Chapter Ten
Laporan 14 Maret
POV: Angelica
Emailnya tidak panjang.
Itu yang pertama kuperhatikan. Aku mengira akan menemukan dokumen teknis setebal skripsi, penuh istilah yang tidak kumengerti. Yang kutemukan hanya beberapa paragraf, ditulis dengan bahasa yang begitu jelas sampai orang awam seperti aku pun bisa memahaminya.
Kepada: Bapak Hendro Wirawan, Direktur Teknologi Informasi
Pak Hendro,
Dalam pemeriksaan rutin bulan ini, tim kami menemukan kelemahan serius pada sistem lama yang menyimpan data inti nasabah. Sistem ini sudah melewati masa dukungan resminya dan tidak lagi mendapat pembaruan keamanan. Jika kelemahan ini ditemukan pihak luar, seluruh data nasabah—nama, nomor identitas, alamat, informasi rekening—berisiko diambil.
Saya mohon persetujuan anggaran untuk pembaruan sistem dalam kuartal ini. Rincian biaya dan rencana kerja terlampir. Saya juga menyarankan agar risiko ini dilaporkan ke direksi, karena menyangkut kepercayaan nasabah.
Saya siap menjelaskan kapan pun Bapak membutuhkan.
Hormat saya, Yoga Pratama Kepala Keamanan Siber
Di bawahnya, balasan. Tiga kalimat.
Yoga, anggaran tahun ini tidak memungkinkan. Kita bahas tahun depan. Jangan eskalasi ke direksi dulu, nanti saya yang atur. —H.
Aku membaca balasan itu tiga kali.
Jangan eskalasi ke direksi dulu.
Di bawahnya lagi, ada dua email susulan dari Yoga. Satu di bulan Mei: Pak, mohon izin mengingatkan kembali soal laporan 14 Maret. Risikonya meningkat. Satu di bulan Juli, lebih pendek, lebih mendesak: Pak, saya khawatir. Mohon waktu lima belas menit saja.
Tidak ada balasan untuk keduanya.
September, sistem itu jebol.
Tiga puluh juta data keluar.
Dan orang yang enam bulan sebelumnya sudah memperingatkan, yang sudah memohon, yang sudah menulis saya khawatir kepada atasannya—orang itu yang dipecat. Orang itu yang namanya ada di berita. Orang itu yang wajahnya dijadikan simbol kebocoran terbesar dalam sejarah perbankan negeri ini.
Orang itu yang setahun penuh kubenci.
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di sana.
Tanganku masih di atas touchpad. Mataku masih di layar, meski aku sudah berhenti membaca. Aku hanya menatap tiga kalimat balasan itu sampai huruf-hurufnya kabur.
Lalu nama itu menghantamku dari arah yang tidak kuduga.
Wirawan.
Aku pernah membaca nama itu. Selama setahun membenci Yoga, aku membaca semua artikel tentangnya. Semua. Termasuk satu artikel gosip murahan dari portal hiburan yang judulnya membuatku tertawa sinis waktu itu: Tunangan Diduga Dalang Kebocoran Data Akhirnya Putuskan Pertunangan. Ada foto Yoga—Yoga yang dulu, berkemeja rapi, tersenyum canggung—di samping perempuan cantik berambut panjang. Keterangannya: Yoga Pratama dan Sheren Wirawan dalam acara lamaran.
Sheren Wirawan.
Putri Hendro Wirawan.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Dia tahu. Selama ini, dia tahu siapa yang mengabaikan peringatannya. Dia punya bukti, tersimpan rapi di folder bernama tanggal. Dan dia tidak pernah menunjukkannya pada siapa pun.
Karena orang yang akan hancur kalau bukti ini keluar adalah ayah dari perempuan yang dulu ia cintai.
“Angelica.”
Aku tersentak begitu keras sampai kursiku berderit.
Yoga sudah bangun.
Dia tidak bergerak. Kepalanya masih bertumpu di lengan, tapi matanya terbuka, menatapku. Menatap tanganku di atas laptopnya. Menatap layar yang menampilkan email bertanggal 14 Maret.
Selimutku masih di bahunya.
Aku menunggu dia marah.
Aku pantas dimarahi. Aku sudah siap. Aku sudah menyusun permintaan maaf di kepala dalam dua detik itu, dan semuanya terdengar menyedihkan.
Tapi dia tidak marah.
Dia duduk tegak, pelan. Selimut itu jatuh dari bahunya ke pangkuannya. Dia melihat selimut itu sebentar, seolah bingung dari mana datangnya, lalu melipatnya dengan rapi dan meletakkannya di meja.
Lalu dia menutup laptopnya. Tidak dengan kasar. Tidak dengan terburu-buru. Hanya ditutup, seperti orang menutup buku yang sudah selesai dibaca.
“Kamu baca semuanya?” tanyanya. Suaranya datar. Tenang. Terlalu tenang.
“Iya.” Suaraku pecah di tengah. “Maaf. Aku nggak—aku nggak seharusnya—”
“Nggak apa-apa.”
“Itu apa-apa.” Air mataku sudah turun, dan aku tidak tahu kapan mulainya. “Kenapa kamu nggak pernah nunjukin ini? Ke polisi? Ke wartawan? Ke—ke siapa aja? Kamu punya bukti kamu udah ngingetin mereka enam bulan sebelumnya! Kamu dipecat, kamu dibilang penjahat, nama kamu dihancurin, dan kamu—kamu punya ini—”
“Itu bukan bukti aku nggak bersalah.”
Aku berhenti.
“Itu bukti aku udah ngingetin,” katanya, masih tenang. “Bukan bukti siapa yang masuk ke sistem malam itu. Kalau aku buka email ini sekarang, yang jatuh cuma satu orang: Pak Hendro. Orang yang bikin keputusan buruk soal anggaran. Tapi orang yang beneran ngambil data itu, yang ngejual data kamu ke pinjol-pinjol itu, tetap bebas. Dan aku tetap orang yang gagal jaga gerbang.” Dia menatap laptopnya yang tertutup. “Gerbangnya jebol waktu aku yang jaga, Angelica. Aku udah ngingetin, iya. Tapi aku nggak cukup keras. Aku nggak nekat langsung lapor ke direksi waktu dia bilang jangan. Aku nurut. Dan karena aku nurut, tiga puluh juta orang kena.”
“Itu bukan salahmu.”
“Sebagian salahku.”
“Dan sebagian lagi?” Suaraku naik. “Sebagian lagi salah orang yang bilang jangan eskalasi ke direksi, yang nggak bales email kamu dua kali, yang ngebiarin kamu jadi tumbal—”
“Dia ayahnya Sheren.”
Kalimat itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam sumur. Lama sebelum terdengar dasarnya.
“Aku tahu,” bisikku. “Aku baca beritanya. Dulu.”
Dia mengangguk pelan. Tidak terkejut. Mungkin dia sudah terbiasa orang tahu.
“Sheren nggak punya siapa-siapa selain ayahnya,” katanya. “Ibunya udah lama pergi. Dia tumbuh cuma berdua sama ayahnya. Ayahnya itu dunianya.” Dia diam sebentar. “Waktu semuanya meledak, aku punya dua pilihan. Buka email ini, dan Sheren kehilangan ayahnya—bukan secara harfiah, tapi ayahnya yang dia kenal, ayah yang dia banggakan. Atau diam, dan aku yang kehilangan semuanya.”
“Dan kamu pilih diam.”
“Aku pilih diam.”
“Dan dia tetap pergi.” Aku tidak bisa menahannya. “Dia tetap ninggalin kamu.”
Untuk pertama kalinya, sesuatu di wajahnya bergerak. Bukan sakit. Sesuatu yang lebih tua dari sakit. Sesuatu yang sudah lama berhenti berdarah dan tinggal bekas.
“Itu juga aku yang minta,” katanya pelan. “Tapi itu cerita lain.”
Aku menangis. Bukan tangisan cantik ala drama, dengan satu tetes air mata turun pelan di pipi. Tangisan jelek. Hidung merah, napas tersendat, bahu naik-turun. Tangisan yang selama setahun hanya kulakukan di balik tripleks gudang beras.
Dia tidak memelukku. Dia tidak tahu cara melakukan itu, dan aku tahu dia tidak tahu. Tapi dia mendorong segelas air ke arahku. Lalu sekotak tisu dari meja kasir. Lalu, setelah ragu sebentar, selimut yang tadi ia lipat, disodorkan padaku, seolah dia tidak tahu harus memberi apa lagi.
Aku tertawa di tengah tangisan. Tawa yang basah dan aneh. “Itu selimutku.”
“Aku tahu,” katanya. “Makanya aku balikin.”
Aku menerima selimut itu dan meremasnya di pangkuan.
“Setahun,” kataku, saat napasku mulai bisa diatur. “Setahun aku benci kamu. Tiap ada telepon pinjol, aku benci kamu. Tiap pelanggan pergi, aku benci kamu. Aku bahkan nyimpen fotomu dari berita, buat diliatin kalau aku lagi butuh marah.” Aku menatapnya. “Aku minta maaf.”
“Kamu nggak salah benci aku.”
“Aku salah.”
“Datamu bocor waktu aku yang jaga.” Dia menggeleng. “Kamu boleh benci aku. Aku cuma—” dia berhenti, mencari kata, “—aku cuma nggak mau kamu benci aku karena alasan yang salah.”
Aku menatapnya.
Laki-laki yang memilih tenggelam supaya perempuan lain tidak kehilangan ayahnya. Yang membiarkan ayahnya sendiri mencopot fotonya dari papan gabus. Yang mengunci diri dua tahun bersama bukti yang bisa membebaskannya, karena membebaskan dirinya berarti menghancurkan orang lain.
Dan yang sekarang, setelah semua itu, minta maaf karena aku membencinya dengan alasan yang salah.
“Broto,” kataku tiba-tiba.
Dia membeku.
“Kata sandimu,” kataku. “Aku lihat waktu kamu ngetik. Maaf. Aku ngintip juga yang itu.” Aku menghapus pipiku dengan selimut. “Broto itu siapa?”
Dia diam lama. Sangat lama. Aku hampir mengira dia tidak akan menjawab.
“Bapakku,” katanya akhirnya. “Punya kios servis HP. Broto Cell.” Suaranya tetap tenang, tapi tangannya, yang tadi diam di atas meja, mengepal pelan. “Dia nelpon tiga belas kali hari itu. Aku nggak angkat. Karena kalau aku angkat, aku harus pilih: bohong ke dia, atau cerita semuanya. Dan aku nggak bisa dua-duanya.”
“Jadi kamu diam lagi.”
“Jadi aku diam lagi.” Dia menatap kepalan tangannya sendiri. “Dia nyopot semua fotoku dari dinding kios. Udah dua tahun kami nggak ngomong.”
Aku tidak bisa bicara.
Dan di dalam kesunyian itu, di dapurku yang sepi, dengan Tole mendengkur di belakang dan sore yang mulai jingga di balik jendela, sesuatu di dalam diriku jatuh.
Bukan pelan-pelan. Tidak seperti yang kubayangkan selama ini, kalau suatu hari aku jatuh cinta lagi. Aku selalu mengira itu akan terjadi seperti menuruni tangga—satu anak tangga demi satu anak tangga, dengan pegangan, dengan waktu untuk berubah pikiran.
Ternyata tidak. Ternyata seperti lantai yang tiba-tiba hilang dari bawah kaki.
Aku jatuh cinta pada Yoga Pratama di detik itu. Bukan pada otaknya, meski otaknya luar biasa. Bukan pada tangannya yang bisa membuka sistem apa pun dalam semalam. Bukan pada wajahnya, meski wajahnya—ya Tuhan—wajahnya.
Aku jatuh cinta pada laki-laki yang rela hancur sendirian supaya orang lain tidak ikut hancur.
Dan aku tahu, dengan kepastian yang menakutkan, bahwa tidak ada jalan kembali dari tempat ini.
“Aku minta satu hal,” katanya.
“Apa aja.”
“Jangan bilang siapa-siapa.” Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya ada sesuatu yang memohon di matanya. “Bukan soal emailnya. Bukan soal Bapakku. Bukan soal apa pun yang kamu baca hari ini. Belum waktunya. Mungkin nggak akan pernah waktunya.”
Aku ingin membantah. Aku ingin bilang dia salah, bahwa dunia berhak tahu, bahwa ayahnya berhak tahu, bahwa dia berhak berhenti memikul semua ini sendirian.
Tapi aku melihat matanya. Dan aku tahu, kalau aku memaksa sekarang, pintu itu akan tertutup lagi. Mungkin selamanya.
“Oke,” kataku.
“Janji?”
“Janji.”
Dia mengangguk. Bahunya turun satu senti, seperti orang yang baru saja meletakkan sesuatu yang berat setelah lama sekali membawanya.
Aku menepati janjiku. Aku tidak akan bilang siapa-siapa.
Tapi aku membuat janji lain juga, malam itu, dalam hati, saat dia sudah pulang dan aku duduk sendirian di dapur dengan selimut yang masih menyimpan sedikit hangatnya.
Aku tidak akan bilang siapa-siapa.
Aku akan membuat dia cukup kuat untuk mengatakannya sendiri.
Aku akan menyalakan lampu-lampunya satu per satu. Aku akan berdiri di sampingnya sampai dia ingat siapa dirinya. Dan suatu hari nanti—tidak peduli berapa lama—aku akan berdiri di sampingnya saat seluruh dunia akhirnya tahu siapa Yoga Pratama sebenarnya.
Bukan penjahat.
Bukan tumbal.
Pahlawan yang terlalu lama diam.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret reading
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.