Chapter Thirty Two
Motherboard
POV: Angelica
Aku sudah ke Broto Cell dua kali.
Kali pertama, aku hanya membeli charger dan meninggalkan kotak nasi. Kali kedua, tiga minggu lalu, sebelum lomba tingkat kota, aku tidak membeli apa-apa.
Aku berdiri di depan etalase kaca itu dan menunggu sampai laki-laki tua berkacamata tebal itu mengangkat kepala dari HP yang sedang ia bongkar.
“Mbak yang bawa tempe,” katanya. Bukan pertanyaan.
Aku mengangguk.
Dia meletakkan obengnya. Menatapku lama di balik kacamata tebal itu, dengan mata yang cokelat sangat tua, seperti kopi yang terlalu lama diseduh.
“Stikernya,” katanya. “Dapur Angel. Saya cari di peta. Jauh dari sini.” Dia diam sebentar. “Kota yang sama dengan anak saya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Mbak kenal Yoga.”
“Saya kenal Yoga, Pak.”
Laki-laki itu menunduk. Tangannya, yang berbekas luka solder di beberapa tempat, mengusap permukaan meja servis yang sudah lusuh.
Aku tidak menceritakan apa-apa tentang email bertanggal 14 Maret. Aku sudah berjanji. Tapi aku meletakkan dua hal di atas meja servisnya. Cetakan artikel Nadia. Dan selembar undangan lomba tingkat kota, dengan tanggal, jam, dan alamat gedung balai kota.
“Dia nggak tahu saya ke sini,” kataku. “Dia nggak akan pernah minta saya ke sini. Dia terlalu keras kepala.”
Laki-laki tua itu menatap artikel itu lama. Judulnya. Paragraf pertama. Lalu dia melepas kacamatanya, dan aku melihat matanya merah.
“Kayak ibunya,” katanya pelan. “Keras kepalanya.”
Aku pulang tanpa tahu apakah dia akan datang.
Dia datang ke lomba. Aku melihatnya dari panggung belakang, sebelum acara dimulai. Duduk di barisan paling belakang, di kursi paling ujung, dekat pintu keluar. Kemeja batik yang warnanya sudah pudar. Bahu yang sudah turun.
Dia menonton seluruh acara. Dia melihat Lila mengambil mikrofon. Dia mendengar seluruh gedung bertepuk tangan. Dia melihat anaknya berdiri di bangku penonton baris ketujuh, dengan batik parang cokelat tua, mengangguk ke arah panggung.
Lalu dia pergi sebelum Yoga sempat melihatnya.
Aku tidak mengejarnya. Itu bukan urusanku. Itu urusan dua laki-laki keras kepala yang sama-sama berdiri di depan gerbang masing-masing.
Tapi aku berdoa malam itu. Hal yang sudah lama tidak kulakukan dengan sungguh-sungguh.
Empat hari setelah malam di rumah keluarga Wirawan, dia datang ke Dapur Angel.
Pukul sebelas lima puluh lima. Lima menit sebelum Yoga biasanya datang. Dapur sedang ramai. Bu Endang di kompor. Tole menata kotak di motor. Mbak Yuli menyelotip.
Dan seorang laki-laki tua berkacamata tebal berdiri di pagar, memegang kantong plastik hitam dengan dua tangan, menatap papan nama Dapur Angel seperti orang yang menatap alamat yang sudah lama ia hafal tapi belum pernah ia datangi.
Bu Endang yang pertama melihatnya. Beliau mengenali mata itu sebelum aku sempat mengatakan apa pun—aku melihatnya di wajah beliau, di cara sutilnya berhenti di udara.
“Neng,” bisik Bu Endang. “Itu—”
“Iya, Bu.”
Bu Endang menurunkan sutilnya. Menghapus tangan di celemek. Lalu, dengan gerakan yang belum pernah kulihat sebelumnya, dengan wajah yang sangat serius, beliau berbalik ke seluruh dapur.
“Semua,” katanya pelan, tapi semua orang mendengar. “Diem. Jangan ada yang ganggu.”
Dapur hening.
Aku keluar ke pagar.
“Pak Broto.”
Dia mengangguk. “Mbak Angel.” Lalu dia menatap ke dalam dapur, ke arah meja pojok yang masih kosong. “Dia belum dateng?”
“Lima menit lagi, Pak. Dia selalu dateng dua menit lebih awal.”
Laki-laki tua itu hampir tersenyum. “Dulu dia selalu telat. Sekolah, ngaji, semuanya telat. Ibunya yang selalu nyeret dia.”
Aku membukakan pagar. “Masuk, Pak. Duduk dulu.”
Dia tidak masuk. Dia berdiri di pagar, memeluk kantong plastik hitamnya.
“Saya nunggu di sini aja,” katanya.
Yoga datang pukul sebelas lima puluh delapan.
Aku melihatnya dari ujung gang. Berjalan dengan tangan di saku, langkah ringan, rambut yang sudah dipotong rapi, batik parang cokelat tua yang sekarang jadi bajunya sehari-hari karena dia bilang itu satu-satunya kemeja yang tidak kebesaran.
Dia berbelok di mulut gang.
Dan berhenti.
Seluruh tubuhnya berhenti. Seperti di hari dia melihatku memakai kebaya di koridor gedung pernikahan. Seperti mesin yang tiba-tiba kehabisan daya.
Mereka berdiri berhadapan. Dua puluh meter. Laki-laki tua di depan pagar dengan kantong plastik hitam. Laki-laki muda di mulut gang dengan tangan yang masih di saku.
Tidak ada yang bergerak.
Lalu Yoga berjalan. Pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang berjalan di atas es tipis, yang takut kalau langkahnya terlalu berat, semuanya akan pecah.
Dia berhenti dua langkah dari ayahnya.
“Bapak,” katanya.
Suaranya tidak keluar dengan benar. Hanya separuh kata.
Pak Broto menatapnya. Lama. Dari ujung rambut yang sudah dipotong rapi sampai sandal jepit yang sudah diganti sepatu kanvas murah. Menatap batik parang cokelat tua. Menatap wajah yang sudah tidak setirus dulu.
Lalu dia membuka kantong plastik hitamnya.
Dan mengeluarkan sesuatu.
Papan sirkuit. Hijau tua, sudah kusam, dengan komponen-komponen kecil yang disolder dengan tangan—tidak rapi, timahnya terlalu banyak di beberapa tempat, seperti kerjaan anak kecil yang baru belajar. Di salah satu sudutnya, dengan spidol hitam yang sudah hampir pudar, tertulis tulisan tangan yang miring dan besar-besar, tulisan tangan anak SD:
YOGA. KELAS 5. RAKITAN PERTAMA.
Yoga menatap papan sirkuit itu.
Dan aku melihat sesuatu runtuh di wajahnya. Bukan pelan. Seperti dinding yang selama bertahun-tahun menahan air, dan tiba-tiba, dalam satu detik, jebol.
“Bapak simpen,” bisiknya.
“Dari dulu.” Suara Pak Broto serak. Pendek. Suara laki-laki yang tidak terbiasa bicara lebih dari yang diperlukan. “Waktu Bapak nyopot foto-fotomu, Bapak nemu ini di laci. Bapak mau buang.” Dia diam. “Nggak bisa.”
Dia menyodorkan papan sirkuit itu.
Yoga tidak bergerak.
“Yog,” kata Pak Broto. “Bapak baca beritanya. Yang baru. Yang ditulis wartawan perempuan itu.” Tangannya, yang memegang papan sirkuit, gemetar. “Bapak dateng ke lomba. Bapak denger anak perempuan itu ngomong di panggung. Bapak lihat kamu berdiri.”
Yoga menunduk. Bahunya mulai bergetar.
“Bapak nggak perlu tahu apa yang terjadi dua tahun lalu,” lanjut Pak Broto. “Bapak nggak perlu tahu kenapa kamu nggak angkat telepon. Bapak cuma perlu tahu satu hal.” Suaranya pecah. “Bapak nggak pernah berhenti percaya, Yog. Bapak cuma marah. Marah karena kamu nggak bilang apa-apa ke Bapak. Marah karena kamu ngadepin semuanya sendirian. Kayak ibumu dulu, waktu sakit, nggak mau bilang sampai udah terlambat.”
Yoga mengangkat wajahnya. Matanya basah. Seluruh wajahnya basah.
“Bapak,” katanya. “Aku nggak pernah bohong ke Bapak. Aku cuma diem.” Napasnya tersendat. “Dan aku minta maaf. Buat diemnya. Buat tiga belas telepon yang nggak aku angkat. Buat dua tahun—”
Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Karena Pak Broto, laki-laki yang tidak pernah bisa bilang Bapak bangga, yang hanya bisa menunjukkannya dengan menempel foto di papan gabus, menarik anaknya ke dalam pelukan.
Kaku. Canggung. Seperti dua orang yang tidak pernah belajar cara berpelukan, karena satu-satunya orang yang dulu mengajari mereka sudah lama pergi.
Tapi erat.
Sangat erat.
Papan sirkuit hijau tua itu terjepit di antara dada mereka berdua.
Aku tidak tahu berapa lama mereka berdiri di sana.
Yang aku tahu, di belakangku, seluruh Dapur Angel sedang menangis. Bu Endang terisak ke celemeknya. Mbak Yuli memeluk gulungan selotip. Pak Darto berdiri di ambang pintu dengan kardus di tangan dan wajah basah. Tole, di samping motornya, menangis paling keras, dengan suara yang tidak ditahan sama sekali.
“Bu,” isak Tole. “Bu, aku nggak kuat, Bu.”
“Ibu juga nggak kuat, Le,” isak Bu Endang balik.
Aku berdiri di pagar, dua langkah dari mereka, dan air mataku turun tanpa suara.
Lalu Pak Broto melepaskan pelukan itu. Menghapus matanya dengan punggung tangan, gerakan yang sama yang kulihat di depan kiosnya dulu, saat dia memegang tempe mendoan.
Dia menoleh ke arahku.
“Mbak Angel,” katanya. “Tempenya enak. Kayak bikinan ibunya Yoga.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya mengangguk, dan menangis lebih keras.
Pak Broto menatapku lama. Lalu menatap anaknya. Lalu menatapku lagi.
“Jagain dia,” katanya pelan. “Dia keras kepala. Kayak ibunya. Harus ada yang nyeret.”
“Saya udah nyeret dia tiga bulan, Pak,” kataku di sela tangis.
Dan untuk pertama kalinya, Pak Broto tertawa. Tawa pendek, serak, yang terdengar persis seperti tawa anaknya.
Malam itu, di atap gudang beras, Yoga memberiku sesuatu.
Dia mengeluarkan HP-nya—HP butut dengan kamera yang sudah tidak berlakban—dan membuka sebuah file. Lalu menyerahkannya padaku tanpa berkata apa-apa.
Surat.
Ditulis pukul tiga pagi, berminggu-minggu lalu. Tanggalnya seminggu setelah dia bilang dia cuma memanfaatkanku.
Aku nggak kedip karena kalau aku kedip sekali aja, aku bakal nangis di depanmu, dan kamu bakal tahu.
Aku membaca seluruh surat itu dengan Yoga duduk di kursi plastik di sebelahku, menatap lampu-lampu gang, menunggu.
Saat aku selesai, aku tidak bisa melihat layarnya lagi karena mataku terlalu basah.
“Kamu nulis ini,” bisikku, “dan nggak kamu kirim.”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu baca, terus kamu tetep pergi.” Dia menatapku. “Lebih gampang kamu benci aku karena alasan yang salah, daripada kamu tahu alasan yang bener dan tetep milih pergi.”
Aku menaruh HP-nya di meja kecil. Lalu aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku.
“Yoga,” kataku. “Dengerin aku baik-baik. Aku cuma ngomong ini sekali.”
Dia menunggu.
“Aku nggak ke mana-mana.”
Matanya berubah. Pelan. Seperti lampu yang dinyalakan satu per satu di ruangan yang lama gelap.
“Kamu bisa bohong ke aku,” lanjutku. “Kamu bisa ngusir aku. Kamu bisa ngunci pintu, nutup gorden, matiin lampu, lakban semua kamera di dunia. Aku tetep gedor. Aku tetep bawa tempe. Aku tetep nunggu di lorong sampai kamu buka.” Air mataku turun ke pipinya. “Kamu nggak bisa nyingkirin aku, Yoga Pratama. Aku bukan tipe yang pergi waktu disuruh pergi.”
Dia menatapku lama sekali.
Lalu dia tersenyum. Senyum yang sama seperti di foto pertama kami. Senyum yang mencapai matanya. Senyum orang yang lupa menghentikannya.
“Aku tahu,” katanya. “Sheren bilang.”
Aku tertawa di tengah tangis. “Sheren bilang apa?”
“Katanya kamu tipe yang bakal gedor pintu sampai pintunya copot.”
“Dia bener.”
“Aku tahu.”
Dia menciumku. Lembut. Pelan. Tidak seperti ciuman pertama yang terburu-buru dan putus asa. Ciuman orang yang tahu dia punya waktu. Yang tahu besok, lusa, minggu depan, aku masih akan ada di sini.
Saat dia melepaskan ciuman itu, dahinya menempel di dahiku.
“Angelica,” bisiknya.
“Hm?”
“Bapak nanya, kapan aku mau bawa kamu ke rumah. Ke Broto Cell. Kenalan resmi.”
Aku menarik diri sedikit. Menatapnya.
“Kamu jawab apa?”
Dia tersenyum. “Aku bilang aku harus nanya kamu dulu. Bukan mutusin sendiri.”
Aku menciumnya lagi. Lebih keras kali ini.
Di bawah kami, dari dalam dapur, terdengar suara Tole berbisik sangat keras di telepon:
“Bu Endang. Bu. Mereka di atap lagi. Bu, ini darurat lagi—”
“DIEM, LE!”
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard reading
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.