Chapter Three
Broto Cell
POV: Yoga
Kode yang mengunci sistem Angelica tidak ditulis orang bodoh.
Aku tahu ini dalam sepuluh menit pertama. Orang bodoh menulis ransomware dengan membeli kit jadi dari forum, menempelkannya seperti anak SD menempel stiker, lalu berharap. Kode ini bukan itu. Ini dibangun. Lapisan enkripsinya rapi, kuncinya dirotasi, dan ada sesuatu di struktur fungsinya—cara ia memberi nama variabel, cara ia menyusun alur—yang terasa familiar dengan cara yang membuat tengkukku dingin.
Tapi aku belum memikirkan itu sekarang. Sekarang aku hanya bekerja.
Dan bekerja terasa seperti bernapas setelah dua tahun menahan napas.
Jari-jariku ingat. Itu yang mengejutkan. Pikiranku sudah lama berhenti, tapi tanganku menyimpan sesuatu yang tidak bisa dimatikan rasa bersalah—semacam memori otot, semacam tarian yang tubuhmu hafal meski kepalamu lupa lagunya. Satu perintah memanggil perintah berikutnya. Satu celah membuka celah di baliknya. Dunia menyempit sampai hanya tinggal layar dan aku dan masalah yang, tidak seperti masalah-masalah lain dalam hidupku, sebenarnya bisa dipecahkan.
“Kamu senyum.”
Aku berhenti. Angelica berdiri di sampingku, memegang dua gelas, mengamati.
“Enggak.”
“Barusan. Pas kamu ngetik sesuatu, sudut bibirmu naik. Dikit. Terus kamu matiin.” Dia meletakkan satu gelas di sampingku. Es jeruk. “Kamu kayak orang yang lupa boleh senyum, terus pas inget, langsung minta maaf dalam hati.”
Aku tidak menjawab, karena dia benar, dan membenarkannya terasa seperti membuka pintu yang sudah lama kukunci.
“Berapa lama lagi?” tanyanya.
“Kuncinya ketemu. Sekarang aku lagi mastiin pas aku buka, dia nggak ninggalin pintu belakang buat masuk lagi. Orang yang bikin ini pinter. Pinter itu bahaya kalau dia juga pendendam.” Aku menyeruput es jeruknya. Manisnya pas. Tentu saja pas. Semua yang keluar dari dapur ini pas. “Sebelum tengah malam kamu bisa jalan lagi.”
Dia mengembuskan napas panjang—napas yang jelas sudah ditahan sejak pukul setengah tujuh pagi. Bahunya turun satu senti. Dan untuk sesaat, tanpa tembok kebencian yang biasa ia pasang, dia terlihat seperti apa adanya: perempuan dua puluh tujuh tahun yang lelah, yang memikul dua belas keluarga di punggungnya, yang tidak tidur semalaman.
Cantik, bahkan dalam lelah. Terutama dalam lelah, karena lelah membuatnya lupa memasang pertahanan.
Aku kembali menatap layar sebelum pikiranku pergi terlalu jauh.
“Minum dulu,” katanya. “Kamu dari tadi ngetik kayak orang balapan, tapi nggak gerak dari kursi. Nggak sehat.”
“Aku lagi di tengah—”
“Di tengah apa pun itu, bisa nunggu sepuluh detik.” Dia mendorong gelas es jeruk itu dua senti lebih dekat, keras kepala. “Aku nggak mau teknisi satu-satunya di kota ini pingsan di dapurku. Repot ngelangkahin.”
Aku mengambil gelasnya. Bukan karena haus. Karena lebih mudah menurut daripada berdebat dengan orang yang jelas sudah memutuskan aku harus minum.
Dari seberang dapur, Bu Endang mengamati dengan tatapan yang membuatku merasa seperti spesimen di bawah mikroskop.
“Neng,” panggil Bu Endang, suaranya dibuat polos. “Itu es jeruk yang Neng bikin sendiri, kan? Yang pakai jeruk peras, bukan yang sachet?”
“...Iya. Kenapa?”
“Nggak apa-apa.” Bu Endang kembali ke wajannya, senyumnya tak bisa disembunyikan. “Cuma. Biasanya kalau ada tamu, Neng kasih yang sachet.”
Angelica membuka mulut, tidak menemukan apa pun untuk dikatakan, lalu menutupnya lagi. Telinganya, kuperhatikan, berubah merah di ujungnya. Dia berbalik dan pura-pura sibuk menata toples yang sudah tertata.
Aku menatap gelas di tanganku. Jeruk peras, bukan sachet.
Aku memutuskan untuk tidak memikirkan apa artinya itu. Memikirkannya terasa seperti berharap, dan berharap adalah hal yang sudah lama kucoret dari daftar kemampuanku.
Aku meminumnya sampai habis.
Aku pulang ke kos lewat tengah malam.
Sistem Angelica sudah hidup. Pesanan kembali masuk, data pelanggan utuh, dan ketika layar kasir menyala hijau lagi, Bu Endang menangis dan memelukku sampai aku tidak bisa bernapas, dan Tole bertepuk tangan sambil menangis juga meski jelas dia tidak mengerti apa yang terjadi, dan Angelica—
Angelica hanya menatap layar itu lama sekali. Lalu menatapku. Lalu berkata, “Makan siang besok jam dua belas. Jangan telat,” dengan nada yang berusaha keras terdengar seperti transaksi dan gagal.
Sekarang aku berbaring di lantai kamarku, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kepalaku tidak mengulang artikel berita atau wajah ayahku atau suara palu hakim. Kepalaku mengulang kode. Struktur yang familiar itu. Cara variabel itu dinamai.
Aku pernah melihat gaya ini.
Dua tahun lalu. Di sistem Bank Nusa Raya. Di malam sebelum semuanya runtuh.
Aku bangkit, menyalakan laptop berdebu itu—benar-benar menyalakannya, untuk pertama kalinya—dan lakban hitam di kameranya mengelupas sedikit lagi ketika aku membuka layarnya. Aku tidak melepasnya. Belum. Tapi aku tidak menutupnya kembali juga.
Aku membuka folder yang sudah dua tahun tidak kusentuh.
Namanya “Laporan 14 Maret”.
Aku tidak membukanya. Aku hanya menatap namanya sebentar, memastikan ia masih ada, seperti orang meraba saku untuk memastikan kunci rumah masih di sana. Lalu aku menutup laptop.
Besok. Mungkin. Satu hal dalam satu waktu.
Aku memejamkan mata. Dan seperti selalu, di ambang tidur, pikiranku pergi ke tempat yang paling tidak ingin kudatangi.
Broto Cell.
Kios ayahku luasnya tidak sampai tiga kali tiga meter. Di dalamnya ada etalase kaca berisi casing HP dan charger KW, meja servis dengan lampu belajar dan obeng-obeng kecil yang disusun ayahku berdasarkan ukuran, dan di dinding belakang, sebuah papan gabus.
Papan gabus itu adalah galeri kebanggaan ayahku.
Di sana ada fotoku wisuda SMA. Fotoku menang lomba komputer tingkat kabupaten umur lima belas, memegang piala plastik yang catnya sudah mengelupas. Guntingan koran lokal waktu aku dapat beasiswa. Dan di tengah, paling besar, foto hari pertamaku masuk Bank Nusa Raya—aku berdasi, canggung, berdiri di depan gedung kaca itu, sementara ayahku berdiri di sampingku dengan kemeja batik terbaiknya, tersenyum lebar sampai matanya hilang, satu tangan di bahuku, bangga dengan cara yang tidak pernah bisa ia ucapkan karena ayahku bukan laki-laki yang bisa mengucapkan hal-hal seperti itu.
Ayahku tidak pernah bilang “Bapak bangga.” Ayahku menunjukkannya dengan menempel foto di papan gabus dan menceritakan ke setiap pelanggan yang datang servis HP. “Anak saya, yang jaga keamanan duit orang se-Indonesia. Pinter dia. Dari kecil udah bongkar-bongkar HP di sini.”
Aku tahu ini karena Mang Ujang, tetangga kios, cerita ke aku. Ayahku tidak pernah cerita langsung ke aku. Kami tidak bicara seperti itu.
Lalu berita itu pecah.
Aku ingat teleponku pagi itu. Nomor ayah. Aku tidak mengangkatnya. Aku tidak bisa mengangkatnya, karena jika aku mengangkatnya, aku harus memilih antara dua hal: mengatakan yang sebenarnya, yang akan menghancurkan orang lain, atau berbohong pada ayahku. Dan aku tidak bisa melakukan keduanya. Jadi aku memilih yang ketiga, yang paling pengecut: aku diam.
Ayah menelepon tiga belas kali hari itu. Aku menghitungnya. Tiga belas panggilan tak terjawab, lalu satu pesan, yang masih tersimpan di HP-ku sampai sekarang, yang tidak pernah bisa kuhapus dan tidak pernah bisa kubaca ulang tanpa sesuatu di dadaku remuk:
Yoga. Bapak baca beritanya. Bapak nggak percaya. Telepon Bapak. Bilang ini bohong.
Aku tidak menelepon.
Karena aku tidak bisa bilang itu bohong. Beritanya memang salah soal siapa yang bersalah, tapi aku tidak bisa menjelaskan tanpa menyeret orang lain ke dalam lubang yang sudah kugali untuk diriku sendiri. Jadi aku membiarkan ayahku percaya aku berbohong padanya selama bertahun-tahun. Aku membiarkan beliau percaya anak yang fotonya ia tempel di papan gabus, anak yang ia banggakan ke setiap pelanggan, ternyata pembohong.
Mang Ujang yang cerita bagian terakhir, lewat telepon, suaranya pelan seperti menyampaikan kabar kematian.
“Bapakmu nyopot foto-fotomu, Yog. Semuanya. Sore tadi. Diem aja, nggak ngomong apa-apa, cuma dicopotin satu-satu terus dimasukin laci. Papan gabusnya sekarang kosong. Cuma ada paku-paku bekasnya.”
Paku-paku bekas.
Itu yang kubayangkan setiap malam selama dua tahun. Bukan gedung kaca yang kuhilangkan. Bukan karierku. Bukan namaku di berita.
Papan gabus kosong dengan paku-paku bekas di kios kecil milik laki-laki yang tidak pernah bisa bilang “Bapak bangga”, tapi menunjukkannya dengan cara yang jauh lebih keras—dan yang sekarang, mungkin, sedang belajar cara mencopotnya kembali.
Aku terbangun pukul lima pagi, basah oleh keringat, dengan nama folder itu masih menyala di belakang mataku.
Di luar, azan subuh dari musala ujung gang. Suara motor Angelica—aku mengenalinya sekarang, bunyi kenalpotnya sedikit batuk di putaran rendah—lewat pukul enam untuk mengantar pesanan pagi.
Aku tidak tidur lagi. Aku duduk di lantai, laptop di pangkuan, dan untuk alasan yang tidak sepenuhnya kumengerti, aku mulai menulis ulang sesuatu yang sudah lama kutinggalkan: catatan. Bukan kode. Catatan tentang kode. Tentang struktur ransomware yang mengunci Dapur Angel, tentang cara variabel itu dinamai, tentang satu kata di surat tebusan.
Nasabah.
Orang ini pernah kerja di bank. Mungkin bank yang sama denganku. Mungkin orang yang sama yang membobol sistem dua tahun lalu, yang kebocorannya dijatuhkan ke namaku.
Mungkin, setelah dua tahun, ada benang yang bisa kutarik.
Aku tidak tahu ke mana benang ini akan membawaku. Aku belum berani berharap ke arah yang paling kuinginkan—ke arah di mana suatu hari nanti aku bisa menelepon ayahku dan, akhirnya, mengatakan kalimat yang benar. Bukan “ini bohong.” Tapi “Bapak, aku nggak pernah berbohong ke Bapak. Aku cuma diam. Dan aku minta maaf untuk itu.”
Pukul dua belas, aku ke Dapur Angel untuk makan siang.
Bukan karena aku berjanji. Atau mungkin karena aku berjanji. Aku tidak lagi yakin bisa membedakan keduanya.
Yang aku tahu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku punya alasan untuk keluar yang bukan sekadar menolak mati.
Dan di saku celanaku, dilipat rapi, masih ada kertas dengan tulisan tegak sedikit miring ke kanan.
P.S. Kamu kurus banget. Itu bukan perhatian. Itu observasi.
Aku membacanya sekali lagi sebelum keluar.
Lalu aku memasukkannya kembali, dan—untuk alasan yang akan kusangkal kalau ditanya—aku tersenyum. Sebentar saja. Lalu aku membiarkannya. Tidak kuhentikan.
Satu hal, ternyata, bisa diperbaiki dalam satu waktu.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell reading
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.