← Rising.

Chapter Twenty Six

Kirim ke Wartawan

POV: Angelica


Namanya Nadia, dan dulu dia pelanggan katering pertamaku.

Lima tahun lalu, waktu Dapur Angel masih berupa satu kompor dan satu kulkas di garasi rumah kontrakan, Nadia memesan nasi kotak untuk acara syukuran kelulusan adiknya. Dua puluh porsi. Dia satu-satunya orang yang mau mempercayakan pesanan pada katering yang bahkan belum punya nama.

Sekarang Nadia wartawan di sebuah media daring yang cukup besar. Dia menulis liputan mendalam. Cerita-cerita panjang tentang orang-orang yang dilupakan berita.

Dan dia masih memesan nasi kotak dariku setiap ulang tahun ibunya.


Aku tidak merencanakan ini. Aku bersumpah aku tidak merencanakan ini.

Tapi tiga hari setelah pintu kamar nomor tujuh terbuka dan menutup lagi tanpa dikunci, Nadia datang ke dapurku untuk mengambil pesanan, dan dia melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.

Teras. Sabtu pagi. Delapan anak di kursi plastik, ditambah Bu Narti dan empat ibu pengajian, ditambah dua staf kelurahan yang ikut karena penasaran. Kelas berjalan tanpa guru—Lila yang mengajar, memegang spidol yang hampir habis, berdiri di depan papan tulis bekas menu dengan tulisan tangan yang meniru tulisan tangan orang lain.

PENIPU SELALU BIKIN KAMU BURU-BURU.

“Ini kelas apa?” tanya Nadia.

Dan aku menceritakannya.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku sudah terlalu lama menyimpannya. Mungkin karena aku lelah melihat orang-orang di gang ini menyebutnya Mas FBI sementara dunia di luar gang masih menyebutnya dalang kebocoran. Mungkin karena aku marah. Marah pada pintu yang tidak mau terbuka. Marah pada laki-laki yang memilih tenggelam lagi.

Aku menceritakan semuanya. Kelas teras. Bu Sukesih dan uang arisannya. Mang Udin dan akun tokonya. Kelurahan dan seribu dua ratus keluarga penerima bantuan. Lomba di kecamatan yang dimenangkan anak-anak tapi pialanya atas nama orang lain. Dua puluh satu pinjol yang dibersihkan diam-diam dalam tujuh minggu.

Dan satu hal lagi. Satu hal yang tidak seharusnya kuceritakan.

Bahwa benda yang mengunci sistemku tiga bulan lalu dibuat oleh orang yang sama dengan pelaku kebocoran bank dua tahun lalu. Bahwa orang itu masih bebas. Bahwa Yoga Pratama bukan pelakunya.

Aku tahu itu dari Lila. Lila yang mendengar Yoga bergumam sendiri suatu sore di meja pojok, sambil menatap dua layar berdampingan. Lila yang kemudian bertanya padaku dengan wajah serius, Kak, kalau Mas Yoga bukan yang bikin bocor, kenapa dia diem aja?

Aku tidak menceritakan soal email bertanggal 14 Maret. Aku sudah berjanji. Aku menepati janji itu.

Tapi aku menceritakan sisanya.

Nadia mendengarkan dengan HP di tangan, merekam. Wajahnya berubah dari ramah, jadi serius, jadi sesuatu yang lain—sesuatu yang kukenal dari diriku sendiri tiga bulan lalu, waktu pertama kali aku membaca email itu dan sadar bahwa gambar yang kubangun selama setahun salah semua.

“Angel,” katanya pelan, saat aku selesai. “Kamu tahu ini cerita besar, kan?”

“Aku tahu.”

“Kamu mau aku nulis?”

Aku menatap teras. Lila di depan papan tulis. Putri yang mengacungkan tiga jari ke arah Bu Narti. Ibu-ibu pengajian yang mencatat di buku kecil.

Semua orang ini tahu siapa Yoga. Tapi dunia di luar gang tidak.

“Iya,” kataku. “Tulis.”


Artikelnya terbit lima hari kemudian.

Judulnya membuatku menangis di gudang beras, di tempat yang sama aku menangis selama setahun penuh karena alasan yang sama sekali berbeda.

Dua Tahun Dicap Dalang Kebocoran Data, Ia Diam-Diam Mengajari Warga Melawan Penipuan.

Nadia menulisnya dengan indah. Lebih indah dari yang pantas diterima oleh ceritaku yang berantakan. Dia tidak menyebut nama lengkap Yoga di judul. Dia menyebutnya Y, mantan kepala keamanan siber sebuah bank besar. Tapi siapa pun yang pernah membaca berita dua tahun lalu akan tahu.

Dan di paragraf ketujuh, satu kalimat yang membuat dadaku sesak:

Sumber yang dekat dengan Y menyebut bahwa pelaku sebenarnya kebocoran data itu diduga masih aktif hingga kini, dan baru-baru ini menyerang sebuah usaha katering kecil di pinggir kota.

Artikel itu dibagikan ribuan kali dalam sehari. Lalu puluhan ribu.

Komentar-komentar membanjir. Sebagian besar baik. Ya Allah, ternyata begini. Kalau bener dia bukan pelakunya, siapa yang harus minta maaf? Kelas teras ini harus ada di tiap kelurahan.

Lila memelukku sambil melompat-lompat di dapur. Bu Endang menangis di depan kompor. Tole membaca artikel itu keras-keras untuk seluruh karyawan, suaranya bergetar di setiap paragraf.

Dan aku—aku menatap lampu kamar nomor tujuh dari atap gudang beras malam itu, dan aku berpikir: sekarang dunia tahu. Sekarang dia nggak perlu sendirian lagi.

Aku salah.


HP-ku berbunyi pukul dua pagi.

Satu pesan. Dari nomor yang sudah dua minggu tidak mengirim apa pun.

Dia hilang.

Aku duduk tegak di tempat tidur. Jantungku tiba-tiba berdetak terlalu cepat.

Siapa? ketikku.

Tiga titik. Lama sekali.

Orang yang aku cari. Dua bulan aku ngikutin jejaknya pelan-pelan. Dia nggak tahu ada yang ngikutin. Dia ceroboh, karena dia ngerasa aman. Dua tahun nggak ada yang nyari dia.

Jeda.

Artikel itu bilang ada yang tahu dia masih aktif. Bilang dia baru nyerang katering kecil. Dia baca. Semalem, semua yang bisa ngarah ke dia, hilang. Dia pergi.

Aku menatap layar. Tanganku dingin.

Maksudnya—aku mengetik, menghapus, mengetik lagi—maksudnya gara-gara aku?

Lama tidak ada balasan.

Lalu:

Bukan salahmu.

Tiga kata. Persis seperti yang selalu dia katakan pada dirinya sendiri, dan yang selalu kubantah.

Dan malam itu, di tempat tidurku yang gelap, dengan HP yang layarnya menerangi wajahku, aku akhirnya mengerti rasanya berada di sisi yang lain.

Aku sudah melakukan persis apa yang selalu kubenci darinya.

Aku memutuskan sendiri apa yang terbaik untuknya. Tanpa bertanya. Tanpa memberitahunya. Karena aku yakin aku tahu lebih baik. Karena aku ingin melindunginya. Karena aku ingin dunia tahu bahwa dia tidak bersalah, dan aku tidak bisa menunggu dia siap.

Dan karena itu, satu-satunya jalan yang bisa membersihkan namanya—jalan yang sudah dua bulan ia tapaki diam-diam, pelan-pelan, malam demi malam—sekarang tertutup.

Aku menelungkup di kasur dan menangis ke bantal sampai subuh.


Pagi harinya, aku pergi ke kos.

Aku tidak menggedor. Aku tidak mengetuk. Aku hanya berdiri di depan pintu kamar nomor tujuh, dengan wajah bengkak dan tangan kosong, karena untuk pertama kalinya aku lupa membawa kotak nasi.

Pintunya terbuka sebelum aku sempat mengangkat tangan.

Dia berdiri di ambang. Kaus abu-abu. Rambut berantakan. Mata merah—bukan merah menangis, merah tidak tidur. Dia terlihat lebih kurus dari dua minggu lalu, dan lebih tua, dan lebih lelah.

Dan dia tidak marah.

Itu yang membuatku hancur. Kalau dia marah, aku bisa menerimanya. Aku pantas dimarahi. Tapi dia hanya menatapku dengan wajah yang tidak menghakimi apa pun, seperti orang yang terlalu capek untuk menghakimi.

“Maaf,” kataku. Suaraku hilang di tengah. “Aku nggak tanya kamu. Aku mutusin sendiri. Aku pikir aku ngelindungin kamu. Aku pikir kalau dunia tahu, kamu nggak perlu sendirian lagi—”

“Aku tahu.”

“—dan aku malah ngerusak semuanya. Dua bulan kerjamu—”

“Angelica.”

Aku berhenti.

Dia menatapku lama. Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum. Sesuatu yang lebih pahit, lebih lembut, lebih mengerti.

“Sekarang kamu tahu rasanya,” katanya.

“Rasanya apa?”

“Rasanya mutusin sendiri buat orang yang kamu sayang, karena kamu yakin itu yang terbaik.” Dia bersandar di kusen pintu. “Dan ternyata salah.”

Aku menatapnya. Air mataku turun lagi.

“Ini yang kamu rasain,” bisikku. “Tiap kali. Ke Sheren. Ke bapakmu. Ke aku.”

Dia mengangguk pelan.

“Dan itu nyakitin,” kataku. “Nyakitin banget, Yoga. Nyakitin buat orang yang dilindungin. Tapi juga nyakitin buat orang yang ngelindungin, karena dia sendirian di dalam keputusannya, dan nggak ada yang bisa dia salahin selain dirinya sendiri.”

“Iya.”

“Kita sama,” kataku. Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar seperti pujian. “Kita sama-sama bego.”

Dia tertawa. Pendek. Serak. Tawa yang hampir tidak ada suaranya.

Lalu dia menggeser tubuhnya dari ambang pintu, membuka pintu lebih lebar.

“Masuk,” katanya. “Kamu lupa bawa tempe. Aku punya kopi sachet.”

Aku menatap pintu yang terbuka lebar itu. Kamar yang terang. Gorden krem. Buku catatan bersampul hitam di meja.

“Ini bukan berarti kita baikan,” kataku, melangkah masuk.

“Aku tahu.”

“Kamu masih utang penjelasan soal aku cuma manfaatin kamu.”

“Aku tahu.”

“Dan aku masih utang maaf soal artikel itu.”

“Kamu udah minta maaf.”

“Belum cukup.”

Dia menutup pintu di belakangku. Tidak dikunci.

“Nggak ada yang cukup,” katanya pelan. “Tapi kita bisa mulai dari kopi sachet.”