Chapter Thirteen

Baris Terakhir

POV: Arga

Hari Minggu, aku menemukan grup WhatsApp itu di ponsel Mama.

Mama memintaku memperbesar huruf di ponselnya karena katanya “tulisannya makin kecil, Ga, kayak semut”. Aku membuka pengaturan, memperbesar ukuran huruf, lalu kembali ke layar utama untuk memastikan semuanya terbaca.

Di daftar obrolan paling atas, dengan tiga puluh dua pesan belum dibaca, ada grup bernama:

💍 TIM SUKSES ARGA & DEWI 2026 💍

Anggotanya tujuh orang. Tante Merry (admin). Bu Lies. Bu Nining. Mama. Mbok Darmi, yang aku bahkan tidak tahu bisa pakai WhatsApp. Pak Jono, satpam kompleks, entah kenapa.

Dan Teddy.

Aku membuka grup itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

Pesan terakhir dari Tante Merry, dikirim tadi pagi: Update dari Ted: rekor tatapan naik jadi 3 detik!!! Subjek perempuan buang muka duluan!!! 🔥🔥🔥 Tante bilang juga apa, ini tinggal tunggu waktu.

Di bawahnya, Bu Nining: Alhamdulillah. Ibu sudah siapkan resep kue buat lamaran.

Bu Lies: Jangan terlalu cepat. Laki-laki seperti Arga butuh dorongan. Saya usul kita bikin acara yang memaksa mereka berdua.

Mbok Darmi, dengan ejaan yang jelas diketik pakai satu jari: mas arga kamis kemaren makan roti bakar buatan mbak dewi. habis 2. mbok liat sendiri.

Pak Jono: Siap. Saya pantau dari pos. Kalau ada laki-laki lain yang lihat Mbak Dewi, saya laporkan.

Dan Teddy, dua jam lalu: Ibu-ibu, ini grafik terbaru. Proyeksi 10 detik dalam 3 minggu. Mohon doanya. Dengan lampiran gambar grafik merah muda yang sudah kulihat Selasa malam.

Aku menurunkan ponsel dan menatap Mama.

Mama sedang duduk di sebelahku di sofa, menyesap teh, dengan wajah yang sangat tidak berdosa.

“Ma.”

“Hm?”

“Ini grup apa?”

Mama melirik layar ponselnya. Lalu ia melirikku. Lalu ia menatap cangkir tehnya dan berkata dengan suara paling polos yang pernah kudengar:

“Mama lupa, Ga. Demensia.”

Aku menatapnya. Ia menyesap teh. Sudut bibirnya bergetar.

Ibuku, yang sedang belajar lupa, ternyata sudah sangat pandai menggunakan penyakitnya sebagai alibi.


Senin pagi, aku mengambil buku cokelat dari laci mobil dan membawanya ke ruang kerja.

Aku tidak tahu kenapa. Selama sebelas tahun buku itu tinggal di laci konsol tengah, bersamaku ke mana pun aku pergi, dan aku hanya membukanya di lampu merah atau di parkiran sebelum rapat penting. Tapi minggu lalu, Dewi bilang ia melihat sampulnya waktu aku mengantarnya ke stasiun, dan sejak itu aku merasa buku itu tidak aman di laci mobil.

Bukan dari pencuri. Dari Dimas, yang bisa saja memohon untuk duduk di kursi sopir dan iseng membuka laci.

Jadi aku membawanya ke ruang kerja dan menaruhnya di meja. Aku membukanya di halaman terakhir, berniat menambahkan target baru yang terpikir di perjalanan pulang: Bangun rumah susun murah. Yang dindingnya tebal. Yang tidak ada orang ketuk tengah malam.

Aku belum sempat menulis apa-apa ketika ponselku berdering. Rapat darurat dengan tim struktur soal retak rambut di cetakan kolom basement. Aku menutup laptop, mengambil jas, dan turun ke mobil.

Aku lupa menutup buku itu.


Aku pulang pukul tujuh kurang lima, tepat waktu untuk makan malam. Setelah makan, seperti setiap malam sejak Selasa minggu lalu, Dewi mengetuk pintu ruang kerjaku dengan tas hitam kecilnya.

“Tensi, Pak.”

Aku sudah terbiasa. Setiap malam pukul delapan, aku menggulung lengan kemeja kiri, ia memasang manset, kami menunggu angka muncul dalam diam yang canggung, lalu ia memasang stetoskop dan menyuruhku membuka dua kancing. Setiap malam angkanya sedikit membaik. Setiap malam nadiku naik begitu stetoskop menyentuh dada. Setiap malam ia menyebut angkanya dengan wajah datar dan mata yang tertawa.

Malam ini aku sedang di kamar mandi ketika ia masuk.

Aku mendengar pintu ruang kerja terbuka, langkahnya yang ringan di atas karpet, suara tas hitam diletakkan di meja. Aku mencuci tangan, mengeringkannya, dan keluar.

Dewi berdiri di depan meja kerjaku.

Ia tidak sedang menyiapkan tensimeter. Ia sedang menatap sesuatu di atas meja. Kepalanya menunduk. Tangannya tidak menyentuh apa pun, tergantung kaku di sisi tubuh.

Buku cokelat itu terbuka di depannya. Di halaman paling belakang.

Jangan pernah jadi seperti Ayah.

Tulisan tangan anak sembilan tahun. Huruf besar-besar, ditekan terlalu keras sampai kertasnya hampir sobek.

Aku berjalan cepat ke meja dan menutup buku itu. Suaranya terlalu keras di ruangan yang sunyi. Plak.

Dewi tersentak. Ia mundur selangkah dan mengangkat kepala.

“Maaf, Pak,” katanya cepat. “Bukunya sudah terbuka. Saya nggak sengaja—”

“Tidak apa-apa.” Aku memasukkan buku itu ke laci meja dan menutupnya. Wajahku panas. Bukan panas seperti biasanya, panas yang membuat jantung berlari. Ini panas yang lain. Panas seseorang yang baru ketahuan menyimpan sesuatu yang memalukan. “Sampulnya bilang jangan dibaca orang lain.”

“Saya tahu. Tiga tanda seru.” Suaranya pelan sekali. “Maaf.”

“Saya bilang tidak apa-apa.”

Aku duduk di kursi dan menggulung lengan kemeja kiriku dengan gerakan yang terlalu cepat. Dewi tidak bergerak. Ia masih berdiri di tempat yang sama, menatap laci yang tertutup.

“Tensinya,” kataku.

Ia mengambil manset dari tas. Tangannya, yang biasanya cekatan, sedikit kaku. Ia memasang manset di lenganku dan menekan tombol tanpa berkata apa-apa.

Kami menunggu dalam diam.

Angka muncul. Seratus tiga puluh delapan per delapan puluh delapan. Lebih baik dari minggu lalu.

Dewi tidak menyebutkan angkanya. Ia hanya menatap layar tensimeter, lama, seperti tidak membacanya.

“Dewi.”

“Hm.”

“Angkanya?”

Ia berkedip. “Oh. Seratus tiga puluh delapan. Membaik.”

Ia melepas manset. Ia tidak mengambil stetoskop. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia tidak menyuruhku membuka dua kancing.

“Malam ini nggak usah stetoskop, Pak,” katanya. “Detaknya pasti normal.”

Lalu ia memasukkan semua peralatan ke dalam tas, menutup resletingnya pelan, dan berjalan ke pintu.

“Dewi.”

Ia berhenti tanpa menoleh.

Aku tidak tahu apa yang ingin kukatakan. Aku hanya tahu bahwa aku tidak ingin ia keluar dari ruangan ini dengan wajah seperti itu. Wajah seseorang yang baru saja membaca sesuatu yang tidak seharusnya ia baca, dan sekarang tidak tahu harus berbuat apa dengannya.

“Mama sudah tidur?” tanyaku. Pertanyaan bodoh.

“Sudah, Pak. Jam delapan kurang.”

“Kamu mau teh?”

Ia menoleh. Menatapku, satu detik, dengan mata yang sedikit basah di pinggirnya.

“Di teras belakang?” tanyanya pelan.

“Di teras belakang.”


Teras belakang menghadap ke taman dan kolam ikan. Malam itu langit cerah. Bulan setengah menggantung di atas pohon mangga yang Mama tanam dari biji. Dari kolam terdengar gemericik air dan sesekali bunyi ikan yang melompat.

Aku membuat dua cangkir teh sendiri. Tidak gosong, karena teh tidak bisa gosong. Dewi duduk di kursi rotan dengan kaki dilipat ke atas, memeluk lututnya, persis seperti di dapur jam dua pagi.

Aku duduk di kursi rotan di sebelahnya. Kami memandangi kolam.

“Kamu mau tanya,” kataku akhirnya.

“Saya nggak mau tanya, Pak.”

“Wajahmu mau tanya.”

Dewi diam. Ia memeluk lututnya lebih erat.

“Saya cuma…” Ia berhenti. Menarik napas. “Saya cuma kaget. Semua baris di buku itu dicoret, kecuali satu. Dan baris itu ditulis paling keras.”

Aku menatap cangkir teh di tanganku. Uapnya naik pelan, menghilang di udara malam.

“Saya umur lima tahun waktu dia pergi,” kataku.

Dewi tidak bergerak.

“Saya tidak ingat banyak tentang dia. Hampir tidak ada. Saya tidak ingat wajahnya. Saya tidak ingat suaranya.” Aku berhenti. Itu tidak sepenuhnya benar. Ada satu suara, berat dan serak, dengan bau kopi dan minyak mesin. Tapi aku tidak tahu apakah itu suara ayahku atau suara orang lain, jadi aku tidak menghitungnya. “Yang saya ingat cuma sandal.”

“Sandal?”

“Sandal jepit. Hitam. Besar. Selalu ada di depan pintu kontrakan, di sebelah sandal Mama yang kecil dan sandal saya yang lebih kecil lagi. Tiga pasang. Setiap pagi saya keluar, saya hitung. Satu, dua, tiga.”

Aku menyesap teh. Panasnya membakar lidah. Aku tidak peduli.

“Satu pagi, saya keluar, saya hitung. Satu, dua.”

Dewi menunduk dan menempelkan dahinya ke lutut.

“Saya tunggu di depan pintu seminggu,” lanjutku. Suaraku tetap datar, tetap tenang, seperti sedang membacakan laporan progres proyek. Aku sudah lama belajar bicara seperti ini tentang hal-hal yang tidak boleh menyakitkan. “Setiap pulang sekolah, saya duduk di depan pintu sampai magrib. Mama tidak pernah melarang. Mama juga tidak pernah bilang dia tidak akan pulang. Mama cuma bilang, Bapakmu pergi, Ga. Sekarang tinggal kita berdua. Lalu menyuruh saya belajar.”

“Bapak tidak pernah tanya kenapa?”

“Saya tanya. Mama tidak jawab.” Aku tertawa pendek, tanpa suara. “Tapi tetangga jawab. Tetangga selalu jawab. Kata Bu Sri yang anjingnya galak, bapak saya kabur sama janda dari Serang. Kata Pak Darto, bapak saya kabur karena nggak kuat miskin. Kata Mak Ijah, bapak saya dipenjara karena judi.”

“Yang mana yang benar?”

“Saya tidak tahu. Mama tidak pernah membantah satu pun.” Aku menatap pohon mangga. “Dia diam saja. Waktu tetangga bilang begitu di depan saya, dia diam saja. Dia cuma menggandeng saya pulang, lalu menggoreng kerupuk lagi.”

Hening. Ikan di kolam melompat lagi. Plung.

“Waktu saya umur sembilan,” kataku, “Pak Darto tidak bayar kerupuk dua minggu. Listrik dicabut. Mama nangis di dapur sambil pura-pura motong bawang. Saya duduk di lantai pakai lilin, saya buka buku tulis baru, dan baris pertama yang saya tulis bukan juara kelas. Baris pertama yang saya tulis adalah itu.”

Jangan pernah jadi seperti Ayah.

“Karena saya pikir,” kataku pelan, “kalau dia tidak pergi, Mama tidak perlu nangis di dapur. Kalau dia tidak pergi, Mama tidak perlu menggoreng kerupuk sampai tangannya melepuh. Kalau dia laki-laki yang benar, dia tidak akan meninggalkan perempuan dan anak lima tahun sendirian di kontrakan dua petak.”

Aku menaruh cangkir di meja rotan.

“Jadi saya janji. Saya tidak akan pernah meninggalkan. Saya tidak akan pernah kalah. Saya tidak akan pernah miskin. Saya akan jadi semua hal yang dia bukan.”

Dewi mengangkat kepala dari lututnya. Matanya merah. Bibirnya gemetar, gemetar yang ia tahan dengan menggigitnya keras-keras. Aku bisa melihat bekas giginya di bibir bawah.

“Dan minggu lalu,” kataku, “Mama bilang soal utang.”

Dewi berhenti bernapas.

“Waktu Mama tidak kenal saya. Dia bilang, utangnya nanti dibayar, jangan ganggu anak saya.” Aku menatap tanganku sendiri. “Saya tidak pernah tahu ada utang. Saya tidak pernah tahu ada orang yang datang ke kontrakan tengah malam. Mama tidak pernah cerita.”

“Pak…”

“Itu artinya dia meninggalkan utang juga,” kataku. Suaraku akhirnya tidak datar lagi. Ada sesuatu yang keras di dalamnya, sesuatu yang sudah dua puluh dua tahun mengeras. “Dia pergi, dan dia meninggalkan utang buat Mama bayar sendirian. Dia meninggalkan Mama dengan orang-orang yang datang tengah malam. Sementara saya tidur.”

Dewi menutup mulutnya dengan tangan.

Air matanya jatuh. Satu tetes, lalu dua, lalu ia berhenti menahan dan air mata itu turun pelan-pelan di pipinya tanpa suara.

Aku menatapnya, terkejut. Aku tidak mengira ceritaku akan membuatnya menangis. Ia perawat. Ia sudah mendengar ratusan cerita yang lebih menyedihkan dari pasien-pasiennya. Ayahnya sendiri meninggal di lorong rumah sakit.

Tapi ia menangis untuk ceritaku. Untuk sandal jepit hitam yang hilang. Untuk anak lima tahun yang duduk di depan pintu sampai magrib.

“Hei,” kataku pelan, tidak tahu harus berbuat apa. “Kenapa kamu yang nangis?”

Dewi menggeleng. Ia mengusap pipinya dengan punggung tangan, tapi air matanya terus turun.

“Pak,” katanya dengan suara pecah. “Boleh saya tanya satu hal?”

“Apa?”

“Kalau suatu hari,” katanya pelan, sangat pelan, seperti setiap kata itu harus diangkat dari tempat yang sangat dalam, “kalau suatu hari ayah Bapak datang. Berdiri di depan pagar. Bapak mau apa?”

Aku tidak perlu berpikir. Jawaban itu sudah ada di kepalaku selama dua puluh dua tahun.

“Saya tutup pintunya,” kataku.

Dewi memejamkan mata.

Bahunya bergetar sekali, keras, seperti seseorang memukulnya dari belakang. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di lutut lagi, dan menangis dengan cara yang membuat dadaku sesak tanpa aku tahu kenapa.

Aku tidak mengerti. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa ceritaku tentang laki-laki yang tidak ia kenal bisa membuatnya menangis seperti itu.

Aku hanya tahu bahwa aku tidak suka melihatnya menangis.


Jadi aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan.

Aku mengulurkan tangan dan menyentuh tangannya. Tangan kirinya, yang memeluk lutut. Jari-jarinya dingin dan basah oleh air mata.

Dewi berhenti menangis sebentar. Ia mengangkat kepala sedikit, menatap tanganku di atas tangannya.

Aku tidak menatap wajahnya. Aku menatap tangan kami. Tanganku yang besar dengan buku-buku jari yang kasar bekas memegang besi di lokasi proyek. Tangannya yang ramping dengan kuku pendek dan bersih, kuku seorang perawat.

Pelan, sangat pelan, ia membalik tangannya. Telapak tangannya menghadap ke atas. Jari-jarinya membuka.

Aku menyelipkan jariku di antara jarinya.

Dan ia menggenggam.

Erat. Sangat erat. Seperti seseorang yang sedang tenggelam dan baru menemukan pegangan.

Kami tidak bicara lagi. Kami duduk di teras belakang dengan tangan bergenggaman di atas meja rotan, di antara dua cangkir teh yang sudah dingin, menatap kolam ikan dan pohon mangga dan bulan setengah yang perlahan bergeser ke barat.

Aku tidak tahu kenapa ia menangis. Ia tidak menjelaskannya. Aku tidak bertanya.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku menceritakan sandal jepit hitam itu pada seseorang. Dan untuk pertama kalinya, seseorang menangis untuk anak lima tahun yang duduk di depan pintu sampai magrib.

Dua puluh dua tahun aku membawa cerita itu sendirian.

Malam ini, rasanya sedikit lebih ringan.


Pukul sepuluh lewat dua puluh lima, Dewi melepaskan genggamannya dan berdiri.

“Sudah hampir jam sepuluh tiga puluh, Pak.”

“Saya tahu.”

Ia mengambil dua cangkir teh dingin dari meja. Matanya masih merah, tapi wajahnya sudah tenang. Ia berjalan ke pintu teras, lalu berhenti dan menoleh.

“Pak Arga.”

“Hm.”

“Bapak sudah jadi semua hal yang dia bukan,” katanya pelan. “Bapak sudah berhasil.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi kadang,” lanjutnya, dengan suara yang hampir tidak terdengar, “orang yang kita kira paling jahat, cuma orang yang paling nggak bisa ngomong.”

Lalu ia masuk ke rumah dan menutup pintu teras di belakangnya.

Aku duduk sendirian di teras, menatap kolam, dan memikirkan kalimat itu lama sekali. Aku tidak mengerti maksudnya.

Aku baru mengerti jauh, jauh kemudian. Di sebuah kamar sempit di Bekasi, dengan dinding yang dipenuhi wajahku sendiri.