Chapter Fourteen

Biaya Lembur

POV: Arga

Kamis sore, Mama demam.

Awalnya hanya bersin-bersin setelah jalan sore. Lalu batuk kecil waktu makan malam. Pukul sepuluh malam, Dewi mengetuk pintu ruang kerjaku dengan termometer di tangan dan wajah yang tidak tersenyum.

“Tiga puluh delapan koma tujuh, Pak.”

Aku langsung berdiri.

“Flu,” kata Dewi sebelum aku sempat panik. “Kemungkinan besar flu biasa. Kemarin Bu Nining datang bawa kue, dan beliau sedang pilek. Saya sudah telepon dr. Hendra. Beliau bilang pantau dulu. Kompres, banyak minum, obat penurun panas. Kalau sampai tiga puluh sembilan setengah atau Ibu jadi sangat bingung, langsung ke IGD.”

“Saya ke kamar Mama.”

“Bapak tidur saja. Saya jaga.”

“Saya ke kamar Mama.”

Dewi menatapku sebentar. Lalu ia mengangguk dan minggir dari pintu.


Demam pada pasien demensia, kata Dewi, bisa membuat kebingungan memburuk. Otak yang sudah kesulitan menyusun waktu dan tempat jadi semakin kacau saat tubuh melawan infeksi. Malam itu Mama memanggilku Pak Udin dua kali, mengira aku tukang pos. Ia memanggil Dewi Rini tiga kali. Dan menjelang pukul dua pagi, ia menangis karena mengira kerupuknya belum digoreng dan warung-warung akan marah.

“Belum digoreng, Wi,” isaknya, menggenggam tangan Dewi. “Nanti Pak Darto marah.”

“Sudah digoreng, Bu,” kata Dewi lembut, sambil mengganti kompres di dahi Mama. “Sudah dibungkus semua. Arga sudah antar ke warung.”

“Arga sudah antar?”

“Sudah, Bu. Dua belas warung. Semuanya sudah bayar.”

Mama menatap Dewi lama. Lalu ia tersenyum, senyum lega yang membuat wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih muda, dan memejamkan mata.

“Anak pintar,” gumamnya. “Anak Mama pintar.”

Ia tertidur.

Aku duduk di kursi di sudut kamar, di balik bayangan, dan menatap Dewi yang terus mengganti kompres di dahi Mama setiap lima belas menit. Ia tidak mengeluh. Ia tidak menguap. Ia hanya bekerja, pelan dan teliti, dengan rambut yang setengah lepas dari cepolan dan seragam yang sudah kusut.

Dua belas warung. Ia ingat. Aku hanya menyebutnya sekali, di dapur jam dua pagi, dua minggu lalu. Dan ia ingat.


Jumat pagi, demam Mama turun sedikit, lalu naik lagi siang harinya. Tiga puluh delapan koma lima. Tiga puluh delapan koma sembilan.

Pukul tiga sore, aku menemukan Dewi di dapur sedang menelepon.

“…nggak bisa, Mbak. Pasien saya demam. Saya nggak bisa tinggal… Iya, saya tahu jadwalnya. Tolong batalkan Bu Yati untuk akhir pekan ini… Iya, saya yang jaga. Saya lembur… Nggak apa-apa, Mbak. Saya mau.”

Ia menutup telepon dan menoleh. Melihatku di ambang pintu, ia sedikit tersentak.

“Kamu nggak pulang?” tanyaku.

“Bu Ratih masih demam, Pak.”

“Bu Yati bisa jaga. Dia perawat juga.”

“Bu Yati nggak tahu Bu Ratih suka minta susu madu kalau nggak bisa tidur.” Ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air. “Bu Yati nggak tahu Bu Ratih cuma mau minum obat kalau dikasih pakai sendok kecil warna hijau. Bu Yati nggak tahu kalau Bu Ratih mulai bingung, Bapak harus pura-pura sudah antar kerupuk.”

“Kamu juga butuh istirahat.”

“Saya istirahat nanti.” Ia minum air itu sampai habis. “Kalau demamnya sudah turun.”

“Keluargamu?”

Dewi berhenti. Hanya sepersekian detik.

“Mereka ngerti,” katanya. “Nanti saya telepon.”

Ia keluar dari dapur, kembali ke kamar Mama.

Pukul delapan malam, ketika aku turun ke dapur untuk mengambil air, aku mendengar suaranya dari teras belakang. Pelan, tertahan, dengan nada yang tidak pernah kudengar ia pakai di rumah ini. Nada yang lebih kecil. Lebih muda.

“…iya, Pakde. Minggu depan aku pulang… Nggak, aku nggak apa-apa. Pasiennya demam… Iya, iya. Pakde jangan minum kopi. Ibu bilang sudah tiga gelas tadi siang… Pakde. Seperempat. Janji… Iya. Aku juga.”

Aku mundur dari pintu teras sebelum ia sempat berbalik.

Pakde. Penyewa kamar. Sopir truk yang membayar kuliahnya, yang mungkin sakit, karena ia menyebut jangan minum kopi dengan nada yang sama seperti waktu ia menyuruhku minum satu gelas saja.

Aku tidak tahu kenapa, tapi malam itu aku tidak bisa berhenti memikirkan bahwa ada seseorang di Bekasi yang menunggu Dewi pulang. Dan karena Mama demam, karena rumahku, ia tidak pulang.


Sabtu pagi, Dimas datang.

Ia datang dengan motor bebek merah pudar yang sama, membawa tas ransel besar berisi baju ganti untuk kakaknya dan satu kantong plastik berisi rantang. Ia membunyikan klakson dua kali di depan gerbang, lalu langsung mematikan mesin begitu melihat Lexus di carport.

Aku membuka gerbang. Dimas turun dari motor, mengangguk padaku dengan sopan, lalu berjalan lurus ke arah mobil.

“Pagi, Bang Lexus.”

“Pagi. Kakakmu di dalam.”

“Iya, Bang. Nanti.” Ia sudah berdiri di depan kap mesin, menatapnya seperti menatap pacar yang sudah lama tidak bertemu. “Bang, mobilnya kotor.”

Aku melihat mobilku. Ada sedikit debu di kap dan beberapa bercak air hujan kering di kaca depan. Sejak Mama sakit, aku tidak sempat membawanya ke tempat cuci.

“Sedikit,” kataku.

“Ini bukan sedikit, Bang. Ini penghinaan.” Dimas menyentuh kap mobil dengan ujung jari, lalu menatap debu di jarinya dengan ekspresi terluka. “Mobil kayak gini nggak boleh kotor, Bang. Ini dosa.”

“Nanti saya bawa ke cuci.”

“Bang.” Dimas berbalik dan menatapku dengan mata yang tiba-tiba berbinar. Binar yang terlalu mirip dengan kakaknya. “Bang, sekali aja. Biar saya yang setir ke tempat cuci. Cuma tiga kilo. Saya montir, Bang. Saya ngerti mesin. Saya nyetir pelan.”

“Tidak.”

“Dua kilo.”

“Tidak ada yang menyetir mobil ini selain saya.”

Dimas menatapku dengan wajah orang yang ditolak untuk kedua kalinya oleh cinta pertamanya. Lalu, tiba-tiba, wajahnya berubah. Matanya menyipit. Ia sedang berpikir.

“Kalau gitu, Bang,” katanya pelan, “boleh saya cuci di sini?”

“Di sini?”

“Di carport. Pakai selang Abang. Saya bawa sabun mobil sendiri, Bang. Di jok motor. Microfiber juga ada. Saya nggak sentuh setir. Saya nggak sentuh kursi. Saya cuma cuci body-nya.” Ia mengatupkan kedua tangan di depan dada. “Bang, please. Saya udah mimpi pegang cat mobil ini dari minggu lalu.”

Aku menatapnya. Lalu aku menatap mobilku yang berdebu. Lalu aku mendengar suara Dewi dari dalam rumah, sedang membujuk Mama minum obat dengan sendok kecil warna hijau.

“Boleh,” kataku.

Dimas berteriak. Benar-benar berteriak, dengan kedua tangan terangkat ke udara, persis seperti Teddy di lobi gedung setelah tender rumah sakit. Lalu ia berlari ke motornya, membuka jok, dan mengeluarkan ember lipat, botol sabun mobil, dua kain microfiber, sikat kecil, dan, aku tidak bercanda, sebuah sikat gigi.

“Itu buat apa?” tanyaku.

“Buat sela-sela velg, Bang,” jawabnya dengan serius. “Nggak bisa dijangkau microfiber.”


Dimas mencuci mobilku selama dua jam empat puluh menit.

Aku tahu persis, karena aku duduk di teras depan dengan laptop yang tidak kubuka dan menontonnya sepanjang waktu. Ia mencuci dengan dua ember, satu untuk air sabun, satu untuk air bilas, karena katanya “biar kotorannya nggak balik lagi ke cat, Bang, ini ilmu”. Ia menggosok setiap jengkal cat dengan gerakan melingkar yang lembut, seperti mengusap punggung bayi. Ia membersihkan sela-sela velg dengan sikat gigi sambil berjongkok, lidah sedikit menjulur karena konsentrasi. Ia mengeringkan mobil itu dengan dua kain microfiber, satu untuk bagian atas, satu untuk bagian bawah, dan tidak pernah menukarnya.

Di tengah-tengah proses itu, ia berbicara pada mobilku.

“Kamu cantik banget sih. Siapa yang biarin kamu kotor gini? Abangmu sibuk, ya? Kasihan. Sini, sini, aku bersihin.”

Mbok Darmi keluar dari dapur membawa es teh untuk Dimas, mendengar ia bicara pada mobil, dan langsung kembali ke dapur. Aku mendengarnya mengetik sesuatu di ponsel. Pasti ke grup.

Ketika selesai, mobilku berkilau seperti baru keluar dari dealer. Lebih berkilau, sebenarnya. Aku bisa melihat bayangan pohon mangga di pintu mobil dengan sangat jelas, sampai ke daun-daunnya.

Dimas berdiri di depan mobil itu, napas terengah-engah, keringat menetes di dahi, dan wajah yang sangat bahagia.

“Selesai, Bang.”

Aku berdiri dan berjalan ke mobil. Aku menyentuh kapnya. Licin. Bersih. Sempurna.

“Berapa?” tanyaku, mengeluarkan dompet.

Dimas menatapku seperti aku baru menghinanya. “Bang. Saya nggak minta bayaran. Ini kehormatan.”

“Kamu kerja dua jam empat puluh menit.”

“Iya, Bang. Dan itu dua jam empat puluh menit paling bahagia di hidup saya.” Ia mengemasi peralatannya ke dalam ember lipat. “Kalau Abang mau bayar, bayarnya satu aja.”

“Apa?”

“Suatu hari nanti,” katanya, menatap mobil itu dengan mata penuh harap, “biarin saya duduk di kursi sopirnya. Lima detik aja. Nggak usah nyalain mesin. Kapan pun Abang mau. Saya tunggu.”

Aku menatapnya lama.

“Suatu hari nanti,” kataku akhirnya.

Bukan ya. Bukan tidak. Tapi Dimas menatapku seolah aku baru menjanjikan rumah di Pondok Indah. Ia membungkuk dalam-dalam, berlari ke dalam rumah untuk memberikan tas ransel pada kakaknya, lalu pulang dengan motor bebek merahnya sambil bernyanyi keras-keras sampai ke tikungan jalan.

Dari jendela kamar Mama, aku melihat Dewi berdiri dengan tangan menutup mulut. Bahunya bergetar.

Ia melihat semuanya.


Minggu malam, demam Mama akhirnya turun.

Tiga puluh tujuh koma dua. Lalu tiga puluh enam koma delapan. Mama terbangun pukul tujuh malam dengan mata yang jernih, meminta bubur, dan menghabiskan satu mangkuk penuh sambil mengeluh bahwa rasanya hambar.

“Wi, ini bubur apa air?”

“Bubur, Bu. Tanpa garam. Biar tenggorokan Ibu nggak sakit.”

“Hambar.”

“Besok saya bikinin yang ada garamnya.”

“Pakai ayam suwir?”

“Pakai ayam suwir, Bu.”

Mama tersenyum puas dan tertidur lagi pukul delapan, nyenyak, tanpa demam, tanpa memanggil Pak Udin atau menangisi kerupuk.

Dewi keluar dari kamar Mama dan menutup pintunya pelan sekali. Ia bersandar di pintu itu, memejamkan mata, dan menghela napas panjang. Napas pertama yang benar-benar lega sejak Kamis malam.

Aku berdiri di ujung lorong dengan sebuah amplop di tangan.

Ia membuka mata dan melihatku. Lalu melihat amplop itu.

“Apa itu, Pak?”

“Biaya lembur.” Aku mengulurkannya. “Kamu kerja empat hari tanpa pulang. Tanpa tidur yang benar. Agensi nggak bayar lembur akhir pekan untuk paket VIP. Saya sudah cek kontraknya.”

Dewi menatap amplop itu, tapi tidak mengambilnya.

“Saya nggak mau, Pak.”

“Ini hak kamu.”

“Saya nggak lembur buat uang.”

“Saya tahu. Tapi tetap hak kamu.”

Ia menggeleng. “Saya nggak mau dibayar lebih dari yang sudah Bapak bayar.”

Ada sesuatu di cara ia mengucapkan kalimat itu. Sesuatu yang terlalu berat untuk urusan biaya lembur. Seperti uang di amplop itu akan membebaninya, bukan meringankannya.

Aku tidak mengerti. Tapi aku tidak menurunkan tanganku.

“Dewi. Ambil.”

“Pak.”

“Kalau kamu nggak ambil, saya transfer ke rekening kamu. Teddy punya nomornya.”

Dewi menatapku. Lalu, pelan, sesuatu di wajahnya berubah. Kelelahan empat hari itu masih ada, lingkaran gelap di bawah matanya masih ada, tapi di atasnya muncul sesuatu yang lain. Senyum kecil yang miring. Senyum yang sama seperti waktu ia bilang Lexus-ku setia.

“Kalau gitu, Pak,” katanya pelan, “boleh saya minta bayaran lain?”

“Bayaran lain apa?”

Ia tidak menjawab.

Ia berjalan ke arahku. Satu langkah. Dua langkah. Tiga. Sampai ia berdiri tepat di depanku, begitu dekat sehingga aku bisa melihat lingkaran gelap di bawah matanya dan bintik kecil di ujung hidungnya, dan aku bisa mencium wangi minyak kayu putih dan kompres dan melati yang samar-samar di bawah semuanya.

Ia mengangkat tangan dan menurunkan tanganku yang memegang amplop. Pelan.

Lalu ia berjinjit.

Dan mengecup pipiku.

Cepat. Ringan. Sangat ringan, seperti kupu-kupu yang hinggap sebentar lalu terbang lagi. Bibirnya hangat. Hanya sepersekian detik di kulit pipiku, di dekat sudut rahang.

Lalu ia mundur.

“Lunas, Pak,” katanya.

Ia berbalik dan berjalan ke kamar tamu. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan sebuah transaksi bisnis yang sangat wajar.

Pintu kamar tamu tertutup.


Aku berdiri di lorong dengan amplop di tangan.

Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin satu menit. Mungkin lima. Seluruh tubuhku seperti sistem komputer yang sedang restart, satu per satu fungsi kembali menyala dengan lambat. Mata. Telinga. Napas.

Pipi kiriku terbakar. Bukan panas biasa. Panas seperti seseorang menempelkan cap di sana.

Akhirnya, kakiku ingat cara berjalan. Aku berbalik untuk naik ke kamar.

Dan berjalan langsung ke kusen pintu ruang tengah.

Bunyinya keras. Duk. Dahiku menghantam kayu jati yang kubeli dari Jepara, kayu yang sama dengan meja kerjaku, kayu yang sangat, sangat keras.

Aku mundur selangkah, memegang dahi, dan mendengar suara dari arah dapur.

Mbok Darmi berdiri di ambang pintu dapur dengan sendok sayur di tangan dan mata terbelalak. Ia melihatku memegang dahi. Ia melihat amplop di tanganku. Ia melihat pintu kamar tamu yang baru saja tertutup.

Lalu, perlahan, ia mengangkat sendok sayurnya dan menutup mulutnya dengan sendok itu.

“Mbok nggak lihat,” bisiknya dari balik sendok.

“Mbok.”

“Mbok nggak lihat Mas Arga nabrak pintu.”

“Mbok, tolong.”

“Mbok juga nggak lihat Mbak Dewi tadi—”

“MBOK.”

Mbok Darmi lari ke dapur. Lima detik kemudian, aku mendengar suara notifikasi WhatsApp dari ponselnya. Lalu dari ponselku sendiri, yang ternyata, entah sejak kapan, sudah dimasukkan ke grup oleh seseorang tanpa izinku.

💍 TIM SUKSES ARGA & DEWI 2026 💍

Mbok Darmi: mbak dewi cium pipi mas arga. mas arga nabrak pintu. mbok liat sendiri. jam 8 lewat 20.

Tante Merry: ALLAHU AKBAR

Bu Nining: Ibu mulai bikin kue sekarang

Bu Lies: Akhirnya.

Pak Jono: Siap. Saya amankan pintunya.

Teddy: Pak, saya lihat Bapak sudah ada di grup ini. Selamat bergabung Pak. 🙏

Teddy: Pak, untuk dokumentasi. Pintunya yang mana?

Aku keluar dari grup.

Tiga puluh detik kemudian, Tante Merry memasukkanku lagi.

Aku menyerah, mematikan ponsel, dan naik ke kamar dengan dahi yang benjol dan pipi yang masih terbakar.

Malam itu, aku tidak tidur sebelum pukul sebelas. Tapi untuk alasan yang sama sekali berbeda.