Chapter Twenty One
Dua Langkah Mundur
POV: Yoga
Fotonya masih ada di HP-ku.
Aku tidak menghapusnya. Aku sudah mencoba tiga kali. Jempolku berhenti di atas ikon tempat sampah, lalu menjauh, seolah jempol itu punya pendapat sendiri dan pendapatnya berbeda denganku.
Jadi foto itu tetap di sana. Dua orang di kamar kos yang terang. Perempuan dengan mata merah dan pipi basah, tersenyum seperti orang yang baru memenangkan sesuatu. Dan laki-laki di sampingnya.
Laki-laki itu yang membuatku takut.
Aku tidak mengenalnya. Wajahnya wajahku—tulang pipi yang sama, mata yang sama, bekas luka kecil di dagu dari jatuh sepeda waktu SD. Tapi ekspresinya bukan ekspresiku. Laki-laki di foto itu tersenyum dengan seluruh wajahnya. Laki-laki di foto itu terlihat seperti orang yang tidak pernah kehilangan apa pun.
Terakhir kali aku melihat wajah seperti itu di cermin adalah tiga tahun lalu. Pagi hari lamaran. Aku berdiri di depan cermin kamar mandi apartemen, memakai kemeja batik yang dipilihkan Sheren, dan tersenyum persis seperti itu. Bahagia dengan cara yang tidak tahu diri. Bahagia seperti orang yang yakin hidupnya sudah selesai disusun dan tinggal dijalani.
Enam bulan kemudian, semuanya runtuh.
Dan bukan hanya aku yang tertimpa. Sheren kehilangan tunangan. Bapak kehilangan anak. Tiga puluh juta orang kehilangan data mereka—termasuk perempuan yang sekarang tersenyum di sampingku di foto itu.
Aku menatap foto itu sampai layar HP meredup sendiri.
Lalu aku memutuskan sesuatu.
Hari pertama, aku tidak datang untuk makan siang.
Pukul dua belas, aku duduk di lantai kamar dengan laptop, pura-pura bekerja. Pukul dua belas lima belas, HP-ku berbunyi. Kamu telat. Pukul dua belas tiga puluh: Yoga? Pukul satu: Kamu sakit?
Aku membalas satu kata. Sibuk.
Lalu aku memakai sandal jepit, turun tangga kos, belok kiri di mulut gang, berjalan dua puluh tiga langkah ke warung Bu Sri. Nasi, telur dadar, sayur labu, sambal sedikit. Satu bungkus.
Bu Sri menatapku seperti melihat hantu.
“Lho, Mas. Lama nggak ke sini. Saya kira udah pindah.”
“Belum, Bu.”
“Biasanya kan sekarang makan di Dapur Angel? Kata orang-orang Mas udah jadi—” dia berhenti, lalu tersenyum penuh arti, “—orang sana.”
Aku membayar sembilan ribu, uang pas, dan pergi tanpa menjawab.
Nasi Bu Sri rasanya sama seperti dua tahun terakhir. Bukan tidak enak. Hanya tidak ada rasanya. Makanan untuk tidak mati.
Aku makan di lantai, di tempat biasa. Segitiga cahaya jam tiga tidak datang hari itu, karena kardus mi instan di jendela sudah kuganti dengan gorden krem. Cahaya masuk dari mana-mana sekarang. Tidak ada lagi segitiga. Tidak ada lagi yang bisa kuhafal.
Aku tidak tahu kenapa itu membuatku sedih.
Pukul tiga sore, pintu kamarku diketuk.
Bukan digedor. Diketuk. Tiga kali, pelan.
Aku tidak membukanya.
Di balik pintu, aku mendengar sesuatu diletakkan di lantai. Lalu langkah menjauh. Lalu sunyi.
Aku menunggu sepuluh menit sebelum membuka pintu.
Kotak nasi. Kardus putih dengan stiker hijau. Dan selembar kertas dilipat dua, ditindih sendok plastik.
Tulisan tangannya. Tegak, rapi, sedikit miring ke kanan.
Ini bukan sogokan. Ini ujian rasa.
Kalau masakanku masih enak, berarti kamu masih utang makan siang tiap hari sama aku. Perjanjiannya belum selesai. Aku nggak pernah bilang selesai.
— A.
P.S. Kamu kurus lagi. Tiga hari lagi kayak gini, Bu Endang bakal dateng bawa panci. Itu bukan ancaman. Itu observasi.
Aku membaca kertas itu di ambang pintu, berdiri di lorong yang sama seperti di hari pertama, dengan lampu kuning yang tidak pernah dimatikan Bu Narti.
Aku membuka kotaknya. Nasi putih. Ayam bakar. Tumis buncis. Sambal terasi di wadah kecil terpisah.
Dan tempe mendoan. Dua potong.
Aku makan semuanya, menyisakan tempe untuk terakhir. Lalu aku menatap dua potong tempe itu lama sekali sebelum memakannya, karena aku tahu begitu habis, aku harus memutuskan lagi apakah besok akan datang atau tidak.
Hari kedua, aku tidak datang lagi.
Kotak nasi datang lagi pukul tiga. Kertasnya lebih pendek.
Lila nanya kenapa Mas Yoga nggak dateng. Aku bilang kamu sibuk. Dia nggak percaya. Aku juga nggak.
Hari ketiga, kotak nasi datang pukul tiga. Tidak ada kertas. Hanya stiker hijau, dan di atas stiker itu, dengan spidol, satu tanda tanya besar.
Aku memandangi tanda tanya itu lebih lama daripada surat mana pun.
Malam hari ketiga, dinding sebelahku diketuk.
“Mas kamar tujuh.”
Mbak Ratih. Pulang shift lebih awal.
“Ya, Mbak.”
“Mas berantem sama Mbak katering?”
Aku diam.
“Soalnya,” lanjutnya, “tiga hari ini dia dateng tiap sore, naruh kotak di depan pintu Mas, terus berdiri di lorong lima menit nungguin. Nggak ngetuk lagi. Cuma berdiri. Terus pulang.” Jeda. “Saya lihat dari lubang pintu. Bukan ngintip. Kebetulan.”
Aku menutup mata.
“Kemarin dia nangis, Mas,” kata Mbak Ratih, lebih pelan. “Nggak keras. Cuma ngelap mata pakai lengan baju, terus pura-pura batuk, terus pulang.”
Sesuatu di dadaku berputar dan mengencang seperti kain yang diperas.
“Saya nggak tahu urusan Mas,” kata Mbak Ratih. “Tapi saya teller bank, Mas. Tiap hari saya lihat orang dateng nangis karena duitnya hilang. Saya hafal muka orang yang kehilangan sesuatu.” Jeda. “Mbak katering itu mukanya kayak gitu. Dan Mas, kalau saya boleh jujur, suara Mas tiga hari ini juga kayak gitu.”
Dia tidak menunggu jawaban. Aku mendengar langkahnya menjauh, kasur berderit, lalu sunyi.
Pukul sembilan, pintuku digedor.
Kali ini benar-benar digedor. Keras. Berkali-kali. Dengan kepalan tangan yang jelas tidak berniat sopan.
Untuk sesaat aku mengira itu Angelica, dan jantungku melompat ke tenggorokan.
“Mas Yoga! Aku tahu Mas di dalem! Buka!”
Bukan Angelica.
Lila.
Aku membuka pintu. Lila berdiri di lorong, masih berseragam meski sudah malam, wajah merah, napas tersengal seperti habis berlari dua gang.
“Mas,” katanya. “Mas pengecut.”
Aku tidak membantah.
“Kakak nggak mau bilang apa-apa. Dia cuma bilang Mas sibuk. Tapi aku tahu Kakak. Kakak nggak pernah masak tempe mendoan buat siapa pun, Mas. Nggak pernah. Kakak nggak suka tempe mendoan. Dia nggak bisa bikinnya. Dia belajar. Dua minggu. Dari Bu Endang. Tiap subuh sebelum buka dapur. Gosong terus. Aku yang disuruh makan yang gosong-gosong.” Suaranya pecah. “Dan tiga hari ini dia tetep bikin. Dua potong. Buat Mas. Padahal Mas nggak dateng.”
Aku memegang kusen pintu.
“Aku nggak ngerti Mas,” lanjut Lila, air mata sudah turun. “Mas bisa ngelawan debt collector sambil minum teh. Mas bisa ngajarin anak SD nyelametin ibu kos. Mas bisa bersihin dua puluh satu pinjol dalam tujuh minggu. Tapi Mas nggak bisa dateng makan siang ke tempat orang yang—” Dia berhenti. Menggigit bibir. “Ke tempat orang yang sayang sama Mas.”
“Lila.”
“Apa?”
“Kakakmu pantes dapet orang yang namanya bersih.”
Lila menatapku seolah aku baru saja mengucapkan hal paling bodoh di dunia.
“Mas,” katanya pelan. “Kakakku punya foto Mas dari berita. Yang judulnya dalang kebocoran. Dia simpen setahun buat diliatin kalau lagi butuh marah. Dia tahu nama Mas kayak apa. Dia tahu dari sebelum ketemu Mas.” Dia menghapus matanya dengan kasar. “Dan dia tetep belajar bikin tempe mendoan dua minggu.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Lila menarik napas panjang. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya—selembar kertas terlipat—dan menyodorkannya padaku.
“Kakak nitip. Katanya kalau Mas buka pintu, kasih ini. Kalau Mas nggak buka, selipin di bawah pintu.”
Aku membuka kertas itu.
Tulisan tangannya. Tapi kali ini tidak setegak biasanya. Miringnya lebih banyak. Tekanan penanya lebih dalam, sampai kertasnya hampir sobek di beberapa tempat.
Aku nggak nanya kamu mau atau nggak.
Besok jam dua belas. Kalau kamu nggak dateng, aku yang dateng. Bawa Bu Endang. Bawa panci.
Kamu tahu aku serius.
— A.
Aku membaca kertas itu tiga kali.
Lalu aku tertawa. Tawa kecil, basah, aneh, yang keluar tanpa izinku. Tawa orang yang baru sadar dia sudah kalah, dan kalahnya terasa lebih baik daripada menang.
Lila menatapku dengan dahi berkerut. “Mas ketawa?”
“Kakakmu,” kataku, suara serak, “negosiator paling menakutkan yang pernah aku temuin.”
Lila mengusap hidungnya dengan lengan seragam. “Jadi Mas dateng?”
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku. Bersama kertas pertama, yang ditulis di hari pertama, yang sudah lecek karena terlalu sering dibuka dan dilipat lagi.
“Aku dateng,” kataku.
Lila menatapku lama. Lalu, tanpa peringatan, dia memelukku. Cepat, kaku, canggung, seperti remaja yang tidak terbiasa memeluk orang dewasa yang bukan keluarganya. Lalu dia melepaskan pelukan itu secepat dia memulainya, dan memukul lenganku keras.
“Kalau besok Mas nggak dateng,” katanya, “aku yang bawa panci. Panci presto.”
Dia pergi sebelum aku sempat menjawab.
Aku berdiri di ambang pintu, menatap lorong kosong, lampu kuning, dan di ujung lorong, pintu kamar Mbak Ratih yang terbuka sejengkal lalu buru-buru menutup.
Aku menutup pintuku sendiri.
Tidak kukunci.
Aku duduk di lantai, mengeluarkan HP, dan membuka foto itu lagi. Laki-laki yang tersenyum dengan seluruh wajahnya.
Aku masih takut padanya.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya apakah mungkin—mungkin saja—aku bisa belajar menjadi dia lagi.
Tanpa harus kehilangan semuanya kali ini.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur reading
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.