Chapter Thirty One
Sistem Bapak Juga
POV: Yoga
Undangan itu datang lewat Sheren.
Papa mau ketemu kamu. Di rumah. Sabtu malam. Aku ikut.
Lalu, setelah jeda:
Papa lihat beritanya. Soal lomba tingkat kota. Ada di koran lokal, ada fotomu berdiri di bangku penonton. Papa diem lama banget waktu lihat itu.
Aku membaca pesan itu di meja pojok Dapur Angel. Angelica membacanya dari balik bahuku. Tidak pura-pura tidak membaca. Dia sudah berhenti pura-pura.
“Kamu mau dateng?” tanyanya.
“Kamu mau aku dateng?”
Dia diam sebentar. Lalu dia duduk di kursi di seberangku dan menatapku lurus.
“Kamu nanya pendapatku,” katanya. “Bukan mutusin sendiri.”
“Aku lagi belajar.”
Dia tersenyum. Lalu senyumnya pudar. “Aku mau kamu dateng. Tapi aku mau ikut.”
“Angelica—”
“Aku nggak masuk. Aku tunggu di luar. Di mobil Pak Darto.” Dia meraih tanganku. “Tapi aku mau ada di deket situ. Biar kalau kamu keluar dari sana, orang pertama yang kamu lihat itu aku. Bukan jalan kosong.”
Aku menatap tangannya di atas tanganku.
“Oke,” kataku.
Rumah keluarga Wirawan ada di kompleks perumahan di selatan Jakarta. Pagar tinggi. Halaman luas dengan rumput yang dipotong rapi. Lampu taman yang menyala kuning lembut.
Dulu aku sering datang ke sini. Makan malam keluarga setiap Minggu. Duduk di ruang tamu, minum teh, mendengarkan Pak Hendro bercerita tentang golf dan rapat direksi, sementara Sheren tersenyum padaku dari seberang meja.
Malam ini aku datang dengan kemeja pinjaman Pak Darto dan perut yang kosong karena aku tidak bisa makan apa pun sejak siang.
Pak Darto memarkir mobilnya di bawah pohon di seberang jalan. Angelica duduk di kursi depan.
“Aku di sini,” katanya.
“Aku tahu.”
Dia menyentuh wajahku. Sebentar. Lalu menurunkan tangannya.
“Jangan kedip kalau kamu nggak perlu,” katanya. “Tapi kalau kamu perlu kedip, kedip aja.”
Aku turun dari mobil.
Sheren yang membukakan pintu. Dia memakai blus sederhana, rambut diikat, tanpa riasan. Wajahnya pucat.
“Papa di ruang tamu,” katanya pelan. Lalu, lebih pelan lagi, hanya untukku: “Apa pun yang dia tawarin, jangan terima cuma karena aku.”
Ruang tamu itu masih sama. Sofa kulit cokelat. Lukisan pemandangan di dinding. Lemari kaca berisi piala-piala golf.
Pak Hendro duduk di sofa tunggal di ujung, dengan secangkir teh di tangan. Dia lebih tua dari dua tahun lalu. Rambutnya lebih tipis. Wajahnya lebih berat. Tapi matanya masih sama—mata orang yang terbiasa menjadi orang paling penting di ruangan mana pun.
“Yoga,” katanya. “Duduk.”
Aku duduk di sofa panjang. Sheren duduk di ujung lain, menjaga jarak dari kami berdua.
“Saya nggak akan basa-basi,” kata Pak Hendro. “Saya lihat beritanya. Artikelnya. Lomba itu. Orang-orang mulai bertanya. Ada wartawan yang menelepon kantor minggu lalu, menanyakan apakah kasus kebocoran dua tahun lalu akan dibuka ulang.”
Aku diam.
“Saya mau menawarkan sesuatu.” Pak Hendro meletakkan cangkirnya. “Saya bisa memulihkan namamu. Pernyataan resmi bahwa penyelidikan internal menemukan kamu tidak terlibat langsung. Bahwa kebocoran itu akibat kelemahan sistem warisan yang sudah lama ada. Tanpa menyebut siapa pun secara spesifik.” Dia menatapku. “Kamu bisa kerja lagi. Di mana pun kamu mau. Saya bahkan bisa merekomendasikanmu.”
Ruangan itu hening. Aku mendengar jam dinding berdetak.
“Syaratnya?” tanyaku.
Pak Hendro tersenyum tipis. “Kamu pintar. Kamu selalu pintar.” Dia bersandar. “Syaratnya sederhana. Pertama, kamu berhenti mencari. Siapa pun yang kamu kira masih ada di luar sana, lupakan. Kedua, perempuan katering itu membuat pernyataan bahwa dia melebih-lebihkan ceritanya ke wartawan. Bahwa bagian soal pelaku yang masih aktif itu hanya dugaannya sendiri, tanpa dasar.”
Aku merasakan sesuatu yang dingin turun dari tengkuk.
“Kalau dia bikin pernyataan kayak gitu,” kataku pelan, “semua orang bakal nganggep dia pembohong. Usahanya hancur. Dua belas karyawannya.”
“Itu harga yang harus dibayar untuk namamu.” Pak Hendro mengangkat bahu. “Kamu yang memutuskan mana yang lebih penting.”
“Papa,” kata Sheren, suaranya bergetar.
“Sheren, diam.”
“Papa, itu nggak adil—”
“Ketiga,” lanjut Pak Hendro, mengabaikan putrinya, “kamu tidak pernah, dalam kondisi apa pun, membicarakan apa pun yang terjadi sebelum September dua tahun lalu. Dengan siapa pun.”
Sebelum September. Bulan Maret ada sebelum September.
Dia tahu. Dia tahu aku masih menyimpannya.
Aku menatap Pak Hendro lama.
Dua tahun lalu, aku akan menunduk. Aku akan berpikir tentang Sheren yang hanya punya ayahnya. Aku akan berpikir bahwa lebih baik aku yang tenggelam.
Malam ini, aku memikirkan seorang perempuan yang duduk di mobil di seberang jalan, menunggu supaya hal pertama yang kulihat saat keluar dari sini bukan jalan kosong.
“Boleh saya ngomong sesuatu, Pak?” tanyaku.
Pak Hendro mengangguk, dengan wajah orang yang yakin sudah menang.
“Bapak bilang tadi, Bapak bisa memulihkan nama saya.” Suaraku datar. Tidak naik. Tidak turun. “Tapi dua tahun lalu, waktu penyidik datang, orang pertama yang memberi keterangan bahwa saya punya akses penuh dan sering kerja sendirian sampai malam—itu Bapak. Dimas cerita ke saya minggu lalu. Dia disuruh mengulang keterangan Bapak.”
Senyum Pak Hendro membeku sedikit.
“Bapak bilang kebocoran itu akibat kelemahan sistem warisan yang sudah lama ada,” lanjutku. “Itu benar. Tapi Bapak nggak bilang bahwa kelemahan itu sudah dilaporkan ke Bapak, dengan rincian biaya dan rencana kerja, enam bulan sebelumnya. Dan bahwa Bapak membalas dengan tiga kalimat.” Aku menatapnya. “Anggaran tahun ini tidak memungkinkan. Kita bahas tahun depan. Jangan eskalasi ke direksi dulu, nanti saya yang atur.”
Wajah Pak Hendro berubah. Pelan. Dari yakin, jadi tegang, jadi sesuatu yang lain.
Di ujung sofa, Sheren menutup mulutnya dengan tangan.
“Dan Bapak bilang,” aku melanjutkan, masih dengan nada yang sama, “saya yang memutuskan mana yang lebih penting. Nama saya, atau perempuan katering itu.” Aku menggeleng pelan. “Itu bukan pilihan, Pak. Itu sama persis dengan dua tahun lalu. Bapak kasih saya dua pilihan: saya yang tenggelam, atau orang yang saya sayang yang tenggelam. Dua tahun lalu saya pilih saya.” Aku berdiri. “Malam ini saya nggak milih dua-duanya.”
“Kamu nggak punya pilihan lain,” kata Pak Hendro. Suaranya tidak lagi tenang. “Kamu tidak punya apa-apa. Tanpa saya, namamu akan kotor selamanya. Sistem yang saya bangun di sekitar kasus itu rapi. Penyidik, saksi, laporan internal. Semuanya rapi. Kamu tidak bisa menembusnya.”
Aku menatapnya.
Laki-laki yang hampir jadi ayah mertuaku. Yang dulu menepuk bahuku di acara lamaran dan bilang saya titip Sheren. Yang membiarkanku tenggelam supaya dia bisa tetap duduk di sofa kulit cokelat ini dengan piala-piala golf di lemari kaca.
“Semua sistem punya celah, Pak,” kataku pelan. “Sistem Bapak juga.”
Hening.
“Celahnya,” kataku, “ada di orang-orang yang Bapak kira bakal diem selamanya. Dimas nggak diem lagi. Wulan dan Gilang nggak diem lagi.” Aku menoleh ke ujung sofa. “Dan saya nggak tahu soal Sheren. Itu keputusan dia. Bukan keputusan saya. Bukan keputusan Bapak.”
Pak Hendro menoleh ke putrinya.
Sheren tidak menatap ayahnya. Dia menatap lantai, wajah basah, tangan gemetar di pangkuan.
Lalu dia mengangkat wajahnya. Dan menatap ayahnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat Sheren Wirawan tidak menunduk di depan Pak Hendro.
“Papa,” katanya pelan. “Aku butuh waktu buat mikir.”
Itu saja. Tidak lebih. Tapi wajah Pak Hendro berubah seolah seseorang baru saja mencabut lantai dari bawah kakinya.
Aku keluar dari rumah itu tanpa nama yang dipulihkan.
Tanpa pekerjaan. Tanpa rekomendasi. Tanpa jaminan apa pun bahwa besok, minggu depan, atau sepuluh tahun lagi, judul berita itu akan berhenti menempel di namaku.
Aku berjalan melewati halaman berumput rapi, melewati lampu-lampu taman kuning lembut, melewati pagar tinggi.
Di seberang jalan, di bawah pohon, pintu mobil Pak Darto terbuka.
Angelica berdiri di sana. Tidak berlari. Tidak berteriak. Hanya berdiri, dengan tangan di dada, menatapku menyeberang jalan.
Aku berhenti di depannya.
“Dia nawarin apa?” tanyanya pelan.
“Namaku balik.”
Dia menahan napas.
“Harganya kamu,” kataku. “Kamu harus ngaku bohong ke wartawan. Dapur Angel hancur.”
“Terus?”
“Aku tolak.”
Dia menatapku lama. Matanya mulai basah.
“Kamu nolak namamu balik,” bisiknya. “Buat aku.”
“Bukan buat kamu.” Aku menggeleng. “Buat kita. Aku nggak mau namaku balik kalau harganya kamu tenggelam. Itu bukan pulih. Itu cuma pindah siapa yang basah.”
Dia tidak berkata apa-apa.
Dia hanya maju satu langkah, melingkarkan tangannya di pinggangku, dan memelukku. Erat. Di pinggir jalan kompleks perumahan di selatan Jakarta, di bawah pohon, di samping mobil Pak Darto, dengan Pak Darto di kursi sopir yang tiba-tiba sangat sibuk menatap HP-nya.
Aku memeluknya balik.
Dan aku merasakan sesuatu yang belum kurasakan selama dua tahun. Bukan kemenangan. Aku tidak menang apa pun malam ini. Aku kehilangan tawaran terbaik yang mungkin pernah kudapat.
Tapi untuk pertama kalinya, aku kehilangan sesuatu tanpa merasa sendirian.
“Aku bangga sama kamu,” bisik Angelica ke dadaku.
Aku menutup mata.
Kalimat itu. Tiga kata itu. Kalimat yang tidak pernah bisa diucapkan Bapak.
Aku tidak menangis di sana. Tapi hampir.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga reading
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.