← Rising.

Chapter Twenty Nine

Orang-orang Lama

POV: Angelica


Laki-laki itu berdiri di depan Dapur Angel selama dua puluh menit sebelum berani masuk.

Aku memperhatikannya dari jendela. Usia tiga puluhan. Kemeja kerja yang rapi tapi kusut di bagian punggung, seperti orang yang menyetir lama. Dia mondar-mandir di depan pagar, mengeluarkan HP, memasukkannya lagi, menatap papan nama Dapur Angel, lalu menatap tanah.

Aku mengenal gerakan itu. Gerakan orang yang datang untuk meminta sesuatu yang ia tidak merasa pantas meminta.

Bu Sukesih dulu begitu. Mang Udin begitu. Aku sendiri begitu, di hari pertama, di depan pintu kamar kos nomor tujuh.

Aku keluar.

“Cari siapa, Mas?”

Dia tersentak. “Saya—maaf. Saya cari Yoga. Yoga Pratama.”

“Ada keperluan apa?”

Dia menelan ludah. “Saya Dimas. Dimas Hardiyanto. Saya... saya dulu satu tim sama dia.”

Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku. Tapi dari dalam dapur, aku mendengar bunyi gelas diletakkan terlalu keras di atas meja.

Aku menoleh. Yoga sudah berdiri di ambang pintu, menatap laki-laki di depanku dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Dimas,” katanya.

“Yog.”

Mereka saling menatap lama. Terlalu lama. Seperti dua orang yang dulu pernah berdiri di sisi yang sama, lalu dipisahkan oleh sesuatu yang besar dan tidak pernah dibicarakan.


Aku membuatkan teh. Itu yang bisa kulakukan. Meletakkan dua gelas di meja kecil dekat pintu, di tempat yang sama dua debt collector dulu duduk, lalu mundur ke balik meja kasir dan berpura-pura menghitung uang.

Dimas tidak menyentuh tehnya.

“Aku baca artikelnya,” katanya.

Yoga tidak menjawab.

“Aku mau minta maaf.” Dimas menatap meja. “Waktu penyidik manggil kami satu-satu, dua tahun lalu, aku bilang kamu sering kerja sendirian sampai malam. Aku bilang kamu satu-satunya yang punya akses penuh. Aku bilang—” suaranya pecah sedikit, “—aku bilang aku pernah lihat kamu kirim file besar ke luar kantor.”

Aku berhenti menghitung uang.

“Itu bener,” kata Yoga pelan. “Aku emang sering kerja sendirian sampai malam.”

“Tapi file itu laporan ke vendor, Yog. Aku tahu. Aku tahu waktu itu juga. Aku cuma—” Dimas mengusap wajahnya dengan dua tangan. “Aku disuruh. Atasan bilang kalau aku nggak kooperatif, aku bakal ikut diperiksa. Aku punya istri yang lagi hamil anak pertama. Aku takut.”

Yoga diam.

“Aku keluar dari sana setahun lalu,” lanjut Dimas. “Nggak tahan. Tiap lihat mejamu yang kosong, aku inget aku yang ngisi kekosongan itu sama kesaksian setengah bohong. Sekarang aku jualan alat tulis kantor online. Kecil-kecilan.” Dia tertawa pahit. “Dari kepala tim jaringan jadi jualan pulpen.”

“Kenapa ke sini sekarang?” tanya Yoga.

Dimas tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan HP, membuka sesuatu, dan memutar layarnya ke arah Yoga dengan tangan gemetar.

“Ibuku,” katanya. “Kemarin. Ditelepon orang ngaku dari kantor pajak. Katanya ada tunggakan atas nama almarhum Bapak. Ibu disuruh transfer. Ibu udah tujuh puluh tahun, Yog. Ibu nggak ngerti. Seluruh tabungan pensiunnya.” Suaranya pecah sepenuhnya sekarang. “Aku orang IT. Aku dulu kepala tim jaringan di bank besar. Dan aku nggak bisa ngajarin ibuku sendiri buat nggak ngangkat telepon dari orang asing.”

Hening di dapur.

“Aku nggak tahu harus ke mana lagi,” bisik Dimas. “Bank bilang diproses. Polisi bilang lapor dulu. Aku udah lapor. Semua bilang nunggu. Dan aku baca artikel itu, soal Bu Sukesih, soal uang arisan yang bisa diselamatin karena laporannya rapi.” Dia mengangkat wajahnya, dan matanya merah. “Aku tahu aku nggak pantes minta tolong ke kamu. Aku orang yang ikut bikin kamu dipecat. Tapi itu ibuku, Yog.”


Aku menunggu Yoga marah.

Aku pasti marah. Kalau aku jadi dia, aku akan berdiri dan menunjuk pintu dan bilang kamu yang bikin aku dua tahun dikurung di kamar kos, dan sekarang kamu dateng minta tolong?

Yoga tidak marah.

Dia mengambil HP Dimas. Membaca layarnya. Lalu dia mengulurkan tangan ke arahku, tanpa menoleh.

“Angelica. Laptop.”

Aku mengambilkan laptop dari meja pojok. Dia membukanya.

“Kapan transfernya?” tanyanya pada Dimas. Suaranya tenang. Datar. Suara yang dia pakai untuk Bu Endang di telepon.

“Kemarin. Jam dua siang.”

“Ke berapa rekening?”

“Satu. Tapi tadi pagi aku cek mutasi, kata bank udah dipindah lagi.”

“Ibumu masih punya bukti transfernya?”

“Ada. Aku foto.”

“Kirim ke aku.”

Dan Yoga bekerja.

Sama seperti dengan Bu Sukesih. Tidak ada yang heroik untuk ditonton. Hanya laki-laki yang duduk di depan laptop, membaca, mencatat, menyusun. Kronologi menit per menit. Nomor-nomor rekening. Nomor laporan yang sudah dibuat Dimas. Kalimat-kalimat yang harus diucapkan ke petugas supaya laporan itu tidak masuk ke tumpukan.

Dimas menonton. Wajahnya berubah perlahan. Dari putus asa, jadi bingung, jadi sesuatu yang lain.

Aku tahu ekspresi itu. Aku pernah memakainya.

Ekspresi orang yang baru menyadari bahwa orang yang ia kira lemah ternyata jauh lebih kuat darinya.


Dua jam kemudian, Dimas menelepon kanal pengaduan dengan dokumen di tangan. Dia membacakan setiap kalimat persis seperti yang ditulis Yoga. Suaranya gemetar di awal, lalu makin mantap.

Saat dia menutup telepon, sebagian besar uang pensiun ibunya sudah dalam proses pemblokiran.

Dimas menatap HP-nya lama. Lalu menatap Yoga.

“Kenapa?” tanyanya. “Kenapa kamu nolong aku?”

Yoga menutup laptop. “Ibumu nggak ada hubungannya sama kesaksianmu.”

“Tapi aku—”

“Kamu takut,” kata Yoga. Tidak menghakimi. Hanya menyatakan. “Istrimu hamil. Kamu disuruh. Kamu takut.” Dia menatap Dimas. “Aku ngerti takut, Dim. Aku dua tahun takut.”

Dimas menutup wajahnya dengan dua tangan. Bahunya bergetar.

Aku harus berbalik ke dapur. Aku tidak sanggup menonton.


Dimas tidak pergi sendirian sore itu.

Saat dia keluar ke parkiran, ada mobil lain yang menunggu. Dua orang turun—laki-laki dan perempuan, usia sama dengan Dimas, dengan wajah yang sama-sama canggung.

“Kami juga dulu satu tim,” kata yang perempuan, berdiri di pagar, tidak berani masuk. “Saya Wulan. Ini Gilang. Dimas cerita dia mau ke sini. Kami... kami ikut. Tapi nggak berani turun.”

Yoga berdiri di ambang pintu dapur, menatap mereka.

“Kami nggak bersaksi apa-apa dulu,” kata Gilang cepat. “Tapi kami juga nggak ngomong apa-apa. Kami tahu ada yang aneh. Kami tahu kamu udah lama minta anggaran buat benerin sistem lama. Kami semua tahu. Dan kami diem.” Dia menunduk. “Kami diem karena kami pikir, kalau kami diem, kami aman.”

Wulan menatap Yoga dengan mata berkaca-kaca. “Kami minta maaf, Yog.”

Aku melihat Yoga menelan sesuatu. Melihat tangannya, di sisi tubuhnya, mengepal dan melepas.

“Masuk,” katanya akhirnya. “Ada teh.”

Mereka masuk.

Dan sore itu, di dapur katering kecil di gang sempit, empat orang yang dulu bekerja di lantai tiga puluh satu gedung kaca duduk mengelilingi meja plastik, minum teh manis, makan tempe mendoan buatan Bu Endang, dan tidak membicarakan kebocoran itu sama sekali.

Mereka membicarakan hal-hal lain. Anak Dimas yang sekarang berumur satu setengah tahun. Gilang yang pindah kerja ke perusahaan rintisan. Wulan yang menikah tahun lalu. Kopi kantor yang dulu selalu basi. Atasan lama yang suka memutar lagu dangdut keras-keras di ruang rapat.

Mereka tertawa.

Dan Yoga tertawa bersama mereka.

Aku berdiri di balik meja kasir, menonton laki-laki yang tiga bulan lalu tidak bicara dengan siapa pun, sekarang duduk di tengah orang-orang dari masa lalunya, orang-orang yang dulu diam saat dia tenggelam, dan dia tidak menyimpan dendam pada satu pun dari mereka.

Bu Endang berdiri di sampingku.

“Neng,” bisiknya. “Ibu udah lima puluh tahun hidup. Ibu belum pernah lihat orang kayak gitu.”

“Kayak apa, Bu?”

“Yang dimaafinnya duluan sebelum diminta.” Bu Endang menghapus matanya dengan ujung celemek. “Orang lain butuh permintaan maaf dulu baru bisa maafin. Dia udah maafin dari lama. Cuma nunggu mereka berani dateng.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa.

Karena aku jatuh cinta lagi.

Aku sudah jatuh cinta padanya berbulan-bulan. Tapi setiap kali aku mengira sudah sampai di dasar, ternyata masih ada lantai di bawahnya. Dan aku jatuh lagi. Lebih dalam.

Sebelum mereka pulang, Dimas berhenti di depan meja kasir. Dia menatapku.

“Mbak Angelica,” katanya. “Yang cerita ke wartawan itu, Mbak, ya?”

Aku mengangguk.

Dia tersenyum. “Makasih. Kalau Mbak nggak cerita, kami nggak bakal berani dateng.”

Dia pergi.

Aku berdiri di balik meja kasir dengan dada sesak, memikirkan malam ketika aku menangis ke bantal sampai subuh karena artikel itu membuat pelaku menghilang.

Artikel itu merusak satu jalan.

Tapi ternyata, artikel itu juga membuka jalan lain. Jalan yang membawa orang-orang lama kembali ke meja yang sama.

Dan aku mulai bertanya-tanya, untuk pertama kalinya, apakah Yoga benar-benar sendirian sejak awal—atau dia hanya tidak pernah memberi kesempatan pada orang lain untuk berdiri di sampingnya.