Chapter Fourteen
Termasuk Kamu?
POV: Angelica
Sudah sembilan hari tidak ada telepon dari nomor-nomor itu.
Aku menghitungnya. Aku tidak bermaksud menghitung, tapi setiap pagi aku bangun dan hal pertama yang kulakukan adalah melihat layar HP, mencari deretan panggilan tak terjawab dari nomor-nomor tidak dikenal, dan setiap pagi selama sembilan hari, layarnya bersih.
Sembilan hari. Sejak tagihan pinjol pertama datang setahun lalu, belum pernah ada jeda lebih dari tiga hari.
Aku tidak berani berharap. Harapan itu berbahaya. Harapan itu seperti pintu yang kamu buka sedikit, dan begitu kamu melangkah masuk, angin menutupnya keras-keras di wajahmu. Aku sudah terlalu sering kena pintu itu.
Jadi aku tidak berharap. Aku hanya menghitung.
Hari kesembilan, hujan turun dari sore sampai malam.
Hujan bulan ini bukan hujan yang sopan. Hujan yang datang seperti tamu tak diundang yang membanting pintu, menumpahkan semua yang ia bawa sekaligus, lalu duduk lama tanpa ada tanda-tanda mau pulang.
Pukul tujuh malam, listrik padam.
Dapur langsung gelap total. Kulkas berhenti berdengung. Kipas angin berhenti berputar. Satu-satunya suara hanya hujan yang menghantam atap seng dengan ritme yang terus-menerus, seperti ribuan jari mengetuk pintu sekaligus.
“KAK ANGEL!” Tole menjerit dari arah belakang. “AKU NGGAK KELIATAN APA-APA! AKU BUTA!”
“Itu mati lampu, Le.”
“OH.” Jeda. “Pantesan.”
Bu Endang, yang sudah kembali bekerja sejak dua hari lalu dan sekarang memperlakukan Yoga seperti malaikat penyelamat yang dikirim langsung dari langit, menyalakan senter HP-nya. Cahayanya jatuh tepat di wajah Tole, yang ternyata sedang memegang sepotong ayam goreng di tangan kanan dan sepotong lagi di tangan kiri.
“Le,” kata Bu Endang. “Itu ayam buat pesanan besok.”
“Aku nyicipin, Bu. Quality control.”
“Dua-duanya?”
“Quality control-nya dobel. Biar yakin.”
Aku mencari lilin di laci. Ketemu tiga batang, sisa ulang tahun Lila tahun lalu, berwarna merah muda dengan glitter. Tidak ada yang lebih baik. Aku menyalakan ketiganya, dan dapurku tiba-tiba terlihat seperti setting acara ulang tahun anak TK yang suram.
Yoga duduk di meja pojok, laptopnya tertutup. Dia terlihat tidak terganggu dengan gelap. Tentu saja tidak. Dia menghabiskan dua tahun di kamar yang lampunya tidak pernah dinyalakan.
“Hujannya gede,” kata Bu Endang, melongok ke jendela. “Mas Yoga nggak usah pulang dulu. Nanti kepeleset di gang. Tunggu reda.”
“Saya bisa—”
“Nggak bisa.” Bu Endang memotong dengan nada final. “Ibu nggak mau malaikat penyelamat Ibu jatuh ke selokan.”
Yoga menatapku, seperti meminta bantuan.
Aku mengangkat bahu. “Kamu dengar Bu Endang.”
Pukul delapan, Tole dan Bu Endang pulang lebih dulu. Rumah mereka dekat, dan mereka nekat menembus hujan berbagi satu payung, dengan Tole memegang gagang dan Bu Endang memukul lengannya setiap kali payungnya miring ke arah yang salah.
“Neng!” teriak Bu Endang dari pintu, sebelum menghilang ke dalam hujan. “Jaga Mas Yoga ya! Jangan sampai masuk angin!”
“Bu, dia bukan anak kecil—”
Pintu tertutup.
Aku menatap pintu itu. Lalu aku menatap Yoga.
Kami tinggal berdua di dapur yang gelap. Tiga lilin ulang tahun merah muda. Hujan yang tidak berhenti.
Aku belum pernah merasa secanggung ini di dapurku sendiri.
“Teh?” tanyaku, karena aku harus mengatakan sesuatu.
“Kompornya nyala?”
“Kompor gas. Nggak butuh listrik.”
Aku membuat dua gelas teh manis dengan bantuan cahaya lilin dan senter HP yang baterainya tinggal dua puluh persen. Aku meletakkan satu di depannya, lalu duduk di seberangnya, dengan lilin-lilin di antara kami.
Cahaya lilin membuat wajahnya berbeda. Lebih lembut. Bayangan di bawah tulang pipinya tidak lagi terlihat seperti lubang. Matanya memantulkan nyala api kecil, dan untuk pertama kalinya aku melihat warnanya dengan jelas—bukan hitam seperti yang kukira, tapi cokelat sangat tua, seperti kopi yang terlalu lama diseduh.
“Kamu ngeliatin lagi,” katanya.
“Nggak ada pantulan layar sekarang. Kamu nggak bisa buktiin.”
“Aku nggak butuh pantulan.” Dia mengangkat gelas tehnya. “Aku bisa ngerasain.”
Aku memalingkan wajah ke arah jendela. Hujan. Hujan adalah topik aman.
“Kamu suka tempe mendoan,” kataku, setelah lama diam.
Dia berhenti dengan gelas setengah jalan ke mulut.
“Kamu selalu makan tempenya terakhir,” lanjutku. “Kayak nyimpen yang paling enak buat penutup.”
Lama sekali dia tidak menjawab. Hujan mengisi kesunyian di antara kami.
“Ibuku,” katanya akhirnya. “Tiap Jumat, Ibu bikin tempe mendoan. Bukan yang tebal kayak di warung. Yang tipis, yang pinggirnya garing tapi tengahnya masih lembek.” Dia menatap nyala lilin. “Aku pulang sekolah Jumat sore, Ibu udah goreng sepiring. Aku makan sambil duduk di bangku plastik di kios Bapak, nonton Bapak benerin HP orang.”
“Ibumu masih—”
“Udah nggak ada. Waktu aku semester tiga.”
“Maaf.”
“Udah lama.” Dia memutar gelasnya pelan. “Sejak Ibu nggak ada, Bapak sama aku jadi kayak dua orang yang tinggal serumah tapi beda bahasa. Ibu yang biasa nerjemahin. Ibu yang bilang ke aku, Bapakmu bangga, cuma nggak bisa ngomong. Ibu yang bilang ke Bapak, Yoga sayang Bapak, cuma malu.” Dia tersenyum tipis, senyum yang lebih menyakitkan daripada kalau dia menangis. “Tanpa penerjemah, kami cuma diam. Terus waktu semuanya hancur, diamnya jadi permanen.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Jadi aku melakukan hal yang tidak pernah kulakukan pada siapa pun sebelumnya. Aku mengulurkan tangan melewati lilin-lilin itu, dan meletakkannya di atas tangannya yang memegang gelas.
Dia tidak menarik tangannya. Sama seperti di gudang beras empat hari lalu.
“Hari pertama kamu buka pintu,” kataku pelan, “kamu bilang sesuatu waktu ngeliat surat tebusan di HP-ku. Kamu ingat?”
Dia diam sebentar. “Aku bilang banyak hal hari itu.”
“Kamu bilang, semua sistem punya celah.”
Dia menatapku. Nyala lilin bergetar di matanya.
“Kamu bilang itu kayak hukum alam,” lanjutku. “Kayak sesuatu yang kamu percaya dari dulu.” Aku menarik napas, dan pertanyaan itu keluar sebelum aku sempat menghentikannya. “Termasuk kamu?”
Hujan. Hanya hujan.
Dia menatapku lama sekali. Tangannya di bawah tanganku tidak bergerak, tapi aku merasakan sesuatu berubah di sana, sesuatu yang menegang lalu mengendur, seperti tali yang ditarik lalu dilepaskan.
“Ada,” katanya akhirnya. Suaranya sangat pelan, hampir tenggelam dalam suara hujan.
“Apa?”
Dia tidak menjawab.
Dia hanya menatapku. Tidak menatap lilin. Tidak menatap jendela. Tidak menatap gelas teh di tangannya. Menatapku, dengan mata cokelat sangat tua yang memantulkan nyala api kecil, dan sesuatu di dalam tatapan itu membuat napasku tertahan di tengah dada.
Dia tidak perlu menjawab.
Atau mungkin dia perlu menjawab, dan aku perlu mendengarnya, dan jawaban itu ada di ujung lidahnya—
Lampu menyala.
Seluruh dapur tiba-tiba terang benderang. Kulkas berdengung hidup kembali dengan suara yang sangat keras. Kipas angin mulai berputar. Dan dari luar, dari seluruh penjuru gang, terdengar sorak-sorai warga.
“NYALAAAA!”
Dari jendela, suara Tole—yang ternyata belum sampai rumah, entah kenapa—berteriak paling keras: “KAK ANGEL! LISTRIKNYA NYALA! AKU UDAH NGGAK BUTA!”
Aku menarik tanganku begitu cepat sampai gelas tehku hampir tumpah. Yoga berdiri terlalu cepat dan lututnya membentur kaki meja.
Kami saling menatap dalam cahaya lampu yang tiba-tiba terlalu terang, terlalu jujur.
Tiga lilin ulang tahun merah muda masih menyala di antara kami, sekarang terlihat konyol dan tidak perlu.
“Hujannya,” kata Yoga, menunjuk jendela, “udah agak reda.”
Belum. Hujan masih turun sama derasnya.
“Iya,” kataku. “Udah reda banget.”
Dia mengambil jaketnya, berjalan ke pintu, lalu berhenti dengan tangan di gagang.
“Angelica.”
“Ya?”
Dia tidak menoleh. “Makasih tehnya.”
Lalu dia pergi, menembus hujan yang sama sekali belum reda, tanpa payung, dan aku berdiri di ambang pintu menontonnya sampai sosoknya hilang di belokan gang.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring menatap langit-langit, mendengarkan sisa hujan yang menetes dari talang, dan mengulang satu kata berkali-kali di kepala.
Ada.
Dia punya celah. Dia mengakuinya sendiri.
Dan dia tidak mau bilang apa.
Tapi caranya menatapku saat dia mengatakan ada—
Aku menutup wajah dengan bantal dan berteriak ke dalamnya, sangat pelan, supaya Lila di kamar sebelah tidak mendengar.
Di meja samping tempat tidur, HP-ku tergeletak dengan layar gelap.
Hari kesembilan. Masih tidak ada telepon dari nomor-nomor itu.
Dan entah kenapa, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, kedua hal itu—celah yang tidak mau dia sebutkan, dan HP yang tiba-tiba sunyi—terasa seperti dua potongan dari teka-teki yang sama.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu? reading
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.