← Rising.

Chapter Five

Password: broto

POV: Angelica


Aku bukan orang yang suka mengintip.

Oke, itu bohong. Aku sangat suka mengintip. Tapi aku punya aturan: aku hanya mengintip hal-hal yang menurutku pantas kutahu. Harga grosir kompetitor di pasar. Siapa yang sebenarnya naksir siapa di grup kurir. Apakah Bu Endang benar-benar menambahkan “bumbu rahasia” atau itu hanya micin biasa (itu micin biasa; aku sudah lama tahu; aku membiarkannya karena beliau bahagia).

Jadi ketika Yoga meninggalkan laptopnya terbuka di meja dapur siang itu—dia ke toilet, meninggalkan layarnya menyala—aku tidak bermaksud mengintip. Aku cuma lewat. Dan kebetulan layarnya menghadapku. Dan kebetulan dia sedang membuka sesuatu yang butuh password, jadi ada kotak kecil di tengah layar dengan kursor berkedip.

Dan kebetulan, saat dia tadi mengetik password itu di depanku lima menit sebelumnya, jarinya bergerak cukup pelan dan aku cukup perhatian untuk membaca huruf-hurufnya dari gerakan tangan.

b-r-o-t-o.

Broto.

Aku tahu itu bukan kata acak. Password orang jarang kata acak, apalagi orang yang jelas-jelas tahu bahwa password seharusnya acak. Kalau seorang ahli keamanan siber—orang yang pekerjaannya persis tentang betapa bodohnya password yang mudah ditebak—justru memakai kata yang punya arti, maka kata itu pasti berarti banyak untuknya. Lebih dari keamanan. Lebih dari logika.

Broto.

Aku menyimpannya. Tidak untuk kupakai. Hanya untuk kutahu. Potongan kecil dari teka-teki besar bernama Yoga Pratama, yang makin lama makin tidak cocok dengan gambar yang kubenci selama setahun.


Masalahnya, makin banyak potongan yang kukumpulkan, makin tidak masuk akal gambarnya.

Potongan satu: laki-laki yang katanya membocorkan data tiga puluh juta orang demi uang, menolak uang. Keras. Berulang. Hampir tersinggung setiap kali aku menawarkan.

Potongan dua: laki-laki yang katanya penjahat berkerah putih yang dingin, menghabiskan empat jam—gratis—untuk menyelamatkan uang arisan seorang ibu yang bahkan tidak ia kenal, lalu kaku dan canggung saat dipeluk, seperti orang yang lupa bahwa tubuhnya bisa disentuh dengan kebaikan.

Potongan tiga: laki-laki yang mengurung diri dua tahun, yang menutup kamera di semua perangkatnya dengan lakban hitam seolah takut dilihat, memakai nama “broto” sebagai kunci ke hal-hal yang paling ia jaga.

Siapa Broto?

Aku bisa saja bertanya. Aku tidak bertanya. Ada hal-hal yang kalau kamu tanyakan langsung, orangnya akan menutup pintu—dan aku sudah cukup banyak melihat Yoga menutup pintu, secara harfiah dan tidak, untuk tahu bahwa memaksa tidak akan berhasil pada orang seperti dia. Orang seperti dia tidak dibuka dengan diungkit. Orang seperti dia dibuka dengan ditunggu.

Dan aku, yang seumur hidup tidak sabaran, mendapati diriku bersedia menunggu.

Itu yang paling mengkhawatirkan dari semuanya.


“Neng naksir.”

Aku hampir menjatuhkan baskom berisi adonan.

“Bu Endang. Demi Tuhan.”

“Apa? Ibu cuma ngomong.” Bu Endang melipat daun pisang dengan santai, seolah baru saja mengomentari cuaca. “Neng dari tadi senyum-senyum sendiri sambil ngulek. Dan kali ini sambalnya nggak jadi bubur. Berarti Neng senyumnya bukan karena stres. Berarti ada yang lain.”

“Saya senyum karena pesanan katering kantor kelurahan deal. Itu bisnis, Bu. Uang. Hal yang bikin saya seneng.”

“Hmm.”

“Hmm apa?”

“Hmm aja.” Bu Endang menyusun lemper di baki. “Dulu Neng senyum karena uang itu senyumnya beda. Yang sekarang ini senyum yang... gimana ya. Senyum yang Neng sendiri nggak sadar lagi senyum.”

Aku membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi, karena membantah hanya akan memberi Bu Endang lebih banyak bahan.

Yang tidak kukatakan: beliau benar. Yang juga tidak kukatakan: aku tidak tahu ini “naksir” atau sesuatu yang lebih rumit, lebih besar, lebih menakutkan. Karena naksir itu ringan. Naksir itu soal tulang pipi dan mata yang kalau menatap bikin lupa, dan—oke, Yoga punya itu, sialnya. Tapi yang kurasakan bukan cuma itu.

Yang kurasakan lebih seperti berdiri di depan rumah yang dari luar terlihat hancur, jendela pecah, cat mengelupas, pagar roboh—lalu mengintip lewat celah dan menyadari bahwa di dalam, tersembunyi di balik semua kehancuran itu, ada arsitektur yang luar biasa. Pondasi yang kokoh. Ruangan-ruangan yang dirancang dengan cinta. Rumah yang dulu pasti megah, dan masih bisa megah lagi, kalau saja ada yang mau masuk dan menyalakan lampunya satu per satu.

Dan aku—yang seluruh bisnisku dibangun dari membuat orang merasa diurus, dari mengubah bahan mentah jadi sesuatu yang menghangatkan—mendapati tanganku gatal ingin menyalakan lampu-lampu itu.

Itu bukan naksir. Naksir tidak sepanjang itu kalimatnya.


Siang itu, saat Yoga datang mengambil jatah makannya, aku melakukan eksperimen kecil.

Aku tidak menyebutnya eksperimen di depan siapa pun. Di kepalaku, aku menyebutnya “mengumpulkan data”. Terdengar lebih ilmiah, lebih sedikit seperti perempuan yang diam-diam memperhatikan laki-laki.

Aku memberinya nasi kotak seperti biasa. Tapi hari ini, aku menyelipkan satu hal: tempe mendoan. Bukan menu reguler; itu tambahan yang kuminta Bu Endang goreng khusus pagi tadi, karena di hari pertama dulu, aku melihat caranya menatap potongan tempe mendoan di kotak itu—cara orang menatap sesuatu yang membawanya pulang ke tempat yang sudah lama tidak ada.

Dia membuka kotak. Berhenti sebentar di tempenya. Lalu melanjutkan makan seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi dia makan tempenya terakhir. Disisakan. Seperti anak kecil menyimpan bagian terbaik untuk penutup.

Data terkumpul. Hipotesis dikonfirmasi: laki-laki ini, di balik lakban hitam dan rutinitas mayat hidupnya, masih punya hal-hal yang ia sayangi. Masih tahu cara menyimpan yang terbaik untuk terakhir. Yang hilang bukan kemampuannya untuk peduli. Yang hilang hanya izin untuk menunjukkannya.

“Kenapa senyum?” tanyanya, menangkapku.

“Nggak.” Aku berbalik cepat. “Mikirin pesanan.”

“Kamu senyum tiap mikirin pesanan?”

“Pesanannya gede.”

“Hmm.” Dia tidak percaya. Aku tahu dia tidak percaya. Tapi dia tidak mengejar, dan aku berterima kasih untuk itu, karena jawaban jujurnya—aku senyum karena kamu nyimpen tempe buat terakhir, dan itu bikin aku pengin nangis entah kenapa—jelas bukan hal yang bisa kukatakan ke orang yang kemarin masih ada di puncak daftar kebencianku.

Daftar itu, kusadari, sedang direvisi diam-diam. Yoga Pratama sudah turun beberapa peringkat. Masalahnya, dia tidak turun ke tempat yang netral. Dia turun ke tempat yang jauh lebih berbahaya.


Sore itu Lila pulang sekolah dan menyerbu dapur seperti badai kecil berseragam putih abu-abu.

“Kak! Kakak tau nggak, tadi di kelas Rendi sok-sokan ngaku bisa nge-hack WiFi sekolah, padahal dia cuma tau password-nya dari satpam. Lame banget.” Lila melempar tasnya ke kursi, mengambil lemper tanpa izin, dan berbicara dengan mulut penuh. “Hacker beneran tuh nggak sombong. Kayak rising. Dia nge-hack sistem segede apa aja nggak pernah ngaku-ngaku. Malah ngilang. Itu baru keren.”

Aku menegang.

Dari sudut mataku, aku melihat Yoga—yang sedang duduk di meja dapur, menyeruput es jeruknya, laptop di depannya—berhenti. Hanya sepersekian detik. Gelasnya berhenti di udara, setengah jalan ke bibirnya. Lalu dia melanjutkan, seolah tidak terjadi apa-apa.

Tapi aku melihatnya.

“Rising siapa sih?” tanyaku, pura-pura tidak tertarik, mengelap meja yang sudah bersih.

“KAK.” Lila menatapku seolah aku baru saja bertanya siapa itu matahari. “rising? Legenda? Dulu dia ngebongkar sindikat penipuan online gede banget, ngasih semua datanya ke polisi secara anonim, terus ngilang gitu aja. Nggak pernah minta pujian. Nggak pernah nunjukin muka. Huruf namanya aja kecil semua, saking nggak mau menonjol. Anak-anak di forum keamanan siber sampai sekarang masih nyari dia tau. Ada yang bilang dia udah pensiun. Ada yang bilang dia udah—” Lila merendahkan suara dramatis, “—mati.”

“Dia belum mati,” kata Yoga.

Semua orang menoleh.

Yoga menyeruput es jeruknya, matanya tetap di layar. “Kemungkinan besar,” tambahnya pelan, seolah mengoreksi diri sendiri. “Orang kayak gitu biasanya nggak mati. Cuma... capek.”

Lila menatapnya dengan mata berbinar. “Mas Yoga tau rising?!”

“Semua orang yang pernah di dunia itu tau rising.” Yoga menutup laptopnya. “Dia bukan sehebat yang kamu kira, Lila.”

“Kok Mas tau?”

Jeda. Satu detik. Dua.

“Feeling,” kata Yoga.

Lila sudah beralih ke teori lain tentang di mana rising bersembunyi sekarang (versinya: biara di pegunungan Tibet, dengan laptop bertenaga surya), dan tidak menyadari apa pun. Bu Endang tidak menyadari apa pun. Tole, yang baru masuk, langsung tersedot ke diskusi dan mulai berargumen bahwa rising sebenarnya adalah tiga orang kembar.

Tapi aku menyadari.

Aku menyadari cara Yoga mengatakan “dia bukan sehebat yang kamu kira”—bukan dengan nada merendahkan idola orang lain, tapi dengan nada seseorang yang membicarakan dirinya sendiri dan tidak tahan dengan beban nama itu. Aku menyadari cara dia bilang “capek”, terlalu spesifik, terlalu tahu. Aku menyadari huruf kecil—saking nggak mau menonjol—dan aku teringat lakban hitam di semua kameranya.

Potongan empat.

Dan tiba-tiba, sebagian besar gambarnya jadi masuk akal, dengan cara yang membuat tanganku dingin memegang lap.

Laki-laki yang mengurung diri di kamar kos. Yang menolak uang. Yang menyelamatkan orang tanpa mau namanya disebut. Yang menutup wajahnya dari dunia.

rising tidak mati. rising tidak pensiun di Tibet.

rising sedang duduk di meja dapurku, minum es jeruk buatanku, memakai nama orang bernama “broto” sebagai kunci, dan diam-diam sekarat pelan-pelan di balik lakban hitam.

Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku melanjutkan mengelap meja yang sudah bersih.

Tapi malam itu, saat semua sudah pulang dan Yoga sudah kembali ke kamar kosnya, aku duduk sendirian di dapur yang gelap dan menyadari bahwa keputusanku sudah berubah tanpa izinku.

Aku datang ke kamar tujuh untuk membuka satu sistem yang terkunci.

Aku pulang dengan tekad untuk membuka satu orang yang terkunci.

Dan aku, Angelica Wiradinata, yang mengira sedang menjalankan transaksi, baru sadar bahwa aku sudah berdiri di depan rumah yang jendelanya pecah—

dengan korek api di tangan, dan niat menyalakan setiap lampu di dalamnya.