← Rising.

Chapter Four

Empat Jam

POV: Yoga


Berita menyebar di gang lebih cepat dari ransomware mana pun.

Dalam tiga hari sejak sistem Dapur Angel hidup kembali, aku sudah jadi bahan pembicaraan. Bukan sebagai Yoga Pratama, mantan kepala keamanan siber yang namanya ada di berita—nama itu, untungnya, tidak pernah sampai ke gang ini. Tapi sebagai “Mas yang bisa benerin komputer kena virus”, yang menurut versi Bu Narti sudah berevolusi jadi “Mas yang bisa ngelawan hacker Rusia”, dan menurut versi Tole, yang entah dari mana, jadi “Mas yang dulu kerja di FBI”.

“Aku nggak pernah kerja di FBI, Tole.”

“Tapi kan mirip-mirip.”

“Nggak ada miripnya sama sekali.”

“Mas pernah pakai jas item?”

“...Pernah.”

“Nah.” Tole mengangguk, kasus ditutup.

Aku sudah menyerah mengoreksi. Membetulkan rumor di gang ini seperti menambal ember dengan tisu—kamu tutup satu lubang, tiga lubang baru muncul, dan semuanya bocor ke arah yang lebih absurd.

Bu Narti bahkan sudah mulai memakai reputasi baruku sebagai bahan negosiasi. Kemarin dia menggedor pintuku lagi—kali ini sopan, hanya dua ketukan—dan menawarkan diskon tunggakan sewa “kalau Mas mau benerin TV saya yang nggak bisa YouTube.”

“TV Ibu nggak bisa YouTube karena WiFi-nya belum dibayar, Bu.”

“Nah itu. Mas kan jago internet. Bikinin gratisan.”

“Itu bukan jago internet. Itu namanya nyolong.”

“Ya ampun, idealis banget. Pantes nggak punya duit sewa.” Dan dia pergi, meninggalkanku berdiri di ambang pintu, bingung apakah barusan aku dihina atau dinasihati. Mungkin keduanya. Bu Narti punya bakat langka melakukan keduanya dalam satu kalimat.

Yang tidak kuduga adalah akibatnya.

Siang itu, saat aku datang untuk makan siang jatahku, ada perempuan paruh baya menunggu di depan Dapur Angel. Bukan pelanggan. Dia menggenggam HP seperti orang menggenggam tangan anaknya yang tersesat.

“Mas yang bisa komputer itu?” tanyanya begitu melihatku. Suaranya gemetar. “Tolong, Mas. Duit arisan saya hilang. Satu grup. Dua puluh tiga juta. Katanya di-hack.”


Namanya Bu Sukesih. Bendahara arisan RT sebelah.

Ceritanya seperti ini: kemarin dia mendapat telepon dari “pihak bank”. Suaranya sopan, menyebut namanya dengan benar, tahu empat angka terakhir rekeningnya, bahkan tahu dia bendahara arisan. Si penelepon bilang ada transaksi mencurigakan dan Bu Sukesih harus “memverifikasi” dengan membaca kode yang masuk ke SMS-nya. Bu Sukesih, yang panik dan percaya karena si penelepon tahu begitu banyak tentang dirinya, membacakan kodenya.

Lima menit kemudian, dua puluh tiga juta uang arisan satu RT raib.

“Saya nggak berani pulang, Mas,” katanya, dan matanya basah. “Besok arisannya. Ibu-ibu mau ngambil duitnya. Saya bilang apa? Saya bendahara. Mereka titip percaya ke saya.”

Aku mendengarkan sampai habis. Lalu aku minta duduk, minta segelas air untuknya, dan minta HP-nya.

Angelica muncul dari dapur, melihat situasinya, dan tanpa bertanya langsung mengambil alih bagian yang bukan bagianku—mendudukkan Bu Sukesih, mengusap punggungnya, menyuruh Bu Endang membuatkan teh manis hangat. Dia tidak bertanya “kenapa ke sini”. Dia hanya langsung merawat orang yang ketakutan di depannya, seolah itu refleks. Aku memperhatikan itu lebih lama dari yang kuniatkan.

Lalu aku bekerja.


Orang mengira melacak penipuan seperti ini butuh keajaiban. Tidak. Butuh kesabaran dan pemahaman bahwa penipu, seperti semua orang, malas.

Transfer dua puluh tiga juta itu tidak hilang ke udara. Uang selalu meninggalkan jejak; itu sifat uang. Aku melacak mutasinya: dari rekening Bu Sukesih, uang dipecah ke empat rekening berbeda dalam hitungan detik—otomatis, pakai skrip—lalu dari empat rekening itu dipecah lagi ke dua belas. Klasik. Namanya layering, memecah uang jadi serpihan kecil supaya susah dilacak dan susah dibekukan.

Tapi orang yang menyusun ini membuat satu kesalahan. Kesalahan yang selalu sama. Kesalahan yang membuatku, dulu, bisa tidur nyenyak dengan keyakinan bahwa penjahat pada akhirnya selalu kalah oleh kemalasan mereka sendiri.

Dua belas rekening itu, meski namanya berbeda-beda—nama-nama yang jelas hasil jual beli rekening, nama orang-orang yang mungkin bahkan tidak tahu rekeningnya dipakai—semuanya diakses dari satu perangkat yang sama. Satu HP. Dengan satu sidik digital yang sama: resolusi layar yang sama, versi sistem yang sama, bahkan daftar font yang terpasang persis sama.

Penipu itu malas mengganti HP.

Dan ada satu detail lagi, lebih kecil, yang membuat sudut mataku menyipit. Dari dua belas rekening penampung itu, ada pola waktu. Semua akses terjadi di jam yang sama tiap hari—antara pukul sembilan dan sepuluh malam. Jam orang yang punya pekerjaan tetap dan baru bisa mengurus “bisnis sampingan” setelah pulang kerja. Penipu ini bukan pengangguran yang nekat. Dia karyawan. Punya rutinitas. Punya jam kantor.

Aku menyimpan detail itu di kepala, di laci yang sama tempat aku menyimpan kata nasabah dari surat tebusan Dapur Angel. Dua detail kecil, dari dua kasus berbeda, mulai saling melirik di dalam kepalaku seperti dua orang yang merasa pernah bertemu tapi belum ingat di mana.

Belum sekarang. Satu masalah dalam satu waktu.

“Bu,” kataku. “Uang Ibu masih ada. Belum ditarik tunai. Masih muter di dua belas rekening penampung. Kalau kita gerak cepat, bisa dibekuin sebelum mereka sempat cairin.”

Bu Sukesih menatapku seperti aku baru saja membelah laut.

“Tapi saya bukan polisi, dan saya nggak punya wewenang mbekuin rekening siapa-siapa.” Aku menatap layar. “Tapi bank punya. Dan bank wajib nindak-lanjutin laporan penipuan dalam waktu tertentu kalau laporannya lengkap, rinci, dan nyebutin nomor-nomor rekening penampung yang spesifik. Masalahnya, orang biasa lapor cuma bisa bilang ‘duit saya hilang’. Laporan kayak gitu masuk tumpukan, diproses berminggu-minggu, keburu cair.”

Aku memutar layar HP Bu Sukesih ke arahnya, menunjukkan dokumen yang baru saja kususun. Kronologi menit per menit. Dua belas nomor rekening penampung, lengkap dengan nama bank dan nominal di masing-masing. Nomor laporan ke kanal resmi pengaduan. Semua yang diperlukan supaya laporan ini tidak bisa diabaikan, tidak bisa ditunda, harus diproses hari ini juga.

“Ibu telepon nomor pengaduan ini, bacain yang saya tulis, persis. Sebut semua nomor rekeningnya. Minta nomor tiket laporan. Kalau petugasnya bilang ‘ditindaklanjuti dalam 14 hari kerja’, Ibu bilang kalimat ini—” aku menuliskannya, “—‘uang masih di rekening penampung dan belum ditarik, saya minta pemblokiran sementara sesuai prosedur penanganan transaksi fraud.’ Mereka tahu prosedurnya. Mereka cuma berharap Ibu nggak tahu.”

Bu Sukesih menatap tulisanku. Lalu menatapku. Bibirnya gemetar.

“Mas ini... malaikat, ya?”

“Bukan,” kataku. “Saya cuma orang yang kebetulan tahu ember ini bocor di mana.”

Dari sudut ruangan, Tole berbisik ke Bu Endang, tidak cukup pelan: “Tuh kan. FBI.”

“Bukan FBI, Tole,” balas Bu Endang, juga tidak cukup pelan. “Itu calon mantu idaman. Beda.”

“Bedanya di mana, Bu?”

“FBI nggak bisa dikasih makan tiap hari.”

Angelica, yang kebetulan lewat membawa nampan, hampir menjatuhkan seluruh isinya. “Bu Endang, bisa nggak sih satu hari aja nggak—”

“Nggak bisa, Neng. Ibu udah tua. Waktu Ibu buat ngejodohin terbatas.”


Seluruh proses, dari Bu Sukesih duduk sampai dia menelepon kanal pengaduan dengan dokumen di tangan, memakan waktu—aku melirik jam dinding Dapur Angel—empat jam.

Empat jam, dan aku tidak menaikkan suaraku sekali pun, tidak berdiri dari kursi, tidak melakukan apa pun yang terlihat heroik. Aku hanya duduk, membaca jejak, dan menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan orang lain.

Tapi ketika Bu Sukesih menutup telepon—dengan nomor tiket laporan di tangan, dengan janji pemblokiran sementara dalam 1x24 jam, dengan wajah yang berubah dari kiamat jadi harapan—ruangan itu hening sejenak. Lalu Bu Sukesih menangis, bukan tangis takut lagi, dan memelukku, dan aku kaku seperti biasa karena aku tidak tahu cara dipeluk.

Angelica berdiri di ambang dapur, mengamati. Dia tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu di wajahnya—sesuatu yang lebih berbahaya dari senyum. Seperti orang yang baru saja menemukan bahwa barang yang ia beli dengan setengah hati ternyata jauh lebih berharga dari harganya.

Malam itu, saat aku pamit pulang, dia mengantarku ke mulut gang. Hal yang tidak perlu ia lakukan.

“Kamu bisa gitu,” katanya. Bukan pertanyaan. “Lacak duit, tahu celahnya, susun laporan yang nggak bisa ditolak bank. Kamu bisa gitu, tapi kamu milih ngurung diri dua tahun di kamar kos.”

“Itu beda.”

“Beda gimana?”

Aku berhenti. Angin malam membawa bau melati dari pot entah milik siapa.

“Nolong Bu Sukesih itu gampang,” kataku. “Masalahnya jelas, musuhnya jelas, solusinya ada. Yang susah bukan masalah kayak gitu.” Aku menatap lurus ke gang yang gelap. “Yang susah itu masalah yang satu-satunya cara nyelesain-nya adalah bikin orang yang kamu sayang kebanjiran. Kadang kamu cuma bisa milih siapa yang tenggelam. Dan aku udah milih. Dua tahun lalu. Aku milih diri aku sendiri yang tenggelam.”

Dia diam lama.

“Kamu ngomong kayak orang yang nyesel sama pilihannya.”

“Enggak.” Aku menggeleng. “Kalau disuruh milih lagi, aku bakal milih yang sama. Itu bagian yang paling capek.”

Dia diam cukup lama sampai aku mengira dia tidak akan menjawab.

“Tahu nggak,” katanya akhirnya, pelan, “orang yang milih tenggelam supaya orang lain selamat itu—di cerita selalu dibikin kayak pahlawan. Mulia. Rela berkorban.” Dia menoleh menatapku, dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang bukan kewaspadaan di matanya; sesuatu yang lebih keras, hampir marah. “Tapi dari sisi orang yang kamu selamatin? Nggak ada mulia-mulianya. Yang mereka lihat cuma satu: orang yang mereka sayang milih tenggelam, dan nggak ngasih mereka kesempatan buat ikut berenang nolongin.”

Aku tidak menjawab. Tidak bisa.

“Orang-orang yang kamu lindungi dua tahun lalu,” lanjutnya, tidak mengendur, “mungkin lebih milih basah bareng kamu daripada nonton kamu tenggelam sendirian. Kamu pernah kepikiran itu nggak?”

Aku pernah. Setiap malam. Tapi memikirkannya dan mendengarnya diucapkan orang lain adalah dua hal yang berbeda, dan yang kedua jauh lebih menyakitkan, karena yang kedua berarti ada orang di luar kepalaku yang melihat lubang yang sama dan menyebutnya dengan suara keras.

Aku merasakan sesuatu di wajahku retak—hanya sepersekian detik, hanya satu garis halus—sebelum aku memasang kembali ketenanganku.

Aku melangkah ke dalam gelap sebelum dia bisa menjawab. Tapi aku mendengar dia tidak bergerak dari tempatnya, berdiri di mulut gang, memandangku pergi, lebih lama dari yang masuk akal untuk sekadar mengantar teknisi yang jatahnya cuma makan siang.

Dan di dalam gelap, di mana dia tidak bisa melihat, aku membiarkan wajahku melakukan apa yang sudah lama tidak boleh ia lakukan: aku membiarkannya terlihat seperti orang yang baru saja diberi sesuatu, dan tidak tahu cara menerimanya.