Chapter Thirty Seven
Live
POV: Yoga
Lakban itu tidak mau lepas.
Lemnya sudah mengeras selama dua tahun. Menguning di pinggir. Menempel di sekeliling kamera kecil itu seperti plester di luka yang tidak pernah dibiarkan sembuh.
Aku mengelupasnya pelan dari satu sudut. Lalu sudut lain. Jari-jariku, yang semalaman bergerak cepat dan yakin, sekarang gemetar.
Angelica berlutut di sampingku. Dia tidak membantu. Dia tahu ini harus aku yang lakukan sendiri.
Lakban itu akhirnya lepas, meninggalkan bekas lengket berbentuk persegi di sekitar lensa yang sudah dua tahun tidak melihat apa pun.
Dan kamera kecil itu menyala.
Di layar, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku melihat wajahku sendiri. Bukan di pantulan. Bukan di foto. Wajahku, hidup, menatap balik dari layar.
Lebih tua. Lebih kurus. Tapi matanya tidak lagi seperti ruangan yang semua perabotnya ditutup kain putih.
Matanya menyala.
Nadia menelepon lewat panggilan video. Wajahnya muncul di layar, lelah, mata merah, tapi tangannya sudah di keyboard.
“Yoga,” katanya. “Aku udah siap nerbitin semuanya. Email 14 Maret. Bukti dari Sheren. Kesaksian Dimas. Semuanya.” Dia menatapku lewat kamera. “Tapi aku mau tanya sekali lagi. Begitu ini keluar, kamu nggak bisa sembunyi lagi. Wajahmu, namamu, semuanya bakal ada di mana-mana. Kamu yakin?”
Aku menatap kamera. Lampu kecil di sampingnya menyala hijau. Merekam. Melihat.
Dua tahun aku menutup mata ini dengan lakban hitam, karena aku tidak tahan dilihat. Karena setiap kali ada yang melihatku, mereka melihat judul berita. Mereka melihat dalang kebocoran. Mereka melihat orang yang menghancurkan tiga puluh juta hidup.
Sekarang aku membiarkannya melihat.
“Nad,” kataku. “Jangan cuma terbitin tulisan.”
“Maksudmu?”
“Aku mau ngomong sendiri. Live. Sekarang.” Aku menarik napas. “Dua tahun orang baca tentang aku dari judul berita yang salah. Aku mau, buat sekali ini, mereka denger langsung dari aku. Lihat muka aku. Terus mereka putusin sendiri aku ini siapa.”
Di sampingku, Angelica menahan napas.
Nadia menatapku lama lewat kamera. Lalu dia tersenyum—senyum lelah, bangga, basah.
“Oke,” katanya. “Lima menit. Aku siapin siarannya. Ini bakal ditonton banyak orang, Yoga. Malam takbiran, semua orang lagi megang HP, semua orang baru aja panik soal uang mereka.” Dia mengangguk. “Kamu bakal ditonton jutaan orang.”
“Aku tahu.”
“Kamu mau ngomong apa?”
Aku menatap Angelica. Lalu menatap teras yang penuh orang. Lalu menatap kamera kecil yang menyala hijau.
“Kebenaran,” kataku. “Cuma itu. Aku udah capek diam.”
Lima menit itu terasa seperti lima detik dan lima tahun sekaligus.
Bu Endang merapikan kerah bajuku, tangannya gemetar, bergumam ya Allah, ya Allah berulang-ulang. Lila mengatur sudut laptop supaya cahayanya pas. Dimas, Wulan, dan Gilang berdiri di belakang, di luar bingkai kamera, karena mereka bilang mereka ingin ada di sana, meski tidak terlihat.
Dan Angelica.
Angelica berlutut di sampingku, di luar bingkai, dan menggenggam tanganku di bawah meja.
“Kamu nggak harus ngelakuin ini,” bisiknya. “Masih ada waktu buat mundur.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu nggak akan mundur.”
“Enggak.”
Dia menatapku. Lalu, pelan, dia tersenyum. “Bagus.”
Di layar, Nadia menghitung mundur. Tiga. Dua. Satu.
Lampu di samping kamera berubah dari hijau ke merah.
Live.
Dan jutaan orang, di malam takbiran, yang baru saja nyaris kehilangan uang mereka lalu mendapatkannya kembali, yang sedang bertanya-tanya siapa yang menyelamatkan mereka, membuka layar HP mereka dan melihat wajah seorang laki-laki kurus di teras sebuah dapur katering kecil.
Wajah yang dua tahun lalu ada di setiap berita, dengan judul dalang kebocoran.
Wajah rising.
“Nama saya Yoga Pratama,” kataku.
Suaraku tidak gemetar. Aku tidak tahu dari mana ketenangan itu datang. Mungkin dari tangan Angelica di tanganku. Mungkin dari dua tahun yang akhirnya berakhir.
“Dua tahun lalu, nama saya ada di berita. Katanya saya yang membocorkan data tiga puluh juta nasabah bank. Katanya saya penjahat.” Aku menatap kamera. Menatap jutaan mata yang tidak bisa kulihat. “Saya nggak pernah membela diri. Saya diam. Dan karena saya diam, semua orang percaya berita itu.”
Aku menarik napas.
“Malam ini, saya mau berhenti diam.”
Dan aku menceritakannya. Semuanya. Email 14 Maret, yang mengingatkan kelemahan sistem enam bulan sebelum kebocoran. Jawaban yang menyuruhku diam. Kenapa aku memilih tenggelam—untuk melindungi seseorang. Dua tahun di kamar kos. Dan malam ini, orang yang sama yang membocorkan data dua tahun lalu, yang hampir menghancurkan Lebaran jutaan orang, dan yang sekarang sudah tertangkap jejaknya.
Aku tidak menyebut nama Pak Hendro. Aku tidak perlu. Nadia akan menerbitkan buktinya, dan bukti bicara lebih keras dari tuduhan.
Aku tidak menyebut nama Angelica. Tapi aku menyebut Dapur Angel.
“Dua tahun saya pikir cara melindungi orang yang saya sayang adalah dengan menghilang,” kataku, dan untuk pertama kalinya suaraku sedikit bergetar. “Berdiri di depan, dan tenggelam sendirian. Saya salah. Ada seseorang yang mengajari saya bahwa orang yang kita lindungi lebih memilih basah bersama kita daripada menonton kita tenggelam sendirian.”
Aku menatap ke samping, ke arah Angelica yang di luar bingkai, meski jutaan orang tidak bisa melihatnya.
“Malam ini saya nggak tenggelam sendirian,” kataku. “Dan itu yang bikin saya menang.”
Aku tidak tahu siaran itu akan jadi seperti apa.
Aku baru tahu paginya, saat matahari Lebaran terbit dan HP di seluruh negeri tidak berhenti berdering.
Siaran itu ditonton lebih dari sepuluh juta orang dalam semalam.
Komentar membanjir, terlalu cepat untuk dibaca. Sebagian besar satu nada:
Gue nangis jam 2 pagi nonton ini.
Dua tahun kita salah nuduh orang.
Yang harusnya minta maaf siapa???
rising. dia beneran balik. dan dia lebih keren dari yang kita bayangin.
Bukan karena dia hacker hebat. Karena dia milih jujur pas dia bisa aja terus diam.
Dan satu komentar, yang di-like ratusan ribu kali, yang kemudian dibaca Lila keras-keras di dapur sambil menangis:
“Pahlawan nggak harus kelihatan.” Katanya di video Tiga Tanda. Sekarang gue ngerti. Pahlawannya emang nggak keliatan selama dua tahun. Dia di kamar kos. Ngelindungin kita semua diam-diam.
Tapi malam itu, sebelum semua itu, sebelum matahari terbit dan dunia berubah, ada satu momen yang tidak dilihat jutaan orang.
Setelah siaran selesai, setelah lampu merah di kamera berubah hijau lagi, setelah teras meledak oleh tangis dan pelukan dan takbir yang kembali terdengar dari musala, aku menutup laptop.
Dan aku melihat Angelica.
Dia menangis. Tapi dia juga tersenyum. Dan dia menatapku seperti orang menatap sesuatu yang sudah lama ia tahu ada di sana, dan akhirnya dilihat juga oleh seluruh dunia.
“Mereka lihat kamu,” bisiknya. “Akhirnya mereka lihat kamu.”
Aku mengangkat tangan, dan menghapus air mata di pipinya dengan ibu jari.
“Kamu yang bikin mereka lihat,” kataku.
Di belakang kami, HP Lila tiba-tiba berbunyi. Lalu berhenti. Lalu berbunyi lagi.
Dia menatap layarnya, dahinya berkerut.
“Mas,” katanya pelan. “Ada nomor nggak dikenal. Nelpon terus. Tiga kali.”
Sesuatu di tengkukku tiba-tiba dingin.
“Jangan diangkat,” kataku.
Tapi HP-ku sendiri sudah berbunyi. Nomor yang sama. Dan sebelum aku sempat menolaknya, sebuah pesan masuk.
Satu baris. Dari nomor tak dikenal.
Kamu menang malam ini, rising. Tapi aku tahu di mana dapur hijau itu.
- 1 Lakban Hitam
- 2 Orang yang Paling Kubenci
- 3 Broto Cell
- 4 Empat Jam
- 5 Password: broto
- 6 Kagum yang Menyebalkan
- 7 Debt Collector
- 8 Tanda Tangan
- 9 Folder yang Tak Sengaja
- 10 Laporan 14 Maret
- 11 Proyek
- 12 Kelas Teras
- 13 Suara yang Tak Pernah Naik
- 14 Termasuk Kamu?
- 15 Nama Orang Lain
- 16 Mimpi yang Dibungkus
- 17 Pakai Namaku Saja
- 18 Sepuluh Menit
- 19 Hampir
- 20 Jejak yang Kuhapus
- 21 Dua Langkah Mundur
- 22 Celahku Kamu
- 23 Cuma Manfaatin Kamu
- 24 Surat yang Sopan
- 25 Gedoran yang Sama
- 26 Kirim ke Wartawan
- 27 Sheren
- 28 Rising di Depan Rising
- 29 Orang-orang Lama
- 30 Lomba
- 31 Sistem Bapak Juga
- 32 Motherboard
- 33 Mesin Tempur
- 34 Malam Takbiran
- 35 Datang Tanpa Dipanggil
- 36 Orkestra
- 37 Live reading
- 38 Angel
- 39 Who Is The Hero
- 40 Nasi Bungkus Dua
- 41 Epilog — Rising.