Chapter Thirty Eight
Masih Nyala
POV: Arga
Minggu kelima, ia berhenti bisa naik tangga teras.
Minggu keenam, ia berhenti bisa berjalan ke meja makan. Kami memindahkan meja kecil ke kamar tamu, dan makan malam pukul tujuh dipindahkan ke sana. Mama duduk di kursi di sisi ranjang. Aku duduk di sisi lain. Dewi di ujung. Mbok Darmi berdiri di ambang pintu dengan celemek, menolak duduk karena “Mbok makan nanti saja.”
Minggu ketujuh, ia berhenti bisa makan opor.
Bukan karena Mbok Darmi mengurangi kuahnya. Karena ia tidak bisa menelan lebih dari tiga suap. Ia menatap mangkuk opor di meja kecil dengan wajah yang sangat sedih dan berkata dengan suara serak:
“Darmi. Maaf. Opornya enak. Aku yang nggak enak.”
Mbok Darmi berlari ke dapur dan menangis ke panci.
Dokter nefrologi yang kudatangkan dari rumah sakit di BSD, dokter terbaik yang bisa kutemukan, datang ke rumah minggu itu. Ia memeriksa, membaca hasil lab, dan berbicara denganku di teras belakang dengan suara yang sangat tenang. Jenis suara yang membuat kabar apa pun terdengar bisa ditangani.
Aku mengenali suara itu. Aku mengenali gerakannya melepas kacamata dan mengelapnya.
“Pak Arga,” katanya. “Jantungnya sudah lelah. Cuci darah membantu, tapi tubuhnya sudah tidak kuat menanggung prosesnya. Kami bisa pindahkan ke ICU. Ventilator. Obat-obatan yang lebih kuat. Itu bisa memberi beberapa minggu lagi.”
“Atau?”
“Atau kita biarkan beliau di rumah. Dengan perawatan paliatif. Supaya tidak sakit. Supaya nyaman.”
Aku menatap pohon mangga.
“Berapa lama?” tanyaku. “Kalau di rumah.”
Dokter itu tidak langsung menjawab.
“Dia sudah memilih, Pak,” katanya akhirnya, pelan. “Tadi pagi. Waktu saya periksa. Beliau bilang, Dok, saya mau di rumah. Dua puluh enam tahun saya nggak di rumah.”
Malam terakhir datang hari Kamis.
Aku tidak tahu itu malam terakhir. Tidak ada yang tahu. Dewi mungkin tahu. Ia perawat. Ia membaca napas Pakde sepanjang sore, menghitung jedanya, melihat warna ujung-ujung jarinya yang mulai kebiruan. Ia menelepon Bu Sumi pukul empat sore dan bilang dengan suara yang sangat tenang, Bu, datang sekarang. Bawa Dimas.
Mereka datang pukul enam.
Bu Sumi masuk ke kamar tamu dengan rantang soto di tangan, yang ia taruh di meja kecil tanpa dibuka. Ia berdiri di kaki ranjang dan menatap laki-laki yang dua puluh tahun menyewa kamar belakang rumahnya.
“Har,” katanya.
Ia membuka mata. Tersenyum lemah. “Sum. Kamu bawa sendok sayur?”
“Ketinggalan.”
“Syukur. Aku nggak kuat dipukul.”
Bu Sumi tertawa. Lalu wajahnya runtuh, dan ia keluar dari kamar dengan tangan menutup mulut.
Dimas berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang kancingnya lengkap. Kemeja baru. Ia membelinya minggu lalu, katanya, untuk acara besar. Ia tidak bilang acara apa. Tidak ada yang bertanya.
Ia tidak berani masuk. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan di saku dan mata yang merah.
Pakde menatapnya.
“Dimas,” katanya. “Sini.”
Dimas masuk. Pelan. Berlutut di sisi ranjang.
Pakde mengulurkan tangan, gemetar, dan menepuk kepala Dimas dua kali. Seperti menepuk lutut Dewi waktu ia kecil dan menangis.
“Kunci mobil,” kata Pakde pelan.
Dimas menatapnya dengan bingung.
Pakde menoleh padaku. “Ga. Kunci.”
Aku mengerti. Aku mengeluarkan kunci Lexus dari saku. Kunci yang ia genggam sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, enam minggu lalu, dan baru ia kembalikan padaku keesokan harinya, sambil bilang ini kunci kamu, bukan kunci Pakde, Pakde cuma pinjam.
Aku menaruh kunci itu di telapak tangan Pakde.
Pakde menyerahkannya pada Dimas.
“Kata Ga,” katanya, dengan suara yang hampir habis, “suatu hari nanti. Kamu nyetir mobil ini. Buat pengantin.”
Dimas menatap kunci di tangannya. Bahunya berguncang.
“Pakde nggak bisa lihat,” bisik Pakde. “Tapi kamu nyetir pelan, ya. Lima kilo per jam. Kayak Pakde.”
Dimas menangis dengan suara. Keras. Seperti anak kecil. Ia menekan kunci mobil ke dadanya dan menangis di sisi ranjang, dengan kepala bersandar di kasur, di sebelah tangan Pakde.
Pakde mengusap rambutnya sampai tangisnya mereda.
Pukul sembilan malam, Pakde minta kopi.
“Seperempat,” katanya pelan. “Seperempat aja. Pakai termos.”
Dewi menatap Bu Sumi. Bu Sumi menatap Dewi.
Lalu Bu Sumi berjalan ke dapur. Kami mendengar suara termos dibuka. Suara kopi dituang ke gelas. Suara sendok yang beradu dengan gelas.
Bu Sumi kembali dengan gelas belimbing berisi kopi.
Penuh. Bukan seperempat. Penuh sampai ke bibir gelas.
Pakde menatap gelas itu. Lalu menatap Bu Sumi.
“Sum,” katanya. “Itu penuh.”
“Diam,” kata Bu Sumi, dengan mata yang basah. “Minum.”
Pakde tertawa. Pelan sekali. Tawa yang lebih mirip napas.
Dewi membantunya duduk sedikit, menyangga punggungnya dengan bantal. Aku memegang gelas itu di depan bibirnya. Ia menyesap. Satu kali. Pelan.
Ia memejamkan mata.
“Garamnya pas,” bisiknya.
Pukul sepuluh, Mama masuk ke kamar.
Ia sudah tidur sejak pukul delapan. Tapi ia bangun, entah kenapa, dan berjalan sendiri dari kamarnya dengan daster batik dan rambut yang terurai, tanpa sandal. Mbok Darmi mencoba menahannya di lorong. Mama tidak mendengarkan.
Ia masuk ke kamar tamu, berjalan ke sisi ranjang, dan duduk di tepi kasur. Di sebelah Pakde.
Ia mengambil tangannya.
Jari-jarinya menyelip di antara jari-jari Pakde, dengan posisi yang sangat tepat. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Pakde, bolak-balik.
Pakde membuka mata dan menatapnya.
“Tih,” bisiknya.
“Mas.” Mama tersenyum. Matanya jernih. Sangat jernih. Malam ini, entah bagaimana, entah kenapa, demensia mundur selangkah dan membiarkannya melihat. “Kamu capek?”
“Capek.”
“Tidur, Mas.”
“Belum.”
“Kenapa belum?”
Pakde menatapnya lama. Lalu ia menoleh. Mencari sesuatu di kamar. Matanya bergerak pelan, melewati Dewi, melewati Bu Sumi, melewati Dimas yang masih memeluk kunci mobil di sudut kamar, melewati Mbok Darmi di ambang pintu.
Sampai ia menemukanku.
“Ga,” katanya.
Aku duduk di sisi ranjang. Di seberang Mama. Aku mengambil tangannya yang satunya. Tangan kanan. Tangan yang dulu memegang setir truk delapan belas roda di jalur Pantura. Tangan yang menulis huruf g berekor panjang lima puluh dua kali.
Tangan itu dingin sekarang. Kurus. Kulitnya tipis, seperti kertas.
Pakde menatapku.
Ruangan sunyi. Hanya suara napasnya, berat dan pelan, dengan jeda yang makin panjang di antara setiap tarikan. Satu. Diam. Dua. Diam lebih lama.
“Ga,” katanya lagi.
“Iya, Pak.”
“Sudah makan?”
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tawa yang pecah di tengah, bercampur dengan sesuatu yang lain.
“Sudah, Pak,” kataku. “Soto Bu Sumi. Dua mangkuk.”
“Bagus.”
Ia tersenyum. Matanya setengah terpejam.
“Tidurnya?” tanyanya.
“Jam sepuluh tiga puluh, Pak. Wi yang atur.”
“Bagus.” Senyumnya sedikit melebar. “Dia galak, ya?”
“Galak sekali, Pak.”
“Kayak Sum.”
Di kaki ranjang, Bu Sumi tertawa sambil menangis ke tangannya.
Pakde memejamkan mata. Napasnya melambat. Jeda di antara tarikannya semakin panjang. Aku menggenggam tangannya lebih erat.
Lalu matanya terbuka lagi.
Sedikit. Hanya sedikit. Celah kecil di antara kelopak matanya yang berat.
Ia menatapku dari celah itu.
Dan matanya menyala.
Bahkan sekarang. Bahkan di sini, di ranjang kamar tamu dengan selimut tebal dan pendingin udara yang terlalu senyap, dengan ginjal yang sudah lama berhenti bekerja dan jantung yang sudah lelah. Matanya menyala, seperti dua titik kecil dari cahaya lampu jalan yang masuk lewat jendela kontrakan, dua puluh enam tahun lalu.
Bibirnya bergerak.
“Masih nyala…”
Suaranya hampir tidak terdengar. Napasnya tersangkut di tengah kalimat.
Aku membungkuk. Mendekatkan telingaku ke bibirnya.
“…Ga?”
Aku menatapnya.
Aku tahu artinya sekarang. Bukan kalimat penyemangat. Bukan semangatmu masih ada. Pertanyaan seorang ayah yang pulang larut malam, membungkuk di atas kasur anaknya dalam gelap, dan menemukan dua titik kecil yang masih terbuka.
Kok belum tidur?
Dan aku tahu jawabannya juga. Jawaban yang dulu kuberikan setiap malam, waktu umur lima tahun. Aku tertawa karena ketahuan. Lalu ia menyanyikan lagu itu sampai mataku mati. Sampai aku tidur.
Aku menggenggam tangannya dengan dua tangan.
“Masih, Pak,” bisikku. “Masih nyala.”
Ia tersenyum. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat.
Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan.
Aku bernyanyi.
Lagu keroncong itu. Lagu yang ia nyanyikan di teras kontrakan. Lagu yang Dewi nyanyikan untuk Mama di ruang tengah dalam gelap. Lagu yang Mama senandungkan untukku di lantai kamar, di antara amplop-amplop kuning.
Aku tidak tahu liriknya. Aku tidak pernah tahu liriknya. Aku hanya tahu nadanya. Naik turun, seperti gelombang. Sumbang di nada tinggi.
Aku menyenandungkannya untuknya. Pelan. Dengan suara yang pecah di setiap nada.
Seperti dulu ia menyenandungkannya untukku. Sampai mataku mati. Sampai aku tidur.
Di seberangku, Mama ikut bersenandung. Suaranya tinggi dan bergetar. Lalu Dewi, dari kaki ranjang, pelan, sumbang di nada tinggi, persis seperti diajarkan. Lalu Bu Sumi. Lalu Mbok Darmi dari ambang pintu, sambil terisak ke celemeknya.
Lalu Dimas, dari sudut kamar, dengan kunci mobil di dadanya, bersenandung dengan suara yang paling sumbang dari semuanya.
Enam orang. Menyenandungkan satu lagu keroncong yang tidak satu pun dari kami tahu liriknya. Di kamar tamu rumah di Pondok Indah. Untuk satu laki-laki.
Mata Pakde perlahan menutup.
Napasnya melambat. Satu. Diam. Dua. Diam yang sangat panjang.
Tiga.
Diam.
Aku terus bersenandung.
Diam.
Aku terus bersenandung, dengan air mata yang jatuh ke tangannya di genggamanku, sampai Dewi berjalan dari kaki ranjang, berlutut di sebelahku, dan menyentuh pergelangan tangan Pakde dengan dua jari.
Ia menahan jarinya di sana lama sekali.
Lalu ia menatapku. Matanya basah. Ia tidak perlu berkata apa-apa.
Aku berhenti bersenandung.
Mama yang bicara duluan.
Ia masih memegang tangan Pakde. Ibu jarinya masih mengusap punggung tangannya. Bolak-balik. Pelan.
“Sudah tidur, Mas?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Mama tersenyum. Matanya masih jernih. Sangat jernih.
“Bagus,” katanya. “Kamu capek. Tidur.”
Ia menunduk dan mengecup kening Pakde. Lama. Lalu ia melepaskan tangannya, pelan, dan meletakkannya di atas dada Pakde, di atas selimut. Ia merapikan selimut itu. Ia merapikan rambut putih Pakde yang cepak, yang tadi pagi disisir tiga kali.
Lalu ia berdiri, dan berjalan keluar dari kamar dengan kaki telanjang, tanpa menoleh.
Mbok Darmi menyusulnya.
Aku tidak bisa bergerak.
Aku duduk di sisi ranjang dengan tangannya di genggamanku. Tangan yang sekarang tidak gemetar lagi. Tidak dingin, belum. Hanya diam.
Aku menatap wajahnya.
Wajah yang selama dua puluh enam tahun tidak kukenal. Wajah yang selama enam minggu terakhir kupelajari, setiap hari, seperti mempelajari gambar struktur yang paling penting dalam hidupku. Kerutan di sudut matanya. Bekas luka kecil di dagunya. Alis tebal yang sama dengan alisku. Rahang yang sama.
Mata yang sekarang tertutup.
Tidak menyala lagi.
Aku membungkuk di atas tubuhnya. Pelan. Aku melingkarkan lenganku di bahunya yang kurus, di atas selimut, dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Di tempat yang tidak lagi naik turun.
Aku memeluknya.
Untuk pertama kalinya.
Dua puluh enam tahun, dan enam minggu, dan aku belum pernah memeluknya. Aku menggenggam tangannya. Aku memakaikan sandal jepit di kakinya. Aku duduk di sisi ranjangnya setiap malam. Aku tertawa di tepi kolam ikan hias dengan joran bambu buatannya.
Tapi aku belum pernah memeluknya.
Sekarang aku memeluknya. Dan ia tidak bisa memelukku kembali.
Aku menangis di dadanya. Tanpa suara. Bahuku berguncang. Air mataku membasahi kemeja batik yang pudar, kemeja yang ia pakai waktu pulang dari rumah sakit, waktu ia menyetir Lexus-ku empat kilometer per jam dengan lampu hazard dan tangan yang gemetar.
Masih nyala, Ga?
Masih, Pak.
Masih.
Seseorang memelukku dari belakang.
Tidak bertanya. Tidak meminta izin. Tidak berkata tidak apa-apa atau dia sudah tenang atau dia tidak sakit lagi, kalimat-kalimat yang aku tahu semuanya benar dan semuanya tidak berguna.
Dewi melingkarkan kedua lengannya di bahuku dan menarikku pelan ke arahnya, sampai punggungku bersandar di dadanya. Dagunya di bahuku. Pipinya di pipiku. Basah.
Ia memelukku seperti di anak tangga ketiga, malam gunting oranye. Seperti seseorang yang tahu aku sedang runtuh, dan memutuskan untuk menahanku supaya runtuhku tidak berantakan.
“Aku nggak lihat,” bisiknya di telingaku. “Kamu boleh nangis.”
Aku menangis.
Di antara dua orang. Laki-laki yang memelukku dari depan, yang tidak bisa memelukku kembali. Dan perempuan yang memelukku dari belakang, yang ia kirim ke rumahku untuk menjagaku.
Di sudut kamar, Dimas menangis dengan kunci mobil di dadanya. Di kaki ranjang, Bu Sumi duduk di lantai dengan wajah di tangannya. Di lorong, Mama bersenandung lagu keroncong itu, sendirian, pelan, sumbang di nada tinggi.
Dan di meja kecil di samping ranjang, gelas belimbing berisi kopi. Masih penuh, kecuali satu sesapan.
Garamnya pas.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala reading
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala