Chapter Thirty Eight
Angel
POV: Angelica
Fajar Lebaran datang bukan dengan sepi, tapi dengan langkah kaki.
Banyak sekali langkah kaki.
Aku mendengarnya sebelum aku melihatnya. Dari balik jendela dapur, saat langit berubah dari hitam jadi biru susu, gang di depan Dapur Angel mulai terisi. Bukan satu-dua orang. Puluhan. Lalu lebih.
Bu Sukesih, dengan mukena masih di bahunya, baru pulang dari musala. Mang Udin, membawa termos kopi. Pak Lurah dengan sarung dan kaus oblong. Ibu-ibu pengajian. Orang tua murid kelas teras. Wajah-wajah yang pernah ditolong Yoga, dan wajah-wajah yang bahkan tidak kukenal—orang-orang yang semalam menonton siaran itu, lalu entah bagaimana tahu di mana dapur hijau itu, dan datang.
Mereka tidak bicara banyak. Mereka hanya berdiri. Di depan pagar. Di sepanjang gang. Membentuk sesuatu yang tidak kusadari bentuknya sampai Yoga berdiri di sampingku di jendela dan berkata, pelan:
“Mereka ngejagain.”
“Ngejagain apa?”
“Kita.”
Aku menatap keluar. Dan aku mengerti. Pesan Jejak semalam—aku tahu di mana dapur hijau itu—bukan rahasia lagi. Entah bagaimana, kabar itu menyebar seperti semua kabar menyebar di gang ini: lewat Bu Narti, lewat grup WA, lewat mulut ke mulut. Dan orang-orang datang bukan untuk menonton.
Mereka datang untuk berdiri di depan gerbang.
Gerbang yang selama dua tahun Yoga kira harus ia jaga sendirian.
Yoga keluar ke teras. Aku mengikutinya.
Dia mencoba menyuruh mereka pulang. Tentu saja dia mencoba. “Ini bahaya,” katanya ke kerumunan. “Kalian pulang aja. Ini urusan saya. Jangan sampai ada yang—”
“Mas Yoga,” potong Bu Sukesih, suaranya tenang. “Dua puluh tiga juta uang arisan saya. Mas selametin gratis. Hari ini giliran saya.”
“Bu, saya—”
“Mas,” kata Mang Udin, menyeruput kopinya. “Saya bawa kopi banyak. Kita di sini sampai pagi. Santai aja.”
Yoga menatap mereka. Mulutnya terbuka, lalu tertutup. Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat: dia kehabisan cara untuk menolak ditolong.
Dia menoleh ke arahku. Seolah bertanya.
“Ini yang kamu ajarin ke mereka,” kataku pelan. “Jangan diem kalau ada yang butuh. Mereka cuma niruin kamu.”
Dia tidak menjawab. Tapi matanya basah.
Jejak datang saat matahari sudah di atas atap.
Aku tidak tahu wajahnya. Tak ada yang tahu. Dia hanya seorang laki-laki biasa, usia empat puluhan, kemeja kusut, yang berjalan masuk ke gang dengan langkah orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijaga. Mata yang merah. Tangan yang gemetar. Orang yang semalaman kalah, dan datang bukan dengan rencana, tapi dengan kemarahan yang buta.
Dia berhenti di mulut gang, melihat kerumunan, melihat puluhan orang yang berdiri di antara dia dan Dapur Angel.
“Mana rising,” katanya. Suaranya serak. “Mana orang yang ngerasa jadi pahlawan itu.”
Kerumunan menegang. Beberapa laki-laki bergerak maju.
Dan aku—entah kenapa, entah oleh keberanian atau kebodohan yang sama yang membuatku menggedor pintu kamar kos tiga bulan lalu—aku melangkah ke depan. Ke pagar. Karena ini dapurku, dan aku sudah terlalu lama membiarkan orang-orang datang ke tempatku untuk menyakiti.
“Dapur ini punya saya,” kataku. “Dan Anda nggak—”
Dia bergerak ke arahku.
Cepat. Putus asa. Tangannya terangkat.
Aku tidak sempat mundur.
“ANGEL—”
Suara itu memecah pagi.
Aku belum pernah mendengarnya. Tiga bulan, Yoga memanggilku Angelica. Selalu Angelica, lengkap, keras kepala, seolah memendekkan namaku berarti kehilangan sesuatu. Semua orang memanggilku Angel. Dia tidak pernah. Tidak sekali pun.
Sampai detik itu.
Dia berteriak nama itu—Angel—dengan suara yang tidak kukenal, suara yang pecah dan mentah dan penuh ketakutan yang tidak sempat ia sembunyikan di balik ketenangan apa pun. Suara orang yang, dalam satu detik, membayangkan kehilangan.
Dan sebelum tangan itu sampai padaku, tubuh Yoga sudah ada di antara kami.
Tapi dia tidak sendirian.
Saat Yoga melompat ke depanku, selusin tangan lain juga bergerak. Pak Darto. Dimas. Mang Udin yang menjatuhkan termosnya. Dua pemuda yang tidak kukenal. Mereka menahan laki-laki itu—bukan dengan pukulan, hanya dengan tubuh, dengan jumlah, dengan dinding manusia yang tidak bisa ditembus satu orang putus asa.
Laki-laki itu meronta, lalu berhenti. Lalu, anehnya, dia menangis. Runtuh di tengah kerumunan, ditahan belasan tangan, menangis seperti orang yang baru sadar bahwa dia kalah bukan oleh satu orang, tapi oleh seluruh kampung yang berdiri di belakang orang yang dulu ia jatuhkan.
Sirene terdengar dari ujung jalan. Polisi yang sejak semalam dihubungi Pak Lurah, akhirnya tiba.
Semuanya selesai dalam hitungan menit.
Tapi aku tidak melihat laki-laki itu dibawa pergi. Aku tidak melihat polisi, atau kerumunan, atau apa pun.
Karena Yoga sudah memelukku, erat, terlalu erat, dengan tubuh yang gemetar hebat, dan wajahnya terbenam di rambutku, dan dia mengucapkan nama itu lagi dan lagi, pelan sekarang, seperti doa, seperti orang yang baru saja hampir kehilangan sesuatu dan belum percaya bahwa dia tidak jadi kehilangannya.
“Angel. Angel. Kamu nggak apa-apa. Kamu nggak apa-apa.”
Kami duduk di tangga teras setelah semua orang mulai bubar.
Tanganku masih gemetar. Tangannya lebih gemetar lagi. Dia tidak melepaskan tanganku sejak tadi, seolah takut kalau dilepas, aku akan menghilang.
“Kamu manggil aku Angel,” kataku pelan.
Dia berkedip. Seolah baru sadar.
“Maaf,” katanya cepat. “Aku—maaf. Aku nggak—”
“Jangan minta maaf.” Aku menatapnya. “Kamu tiga bulan manggil aku Angelica. Terus. Keras kepala. Aku sampai mikir kamu nggak bisa manggil yang lain.”
“Aku sengaja,” katanya pelan. “Angelica. Nama lengkap. Karena—” dia mencari kata, “—karena Angel itu nama yang orang kasih ke orang yang mereka udah deket banget. Dan aku nggak ngizinin diri aku sedeket itu. Aku jaga jaraknya. Lewat nama.”
“Terus tadi?”
Dia menatap tangan kami yang bertaut.
“Tadi aku lupa jaga jarak,” katanya. “Tadi aku cuma—” suaranya pecah. “Tadi aku cuma takut kehilangan kamu. Dan yang keluar bukan nama yang aku jaga. Yang keluar nama yang ada di sini.” Dia menyentuh dadanya. “Yang udah lama ada di sini. Yang aku nggak berani ucapin.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku cuma mau manggil kamu Angel sekali seumur hidup,” katanya, menatapku. “Di saat aku bener-bener takut kehilangan. Biar kamu tahu bedanya. Biar kamu tahu, kalau suatu hari aku manggil kamu Angel, itu bukan karena aku lagi santai. Itu karena kamu segalanya.”
Aku menangis. Lagi. Entah sudah berapa kali hari ini.
“Habis ini balik manggil Angelica lagi?” tanyaku di sela tangis.
“Iya,” katanya. “Angel disimpen. Buat terakhir. Kayak tempe mendoan.”
Aku tertawa di tengah tangis, dan menciumnya di tangga teras Dapur Angel, di pagi Lebaran, di depan Bu Narti yang mengintip dari ujung gang dengan HP terangkat dan air mata di pipinya.
“Astaghfirullah, romantis banget,” bisik Bu Narti ke Mbak Ratih. “Saya rekam, ah. Buat bukti kalau nanti mereka nikah.”
“Bu Narti,” panggil Yoga tanpa melepaskan ciuman. “Jangan direkam.”
“Telat, Mas. Udah dari tadi.”
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel reading
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.