Chapter Twenty Six
Buku Dongeng
POV: Dewi
Pakde masuk rumah sakit lagi hari Jumat malam.
Sesak, seperti dua minggu lalu. Tapi kali ini tidak ada termos untuk disalahkan, karena termosnya ada di dapur Pondok Indah. Kali ini cuma tubuhnya, yang makin tidak sanggup membuang apa yang tidak lagi bisa dibuang ginjalnya. Dokter jaga bilang ada cairan di paru-paru dan sedikit infeksi. Rawat inap tiga hari. Mungkin lebih.
Aku tidur di kursi plastik di sebelah ranjangnya. Pukul lima pagi Pakde bangun, menatapku dengan selang oksigen di hidung, dan berkata dengan suara serak:
“Kamu pulang, Wi. Mandi. Ganti baju. Kamu bau rumah sakit.”
“Aku perawat, Pakde. Aku memang bau rumah sakit.”
“Ya sudah. Pulang. Ambilin sarung Pakde yang cokelat. Sama sisir. Pakde mau rapi kalau ada yang jenguk.”
“Siapa yang mau jenguk?”
Pakde tersenyum di balik selang oksigen. “Perawat yang galak itu. Dia naksir Pakde.”
Aku tertawa, lelah, dan pulang naik angkot pukul sembilan.
Rumah sepi. Ibu sudah buka warung, melayani tiga bapak ojek yang sarapan soto. Dimas tidak ada. Motornya juga tidak ada.
“Dimas ke mana, Bu?”
“Katanya jemput orang.” Ibu tidak menoleh dari panci. “Pagi-pagi sudah mandi, pakai minyak rambut, pakai kemeja yang kancingnya lengkap. Ibu tanya jemput siapa, dia bilang rahasia.”
Aku berhenti di tengah warung.
Dimas tidak pernah pakai kemeja yang kancingnya lengkap. Dimas tidak pernah pakai minyak rambut. Terakhir kali Dimas pakai minyak rambut adalah waktu ia mau melamar pekerjaan di bengkel resmi, dua tahun lalu, dan ditolak.
“Bu, jemput siapa?”
“Mana Ibu tahu. Rahasia katanya.” Ibu akhirnya menoleh, menatapku dengan dahi berkerut. “Kenapa mukamu pucat?”
Aku tidak menjawab. Aku mengambil ponsel dan menelepon Dimas.
Tidak diangkat.
Aku menelepon lagi. Tidak diangkat.
Aku mengirim pesan. Dim, jemput siapa?
Centang dua. Tidak dibalas.
Aku berdiri di tengah warung dengan ponsel di tangan, dan sesuatu yang dingin mulai merayap dari perutku ke dadaku.
Pukul sebelas lewat dua puluh, burung beo Bu Ani berteriak.
“Maling! Maling! Maling!”
Lalu suara motor Dimas di mulut gang. Lalu suara Dimas, keras dan bersemangat, seperti pemandu wisata:
“Hati-hati, Bang, selokannya! Itu rumah Bu Ani, burungnya emang gitu, jangan dimasukin hati! Kucingnya enam, Bang, jangan diinjak!”
Aku membeku di dapur, dengan sarung cokelat Pakde di tangan.
Ibu, di warung, berhenti mengaduk soto.
Tiga bapak ojek di bangku panjang berhenti makan.
Lalu, di depan warung, di bawah spanduk WARUNG NASI BU SUMI — MURAH, ENAK, KENYANG yang sudah pudar dimakan matahari, berdiri Ga.
Kemeja putih. Lengan digulung sampai siku. Celana kain abu-abu. Sepatu kulit yang ujungnya sudah sedikit kotor kena lumpur gang. Rambut disisir ke belakang. Di tangannya ada dua kantong kertas besar dengan logo toko kue mahal di Senayan.
Ia berdiri di depan warung ibuku, di gang sempit di belakang pasar Bekasi Timur, dengan wajah yang sangat gugup dan sangat serius, seperti orang yang akan mempresentasikan tender paling penting dalam hidupnya.
Lalu ia melihatku.
Ia tersenyum.
“Pagi, Wi,” katanya.
Sarung cokelat Pakde jatuh dari tanganku.
Ibu yang bergerak duluan.
Ia keluar dari balik panci soto dengan sendok sayur di tangan. Ia berjalan ke depan warung. Ia berhenti satu meter di depan Ga dan menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemeja putih. Celana abu-abu. Sepatu kulit yang kena lumpur. Dua kantong kue.
Ga menunduk sopan. “Selamat siang, Bu. Saya—”
“Saya tahu kamu siapa,” potong Ibu.
Ga berhenti.
Ibu menatap wajahnya lama sekali. Terlalu lama. Matanya bergerak di wajah Ga seperti sedang membaca sesuatu. Rahang. Alis tebal. Cara berdiri tegak. Mata yang menyala.
Aku tahu apa yang Ibu lihat. Ibu melihat wajah yang setiap hari ia lihat selama dua puluh tahun, di kamar belakang, di teras, di depan termos hijau penyok. Wajah yang sama, hanya lebih muda tiga puluh dua tahun.
Tangan Ibu yang memegang sendok sayur gemetar.
“Kamu yang di foto,” kata Ibu akhirnya, pelan. “Yang dipeluk anak saya dari belakang. Yang makan habis empat menit.”
Ga menatapku. Lalu menatap Ibu. Telinganya memerah.
“Iya, Bu,” katanya. “Saya Arga.”
Ibu diam. Lalu, perlahan, ia menurunkan sendok sayurnya.
“Masuk,” katanya, dengan suara yang tidak seperti suara Ibu. “Sudah makan?”
“Belum, Bu.”
“Ya sudah. Duduk. Ibu ambilin soto.”
Ibu berbalik ke panci. Tapi sebelum ia berbalik, aku melihat matanya. Basah.
Tiga bapak ojek di bangku panjang bergeser memberi tempat. Salah satunya, Pak Darman yang sudah sepuluh tahun sarapan di warung Ibu, menatap Ga lalu menatapku, lalu tersenyum lebar dengan gigi yang hitam karena rokok.
“Calon, Wi?”
Aku tidak bisa menjawab.
Dimas berdiri di samping motornya di mulut gang, dengan kemeja yang kancingnya lengkap dan rambut berminyak. Ia menatapku dengan wajah orang yang tahu ia sudah melakukan sesuatu yang besar.
Aku berjalan ke arahnya. Cepat.
“Dim.”
“Kak.”
“Kamu kasih alamat?”
“Bang Arga yang minta, Kak.” Dimas tidak menunduk. Ia menatapku lurus. “Kemarin malam. Dia bilang mau datang. Mau kasih kejutan.”
“Kenapa nggak bilang Kakak?”
“Karena Kakak pasti larang.”
Aku menatapnya.
“Kak,” kata Dimas pelan. “Kakak mau sampai kapan?”
“Kakak sudah bilang Sabtu depan, Dim. Kakak sudah janji ke dia. Kakak mau bilang ke Pakde dulu—”
“Pakde di rumah sakit, Kak.” Suara Dimas bergetar. “Pakde makin sakit. Kakak lihat sendiri. Kalau Kakak nunggu Pakde kasih izin, Kakak nunggu sampai Pakde nggak ada.”
Kalimat itu menghantamku seperti balok kayu.
“Dim…”
“Bang Arga baik, Kak. Dia sayang Kakak. Dia sayang aku juga. Dia bilang aku boleh jadi sopir pengantin.” Dimas mengusap matanya dengan punggung tangan, kasar, seperti anak kecil. “Aku nggak mau dia tahunya dari orang lain. Aku mau dia tahunya dari sini. Dari rumah kita. Dari kita.”
“Ini bukan caranya, Dim.”
“Terus caranya gimana, Kak?” Dimas menatapku dengan mata merah. “Kakak sudah lima minggu cari caranya. Kakak belum ketemu.”
Aku tidak bisa menjawab.
Di belakangku, di warung, terdengar suara Ga yang berbicara dengan Ibu. Pelan, sopan, sedikit kaku. Suara Ibu menjawab. Suara sendok yang beradu dengan mangkuk.
“Pintu kamar belakang,” kataku pelan. “Dikunci?”
Dimas menggeleng. “Nggak, Kak. Pakde nggak pernah kunci.”
Aku kembali ke warung secepat yang bisa kulakukan tanpa berlari.
Ga sedang duduk di bangku panjang, di antara Pak Darman dan seorang bapak ojek lain, makan soto dengan sendok bebek. Ia memegang mangkuk dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang berharga. Kuahnya sudah tinggal setengah.
“Enak, Bu,” katanya ketika Ibu meletakkan sepiring gorengan di depannya.
“Ya enak,” kata Ibu. “Ini warung nasi Bu Sumi. Murah, enak, kenyang. Sudah baca spanduknya?”
“Sudah, Bu.”
“Ya sudah. Habisin.”
Ga menghabiskan sotonya. Ia makan dua tempe goreng, satu bakwan, dan satu tahu isi. Pak Darman menepuk bahunya dengan bangga setiap kali ia mengambil gorengan baru, seperti melihat anaknya sendiri lulus ujian.
Aku berdiri di ambang pintu warung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Di balik dinding di belakangku, ada lorong sempit. Di ujung lorong itu, ada pintu kamar yang tidak dikunci. Di balik pintu itu, ada dinding penuh kliping koran. Ratusan wajah laki-laki yang sekarang duduk di bangku panjang warung Ibu, makan bakwan dengan tangan.
Dan di baris paling bawah, sebelah koran tender, sebuah foto. Dicetak Dimas di warnet sebelah pasar. Seorang laki-laki di meja makan, menutupi wajahnya dengan satu tangan, tertawa sampai matanya basah.
“Wi.”
Ga menatapku dari bangku panjang. Ia sudah selesai makan. Ia mengusap mulutnya dengan tisu dari kotak di meja.
“Pakde kamu?” tanyanya. “Aku mau ketemu.”
Ibu, di balik panci, menjatuhkan sendok sayur. Bunyinya keras di lantai semen.
“Pakde di rumah sakit,” kataku cepat. Terlalu cepat. “Masuk lagi semalam. Sesak.”
Wajah Ga berubah. Senyumnya hilang. “Parah?”
“Sudah stabil. Tiga hari rawat inap.”
“Aku jenguk.”
“Jangan.”
Ga menatapku. Dahinya berkerut.
“Maksudku,” kataku, mencoba menenangkan suaraku, “beliau lagi istirahat. Dokter bilang jangan banyak tamu. Nanti. Nanti kalau sudah pulang.”
“Nanti,” ulang Ga pelan.
Kata itu lagi. Kata yang sudah kuucapkan berkali-kali padanya. Nanti. Di mobil, di parkiran hotel, di mulut gang.
Ga menatapku lama. Lalu ia mengangguk.
“Oke,” katanya. “Nanti.”
Ia ingin melihat rumahku.
Aku tidak bisa menolak. Ibu sudah bilang ajak dia lihat-lihat, Wi, dengan suara yang tidak bisa dibantah. Dimas sudah berdiri di ambang pintu dalam dengan wajah penuh harap.
Jadi aku mengajaknya masuk.
Rumah kami kecil. Tidak ada yang perlu ditunjukkan. Ruang tamu sempit dengan sofa yang per-nya sudah keluar di satu sisi. Foto Ayah di dinding, hitam-putih, dengan bingkai yang sudah kusam. Dapur yang menyatu dengan warung. Dua kamar tidur. Satu kamar mandi dengan bak semen dan gayung plastik.
Ga melihat semuanya dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Ia berhenti di depan foto Ayah, menatapnya lama, lalu menunduk sedikit, seperti memberi hormat.
“Ayahmu,” katanya pelan.
“Iya.”
“Yang di lorong rumah sakit.”
“Iya.”
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya meletakkan tangannya sebentar di punggungku, di antara tulang belikat, dan aku hampir menangis karena itu.
Lalu ia melihat kamarku.
Pintunya terbuka. Aku lupa menutupnya tadi pagi waktu mengambil baju ganti. Kamar kecil, tiga kali tiga, dengan kasur tunggal, lemari plastik, meja belajar kayu yang sudah ada sejak aku SD, dan rak buku kecil di atas meja.
Ga berdiri di ambang pintu kamarku. Ia menatap semuanya. Kasur dengan seprai bunga-bunga yang sudah pudar. Ijazah keperawatanku yang dibingkai, digantung miring di dinding. Foto kecil aku, Ibu, dan Dimas di Ancol waktu aku SMP.
Dan rak buku.
“Boleh?” tanyanya, menunjuk rak itu.
Aku tidak sempat menjawab. Ia sudah melangkah masuk.
Rak itu berisi buku-buku lama. Buku pelajaran keperawatan. Novel-novel bekas yang kubeli di pasar loak. Kamus. Dan di ujung paling kiri, beberapa buku tipis bersampul warna-warni yang sudah lecek dan robek di pinggir-pinggirnya.
Buku dongeng. Dari waktu aku kecil.
Ga mengambil salah satunya. Sampulnya bergambar kancil yang sedang melompati punggung buaya-buaya di sungai. Warnanya sudah pudar. Sudutnya sudah melengkung.
“Kancil,” katanya, tersenyum. “Aku dulu juga punya. Dari perpustakaan sekolah. Nggak pernah aku balikin.”
Aku tidak bisa bernapas.
Ia membuka sampul buku itu.
Di halaman pertama, di balik sampul, di bagian yang kosong, ada tulisan tangan.
Tinta biru. Sudah luntur sedikit dimakan waktu. Ditulis dengan pulpen yang tidak terlalu bagus, dengan tangan seseorang yang tidak sering menulis. Miring ke kanan. Agak kaku.
Untuk Wiwi.
Jangan takut gelap.
Pakde jaga.
Huruf g di kata jangan melengkung panjang sekali ke bawah. Hampir menyentuh baris berikutnya. Huruf g di kata gelap juga. Dan huruf g di kata jaga.
Tiga huruf g. Tiga ekor panjang yang melengkung ke bawah.
Persis seperti di kartu krem yang dibingkai di ruang kerja di Pondok Indah. Persis seperti di lima puluh satu kartu yang diikat karet gelang di kotak sepatu biru. Persis seperti di nama Arga.
Ga tidak bergerak.
Aku berdiri di ambang pintu kamarku dan melihatnya tidak bergerak.
Senyumnya, yang tadi muncul karena kancil dan buku perpustakaan yang tidak pernah dikembalikan, masih ada di wajahnya. Tapi senyum itu membeku. Seperti foto. Seperti seseorang yang tersenyum lalu tiba-tiba lupa caranya berhenti.
Matanya menatap tulisan itu.
Satu detik. Dua detik. Tiga.
Aku menghitung. Aku tidak bisa berhenti menghitung. Seperti Teddy dengan grafik merah mudanya. Seperti Ga dengan rekor tatapannya.
Lima. Enam. Tujuh.
Jari-jarinya, yang memegang buku itu, memutih di ujung.
Sepuluh.
Lalu, perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat kepala.
Ia tidak menatapku. Ia menatap jendela kecil di kamarku, yang menghadap tembok tetangga. Wajahnya tidak berubah. Senyumnya masih membeku di sana. Tapi warnanya hilang. Kulit di wajahnya, yang tadi kemerahan karena soto panas dan gugup, sekarang pucat. Abu-abu. Seperti beton yang belum kering.
“Wi,” katanya.
Suaranya biasa. Datar. Tenang. Suara yang ia pakai di ruang rapat ketika membacakan laporan progres proyek. Suara yang ia pakai di teras belakang ketika menceritakan sandal jepit hitam.
Suara yang ia pakai untuk hal-hal yang tidak boleh menyakitkan.
“Ini tulisan Pakde kamu?” tanyanya.
Aku tidak bisa menjawab.
Ia akhirnya menoleh dan menatapku. Matanya. Mata yang menyala, yang berbinar di depan layar proyektor dan di tengah lahan kosong Tangerang dan di bawah cahaya bulan di balkon.
Matanya tidak menyala lagi.
“Iya,” bisikku.
Ga menatapku lama sekali.
Lalu ia menutup buku dongeng itu dengan pelan. Sangat pelan, seperti menutup peti. Ia meletakkannya kembali di rak, di tempat yang sama, di ujung paling kiri, dengan sampul kancil menghadap keluar. Ia merapikan posisinya supaya lurus dengan buku di sebelahnya.
Lalu ia merapikan lengan kemejanya. Menurunkan gulungannya. Mengancingkan kancing di pergelangan tangan, kiri, lalu kanan.
“Aku harus pergi,” katanya.
“Ga—”
“Aku lupa ada rapat.” Ia berjalan melewatiku keluar dari kamar. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Langkahnya teratur, seperti orang yang sedang menghitung langkah. “Jam satu. Di kantor. Aku lupa.”
“Ga, ini hari Sabtu.”
“Rapat darurat.”
“Ga.”
Ia tidak berhenti. Ia berjalan melewati ruang tamu sempit, melewati foto Ayah yang hitam-putih, melewati dapur yang menyatu dengan warung.
Ia berhenti di depan Ibu.
Ibu berdiri di balik panci soto dengan sendok sayur di tangan dan wajah yang sudah tahu. Ibu sudah tahu dari tadi. Dari waktu ia menatap wajah Ga di depan warung dan melihat wajah yang setiap hari ia lihat selama dua puluh tahun.
Ga menunduk sopan. Kepalanya turun dengan sudut yang tepat. Profesional.
“Terima kasih sotonya, Bu,” katanya. “Enak sekali.”
Ibu tidak menjawab. Matanya basah.
Ga berbalik dan berjalan ke mulut gang.
Dimas berdiri di samping motornya dengan wajah putih. “Bang. Bang, saya antar—”
“Saya jalan kaki, Dimas. Terima kasih.”
“Bang…”
Ga tidak menoleh. Ia berjalan melewati rumah Bu Ani, melewati selokan, melewati kucing-kucing yang tidur di bawah pagar. Burung beo Bu Ani berteriak maling! maling! di belakangnya.
Ia tidak menoleh sekali pun.
Aku berdiri di depan warung dan melihatnya sampai ia menghilang di tikungan, di ujung gang, ke arah toko kelontong yang buka dua puluh empat jam, ke arah Lexus hitam yang ia parkir di sana.
Tiga bapak ojek di bangku panjang tidak bersuara.
Dimas yang bicara duluan.
Ia berdiri di sebelahku dengan kemeja yang kancingnya lengkap dan rambut berminyak yang mulai berantakan karena keringat. Matanya merah. Suaranya pecah.
“Kak.”
“Apa.”
“Bang Arga bawa kotak, Kak.”
Aku menoleh.
“Kotak kecil.” Dimas mengangkat tangannya, membentuk ukuran sebesar kepalan. “Di saku celananya. Beludru. Biru tua. Aku lihat waktu dia turun dari mobil. Waktu dia benerin celananya.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Dia bilang ke aku semalam,” lanjut Dimas, dengan air mata yang akhirnya jatuh. “Di WA. Dia bilang mau datang hari ini. Mau minta izin Ibu.”
Kakiku tidak bisa menahan tubuhku lagi.
Aku jatuh terduduk di bangku panjang warung, di sebelah Pak Darman, di tempat Ga tadi duduk dan makan soto dengan sendok bebek dan bilang enak, Bu. Mangkuknya masih di sana. Kosong. Bersih, kecuali sisa kuah di dasar.
Di sebelah mangkuk itu, dua kantong kertas besar dengan logo toko kue mahal di Senayan. Ia lupa membawanya kembali. Atau ia sengaja meninggalkannya.
Ibu keluar dari balik panci dan duduk di sebelahku. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menarikku ke pelukannya, dengan celemek bermotif ayam yang bau soto dan bawang goreng, dan membiarkanku menangis di bahunya di depan tiga bapak ojek dan seluruh gang.
Di ujung lorong di belakang kami, pintu kamar belakang terbuka sedikit, tertiup angin. Di dalamnya, ratusan wajah laki-laki yang baru saja pergi menatap kosong ke arah dipan yang tidak ada orangnya.
Dan di baris paling bawah, sebuah foto. Laki-laki di meja makan, menutupi wajahnya dengan satu tangan, tertawa sampai matanya basah.
Ia tidak pernah melihatnya.
- 1 Semua Sudah Dicoret
- 2 Diagnosis
- 3 Perawat yang Salah Alamat
- 4 Aturan Rumah
- 5 Lihat Aku Kalau Bicara
- 6 Rumah Ini Terlalu Sunyi
- 7 Arisan
- 8 Jam Dua Pagi
- 9 Yang Menolong Diam-Diam
- 10 Siapa Kamu, Mas?
- 11 Dua Detik Saja
- 12 Kamar Belakang
- 13 Baris Terakhir
- 14 Biaya Lembur
- 15 Matamu Masih Nyala?
- 16 Hukuman
- 17 Pakde, Aku Takut
- 18 Dapur Jam Dua, Lagi
- 19 Jangan Sentuh Kotaknya
- 20 Kondangan
- 21 Ceritakan Semuanya
- 22 Lihat Aku, Ga
- 23 Pacaran Diam-Diam (Gagal)
- 24 Kopi Termos
- 25 Rencana Seumur Hidup
- 26 Buku Dongeng reading
- 27 Tulisan Tangan
- 28 Jangan Lihat Aku
- 29 Bekasi
- 30 Kotak Jahit
- 31 Mimpi
- 32 Kamar Belakang, dari Mata Arga
- 33 Teras
- 34 Sekarang Aku Lihat Kamu
- 35 Yayasan Pelita
- 36 Kunci Mobil
- 37 Minggu-Minggu yang Dipinjam
- 38 Masih Nyala
- 39 Termos
- 40 Seumur Hidup
- 41 Epilog — Nyala