
Dua bola kecil lakban hitam. Aku menaruhnya di telapak tangannya.
Lalu, sebelum dia sempat berkata apa-apa, aku membuka aplikasi kamera, mengangkat HP itu tinggi, dan berdiri di sampingnya.
“Yoga. Lihat ke kamera.”
“Angelica—”
“Lihat ke kamera.”
Dia menatap layar kecil itu. Menatap wajahnya sendiri di sana, untuk pertama kalinya dalam dua tahun. Menatap wajahku di sampingnya, mata merah, hidung merah, pipi basah, tersenyum seperti orang bodoh.
Dan aku melihatnya. Di layar kecil itu, di detik sebelum aku menekan tombol.
Dia tersenyum.
Bukan senyum tipis yang langsung dimatikan. Bukan sudut bibir yang bergerak sedikit lalu ditarik kembali. Senyum yang sebenarnya, yang mencapai matanya, yang membuat garis-garis halus di sudut matanya terlihat. Senyum orang yang lupa menghentikannya.
Klik.
Aku menurunkan HP. Menatap foto itu. Dua orang di kamar kos yang terang. Satu menangis sambil tersenyum. Satu tersenyum seolah tidak pernah menangis.
Foto pertama kami.
Foto pertama yang dia ambil dengan kamera itu dalam dua tahun.
“Dua,” bisikku.
“Apa?”
“Nggak.” Aku mengembalikan HP-nya. “Ngitung.”
Dia menatap foto di layar lama sekali. Wajahnya sendiri yang tersenyum. Wajahku di sampingnya.
Lalu sesuatu berubah di wajahnya.
Senyum itu tidak hilang, tapi sesuatu di belakangnya bergeser. Seperti awan yang lewat di depan matahari. Aku melihat matanya berkedip cepat. Melihat jarinya mengencang di sekitar HP. Melihat napasnya, yang tiba-tiba tidak teratur, seperti orang yang baru menyadari dia berdiri terlalu dekat dengan tepi jurang.
Dia takut.
Aku tidak tahu takut pada apa. Pada fotonya. Pada senyumnya sendiri. Pada aku.
“Yoga?”
“Nggak apa-apa.” Dia memasukkan HP ke saku. Terlalu cepat. “Makasih.”
Aku ingin bertanya. Aku ingin memegang wajahnya dan menyuruhnya mengatakan apa yang barusan lewat di matanya.
Tapi dia sudah membuka pintu, dengan sopan, dengan lembut, dengan cara yang jelas berarti sudah cukup untuk hari ini.
Aku keluar. Dia menutup pintu di belakangku.
Tidak dikunci. Aku tidak mendengar bunyi rantai pengaman.
Tapi tetap ditutup.
Aku berdiri di lorong kos dengan lampu kuning yang tidak pernah dimatikan Bu Narti, menatap pintu kamar nomor tujuh, dan untuk pertama kalinya sejak aku jatuh cinta padanya, aku merasakan sesuatu yang dingin merayap pelan di tengkukku.
Bukan takut aku akan kehilangan dia.
Takut dia akan memutuskan, sendirian, seperti yang selalu dia lakukan, bahwa aku lebih baik kehilangan dia.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus reading
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.