Chapter Eleven

Dua Detik Saja

POV: Arga

Roti bakarnya tidak gosong.

Dua potong, di piring kecil yang sama, dengan selai srikaya yang dioles tipis dan rata sampai ke pinggir. Di sebelahnya ada segelas kopi. Hanya satu gelas, bukan tiga. Dan di bawah gelas itu, secarik kertas kuning:

Satu gelas. Sisanya nanti siang.
— D.

Aku duduk di meja makan pukul enam lewat sepuluh pagi, dengan mata bengkak yang kututupi dengan air dingin dua kali, dan makan roti itu pelan-pelan.

Mama keluar dari kamarnya pukul enam lewat dua puluh, menggandeng lengan Dewi, dengan daster bunga-bunga dan wajah yang segar setelah tidur nyenyak. Ia melihatku dan tersenyum lebar.

“Ga! Kok tumben sarapan di rumah?”

“Iya, Ma.”

“Matamu kenapa? Bengkak.”

“Kurang tidur, Ma.”

“Kamu begadang lagi?” Mama duduk dan menunjukku dengan telunjuk. “Dewi, anak ini begadang lagi. Kamu marahin.”

“Nanti saya marahin, Bu,” kata Dewi, menuang teh untuk Mama. Ia tidak menatapku. Tapi aku melihat ujung bibirnya bergerak sedikit.

Mama tidak ingat. Seperti kata Dewi. Ia tidak ingat duduk di ruang tengah dalam gelap dengan gunting oranye di pangkuan. Ia tidak ingat menjerit. Ia tidak ingat memanggilku Mas dan menyuruhku menutup pintu karena anaknya sedang tidur.

Aku seharusnya lega. Aku memang lega.

Tapi aku juga mengingat satu kata, dan kata itu tidak hilang hanya karena Mama lupa mengucapkannya.

“Ma,” kataku hati-hati, sambil mengoles selai ke roti yang sudah dioles. “Dulu waktu di kontrakan, kita pernah punya utang?”

Mama berhenti mengaduk teh.

Sedetik. Dua detik.

“Utang?” Ia tertawa kecil. “Mama nggak pernah ngutang, Ga. Mama jualan. Halal. Dari keringat sendiri.”

“Bukan Mama. Maksudku—”

“Pepes, Wi,” potong Mama, menoleh pada Dewi dengan semangat yang tiba-tiba. “Nanti siang kita bikin pepes lagi, ya. Ibu mau ajarin kamu cara milih daun pisang yang bagus.”

“Iya, Bu.”

Mama kembali ke tehnya dan tidak menatapku lagi selama sarapan.

Aku tidak tahu apakah itu demensia atau sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih tua dari penyakitnya. Sesuatu yang sudah dua puluh enam tahun ia kunci di tempat yang bahkan anaknya tidak boleh sentuh.

Di seberang meja, Dewi menunduk ke cangkir tehnya. Tangannya menggenggam cangkir itu dengan dua tangan, erat, seperti sedang kedinginan, padahal pagi itu sama sekali tidak dingin.


Pukul tujuh malam, setelah makan malam tanpa ponsel, Dewi mengetuk pintu ruang kerjaku.

“Masuk.”

Ia masuk membawa tas hitam kecil yang belum pernah kulihat. Masih memakai seragam putih, rambut masih dicepol, tapi ada sesuatu di wajahnya yang berbeda dari biasanya. Sesuatu yang lebih tegas. Wajah perawat yang sedang bertugas.

“Pak, saya mau periksa tekanan darah Bapak.”

Aku mengangkat kepala dari laptop. “Saya bukan pasien kamu.”

“Bapak sudah bilang itu minggu lalu.” Ia meletakkan tas hitam di meja dan membukanya. Tensimeter digital, stetoskop, oksimeter. “Dan saya sudah jawab. Bapak anak pasien saya. Satu paket.”

“Itu bukan logika medis.”

“Ini logika saya.” Ia mengeluarkan manset tensimeter. “Bapak tidur jam satu tadi malam. Bangun jam lima. Empat jam. Kemarin juga empat jam. Minggu lalu rata-rata empat jam setengah. Bapak minum kopi tiga gelas sebelum jam sembilan, padahal saya sudah taruh notes di bawah gelas. Bapak makan siang jam tiga sore, kata Mas Teddy.”

“Teddy lapor ke kamu?”

“Mas Teddy lapor ke semua orang, Pak.” Ia menarik kursi dari sudut ruangan, menaruhnya tepat di sebelah kursiku, dan duduk. Lututnya hampir menyentuh lututku. “Lengan kiri. Gulung kemejanya.”

Aku menatapnya. Satu detik. Lalu aku menatap laptop.

Lalu aku menggulung lengan kemeja kiriku.

Dewi memasang manset di lengan atasku. Tangannya dingin dan cekatan. Ia mengencangkan perekatnya dengan satu tarikan yang pas, tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar, lalu menekan tombol. Manset mulai mengembang, menekan lenganku.

Kami diam menunggu angka muncul. Hanya suara mesin kecil yang mendengung.

Aku menatap layar laptop yang sudah mati. Di pantulan layar hitam itu, aku bisa melihat wajahnya dari samping. Bulu matanya yang menunduk menatap layar tensimeter. Bibirnya yang sedikit mengerucut karena konsentrasi.

Angka muncul.

Dewi mengerutkan dahi. “Seratus empat puluh dua per sembilan puluh.”

“Itu buruk?”

“Itu tinggi untuk laki-laki tiga puluh satu tahun yang tidak merokok.” Ia melepas manset dengan suara perekat yang terkoyak. “Nadi seratus dua.”

“Itu juga buruk?”

“Itu…” Ia berhenti. Menatap angka di layar. Lalu menatapku. Lalu menatap angka lagi. Ujung bibirnya bergerak. “Itu tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Tergantung apa yang bikin nadinya naik.”

Aku tidak menjawab. Aku menggulung turun lengan kemejaku dengan sangat teliti, seolah menggulung lengan kemeja adalah prosedur teknik yang butuh konsentrasi penuh.

Dewi mengambil stetoskop dari tas.

“Saya mau dengar jantung Bapak.”

“Itu perlu?”

“Perlu.” Ia memasang stetoskop di lehernya, lalu memasukkan dua ujungnya ke telinga. “Dua kancing atas.”

“Apa?”

“Kemeja Bapak. Buka dua kancing atas. Saya nggak bisa dengar lewat kain setebal itu.”

Aku menatapnya.

Ia menatapku balik dengan wajah yang sangat profesional. Terlalu profesional. Wajah yang sengaja dibuat sangat datar oleh seseorang yang sedang menahan sesuatu di baliknya.

Aku membuka dua kancing atas kemejaku. Jari-jariku terasa lebih besar dan lebih bodoh dari biasanya.

Dewi mencondongkan tubuh. Ia meletakkan kepala stetoskop di dadaku, di sebelah kiri, tepat di atas jantung. Logam bulat itu dingin di kulitku. Lalu tangannya, yang memegang stetoskop itu, menyentuh dadaku juga. Ujung jarinya. Hangat.

Ia memejamkan mata untuk mendengarkan.

Aku tidak bernapas.

Wajahnya sekarang sangat dekat. Lebih dekat dari di dapur jam dua pagi, waktu aku membersihkan kuah di dagunya. Aku bisa melihat setiap helai bulu matanya. Aku bisa mencium wangi sabun bayi dan melati itu, dari rambutnya yang dicepol, dari lehernya. Aku bisa melihat ujung hidungnya yang kecil, bibirnya yang sedikit terbuka, dan bintik kecil di ujung hidung yang dulu kuperhatikan di dapur.

Di dalam dadaku, jantungku berlari seperti tidak pernah berlari sebelumnya.

Dan ia mendengarnya. Seluruhnya. Lewat stetoskop di telinganya.

Dewi membuka mata perlahan. Ia tidak menarik stetoskop. Ia menatapku dari jarak satu jengkal, dengan mata teduh yang sekarang tidak teduh sama sekali.

“Pak Arga,” katanya pelan.

“Hm.”

“Detaknya cepat banget dari sini.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Mau saya periksa lebih lanjut?” Suaranya turun, rendah, setengah berbisik. “Atau Bapak sudah tahu penyebabnya?”

Telingaku terbakar. Seluruh wajahku terbakar. Aku menatap ke samping, ke rak buku, ke jendela, ke mana pun selain wajah yang hanya satu jengkal dari wajahku.

“Saya kurang tidur,” kataku pada rak buku.

“Oh.” Ia tidak menarik diri. “Kurang tidur bikin detaknya naik waktu saya dekat, ya?”

“Kurang tidur bikin detaknya naik setiap saat.”

“Tadi waktu saya ukur tensi, nadinya seratus dua. Waktu saya pasang stetoskop, naik jadi seratus dua puluh.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Itu bukan kurang tidur, Pak.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu. Tidak ada data yang bisa kubantah. Tidak ada spreadsheet yang bisa kubuka.

Dewi menarik stetoskop dari dadaku, pelan. Ia melepasnya dari telinga dan menggantungnya di leher. Tapi ia tidak menjauh. Ia tetap duduk di kursi itu, lututnya masih hampir menyentuh lututku, dan menatapku dengan dagu sedikit terangkat.

“Pak,” katanya. “Lihat aku, Pak. Dua detik saja.”


Kalimat itu tidak diucapkan seperti di kantor dua minggu lalu, dengan nada perawat yang meminta pasien membuka mulut. Kalimat itu diucapkan dengan pelan, dengan senyum yang setengah tersembunyi, dengan nada yang jelas-jelas menantang.

Ini bukan permintaan profesional. Ini godaan. Terang-terangan. Disengaja.

Dan aku, yang sudah memimpin seratus empat puluh karyawan dan memenangkan tender satu koma dua triliun, merasa seperti anak SMP yang disuruh maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal yang belum pernah diajarkan.

Aku menarik napas.

Aku menoleh.

Aku menatapnya.

Satu.

Jantungku melonjak. Aku menahannya. Seperti menahan beban di gym, seperti menahan napas di bawah air.

Dua.

Matanya. Ya Tuhan, matanya. Teduh dan dalam, dengan bulu mata yang membuat setiap kedipan terasa seperti adegan lambat. Di dalam matanya ada bayanganku sendiri, kecil, dengan kemeja yang dua kancingnya terbuka dan wajah yang merah padam.

Tiga.

Aku masih menatapnya.

Dewi berkedip. Sekali. Pelan. Lalu matanya membesar sedikit, seperti tidak menduga aku akan bertahan.

Dan di detik keempat, ia yang membuang muka duluan.

Ia menunduk ke tas hitam di meja. Tangannya sibuk memasukkan tensimeter ke dalam tas, padahal tensimeter itu sudah masuk. Pipinya, kulit kuning langsat yang bersih itu, berubah merah muda, lalu merah, lalu merah sampai ke telinga.

Aku menatapnya membuang muka, dan sesuatu di dadaku, sesuatu yang tadinya berlari seperti dikejar, tiba-tiba berhenti berlari dan berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal di udara.

Tiga detik. Dan ia yang kalah duluan.

“Tiga detik,” kataku.

Dewi tidak menoleh. “Saya tahu.”

“Kamu yang buang muka.”

“Saya tahu, Pak.”

“Kenapa?”

Ia menutup tas hitam itu dengan resleting yang terlalu keras. “Karena Bapak lihatnya kayak mau makan orang.”

Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa. Bukan tawa kecil. Tawa yang keluar dari perut, tawa yang sudah lama sekali tidak keluar dari mulutku, tawa yang membuat bahuku berguncang.

Dewi akhirnya menoleh, dengan wajah merah dan mata yang menyipit kesal. Lalu ia melihatku tertawa, dan kekesalan di wajahnya runtuh. Ia ikut tertawa, menutup mulut dengan punggung tangan, bahu bergetar.

Kami tertawa di ruang kerja itu seperti dua orang bodoh.

Dan itulah saat pintu ruang kerja terbuka.


“Pak, maaf mengganggu, saya cuma mau ambil dokumen tender yang—”

Teddy berdiri di ambang pintu dengan map di tangan.

Ia melihat Dewi dengan stetoskop di leher. Ia melihatku dengan dua kancing kemeja terbuka. Ia melihat kursi yang ditaruh terlalu dekat dengan kursiku. Ia melihat wajah kami berdua yang merah padam, mata yang berair karena tertawa.

Wajah Teddy melewati tujuh ekspresi dalam dua detik. Kaget. Bingung. Paham. Lebih paham. Terlalu paham. Gembira. Dan akhirnya, sangat profesional.

“Saya keluar,” katanya.

“Teddy, ini bukan—”

“Saya tidak lihat apa-apa, Pak. Saya buta. Saya tadi kecelakaan, mata saya rusak.”

“Teddy.”

“Dokumennya besok saja.” Ia mundur selangkah. Lalu berhenti. Lalu, dengan suara sangat pelan dan sangat serius, bertanya: “Pak. Untuk keperluan dokumentasi. Berapa detik?”

“KELUAR.”

“Siap, Pak.”

Pintu tertutup. Kami mendengar langkahnya menuruni tangga dengan cepat, lalu langkah itu berhenti di bawah, dan suara samar Teddy yang berbicara dengan seseorang, mungkin Mbok Darmi, dengan nada yang sangat, sangat bersemangat.

Dewi menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Besok seluruh kantor Bapak tahu,” katanya dari balik tangan.

“Besok seluruh kompleks tahu,” koreksiku. “Teddy punya nomor Tante Merry.”

Dewi menurunkan tangan dan menatapku dengan horor. Lalu, pelan-pelan, horor itu berubah jadi tawa lagi.

Aku mengancingkan kembali kemejaku. Dua kancing. Jari-jariku masih terasa bodoh.

Dewi berdiri, mengambil tas hitamnya, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.

“Pak.”

“Hm.”

“Tensi Bapak tetap tinggi. Itu serius. Mulai besok, saya ukur tiap malam.”

“Tiap malam?”

“Tiap malam, Pak.” Lesung di pipi kirinya muncul, dalam sekali. “Pakai stetoskop.”

Pintu tertutup.

Aku duduk sendirian di ruang kerja, menatap pintu itu, dengan tangan di dada kiri, tepat di tempat logam dingin tadi menyentuh kulitku.

Seratus dua puluh.

Aku tidak perlu stetoskop untuk tahu angkanya sekarang lebih tinggi.


Pukul sepuluh lewat lima belas, ponselku bergetar.

Teddy: Pak, saya sudah update grafiknya.

Teddy: [Gambar terlampir]

Aku membuka gambar itu. Grafik garis merah muda yang sama, dengan titik data baru di ujung kanan: Selasa malam, ruang kerja, 3 detik (estimasi). Catatan: subjek perempuan buang muka duluan. Pertama kali dalam sejarah.

Di bawahnya, garis tren putus-putus yang sudah dikoreksi, sekarang naik lebih tajam.

Teddy: Pak, proyeksinya saya revisi. 10 detik dalam 3 minggu.

Aku: Hapus grafik itu.

Teddy: Sudah saya kirim ke Bu Merry Pak.

Teddy: Beliau sudah forward ke grup arisan.

Teddy: Maaf Pak.

Teddy: Tidak, saya tidak menyesal.

Aku mematikan ponsel, mematikan lampu, dan berbaring dalam gelap.

Dari lantai bawah, dari kamar tamu, terdengar suara pelan seseorang bersenandung. Lagu keroncong lama itu lagi. Kali ini lebih ceria. Sedikit lebih cepat.

Aku memejamkan mata dan, untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, tertidur sebelum pukul sebelas.