Chapter Seventeen
Pakai Namaku Saja
POV: Yoga
Lomba itu datang dari selebaran yang ditempel di papan pengumuman sekolah Lila.
LOMBA DUTA CERDAS DIGITAL TINGKAT KECAMATAN. Kategori: Kampanye Anti-Penipuan Online untuk Warga. Peserta: tim 3–5 siswa SD/SMP/SMA. Hadiah: piala, sertifikat, uang pembinaan.
Lila menyodorkan selebaran itu ke mejaku dengan cara yang sangat berbeda dari biasanya. Bukan dilempar. Bukan disertai sindiran. Diletakkan, pelan, dengan kedua tangan, seperti orang menyerahkan sesuatu yang penting.
“Mas,” katanya. “Kita ikut, yuk.”
Aku membaca selebaran itu. Lalu menatapnya.
“Kamu yakin? Ini bukan capture the flag. Ini kampanye buat warga. Bikin video, bikin poster, presentasi. Bukan level rising.”
Lila memerah. Dia tahu aku sedang membalikkan kata-katanya sendiri, yang ia ucapkan di kelas teras tiga minggu lalu. Dan aku melihat dia menimbang—apakah akan membalas dengan sinis seperti biasanya, atau mengakui sesuatu.
“Waktu Bu Narti hampir ketipu undian kulkas,” katanya akhirnya, menatap meja, “yang nyelametin dia bukan rising. Yang nyelametin dia Putri. Kelas lima SD.” Dia mengangkat wajahnya. “Aku mau bikin kampanye kayak gitu. Yang bisa bikin anak kelas lima nyelametin orang dewasa.”
Aku menatap gadis tujuh belas tahun di depanku, yang tiga minggu lalu menyebut kelasku penyuluhan ibu-ibu PKK.
“Oke,” kataku. “Kita ikut.”
Timnya lima orang. Lila, Dika, Sasa, Bimo, dan Putri. Putri sebenarnya terlalu kecil untuk kategori ini, tapi peraturannya hanya menyebut “siswa SD/SMP/SMA” tanpa batas umur, dan Lila bersikeras: “Putri yang pertama nyelametin orang. Dia harus ikut.”
Selama dua minggu, teras Dapur Angel berubah jadi studio produksi paling kacau di kecamatan.
Mereka memutuskan membuat drama pendek. Judulnya, setelah perdebatan sengit selama tiga hari, Tiga Tanda. Ceritanya tentang seorang nenek yang ditelepon penipu, dan cucunya yang masih SD menyelamatkannya dengan mengenali tiga tanda penipuan.
Bimo bersikeras jadi penipunya. “Aku udah latihan dari kelas teras,” katanya. “Aku penipu paling meyakinkan di sini.”
“Kamu cuma bisa bilang Bank Indonesia,” kata Sasa.
“Itu karakternya! Penipu yang nggak riset!”
Peran nenek jatuh ke Bu Endang. Tidak ada yang meminta beliau. Beliau hanya muncul di hari syuting pertama dengan kebaya, kacamata baca, dan selendang batik, lalu duduk di kursi rotan di teras dan berkata, “Ibu siap. Kapan mulai?”
Putri jadi cucu. Dika memegang kamera HP. Sasa yang menulis naskah. Lila jadi sutradara, dengan topi terbalik dan nada suara seperti sutradara film yang tidak puas dengan apa pun.
“CUT! Bu Endang, Ibu jangan senyum waktu ditelepon penipu! Ibu harus panik!”
“Ibu nggak bisa panik, Lila. Bimo suaranya lucu.”
“Bimo, suaramu lebih seram!”
“Ini udah seram, Kak!”
“Itu suara kambing!”
Aku duduk di tangga teras, menonton, dan sesekali memberi saran ketika diminta. Aku tidak menyentuh kamera. Aku tidak menulis naskah. Aku tidak memegang apa pun. Kalau aku yang mengerjakan, mereka tidak belajar apa-apa.
Tapi setiap malam, setelah mereka pulang, Lila mengirimkan potongan video hasil syuting ke HP-ku. Dan setiap malam aku menontonnya di kamar kos, satu per satu, dan menuliskan catatan kecil untuk besok.
Adegan 3 bagus. Putri waktu nunjuk tiga jari ke kamera—pertahanin itu, itu jadi momen yang paling diinget.
Adegan 5, Bu Endang terlalu tenang. Tapi justru itu lucu. Mungkin dibalik: neneknya santai, cucunya yang panik.
Lila membalas setiap catatanku dengan satu kata. Oke. Atau Siap. Atau, satu kali, pukul sebelas malam, setelah aku menulis bahwa adegan terakhir mereka membuatku tersenyum:
Mas senyum? Beneran? Bukti dong.
Aku tidak mengirim bukti.
Hari lomba, aula kecamatan penuh.
Ada dua puluh tiga tim dari sekolah-sekolah se-kecamatan. Tim-tim dari sekolah swasta datang dengan seragam kompak dan laptop mahal. Tim Lila datang dengan seragam sekolah yang berbeda-beda, karena Putri masih SD, Bimo masih SMP, dan sisanya SMA. Dan Bu Endang, yang ikut sebagai “talent”, masih memakai kebaya dan kacamata baca, karena beliau bilang beliau harus tetap dalam karakter.
Angelica duduk di sampingku di bangku penonton. Dia membawa bekal nasi kotak untuk seluruh tim, untuk penonton di sekitar kami, dan—entah kenapa—untuk dua orang juri yang sama sekali tidak ia kenal.
“Itu sogokan,” bisikku.
“Itu keramahan,” bisiknya balik. “Beda.”
Satu per satu tim tampil. Beberapa bagus. Beberapa membosankan. Satu tim dari sekolah swasta menampilkan animasi yang jelas dibuat oleh jasa profesional, dan aku melihat Lila di belakang panggung menggigit kukunya.
Lalu giliran Tiga Tanda.
Videonya diputar di layar besar. Tujuh menit. Bu Endang yang terlalu santai ditelepon penipu. Bimo dengan suara kambingnya yang seharusnya seram. Putri yang panik dan berlari ke arah neneknya, merebut HP, lalu menatap kamera dengan tiga jari teracung.
“Satu! Dia bikin Nenek buru-buru! Dua! Nenek menang hadiah yang nggak pernah Nenek ikutin! Tiga! Dia minta kode!”
Lalu Putri menutup telepon, dan Bu Endang berkata, dengan nada paling datar yang pernah ada, “Oh. Ibu kira itu cucu Ibu yang lain.”
Seluruh aula tertawa.
Dan kemudian, di akhir video, layar menjadi hitam, dan muncul satu kalimat putih di tengahnya:
Kalau orang dewasanya yang ketipu, kamu yang ngajarin dia.
Aula hening sebentar. Lalu tepuk tangan meledak.
Aku menatap layar itu. Kalimat itu. Kalimat yang kuucapkan pada Putri di kelas teras pertama, tanpa berpikir, hanya menjawab pertanyaan polos seorang anak kelas lima.
Aku tidak tahu mereka mencatatnya.
Di sampingku, Angelica menyentuh lenganku. Pelan.
Mereka menang.
Juara satu. Piala emas plastik setinggi lutut Putri. Sertifikat. Amplop uang pembinaan.
Dan saat nama tim dipanggil ke panggung, pembawa acara membaca dari kertas:
“Juara satu, tim Tiga Tanda, dengan pembina... Bapak Sutrisno, S.Pd., guru Fisika SMA Negeri 4!”
Aku tidak terkejut. Aku sudah tahu sejak hari pendaftaran.
Formulir pendaftaran mewajibkan nama guru pembina dengan NIP sekolah. Lila sudah menulis namaku di kolom itu waktu pertama mengisi—aku melihatnya di meja teras—lalu menghapusnya sendiri saat membaca persyaratan di bawahnya. Tidak ada pilihan lain. Pak Sutrisno, guru Fisika yang mengajar klub komputer dari YouTube, yang tidak datang ke satu pun sesi syuting, menandatangani formulir itu di ruang guru dalam tiga puluh detik.
Pak Sutrisno sekarang berdiri di panggung, tersenyum lebar, menjabat tangan camat, berfoto dengan piala.
Lima anak berdiri di sampingnya. Tidak tersenyum.
Lila menatap ke arah penonton. Mencari. Menemukanku. Dan wajahnya—wajah yang biasanya penuh sinisme remaja, penuh pertahanan—sekarang terlihat seperti mau menangis.
Aku mengangguk padanya. Pelan. Sama seperti aku mengangguk pada Tole di aula kelurahan dua minggu lalu.
Nggak apa-apa.
Lila tidak mengangguk balik.
Mereka menemukanku di parkiran setelah acara.
Lima anak, satu Bu Endang berkebaya, dan satu piala emas plastik. Lila berjalan paling depan, langkahnya cepat dan marah.
“Itu nggak adil,” katanya, sebelum siapa pun sempat bicara. “Pak Sutrisno nggak ngapa-ngapain! Dia nggak dateng satu kali pun! Dia nggak tahu judul videonya apa! Tadi di panggung dia bilang ke camat videonya tentang bahaya narkoba!”
“Lila—”
“Yang ngajarin kami Mas! Yang ngasih catatan tiap malam Mas! Yang bikin kalimat penutupnya juga Mas!” Suaranya pecah. “Kenapa nama Mas nggak boleh ditulis? Kenapa harus nama orang lain terus?”
Aku diam.
Di belakang Lila, Putri memeluk piala yang hampir setinggi dirinya, menatapku dengan mata besar yang tidak mengerti. Dika menunduk. Sasa dan Bimo saling melirik.
“Nama nggak penting,” kataku pelan.
“PENTING!”
Suara Lila begitu keras sampai beberapa orang di parkiran menoleh.
“Penting, Mas,” ulangnya, lebih pelan sekarang, air mata sudah turun. “Penting buat kami. Kami mau semua orang tahu siapa yang ngajarin kami. Kami bangga. Dan kami nggak bisa bilang ke siapa-siapa, karena Mas selalu bilang pakai nama orang lain aja, nggak apa-apa, nama nggak penting—”
Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Aku berdiri di parkiran aula kecamatan, di depan lima anak yang menatapku seolah aku baru saja mengecewakan mereka dengan cara yang tidak bisa mereka jelaskan.
Dan aku menyadari sesuatu yang tidak pernah kusadari selama dua tahun.
Aku selalu berpikir, dengan diam, aku melindungi orang lain. Melindungi Sheren. Melindungi Bapak dari kebenaran yang lebih rumit. Melindungi kelurahan dari nama yang beracun. Melindungi anak-anak ini dari aib yang menempel di namaku.
Tapi Lila tidak merasa dilindungi. Lila merasa ditinggalkan di luar pintu.
Orang-orang yang kamu lindungi mungkin lebih milih basah bareng kamu daripada nonton kamu tenggelam sendirian.
Angelica mengatakannya padaku di mulut gang, berminggu-minggu lalu. Aku tidak menjawab waktu itu.
Sekarang, di parkiran aula kecamatan, aku masih tidak punya jawaban.
Putri yang memecah kesunyian.
Dia berjalan ke arahku, menyeret piala emas plastiknya, dan berhenti tepat di depan lututku. Dia mendongak.
“Mas Yoga,” katanya. “Pialanya buat Mas aja.”
“Itu punya kalian, Put.”
“Nggak apa-apa. Kami udah lihat. Mas belum pegang.” Dia menyodorkan piala itu dengan dua tangan kecilnya. “Pakai nama Putri aja, ya. Kalau Mas nggak boleh pakai nama Mas, pakai nama Putri. Putri nggak keberatan.”
Aku menatap piala itu.
Lalu aku berlutut di parkiran, di atas aspal yang masih panas, sampai mataku sejajar dengan mata Putri.
Aku tidak mengambil pialanya. Tapi aku meletakkan tanganku di atas tangan kecilnya yang memegang piala itu.
“Makasih, Put,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang seharusnya. “Mas simpan di sini aja, ya.”
Aku menyentuh dadaku sendiri.
Putri menatapku dengan dahi berkerut, tidak sepenuhnya mengerti. Tapi dia mengangguk.
Di belakangnya, Bu Endang menangis tanpa suara di balik kacamata bacanya. Bimo pura-pura melihat ke langit. Dika membersihkan kacamatanya dengan ujung kaus.
Lila berdiri paling belakang, wajah basah, tangan terkepal.
Dan di belakang Lila, di samping mobil pikap sewaan yang akan membawa kami pulang, Angelica berdiri dengan tangan di dada.
Dia tidak menangis. Dia menatapku dengan sesuatu yang lebih keras dari tangis. Sesuatu yang terlihat seperti janji.
Aku tidak tahu janji apa.
Tapi aku mulai takut—dengan cara yang anehnya terasa seperti harapan—bahwa suatu hari nanti, aku akan mengetahuinya.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja reading
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.