Chapter Fifteen
Nama Orang Lain
POV: Yoga
Kabar itu datang lewat Bu Narti, dan karena itu, kabar itu datang dengan tambahan bumbu sebanyak tiga kali lipat.
“Pak Lurah nyariin Mas Yoga!”
Aku sedang di meja pojok Dapur Angel, membantu Lila mengerjakan soal latihan. Bu Narti masuk dengan napas terengah, kerudung miring, wajah merah seperti baru lari dari kantor kelurahan—yang kemungkinan besar memang begitu.
“Pak Lurah?” tanya Angelica dari balik kasir.
“Iya! Katanya kelurahan butuh orang yang ngerti komputer! Gara-gara kelas Sabtu kemarin! Ibu-ibu pengajian yang ikut minggu lalu cerita ke istri Pak Lurah, terus istri Pak Lurah cerita ke Pak Lurah, terus Pak Lurah nanya ke saya, terus saya bilang Mas Yoga ini dulunya kerja di FBI—”
“Bu Narti.”
“—terus Pak Lurah langsung semangat!”
Aku menutup mata sebentar.
Masalahnya ternyata nyata, dan cukup serius.
Pak Lurah—laki-laki gempal berkumis tebal bernama Pak Harun—datang sendiri ke Dapur Angel sore itu, duduk di kursi plastik yang terlalu kecil untuknya, dan menjelaskan dengan wajah orang yang sudah tidak tidur tiga malam.
Kelurahan baru saja ditegur dinas kota. Data warga penerima bantuan sosial—nama, alamat, nomor KTP, nomor KK—beredar di grup-grup WhatsApp yang tidak seharusnya. Bukan karena dibobol. Karena staf kelurahan sendiri yang biasa memfoto daftar itu dan mengirimnya ke grup RT supaya “gampang dicek”. Lalu grup RT meneruskan ke grup warga. Lalu entah siapa meneruskan ke mana lagi.
“Seribu dua ratus KK, Mas,” kata Pak Harun, mengusap keningnya dengan sapu tangan. “Datanya udah nyebar ke mana-mana. Dinas kasih waktu sebulan buat benerin sistem penyimpanan data dan ngelatih staf. Kalau nggak, kelurahan kena sanksi, anggaran bansos bisa ditahan.”
“Bantuan warganya bisa ketahan?” tanya Angelica.
“Bisa, Neng. Seribu dua ratus keluarga.”
Aku diam.
Ini bukan pekerjaan yang rumit. Ini bukan Jejak. Ini bukan apa pun yang butuh kemampuan istimewa. Ini hanya kebiasaan buruk yang perlu diganti dengan kebiasaan baik: cara menyimpan data yang benar, siapa saja yang boleh mengakses, apa yang tidak boleh difoto dan dikirim ke grup. Pelatihan untuk staf. Aturan sederhana yang ditempel di dinding.
Aku bisa melakukannya dalam dua minggu.
“Saya bisa bantu, Pak,” kataku.
Wajah Pak Harun langsung cerah. “Alhamdulillah! Nanti dibayar, Mas, ada anggarannya dari dinas. Cuma prosedurnya harus lewat penyedia jasa resmi. Mas tinggal kasih CV sama KTP, nanti saya ajukan sebagai konsultan.”
Dan di situ semuanya berhenti.
CV.
Aku punya CV. Masih tersimpan di laptop lama, di folder yang sama sekali tidak pernah kubuka. CV yang dulu membuat orang memanggilku “Pak” di umur dua puluh delapan. Lulusan terbaik. Pemenang ini dan itu. Kepala Keamanan Siber Bank Nusa Raya.
Dan siapa pun yang mengetik nama di CV itu ke mesin pencari akan menemukan judul berita yang masih bisa kuhafal titik komanya.
Kepala Keamanan Siber Diduga Dalang Kebocoran 30 Juta Data Nasabah.
Aku membayangkan seseorang di dinas kota menerima pengajuan konsultan perlindungan data warga, membuka nama konsultannya, dan menemukan bahwa orang itu adalah wajah kebocoran data terbesar dalam sejarah perbankan negeri ini.
Pengajuan itu akan ditolak dalam lima menit. Dan lebih buruk lagi, kelurahan akan kena masalah karena berani mengajukan nama itu.
“Pak,” kataku pelan. “Saya bantu. Tapi jangan pakai nama saya.”
Pak Harun berkedip. “Lho, kenapa, Mas?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu cara menjawab tanpa menjelaskan semuanya.
Angelica, di balik kasir, sudah berhenti bergerak. Dia tahu. Tentu saja dia tahu.
“Mas Yoga ini...” kata Angelica, melangkah maju, suaranya hati-hati, “punya riwayat kerja yang ribet, Pak. Kontrak sama perusahaan lama. Ada aturan nggak boleh terima proyek atas nama sendiri selama beberapa tahun.”
Itu bohong. Bohong yang sangat rapi, keluar begitu lancar sampai aku hampir percaya.
Pak Harun mengangguk-angguk, seolah itu masuk akal. “Oh, kayak klausul nonkompetisi gitu ya? Anak saya juga kena gitu dulu di perusahaan tambang.” Dia berpikir sebentar. “Terus pakai nama siapa?”
Kami bertiga terdiam.
Lalu, dari arah dapur, terdengar suara sesuatu jatuh ke lantai. Kami menoleh.
Tole berdiri di sana, memegang nampan yang miring, menatap kami dengan mata lebar seperti rusa di depan lampu mobil. Di lantai, tiga potong bakwan tergeletak.
Bu Narti menatap Tole. Pak Harun menatap Tole. Angelica menatap Tole.
Dan aku menatap Tole.
“...Kenapa semua ngeliatin aku?” bisik Tole.
Selama dua minggu berikutnya, Tole—nama lengkap Bartolomeus Tirtayasa, mahasiswa semester empat belas jurusan Administrasi Publik, yang skripsinya sudah tiga tahun terjebak di bab tiga—menjadi konsultan perlindungan data warga paling tidak meyakinkan dalam sejarah administrasi kelurahan.
Dia memakai kemeja batik pinjaman dari Pak Darto, kebesaran dua nomor, lengannya digulung tiga kali. Dia membawa map plastik berisi materi pelatihan yang kususun setiap malam. Dan setiap pagi, sebelum berangkat ke kelurahan, dia berdiri di depanku di meja pojok Dapur Angel, menghafal.
“Oke, Le. Kalau ada staf yang nanya kenapa nggak boleh foto daftar bansos terus kirim ke grup, kamu jawab apa?”
Tole menutup mata, berkonsentrasi. “Karena... karena... data pribadi warga itu amanah, dan sekali dikirim ke grup, kita nggak bisa narik lagi. Kayak... kayak...”
“Kayak apa?”
“Kayak kentut, Mas.”
Bu Endang, yang sedang menggoreng, tersedak.
“...Kayak air yang udah tumpah,” koreksiku.
“Iya, itu. Air tumpah.” Tole mencatat di telapak tangannya. “Tapi kentut juga bener kan, Mas? Sekali keluar nggak bisa ditarik.”
“Jangan bilang kentut di depan Pak Lurah.”
“Siap, Mas.”
Dia bilang kentut di depan Pak Lurah pada hari ketiga. Untungnya, Pak Lurah tertawa sampai kumisnya bergetar dan bilang itu analogi terbaik yang pernah ia dengar. Staf kelurahan mengingatnya. Sampai sekarang, kudengar, ada kertas tertempel di dinding ruang administrasi kelurahan: DATA WARGA KAYAK KENTUT. SEKALI KELUAR, NGGAK BISA DITARIK.
Aku tidak tahu harus bangga atau malu.
Dua minggu kemudian, kelurahan lulus pemeriksaan dinas.
Pak Harun mengadakan syukuran kecil di aula kelurahan. Ada tumpeng. Ada sambutan. Ada spanduk yang dicetak dadakan bertuliskan Terima Kasih Konsultan Perlindungan Data Kelurahan Mawar Sari, dengan foto Tole dalam kemeja batik kebesaran, tersenyum canggung.
Aku duduk di barisan paling belakang.
Angelica duduk di sampingku. Dia memaksa ikut. “Aku yang masak tumpengnya,” katanya. “Aku berhak lihat orang makan tumpengku.”
Di depan, Pak Harun memanggil Tole ke panggung. Tole berjalan dengan langkah kaku, seperti robot yang baterainya hampir habis. Pak Harun menjabat tangannya, menyerahkan amplop dan sertifikat penghargaan, dan seluruh aula bertepuk tangan.
“Mas Bartolomeus ini,” kata Pak Harun ke mikrofon, “masih muda, tapi pengetahuannya luar biasa. Dalam dua minggu, staf kami yang tadinya gaptek sekarang paham semua soal keamanan data. Kami sangat berterima kasih.”
Tepuk tangan lagi.
Tole menatap sertifikat di tangannya. Lalu, dari atas panggung, matanya mencari-cari ke arah belakang aula. Menemukanku. Wajahnya berubah—bukan bangga, tapi bersalah, seperti anak kecil yang menerima piala lomba gambar padahal gambarnya dibuatkan kakaknya.
Aku mengangguk padanya. Pelan. Nggak apa-apa.
Dia menunduk. Lalu, tanpa diduga siapa pun, dia mendekat ke mikrofon.
“Saya...” Suaranya bergetar. “Saya cuma mau bilang, saya nggak kerja sendirian. Ada guru saya. Yang ngajarin saya semuanya. Dia nggak mau disebut namanya. Tapi tanpa dia, saya cuma mahasiswa semester empat belas yang skripsinya nggak kelar-kelar.”
Aula tertawa. Tole tersenyum canggung, lalu turun dari panggung sebelum Pak Harun sempat bertanya siapa gurunya.
Aku menatap lantai.
Ada sesuatu yang aneh di dadaku. Bukan sakit, persis. Lebih seperti sesuatu yang sudah lama mati rasa, tiba-tiba diberi sentuhan, dan baru sadar bahwa dia masih bisa merasakan.
Aku senang. Aku senang kelurahan lulus. Aku senang seribu dua ratus keluarga tidak kehilangan bantuan mereka. Aku senang Tole, untuk pertama kalinya dalam empat belas semester, berdiri di atas panggung dan diberi tepuk tangan.
Tapi di bawah rasa senang itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang perih, kecil, dan tajam.
Itu namaku. Itu seharusnya namaku di spanduk itu.
Dan aku tidak bisa memakainya. Mungkin tidak akan pernah bisa lagi.
Di sampingku, Angelica tidak bertepuk tangan. Dia tidak melihat panggung. Dia melihatku.
Dan tanpa berkata apa pun, di bawah meja, di barisan paling belakang aula kelurahan yang penuh orang bertepuk tangan untuk nama yang bukan namaku, dia menggenggam tanganku.
Bukan menyentuh ujung jari seperti di gudang beras. Menggenggam. Erat. Seperti orang memegang sesuatu yang takut jatuh.
Aku tidak menarik tanganku.
Malam itu, di kamar kos, aku membongkar tumpukan kardus di sudut kamar.
Butuh waktu. Kardus-kardus itu sudah dua tahun tidak disentuh. Debunya tebal. Isinya buku-buku lama, kabel-kabel yang tidak lagi kupakai, kemeja kerja yang dilipat seperti mayat dalam kain kafan.
Di dasar kardus paling bawah, aku menemukannya.
Buku catatan bersampul hitam, sudutnya sudah lecek. Aku membuka halaman belakangnya.
Tulisan tanganku dari tiga tahun lalu. Lebih rapi daripada sekarang. Lebih yakin.
Indonesia nggak perlu takut sama internetnya sendiri.
Di bawahnya, coretan-coretan kecil yang dulu kubuat di jam istirahat kantor. Sketsa ruangan dengan meja-meja panjang. Daftar nama kota. Hitungan biaya. Dan di pojok halaman, dilingkari dua kali, satu kalimat:
Sekolah gratis. Buat anak-anak yang belajar dari warnet.
Aku membaca halaman itu lama sekali.
Hari ini, delapan anak dan satu ibu kos duduk di kursi plastik pinjaman di teras katering, belajar menangkap penipu. Hari ini, seribu dua ratus keluarga tidak kehilangan bantuan karena seorang mahasiswa semester empat belas belajar menyamakan data warga dengan kentut.
Hari ini, mimpiku hidup lagi.
Hanya saja, untuk saat ini, ia hidup dengan nama orang lain.
Aku menutup buku itu. Tapi aku tidak memasukkannya kembali ke kardus.
Aku meletakkannya di meja. Di samping laptop. Di tempat aku bisa melihatnya setiap pagi.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain reading
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.